
" kakek kenapa anda tidak membuka kado itu mungkin saja isinya akan membuat anda terkejut" ujar Evan.
suara Evan yang begitu keras membuat pandangan semua tamu tertuju kepadanya.
"kamu menantu sampah apa kamu tidak tau sopan santun kenapa bicaramu keras sekali kamu pikir kamu siapa" Richard berbicara sambil menunjuk ke arah Evan, ia sengaja ingin mempermalukannya.
para tamu mulai ribut "oh ternyata dia menantu yang tidak berguna".
"kenapa dia berani sekali berbicara bukankah dia hanya parasit keluarga ini" ujar tamu yang lain.
Richard sangat senang melihat Evan jadi bahan olok olokan.
memei dan robi serasa ingin segera pergi dari tempat ini.
"aku tidak perlu membukanya aku sudah tau isinya" kakek Lu berpikir hadiah mungkin paling besar hanya bernilai 100 juta saja.
"apakah anda pernah mendengar pepatah bahwa tidak boleh menilai hanya dari luarnya saja" jawab Evan.
"lancang sekali kamu kepada kakek apa kamu tidak sadar diri apa kamu pantas untuk berbicara" kakek Lu mulai marah.
"sudah kek lebih baik kita buka saja hadiahnya jika hanya barang murahan segera usir saja sampah ini" Richard memang menunggu nunggu untuk membuka hadiah itu ia ingin membalas mereka karna dalam proyek sebelumnya ia telah di permalukan tentu saja ia tidak akan melewatkan kesempatan ini.
"Evan jika isi di dalamnya barang murahan aku akan melempar mu keluar dari rumah dan menyuruh Shinta untuk segera menceraikan mu" memei sangat khawatir sekarang.
Evan tidak memperdulikan ucapan memei sama sekali ia tetap saja sangat tenang, Shinta yang melihat Evan tidak khawatir sama sekali juga mulai tenang.
"Shinta bawa kemari hadiah itu aku akan membukanya" kakek mengambil barang itu kemudian mulai merobek bungkus kado perlahan-lahan, kemudian mulai membuka kotak kardus yang menutupinya tiba tiba Kilauan cahaya muncul dari dalam kotak kardus itu.
setelah kotak kardus itu benar benar telah terbuka kakek Lu sangat terkejut melihat ada sebuah bantal giok berwana hijau yang sangat bersinar, ia terdiam beberapa detik.
para tamu yang melihat keindahannya itu juga ikut tercengang tidak terkecuali Ricard.
kakek Lu kemudian sadar kembali "apakah ini bantal batu giok" kakek memegangnya dengan tangan yang sedikit gemetar penuh rasa takjub.
__ADS_1
Richard yang masih tidak percaya ia terus berpikir bagaimana mungkin keluarga Shinta bisa memberikan hadiah yang jauh lebih baik dari yang ia berikan satu satunya yang terlintas di pikirannya itu mungkin saja itu barang palsu.
"aku tidak percaya mungkin saja itu barang palsu" Richard berkata dengan keras ia tidak mau malu di acara ini.
tetapi memang bantal batu giok itu sangat menakjubkan bahkan cahaya yang keluar pun sangat menyilaukan.
Kakek Lu pun sangat kagum ia berpikir bahwa barang ini jelas asli tapi bagaimana mungkin keluarga Shinta bisa mendapatkan nya jelas ini harganya mahal, kakek juga hanya bisa mendapatkan penjelasan yang masuk akal yaitu pasti barang ini palsu.
sebelum kakek sempat berbicara datanglah seseorang agak gemuk memegang tongkat tapi sangat terlihat beribawa menuju ke arahnya.
"apakah saya boleh melihatnya, saya adalah Liu".
para tamu yang melihat orang itu dan memperhatikannya mengetahui bahwa itu adalah tuan Liu yang terkenal sebagai pengamat barang antik terkenal di kota amster.
"tuan Liu terima kasih boleh kah anda membantu saya mengecek barang ini" kakek sangat mengenal tuan Liu karna ia lah yang mengundangnya untuk datang ke acara ini. dari pengalaman tuan Liu tentu saja sangat mudah untuk membedakan barang asli dan palsu.
tuan Liu mengambil benda itu dan mulai meraba dan melihatnya.
"barang ini asli aku berani menjaminnya"
Richard yang dari tadi begitu sombong sekarang mulai tidak tenang.
"kemarin aku juga ikut menghadiri acara lelang ad benda yang sama seperti ini cuma sedikit lebih kecil berhasil terjual dengan harga 10 miliar paling tidak nilai barang ini sekitar 15 miliar".
mendengar perkataan tuan Liu kakek tidak bisa menutupi perasaannya bahwa ia sangat senang sekarang.
Ricard dan Edwan sekarang sangat malu, serasa ad banyak kotoran yang di lemparkan ke mukanya bagaimana tidak mereka tadi begitu percaya diri bahkan sangat menghina dan meremehkan keluarga Shinta tapi sekarang semua berputar 180 derajat bahkan hadiah yang mereka berikan meski hampir menghabiskan seluruh tabungannya tidak ada apa apanya di bandingkan hadiah dari Shinta.
Evan juga sedikit kaget mendengar harga dari barang itu ternya cukup mahal tapi malah di berikan secara cuma-cuma oleh bos barang antik itu, Evan merasa suatu saat nanti ia harus membalas kebaikannya.
"anda sungguh beruntung kakek Lu mendapatkan hadiah yang begitu besar" ujar tuan Liu.
kakek Lu tampak senang ia tadinya memandang keluarga Shinta sebelah mata kini berubah seketika. "Shinta terima kasih atas hadiahnya maafkan kata kata kakek tadi".
__ADS_1
"tidak apa apa kek" Shinta segera kembali ke tempat duduknya.
memei dan robi membusungkan dadanya mereka tadi yang hanya tertunduk sekarang merasa sangat bangga banyak sekali pandangan mata mengarah kepada keluarganya dengan penuh rasa kagum.
banyak sekali para tamu yang ingin tau dari mana mereka mendapatkan bantal batu giok itu.
"tentu saja kami membelinya untuk kakek ulang tahun sebagai hadiah terbaik dari kami tidak seperti seseorang yang hanya memberikan hadiah tidak seberapa tapi sombongnya luar biasa" memei mencoba menjawab semua pertanyaan orang dan dengan sengaja menyindir Richard dan keluarganya.
Richard dan Edwan yang mendengarnya tidak bisa berkata apa apa.
pandangan para tamu mulai melihat jijik kepada sosok Richard yang sok hebat dari tadi.
para tamu yang tidak percaya bahwa mereka mampu membelinya tapi bagaimana pun barang itu benar ad jadi merekapun mempercayainya.
selanjutnya acara itu berjalan dengan meriah keluarga Shinta biasa selalu di rendahkan sekarang mendadak menjadi sanjungan para tamu.
ketika acara selesai keluarga Shinta kembali ke mobil untuk pulang, Evan yang menyetir.
"Evan dari mana kamu mendapatkan hadiah itu" tanya memei.
"aku di kasih teman Bu" ujar Evan dengan santai.
"mana mungkin ad teman begitu murah hati memberikan barang yang begitu mahal" memei nampak kesal dan tidak percaya.
" jika ibu tidak percaya lantas apa yang harus aku katakan agar ibu bisa percaya".
"kamu sedang mempermainkan aku ya"
"mana mungkin aku berani bu itu memang tamanku yang memberikan" Evan berkata yang sebenarnya bahwa memang itu di berikan oleh seseorang, memang wajar bagi mereka jika tidak mempercayainya.
Shinta yang mendengarnya juga tidak percaya bagaimana mungkin.
"sudahlah tidak usah ributkan yang terpenting hari ini kita mendapatkan muka dan kakek sangat bahagia.
__ADS_1
mari bantu author ya untuk terus berkarya dengan memberikan like terima kasih