
'Sudah ada janji di antara kita. Sejauh apapun kamu pergi, sejauh apapun kamu melangkah. Tetap saja, jalanmu kembali adalah ke pelukanku.'
...
Zura mematung, wajahnya semakin pucat, bahkan detak jantungnya juga semakin tidak beraturan. Apalagi ketika Vanno mulai berjalan ke arahnya. Pandangan lelaki itu memandang Zura dengan lekat dan sungguh tidak bisa Zura artikan apa yang ada di dalam pikiran lelaki itu.
Apa Vanno tahu jika dia adalah Zura? Apa Vanno sudah mengenalinya? Atau ada sesuatu hal yang lain?
Sungguh demi apapun Zura benar-benar membatu saat ini. Detak jantungnya benar-benar terasa nyeri seiring dengan langkah kaki Vanno yang semakin mendekat ke arahnya.
Deg
Tuan muda itu berhenti tepat di hadapan Zura. Memandang wajah Zura dengan pandangan yang semakin membuat perasaan Zura tidak menentu.
Tangan Vanno mulai terjulur, namun Zura langsung menghindar membuat tangan itu menggantung di udara. Kini mereka saling pandang dengan lekat.
"Kenapa kamu menghindar?"
Deg
Zura terdiam.
Suasana di depan rumah mewah itu langsung hening dan terasa tegang. Hanya ada suara percikan air terjun buatan yang menemani keheningan mereka. Bahkan pelayan dan supir yang menjemput Zura sudah pergi dari sana. Meninggalkan mereka berdua.
Mereka yang kini masih saling memandang dengan debaran jantung masing-masing.
"Kamu sudah tidak lagi mengenalku?"
Lagi, perkataan Vanno membuat Zura semakin terbungkam. Hanya matanya saja yang berkaca-kaca memandang lelaki tampan itu.
"Kamu sudah melupakan aku, Azzura?"
Setitik air mata Zura langsung menetes di wajahnya. Begitu pula dengan Vanno yang sudah membendung air mata memandang wajah cantik yang tak pernah dia lihat selama ini.
"Kamu melupakan Evan mu?" tanya Vanno kembali.
__ADS_1
Bibir Zura langsung bergetar menahan isak tangis yang tidak bisa dia tahan, dia menggeleng dengan air mata yang semakin banyak menetes. Memandang Vanno dengan perasaan yang tidak bisa dia jelaskan.
Vanno meraih bunga yang ada di tangan Zura dan meletakkannya di atas kap mobil. Namun, pandangan matanya terus memandang Zura yang sudah menangis saat ini. Tangan Evan kembali terjulur, dia menyentuh wajah basah itu, mengusapnya dengan lembut dan penuh dengan perasaan. Matanya terpejam, namun tangannya terus meraba dan merasakan hal yang memang pernah dia rasakan waktu itu.
Ini Zura nya, ini memanglah gadis baik hati yang sudah menjadi malaikat dalam hidup Vanno. Ya, ini gadis yang dia cari selama ini. Matanya, hidungnya, bibirnya, dan bentuk wajahnya, semua sangat terasa seperti yang pernah Vanno lakukan dulu.
Vanno membuka mata, dia memandang Zura dengan perasaan yang begitu bahagia. Bahkan senyumnya membuat Zura tidak lagi bisa menahan perasaan.
"Kamu masih mengenaliku?" tanya Zura dengan suara berat karena dia yang menahan isak tangis.
"Dasar bodoh, mau sejauh apapun kamu pergi aku pasti akan tetap mengenalimu, Zura," jawab Vanno. Dia langsung menarik Zura dan memeluknya dengan erat. Sangat erat bahkan sampai Zura bisa merasakan detak jantung Vanno yang berdetak kencang.
"Aku mencarimu kemana-mana, kenapa kamu pergi? Kenapa kamu tidak datang padaku?" tanya Vanno. Tangannya terus memeluk tubuh Zura dengan erat. Seakan dia sedang meluahkan perasaannya selama ini.
Rasa takut, rasa khawatir, rasa rindu dan hati yang selalu menyebut nama Zura kini sudah bisa dia luahkan. Dia sudah menemukan seseorang yang dia cari selama ini.
Begitu pula dengan Zura, dia masih saja menangis di dalam dekapan Vanno, seolah semua rasa sakit, rasa sedih dan rasa rindu yang selama ini dia pendam bisa dia lepaskan.
Vanno masih mengingatnya. Evan yang Zura kenal masih tetap mengingat semua janjinya.
Vanno memandang wajah Zura dengan lekat, sangat lama seolah dia sedang meneliti setiap inci dari wajah cantik itu.
"Kamu cantik sekali, akhirnya aku bisa melihat kamu lagi," ucap Vanno.
"Aku jelek," jawab Zura.
Vanno menggeleng pelan dengan senyum yang terus merekah di bibirnya. Namun tetap saja matanya berkaca-kaca karena dia begitu terharu dan sangat bahgaia saat ini.
"Kamu lebih cantik dari yang aku bayangkan, Zura. Kamu cantik sekali. Dan aku rindu kamu," ucap Vanno.
Mendengar ucapan itu membuat air mata Zura semakin mengalir, namun Vanno terus mengusapnya.
"Kenapa kamu tidak datang padaku? Padahal kita sudah bertemu waktu itu?" tanya Vanno sembari menarik tangan Zura untuk duduk di sebuah kursi taman yang ada di sana.
Dia mendudukkan Zura di sana dan masih terus memandang Zura dengan lekat. Seakan tidak ada puasnya. Vanno masih serasa tidak percaya jika tanpa di cari ternyata Zura sendiri yang ada di kota ini. Sudah satu pulau Kalimantan dia jelajahi, tanpa henti dan tanpa menyerah, tapi ternyata Zura ada di sini. Bagaimana mungkin bisa bertemu? Lucu bukan, tapi takdir memang serumit itu. Vanno mencari di sana namun ternyata Zura ada di kota ini. Kota yang sama dengannya.
__ADS_1
"Zura," panggil Vanno kembali di saat Zura masih saja terdiam.
Zura menarik nafasnya dalam-dalam untuk meredakan isak tangis dan perasaan bahagia itu. Dia memandang Vanno dengan sendu sembari berkata, "aku takut kamu tidak lagi mengenaliku,"
Vanno mendengus senyum, dia meraih tangan Zura dan menggenggamnya dengan lembut. Genggaman tangan yang masih sama rasanya seperti satu tahun setengah yang lalu.
"Bukankah aku sudah janji, aku tidak akan melupakan kamu. Aku tidak mungkin melupakan malaikat baik hati yang sudah menolong hidupku," jawab Vanno.
Zura langsung tersenyum getir mendengar itu, dia tertunduk dan entah kenapa hatinya terasa perih ketika mendengar Vanno mengatakan hal itu. Zura merasa jika Vanno hanya mengingat tentang budinya. Berbeda seperti Zura yang merindukan Vanno karena dia memang sudah jatuh hati pada lelaki ini.
"Aku mencari mu selama hampir dua tahun ini. Tapi kamu pergi dan menghilang dari desa itu. Bahkan aku sudah mencarimu ke seluruh kota Kalimantan, tapi aku juga tidak menemukanmu, Zura," ungkap Vanno lagi.
"Lalu kenapa kamu bisa tahu kalau aku adalah gadis yang kamu cari?" tanya Zura kembali.
Mereka masih saling pandang dengan lekat saat ini, bahkan genggaman tangan itu masih saling terpaut kuat.
"Bukankah aku pernah berkata jika aku selalu hafal aroma tubuhmu," jawab Vanno.
Zura tertegun.
"Setiap apapun yang mengingatkan aku padamu, selalu membuat aku tidak bisa tenang. Hingga di saat itu, aku melihat seorang gadis pembawa bunga yang nampak mematung memandangku. Aroma tubuhnya seperti harum aroma yang selalu aku rasakan selama hampir lima bulan. Aku fikir itu hanya halusinasiku lagi, tapi setelah aku sadari, gadis itu memang kamu. Zura ku," ungkap Vanno sembari menarik hidung mancung Zura dengan gemas.
Zura mendengus senyum, dia langsung memalingkan wajahnya yang merona mendengar ucapan itu. Membuat Vanno langsung tersenyum dan mengusap wajah Zura kembali.
"Sekarang aku sudah bisa melihat wajah kamu," ucap Vanno. Tangannya terus saja betah mengusap wajah cantik nan sendu itu.
"Jangan pergi lagi," pintanya kembali.
"Aku mau pergi kemana, tempat ku disini sekarang," jawab Zura.
"Aku .."
"Kak Vanno!" Tiba-tiba suara Zeze membuat Vanno dan Zura langsung terkesiap.
,,
__ADS_1
Untuk yang pertama kali, Vanno merasa kedatangan Zeze mengganggu waktunya.