Memori Cinta Zevanno

Memori Cinta Zevanno
Kenangan Bersama Zura


__ADS_3

Goresan kuas terdengar begitu berisik memenuhi ruangan yang hening. Ceceran cat air sudah mengotori lantai kamar itu. Tidak tahu apa yang dia gambar awalnya, tapi semakin lama mahakarya itu malah membentuk sebuah lukisan seorang gadis dengan senyumnya yang manis.


Matanya yang sedikit besar, hidung yang mancung, dan juga bibir yang mungil namun berisi, membuat lukisan itu terasa sempurna. Membuat bibir Vanno juga ikut tersenyum melihat hasil akhir yang dia gambar.


"Cantik," gumamnya seorang diri.


Namun beberapa detik kemudian, dia langsung menghela nafas panjang dan meletakkan kuas pada tempatnya. Kembali memandang lukisan gadis cantik yang terasa asing, namun terbentuk dari hati Vanno ketika membuat lukisan ini.


Zevanno Adiputra. Setelah satu tahun setengah menjalani pengobatan dan berbagai terapi akhirnya saat ini dia sudah bisa mengingat semuanya. Semua yang pernah dia lupakan. Vanno yang penuh dengan kesempurnaan, Vanno yang dingin, dan Vanno sang pewaris telah kembali. Meninggalkan Evan yang menyedihkan namun tidak dia lupakan.


Ya, meskipun Vanno sudah dapat mengingat semuanya, tapi dia juga tidak melupakan ingatan tentang Zura dan Neneknya. Meskipun hal itu terasa seperti sebuah bayangan saja. Dia mengingat semuanya, dia bisa melihat kembali dunia yang indah dan penuh warna. Tapi sayang, Vanno tidak bisa melihat wajah Zura. Gadis baik hati yang sampai saat ini masih selalu mengusik hati dan pikirannya.


Sudah beberapa bulan sejak dia mengingat kembali dan sembuh total, Vanno terus mencari keberadaan Zura. Bahkan, beberapa waktu lalu, dia sudah pergi ke desa Nateh. Desa dimana dia menghabiskan waktu bersama seorang gadis asing disana.


Masih Vanno ingat jelas bagaimana sedihnya dia melihat gubuk reyot yang sudah hampir roboh. Gubuk tempat dia berteduh, gubuk tempat dia bertahan hidup bersama dengan dua orang malaikat baik hati.


Vanno kembali menghela nafas panjang ketika mengingat hal itu.


Flashback


Saat ini Vanno dan Daffa baru saja tiba di desa Nateh. Desa tempat dimana Vanno tinggal bersama Zura dulu. Setelah melakukan perjalanan panjang dan cukup melelahkan, akhirnya Vanno tiba di depan sebuah rumah gubuk berdinding papan yang sudah hampir roboh. Apalagi sudah satu tahun lebih rumah ini di tinggali.


"Apa benar ini rumahnya?" tanya Vanno.


"Iya kak, ini rumah gadis itu. Rumah dimana Daffa menjemput kakak waktu itu," jawab Daffa.


Vanno memandang miris rumah yang begitu tidak layak ini. Sudah usang, sudah hampir roboh dan tentunya sudah banyak kayu yang patah. Bahkan di sekitar rumah itu sudah ditumbuhi oleh semak belukar yang hampir memakan habis setiap bagian rumah.


Vanno berjalan mendekat kearah rumah itu. Ada sebuah kursi panjang di depan rumah yang sudah keropos dan berlumut. Dia tersenyum tipis, memejamkan matanya sejenak hingga bayangan itu kembali hadir. Bayangan dimana dia dan Zura sering menghabiskan waktu ketika malam hari di kursi itu. Mendengarkan Zura yang bercerita bagaimana banyaknya bintang dan indahnya bulan. Ya, bercerita hal-hal yang membuat mereka tertawa bersama.


Ah, menyedihkan sekali ketika mengingat itu.


'Evan! Coba cari aku!'


Suara gadis itu kembali terngiang di telinga Vanno. Bagaimana Zura yang selalu menggodanya dan selalu saja membuat Vanno kesal. Tapi, itu yang Vanno rindukan sekarang.

__ADS_1


Vanno semakin berjalan kedalam, matanya kembali terpejam dengan tangan yang meraba dinding kayu yang sudah lapuk. Bahkan engsel pintu itu pun sudah patah dan rusak.


"Kak, rumah itu sudah lapuk, jangan masuk," ujar Daffa.


Namun, Vanno menggeleng dan tetap berjalan. Membuka pintu rumah itu perlahan hingga derit suara pintu terdengar menyakitkan telinga.


"Biarkan aku melihat tempat ini, dia masih berdiri meski rapuh, dia masih ada meski sudah akan hancur, dan aku yakin dia ada untuk menunggu aku datang," ucap Vanno yang terus masuk kedalam rumah.


Meninggalkan Daffa yang hanya bisa mematung di depan rumah. Terlihat sederhana dan tidak penting, terlihat acuh dan dingin, tapi sepertinya Vanno dan kenangannya bersama Zura memang tidak bisa dipisahkan.


Ya, memang seperti itulah kenyataannya. Mata Vanno berair ketika memandang ke dalam rumah dimana semua barang usang itu masih ada disana. Meja kecil di depan pintu kamar, lemari kayu tempat Zura selalu bersembunyi. Semua masih ada disana. Dan Vanno ingat semua itu.


'Kamu pasti tidak bisa menemukanku, Van!'


Lagi-lagi ucapan itu terngiang di telinga Vanno, membuat hatinya semakin teriris perih. Bayangan Zura kembali mengitari ingatannya. Meski dia tidak bisa melihat saat itu, tapi sungguh demi apapun, gadis itu sudah begitu melekat di hati Evan.


Vanno meraba lemari kayu itu, rasanya masih sama. Masih seperti ketika ada Zura disana. Dia langsung menggeleng pelan dan mendengus senyum pedih.


"Zura, sampai kapanpun aku akan tetap mencarimu. Meskipun ada atau tidak ada lagi aku di pikiranmu saat ini," gumam Vanno seorang diri.


Vanno berbalik dan berjalan keluar rumah, "ada apa?" tanya Vanno.


"Ada yang ingin menemuimu," jawab Daffa. Dia menunjuk seorang gadis yang berdiri di depan rumah dekat mobil mereka. Gadis itu tersenyum begitu manis ketika memandang Vanno.


Pandangan matanya memancarkan kekaguman yang begitu besar.


"Siapa?" tanya Vanno dengan nada dingin dan datar.


"Kamu melupakan aku, Evan," ucap gadis itu.


Vanno mengernyit, dia langsung berjalan mendekat kearah gadis itu, begitu pula dengan Daffa.


"Kamu mengenalku?" tanya Vanno.


"Tentu saja, kenapa kamu begitu cepat melupakan aku," ucapnya dengan wajah yang cemberut. Tapi bisa Vanno dan Daffa lihat jika wajah itu, penuh dengan kepura-puraan.

__ADS_1


"Aku Zura," ucapnya dengan begitu yakin.


Vanno terdiam, begitu pula dengan Daffa.


"Zura," gumam Daffa dengan heran. Rasanya wajah gadis ini tidak asing. Sudah satu tahun Daffa meninggalkan desa ini, tapi dia masih ingat wajah-wajah orang yang ada disini. Terutama gadis ini, walaupun dia lupa siapa nama gadis ini.


Vanno terdiam, dia memperhatikan gadis yang mengaku Zura itu dengan lekat. Sangat lekat dari ujung kaki ke ujung kepala hingga membuat gadis itu gugup dan salah tingkah. Bahkan wajahnya terlihat memerah karena malu.


"Kamu Zura?" tanya Vanno.


Gadis itu mengangguk dengan cepat dan tersenyum lebar.


"Kak, tapi aku rasa … " perkataan Daffa langsung terhenti saat Vanno mengangkat tangannya dan langsung mendekat kearah gadis itu.


Gadis itu mematung ketika wajah Vanno mendekat kearah wajahnya. Pandangan yang semula datar dan tenang kini berubah tajam dan begitu mengerihkan, membuat gadis itu langsung mundur kebelakang.


"Kau mau menipuku ha," geram Vanno.


Gadis itu menggeleng kuat, "tidak tidak, bukan begitu. Hanya saja untuk apa kamu mencari dia. Dia itu cuma gadis pembawa sial," sahut gadis itu yang tidak lain adalah Anika.


Vanno memandang Anika dengan geram.


"Dia itu cuma anak seorang pelacur,"


"Diam!" bentak Evan hingga membuat Anika langsung terlonjak kaget, begitu pula dengan Daffa dan orang-orang yang pergi bersama Vanno.


"Sekali lagi kau berkata begitu, aku hancurkan mulutmu itu," ancam Vanno. Membuat Anika tak lagi berkutik.


Flashback off


Vanno memejamkan matanya sejenak dan kembali memandang lukisan yang dia buat.


"Bagaimanapun buruknya kamu di mata semua orang, kamu tetap malaikatku, Zura," ucap Vanno seorang diri.


"Sejauh apapun kamu pergi, aku yakin suatu saat kita pasti bertemu lagi. Aku memang tidak tahu bagaimana rupamu, tapi aku yakin, hatiku tidak akan pernah salah mengenalimu,"

__ADS_1


__ADS_2