Memori Cinta Zevanno

Memori Cinta Zevanno
Tawaran Kerja


__ADS_3

Seperti perjanjian hari yang lalu, pagi ini Zura dan Aldi sudah berada di sebuah taman bunga yang terbesar di kota itu. Taman bunga Ze in Florist. Mereka hanya pergi berdua saja, sebab Akmal tetap harus tinggal di toko karena siang nanti barang-barang untuk keperluan toko akan tiba.


Saat masuk ke dalam taman bunga itu Zura benar-benar dibuat terpana dengan keindahan dan pesona alam yang ada di sana. Lautan bunga tulip berbagai warna langsung menyambut kedatangannya. Bahkan mata Zura sampai berbinar indah melihat taman sekaligus kebun bunga ini.


Ini adalah kali pertama Zura melihat bunga sebanyak ini, bahkan sejauh mata memandang. Suasana di pagi hari itu cukup cerah namun juga sejuk, membuat keindahan di sana semakin menjadi. Apalagi ini adalah waktu di mana bunga-bunga tulip itu bermekaran dengan indah.


"Hei, kamu terkejut banget kayaknya." Suara Aldi membuat Zura sedikit terkesiap.


Dia langsung menoleh ke arah Aldi dan tersenyum canggung. "Ini indah banget, Mas. Saya baru kali ini melihat taman bunga seluas dan seindah ini," ungkap Zura.


Aldi tertawa kecil mendengar itu, "ya, di sini memang sangat indah. Apalagi ketika senja hari. Suasana dan pemandangannya cukup bagus untuk orang-orang yang ingin sekedar menenangkan diri," ucapnya.


Mereka berjalan beriringan sembari memandangi taman bunga yang tidak terhitung lagi seberapa luas dan indahnya itu. Zura benar-benar merasa jika dia sedang berada di surga dunia saat ini.


"Tapi apa gak sayang ya, Mas, taman secantik ini malah diambilin bunganya," tanya Zura.


Namun, pertanyaan itu malah membuat Aldi tersenyum lucu. Dia langsung menggeleng pelan sembari meletakkan kedua tangannya di dalam saku, sementara pandangan matanya juga ikut memandang taman bunga itu.


"Bukan bunga yang ini yang mereka jual. Mereka juga punya kebun sendiri khusus untuk memproduksi berbagai bibit bunga. Nah itu yang mereka perjualbelikan. Tempatnya di sana, yang di sini khusus untuk tempat wisata aja," ungkap Aldi sembari menunjuk area kebun yang masih berada jauh di depan mereka.


Zura langsung menganggukkan kepalanya mengerti. "Pemilik tempat ini pasti orang kaya banget, keren," puji Zura.


Aldi mendengus senyum dan mengangguk pelan, dia memandang lucu pada Zura yang terlihat polos sekali. Sederhana, cantik dan menarik.


"Pemilik tempat ini adalah salah satu pengusaha sukses, cuma jarang ada yang bisa ketemu sama dia. Kali ini kita cuma bisa ketemu sama pengelolanya saja," ucap Aldi.


"Iya, Mas. Yang penting kan lancar semuanya," sahut Zura.


"Lancar dong, yang lebih penting itu kamu yang harus semakin semangat nanti. Karena setelah ini saya pastikan job kamu bukan hanya melayani pelanggan untuk sekedar buket saja, tapi juga untuk acara, bahkan acara-acara besar," ungkap Aldi.


"Iya, Mas. Saya pasti akan bekerja dengan semangat. Apalagi udah dibantu seperti ini," jawab Zura.

__ADS_1


Aldi mendengus senyum dan mengangguk pelan.


Mereka kembali berjalan bersama-sama menuju tempat kebun bunga dimana di sana ada sebuah kantor kecil dimana tempat pengelola taman berada.


Benar saja, mereka langsung di sambut oleh seorang pria paruh baya yang masih terlihat tampan. Dia tersenyum ramah pada Aldi dan Zura.


"Selamat pagi, Pak Rangga," sapa Aldi, dia langsung menjabat tangan Rangga dengan ramah.


"Selamat pagi, Aldi. Akhirnya kamu datang juga. Saya sudah menunggu kamu sejak tadi," ucap Rangga.


Aldi terlihat bingung mendengar itu, apalagi Zura.


"Ada apa, Pak? Bapak sepertinya sedang panik?" tanya Aldi.


Rangga langsung mempersilahkan Aldi dan Zura untuk duduk di kursi tamu. Pria paruh baya itu menarik nafasnya dalam-dalam dan mengangguk pelan sembari memandang Aldi dan Zura bergantian.


"Saya dengar kamu ke sini ingin membicarakan tentang pasokan bunga ke toko baru kalian bukan?" tanya Rangga.


Aldi langsung mengangguk pelan.


"Tentu saja, Pak," jawab Aldi.


"Kebetulan," ucapnya dengan tubuh yang duduk tegak kembali, membuat Zura memandangnya dengan bingung.


"Perusahaan Adidaksa akan mengadakan acara peresmian serah jabatan untuk pewarisnya lusa, jadi pak Arya mau saya yang menghandle untuk dekorasi kecil di sana dari bunga di taman ini. Tapi masalahnya vendor yang mengurus itu malah bermasalah. Jika kalian mau, kalian bisa menggantikan mereka," ujar Rangga.


Aldi sedikit tertegun mendengar itu. Dia langsung melirik ke arah Zura sekilas dan kembali memandang ke arah Rangga kembali.


"Tapi kami masih pemula pak," ucap Aldi sedikit ragu, apalagi dia tahu jika itu adalah perusahaan besar. Bahkan dia juga belum melihat hasil tangan Zura untuk mendekorasi ruangan.


"Tidak ada waktu untuk mencari yang lain. Saya bisa di marah pak bos nanti," sahut Rangga.

__ADS_1


Aldi langsung menoleh kearah Zura, "kamu bisa langsung kerja Ra?" tanya Aldi.


"Tidak susah kok, mereka juga tidak menuntut yang harus mewah. Yang penting rapi dan indah. Tuan besar mau kalian mendekorasi ruangan itu dengan bunga-bunga tulip," ujar Rangga lagi.


"Ayolah, bantu saya. Hasilnya juga lumayan," rayunya kembali.


"Gimana?" tanya Aldi.


Zura terdiam, dia bingung karena ini adalah kali pertamanya. Tapi jika menolak, maka dia akan membuang kesempatan emas ini bukan.


"Baiklah, saya coba, Mas, Pak," jawab Zura akhirnya.


"Bagus, yang terpenting harus rapi dan indah, besok kalian sudah bisa cek lokasi dan mulai pekerjaan kalian," ujar Rangga.


"Baik, Pak," jawab Aldi dan Zura bersama-sama.


...


Sementara di perusahaan Adidaksa, Vanno juga masih terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Wajahnya terlihat serius sekali, hingga pintu yang diketuk baru bisa membuat Vanno menghela nafas dan beralih sejenak.


"Selamat siang, Pak. Meeting sudah akan dimulai," lapor Zoya.


Vanno mengangguk pelan sembari melirik ke arah jam tangannya. Dia bekerja sampai lupa waktu.


"Biar saya bereskan dulu ya, pak," ujar Zoya yang langsung mendekat kearah Vanno dan membereskan meja Vanno yang terlihat berantakan.


Lagi-lagi Vanno tertegun dengan aroma tubuh Zoya, aroma vanila yang selalu mengingatkan dia dengan Zura. Selalu saja seperti ini. Tidak mungkin jika Zoya adalah Zura kan? Jelas suara dan kehidupan mereka berbeda.


Rasa rindu ini benar-benar membuat Vanno tidak bisa berpikir dengan jernih. Setiap apapun yang terkenang bersama Zura dan ingatannya, selalu membuat Vanno terbuai dan ingin segera bertemu dengan Zura nya.


Tapi sayang, pandangan Vanno yang seperti itu malah disalah artikan oleh Zoya. Dia berpikir jika Vanno menaruh rasa padanya hingga setiap ada kesempatan Zoya selalu berusaha untuk mendekat pada Vanno.

__ADS_1


..


Wah ... ternyata masih harus nunggu besok guys.


__ADS_2