
Benar saja, beberapa hari kemudian Zura membawa Evan ke pasar malam di desa sebelah. Dia benar-benar terlihat bersemangat sekali. Apalagi kondisi Nek Sri juga sudah baik dan dia sudah sehat lagi. Jadi, Zura bisa pergi bersama Evan dengan nyaman.
Mereka pergi dengan meminjam motor butut Kang Akmal. Lelaki itu tidak bisa pergi karena harus menemani Ayahnya ke kota. Jadi kali ini, Zura pergi berdua bersama Evan.
"Kamu beneran bisa bawa motor?" tanya Evan untuk yang kesekian kali. Zura yang sudah duduk diatas motor jadi kesal sekarang.
"Kalau nggak bisa aku gak bakalan nekad, Van. Ya ampun," gerutu Zura. Evan langsung tersenyum getir mendengar itu.
"Udah ayo naik." Zura langsung menarik tangan Evan untuk mendekat kearahnya. Pria tampan itu terlihat bingung, dia meraba-raba tempat duduk motor itu dengan ragu.
"Angkat kaki kamu satu, pegang bahu aku," ujar Zura.
Evan menuruti permintaan gadis itu, dia meraba bahu Zura dan mulai mengangkat kakinya. Cukup ragu, namun lama kelamaan akhirnya Evan bisa naik ke atas motor itu.
"Nah, bisa kan," ucap Zura.
Evan menghela nafas dan menggeleng pelan. Wajahnya benar-benar tegang sekarang. Entah ini yang pertama kali dalam hidupnya atau bagaimana, Evan tidak tahu. Yang jelas, dia takut saat ini.
"Hei, kok diam aja?" tanya Zura sembari menepuk tangan Evan.
"Aku takut," jawab Evan.
Tentu saja ucapan itu membuat Zura terbahak-bahak, dia sampai menepuk dahinya karena gemas. "Astaga Van, kamu nggak bakalan mati naik motor sama aku, ya ampun."
"Kalau aku jatuh gimana?" tanya Evan lagi.
"Nggak bakalan, cukup pegang pinggang aku kayak begini." Zura menarik tangan Evan dan dia letakkan dipinggangnya. Membuat Evan langsung menurut, bahkan tubuhnya lebih merapat kearah Zura sekarang.
Deg
Deg
Deg
Detak jantung mereka langsung bergemuruh dan berdetak dengan kencang. tidak tahu kenapa, tapi ketika kedua tangan Evan memeluk tubuhnya, Zura merasakan perasaan yang aneh. Sedikit risih, malu, canggung, dan ah ... tidak bisa dijelaskan.
Begitu pula dengan Evan. Wajahnya bahkan terasa memanas sekarang. Apalagi dengan jarak sedekat ini dia bisa merasakan harum aroma vanila dari tubuh Zura yang begitu menguar.
"Hei, kalian hati-hati!" Tiba-tiba suara seruan Nek Sri yang baru datang dari dalam rumah membuat mereka terkesiap kaget. Secara bersamaan mereka langsung menoleh dan memandang nek Sri. Hanya Zura, sedangkan Evan masih terdiam dan tidak bergerak sama sekali.
__ADS_1
"Jangan ngebut bawa motornya Ra!" imbau Nek Sri.
"Iya nek, pelan-pelan aja kok. Soalnya Zura juga bawa anak kecil yang penakut ini," jawab Zura sedikit berseru. Namun, sedetik kemudian dia langsung terkejut saat Evan malah mencubit gemas pinggangnya.
"Sembarangan aja kamu," ucap Evan yang terlihat kesal.
Tentu saja ucapannya itu membuat Zura dan Nek Sri langsung tertawa geli.
"Kan emang bener kok," sahut Zura.
"Zura!" tekan Evan.
"Iya," balas Zura dengan nada yang dibuat menyebalkan. Membuat Evan kembali berdecak kesal hingga Zura lagi-lagi hanya bisa tertawa.
"Yasudah nek, kami pergi dulu ya," pamit Zura.
"Pamit dulu, nek," seru Evan pula.
"Iya, hati-hati. Jangan sampai malam pulangnya!" sahut Nek Sri.
"Oke!" Zura langsung menarik gas motor itu perlahan membuat Evan kembali mengeratkan pelukannya di pinggang Zura. Sepertinya dia memang takut sekali.
Sepanjang jalan, Evan memeluk pinggang Zura dengan kuat, bahkan tidak lepas sama sekali. Bahkan, Zura sampai bisa merasakan detak jantung Evan di pundaknya. Apalagi postur tubuh Evan yang cukup tinggi.
"Hei, meluknya kuat banget sih! Kamu mau modus ya" seru Zura.
"Modus apa? Aku takut, kamu ngebut sekali bawa motornya. Kalau aku terjatuh bagaimana?" tanya Evan.
Zura langsung berdecak kesal mendengar itu. "Kamu gak percaya sama aku ya Van?" tanya Zura.
Kali ini pertanyaan Zura membuat Evan tertegun. "Mana mungkin aku buat kamu jatuh, lihat kamu jatuh dikamar mandi aja aku takut, apalagi kalau sampai buat kamu jatuh dari motor," ucap Zura kembali.
Evan benar-benar terdiam sekarang, perasaan yang tadinya takut dan gugup kini mulai menghilang dan berganti dengan perasaan hangat yang menjalar dihatinya mendengar perkataan Zura itu. Kenapa perkataan itu terasa begitu dalam hingga mampu membuat jantungnya lagi-lagi tidak bisa tenang.
Evan baru sadar, jika ternyata sejak tadi jantungnya berdebar kencang bukan karena takut ada diatas motor ini. Melainkan karena berada didekat Zura tanpa jarak seperti ini. Ditambah dengan perkataan Zura barusan. Membuat Evan langsung mendengus senyum dan menggeleng pelan.
Kini, dia malah melingkarkan tangannya di perut Zura. Membuat Zura langsung tertegun, bahkan fokus pada kemudi motornya sedikit oleng dengan perlakuan Evan ini.
"Evan, kenapa meluknya makin jadi sih?" tanya Zura. Suara dan jantungnya benar-benar bergetar sekarang. Bahkan, laju motornya menjadi lebih pelan.
__ADS_1
"Aku percaya, bahkan sangat percaya. Jika kamu membawaku ke hutan sekalipun, mungkin aku ikut saja," jawab Evan yang langsung meletakkan dagunya di bahu Zura.
Sungguh, demi apapun perlakuan lelaki ini membuat jantung Zura semakin tidak menentu. Bahkan, ditengah-tengah remangnya malam wajah cantik Zura merona merah.
"Evan, jangan begini," Zura sedikit menggeliatkan tubuhnya agar Evan menyingkir dari bahunya. Namun, pelukan itu malah semakin menjadi.
"Biarkan seperti ini, biar aku tidak takut lagi," pinta Evan.
Zura menghela nafas panjang dan menggeleng pelan. Hembusan nafas Evan terasa begitu hangat menyapu telinga dan pipinya membuat Zura sungguh tidak bisa menahan detak jantungnya sendiri.
"Kamu gugup?" tanya Evan.
"Gimana aku nggak gugup, kamu terlalu dekat seperti ini" jawab Zura.
Evan tersenyum tipis mendengar itu. "Terima kasih sudah mau menjadi mata untuk ku, Zura," ucap Evan tiba-tiba.
"Sudah berulang kali kamu berkata seperti itu Van," ucap Zura
"Bahkan, jika setiap saat aku mengatakan itupun, rasanya tidak cukup mampu untuk membalas semua kebaikan kamu," jawab Evan.
"Aku cuma mau jika suatu saat kamu sudah kembali, kamu jangan lupa dengan ku," pinta Zura. Kini nada suaranya terdengar lirih.
"Mana mungkin aku lupa dengan mu, kamu adalah sesuatu yang paling penting dalam hidupku," jawab Evan.
Zura terdiam mendengar itu. Kenapa terasa manis sekali?
Evan merenggangkan pelukannya saat dia mendengar suara yang cukup ramai dan berisik, begitu pula dengan motor Zura yang juga sudah mulai berhenti.
"Kita sudah sampai?" tanya Evan
"Iya," jawab Zura seadanya. Dia membantu memegangi tangan Evan saat lelaki itu mulai turun dari atas motor. Jantungnya masih saja belum bisa tenang sampai saat ini.
Hingga tidak lama kemudian, terdengar suara seseorang memanggil Zura.
"Zura!"
Zura yang baru turun dari atas motor juga langsung menoleh.
Dia tersenyum lembut saat melihat siapa yang datang.
__ADS_1
"Mbak Diyah," sapa Zura