Memori Cinta Zevanno

Memori Cinta Zevanno
Tunggu Besok Hari


__ADS_3

'Ada seseorang yang bukan milikku, tapi dia ada di hatiku. Dia bukan takdirku, tapi dia selalu ada di pikiranku. Dia yang membuat aku merasa senang, sedih dan cinta untuk pertama kali. Tapi sayang, ketika semua rasa itu hadir bersamaan, aku sadar jika aku bukan siapa-siapa yang pantas untuknya,' _Azzura


...


Zura meletakkan beberapa bunga-bunga segar ke dalam wadah yang sudah dia siapkan. Hari ini semua pesanan bunga segar dari kebun bunga Ze in florist sudah datang. Bahkan berbagai alat dan kebutuhan untuk toko bunga juga sudah tiba. Jadi Zura dan Akmal cukup sibuk hari ini.


Mereka bekerja sejak pagi hingga kini sudah hampir 60 persen toko bunga Zura sudah nampak indah. Apalagi dia juga dibantu oleh dua orang karyawan yang memang bekerja di toko bunga Zura.


"Ra, Mas Aldi datang tu!" seruan Akmal dari luar membuat Zura yang sedang memasukkan bunga melati ke dalam lemari pendingin langsung menoleh.


Dia tersenyum memandang lelaki tampan itu masuk ke dalam sembari memandangi toko bunganya.


"Kamu kalau di suruh dekor emang gak ada duanya, Ra," puji Aldi.


"Mas Aldi bisa aja, masih belajar juga kok. Gimana, bagus gak?" tanya Zura yang langsung mendekat ke arah Aldi.


"Bagus dong, walaupun kecil tapi ini rapi banget. Gimana, apalagi yang perlu biar saya siapkan," tawar Aldi.


Zura nampak terdiam dan menimang-nimang. "Kayaknya belum deh, Mas. Saya mau siapin ini dulu sambil nunggu pelanggan datang. Nanti kalau ada yang kurang pasti saya bilang," jawab Zura.


"Tempat simpan bunga segar cukup?" tanya Aldi sambil memandang lemari pendingin Zura.


"Cukup, lagian itu cuma untuk dua hari. Kan kebun bunga dekat. Sayang kalau harus terlalu lama di simpan. Zura mau bunga-bunga itu selalu segar," ungkap Zura.


"Oke, benar juga kata kamu. Yasudah, pokoknya kalau ada apa-apa kamu bilang saja," ujar Aldi.


"Beres," jawab Zura. Dia mengusap keringat yang merembes di dahinya. Wajahnya terlihat lelah, tapi Aldi senang sekali dengan semangat Zura.


"Mbak Zura, ada pesanan buket sama karangan bunga nih!" tiba-tiba seruan Diko membuat Zura dan Aldi langsung menoleh ke arahnya.


"Oh ya, cepat banget?" tanya Zura yang begitu terkejut.


"Cepat, padahal baru malam tadi loh aku mulai promosi. Tapi langsung banyak yang mau. Yang jelas ini udah tiga orang yang mesan," ungkap Diko sembari menunjukkan pesanan di ponselnya.


"Wah keren, berarti mereka tertarik sama karya kamu Ra," ucap Aldi.


"Iya, Mas. Syukurlah," jawab Zura.


"Ini ada yang dari kediaman Adiputra mbak, gila inikan rumah keluarga konglomerat itu," tiba-tiba ucapan Diko membuat Zura tertegun.


"Wah beneran Ko?" tanya Aldi.


Diko mengangguk cepat, "beneran lah Mas. Lihat alamatnya, yang memesan juga asisten Deni. Waw aku baru lihat, kayaknya dia baru mesan siang ini," ungkap Diko.


Zura masih terdiam. Bukankah keluarga Adiputra itu adalah keluarga Evan?


"Berarti tuan besar itu suka dengan hasil kerja kamu kemarin Ra. Keren banget, sekali ada yang mesan langsung dari mereka, ini benar-benar bakalan buat nama kamu melambung nanti," ungkap Aldi begitu senang.


Namun, Zura hanya bisa tersenyum getir saja mendengar itu. Entah kenapa dia jadi tidak bersemangat mendengar itu.

__ADS_1


"Gimana mbak, bisa gak? kesempatan bagus ini Lo. Tuan Deni mau buket bunga tulip dan juga karangan bunga mawar segar. Besok sore harus sudah selesai," ucap Diko kembali.


"Ayolah Ra, kemarin aja bisa kok. Kan ada Diko sama Rendi. Mereka berdua bisa kamu andelin lah. Biar si Akmal yang beresin toko sama anak-anak, kamu yang kerja mulai malam ini," rayu Aldi pula.


Zura menarik nafas dalam-dalam, ingin menolak tapi ini pesanan pertama di tokonya. Dia tidak mungkin menolak hanya dengan alasan yang tidak masuk akal. Hingga akhirnya, Zura hanya bisa mengangguk pasrah.


"Iya, Mas. Nanti Zura kerjain kok," jawab Zura.


"Kamu pastikan aja Dik," ujar Zura pada Diko pula.


"Sip mbak, aku rekap dulu di buku biar gak lupa, soalnya lumayan banyak. Takut yang lain gak sempat," pamit Diko yang langsung pergi dari tempat itu.


"Harus semangat, katanya mau sukses," ujar Aldi.


Zura tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Dia memang semangat, tapi jika sudah menyangkut Evan hatinya benar-benar tidak bisa tenang. Rasa rindu, takut, gelisah semua bercampur menjadi satu.


Entah kenapa pekerjaannya yang pertama harus dari keluarga itu? Bagaimana jika Zura bertemu dengan Evan lagi nanti? Apa dia sanggup untuk tetap menahan diri?


Rasa rindu ini terkadang membuat otak dan hati Zura benar-benar tidak sinkron.


...


Sementara di tempat lain, Vanno baru saja tiba di depan rumah setelah seharian dia dari luar kota melakukan perjalanan bisnis. Wajahnya nampak lelah dan kusut, tapi sama sekali tidak mengurangi ketampanan yang dia miliki.


"Kamu sudah memesan bunga itu dari orang yang mendekorasi kantor kemarin kan?" tanya Vanno pada Deni sebelum dia turun dari mobil.


"Pastikan gadis itu yang mengantar," ujar Vanno.


Deni mengernyit bingung, tapi dia tidak berani untuk banyak bertanya selain hanya mengangguk. "Baik, Tuan."


"Jangan telat jemput aku besok," Vanno berucap sembari turun dari mobil.


"Siap Tuan," jawab Deni. Dia memandang kepergian Vanno dengan bingung. Padahal itu adalah bunga untuk Nyonya besar yang ulang tahun besok, tapi kenapa harus gadis itu yang membawakan. Aneh sekali.


Vanno berjalan masuk ke dalam rumah dengan wajah datar sembari mengendurkan dasi yang terasa mencekik leher. Namun, ketika masuk ke dalam dia langsung tersenyum saat mendengar suara orang-orang yang sedang bercengkrama. Bahkan, ada suara bayi juga. Itu pasti Zeze yang datang bersama kedua anak kembarnya.


Benar saja, ketika tiba di ruang tengah Vanno bisa melihat keluarganya sedang berkumpul di sana. Bahkan Mommy dan Daddynya juga sedang menimang kedua anak bayi yang menggemaskan itu.


"Kakak, kenapa baru pulang sekarang?" sapa Zeze langsung. Meski sudah memiliki anak tapi tetap saja dia sangat manja. Bahkan tanpa malu langsung memeluk Vanno yang sudah mendekat kearah mereka.


"Kakakmu sedang mencari mahar untuk menikahi anak orang, kenapa masih bertanya," goda Zevandra.


Vanno hanya mendengus senyum dan mengusap gemas kepala Zeze.


"Sudah punya anak tapi masih saja manja," ucap Vanno.


Zeze langsung tertawa mendengar itu. "Biar saja, selagi ada yang memanjakan Zeze," jawabnya acuh.


"Ya ampun, baru satu Minggu tidak bertemu tapi mereka sudah selucu ini," ucapan Reynand membuat Vanno langsung mendekat kearahnya, sedangkan Zeze kembali duduk pada Zevandra.

__ADS_1


"Daddy sudah bisa menggendong mereka?" tanya Vanno.


"Hei, tentu saja. Jangan remehkan Daddy, bahkan Daddy lebih bisa daripada ayahnya sendiri," jawab Reynand.


Semua orang langsung tertawa kecil mendengar ucapan tuan besar itu. Apalagi ketika melihat wajah Zevandra yang merona malu. Ya, sampai sekarang anaknya sudah berusia satu tahun, Zevandra masih terlihat kaku dan belum berani menggendong anak-anaknya.


"Dad, bukan salah Zev. Semua orang tidak ada yang mengizinkan Zev menggendong mereka terlalu lama. Apalagi Mommy di rumah, dia selalu cerewet takut cucunya jatuh," jawab Zev.


"Itu karena cucu pertama Zev, wajar saja. Apalagi kamu hanya anak tunggal," sahut Nara.


"Mommy benar. Dan terimakasih sudah memperbolehkan Zev mengajak Zeze tinggal di sana," ucap Zev.


"Heh, kau ini. Meskipun dia putriku, tapi dia istrimu sekarang. Kami tidak mungkin melarang mu membawanya. Kau bebas membawa dia kemanapun, asalkan kau tetap memperlakukan putriku dengan baik," ujar Reynand.


"Pasti Dad," jawab Zevandra.


"Daddy tidak tahu saja, di sana Zeze bahkan di perlakukan seperti ratu oleh Mommy Zea dan Daddy Malik," ungkap Zeze.


"Mereka terpaksa, untung saja Zev cinta, jika tidak mana mungkin mereka mau menerima menantu yang tidak bisa apa-apa," ledek Vanno.


"Kakak!" seru Zeze tidak terima.


Membuat kedua orangtuanya langsung tertawa.


"Biar saja, yang penting suamiku cinta. Benarkan sayang," ucap Zeze yang langsung merangkul lengan Zev dengan manja.


"Tentu sayang," jawab Zev.


Vanno langsung berdecak jengah mendengar itu.


"Mommy, Vanno ingin gendong Aska," pinta Vanno.


"Mandi dulu sayang, kamu baru dari luar. Tidak baik," ucap Nara.


"Benar, jangan sentuh anak Zeze sebelum kak Vanno bersih. Jika tidak, Daddynya pasti tidak akan mau menyentuh anaknya nanti," ujar Zeze.


Vanno langsung memutar bola matanya dengan jengah.


"Iya-iya baiklah," jawabnya dengan pasrah.


Nara dan Zev hanya tertawa kecil memandang Vanno. Beruntungnya sekarang mereka sudah tahu dengan penyakit yang Zev derita. Meski tidak separah dulu, tapi tetap saja lelaki itu masih sangat gila dengan kebersihan. Hanya Zeze yang tahan dengannya.


"Bagaimana pencarian mu? Daddy dengar kau sudah menghentikan orang-orang kita," tanya Reynand tiba-tiba.


Vanno mengangguk pelan, "aku sudah menemukannya," jawab Vanno.


"Benarkah?" tanya Nara dan Zeze bersamaan.


"Tentu saja, tunggu sampai besok. Dia pasti akan datang," jawab Vanno.

__ADS_1


__ADS_2