
Jakarta, waktu setempat.
Zura turun dari mobil dengan wajah yang mengernyit silau. Udara terik siang itu membuat pandangan mata Zura sedikit terganggu. Bahkan setelah turun dari mobil dia merasa jika ibukota nampak begitu panas dan terik.
"Ini rumah kita kang?" tanya Zura pada Akmal. Lelaki itu baru turun dari mobil dan mengeluarkan koper mereka dan juga barang-barang yang lain.
"Iya, gak terlalu besar, tapi udah ada rukonya kok. Nanti usaha kamu bisa di depan, jadi gak perlu sewa toko lagi," jawab Akmal tanpa memandang kearah Zura. Dia begitu sibuk menurunkan barang bawaan mereka dari dalam mobil bersama dengan seorang supir.
Zura mengangguk pelan, dia terus memandangi rumah barunya. Ya, Zura dan Akmal sudah tiba di Jakarta saat ini. Mereka akan mencoba peruntungan baru di tempat ini. Mencoba semua dari awal lagi, dan semoga saja usaha Zura bisa semakin maju disini.
Rumah sekaligus bekas toko ini dekat dengan kota, bahkan sudah cukup ramai. Jadi cukup strategis untuk usaha Zura. Tinggal bagaimana cara dia untuk mencari pelanggan baru di sini.
"Yuk, bantuin dulu," ujar Akmal.
Zura kembali menoleh kearah Akmal dan langsung membantu lelaki itu untuk memasukkan barang-barang mereka kedalam rumah. Tidak banyak, hanya barang-barang Zura yang penting saja. Karena di sana pun dia hanya menyewa, jadi tidak ada benda berharga yang mereka punya saat ini.
Cukup lama Zura dan Akmal mengemasi barang-barang mereka. Rumah yang masih berdebu dan berantakan membuat mereka tidak bisa beristirahat. Hingga dengan terpaksa mereka harus membersihkan rumah itu terlebih dahulu.
"Jakarta panas ya kang," keluh Zura sembari mengusap wajahnya yang sudah berkeringat.
Akmal tersenyum dan mengangguk pelan, dia yang sedang mengepel lantai juga ikut menarik nafas lelah.
"Ya, namanya juga ibukota. Nanti lama-kelamaan kamu pasti terbiasa," jawab Akmal.
"Iya, semoga usaha kita lancar," jawab Zura.
"Amin, besok kamu udah bisa ketemu sama Mas Aldi, dia yang akan mewakilkan wedding organizer yang akan kerjasama sama kita. Dia juga yang menanamkan modal di toko bunga kamu nanti, Ra," ungkap Akmal.
"Wah, bukannya perjanjian awal cuma untuk kerjasama aja? Kalau mereka butuh tenaga dan bunga dari toko kita?" tanya Zura.
__ADS_1
Akmal menggeleng pelan, "mereka bukan cuma menangani wedding aja, tapi untuk acara-acara lain juga. Besok kita minta jelasin lagi sama mas Aldi. Aku juga kurang ngerti," jawab Akmal.
Zura hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Padahal jika hanya kerjasama saja, Zura sudah senang. Apalagi jika ada yang mau menanamkan modal di tokonya, sudah pasti itu hal yang bagus. Zura bisa membuat usaha yang besar sekaligus agar peminatnya lebih banyak.
Yah, meski dia dari desa dan tidak sekolah, tapi entah kenapa jiwa bisnis tertanam di dirinya saat ini. Hingga dia berani untuk melangkah lebih maju. Mulai dari bisnis kecil-kecilan hingga akhirnya dia berada di tempat ini.
..
Sementara di perusahaan Adidaksa, Vanno sudah duduk di kursi kerjanya. Lelaki itu nampak sibuk dengan berbagai pekerjaan yang terlihat menggunung seakan tiada habisnya. Kaca mata baca yang bertengger di hidung mancungnya semakin menambah ketampanan dan kesan bossy yang melekat pada dirinya. Mirip sekali dengan tuan besar Reynand, ayahnya. Ketika sedang bekerja dia nampak begitu serius hingga tidak ada satupun yang berani mengganggunya.
Kembalinya Vanno ke perusahaan Adikdaksa tentu membuat semua orang terkejut awalnya. Apalagi dia yang sempat dikabarkan menghilang dan telah tewas beberapa waktu yang lalu. Tapi kini dia sudah kembali dan memimpin perusahaan Adidaksa menggantikan ayahnya.
Ya, Reynand sudah menyerahkan urusan perusahaan pada putranya. Meskipun masih terus berada di dalam pantauannya. Tapi dia yakin jika Vanno pasti bisa menjalankan perusahaan dengan baik di usia yang masih terbilang muda, 27 tahun.
Tok tok tok
"Permisi, Tuan. Sekretaris baru sudah datang," ucap Deni. Asisten setianya yang juga selamat dalam insiden mematikan waktu itu.
Vanno menghela nafas, dia mendongak dan menoleh ke arah Deni. Lelaki bertampang manis itu masuk ke dalam ruangan Vanno bersama dengan seorang gadis cantik dan begitu anggun.
"Selamat siang, Tuan," sapa gadis itu.
Vanno hanya mengangguk saja.
"Saya sudah selesai menginterview kedua calon sekretaris kita, dan saya rasa dia yang cocok untuk menggantikan Mbak Susi, Tuan," ungkap Deni. Dia menyerahkan sebuah berkas kehadapan Vanno, membuat lelaki itu langsung melihat cv milik sekretaris barunya.
Tertera nama Zoya Erveralda disana.
Vanno mengangguk pelan saat dia merasa jika tidak ada yang salah dengan cv milik gadis ini.
__ADS_1
"Baiklah, kamu sudah menginterviewnya, dan itu sudah cukup. Kamu bisa mengajarinya apa yang harus dia kerjakan disini," ujar Vanno pada Deni.
Deni mengangguk patuh, "baik tuan," jawabnya.
"Baik Zoya, aku harap kamu bisa bekerja dengan baik disini dan mendedikasikan dirimu untuk kemajuan perusahaan," ujar Vanno.
"Tentu, Tuan. Saya pasti akan bekerja dengan baik. Terima kasih sebelumnya," Zoya berucap sembari menjulurkan tangannya kearah Vanno.
Vanno mengangguk, dia langsung menjabat tangan Zoya seperti rekan kerja yang lain. Namun, Vanno langsung tertegun saat Zoya sedikit mendekat kearahnya. Dia memandang Zora dengan lekat, sangat lekat bahkan hingga membuat Zoya merasa aneh.
"Tuan ... ada apa?" tanya Zoya.
Vanno langsung menggeleng pelan, dia segera melepaskan genggaman tangannya dari Zoya.
"Tidak, maafkan aku. Kamu sudah bisa mulai bekerja besok pagi," ujar Vanno dengan cepat. Untuk beberapa saat dia lupa diri.
Zoya memandang Vanno dengan heran, namun beberapa detik kemudian dia langsung tersenyum simpul dan mengangguk pelan. Begitu pula dengan Deni yang memandang tuannya dengan aneh, kenapa Vanno bsia memandang Zoya dengan pandangan terkejut begitu?
"Jika begitu saya permisi dulu, Tuan," pamit Zoya.
Vanno mengangguk pelan.
"Permisi, Tuan," pamit Deni pula.
Kedua orang itu langsung keluar dari ruangan Vanno. Meninggakan pria itu sendirian dengan tubuh yang langsung lemas dan tersandar di sandaran kursinya.
"Kenapa aku merasa mencium aroma tubuhmu dari dia Zura," gumam Vanno seorang diri.
"Kamu dimana, aku rindu,"
__ADS_1