
Evan dan Shinta sampai di rumah mereka masuk dengan raut wajah tersenyum dan bahagia.
"dari mana saja kamu evan" tanya memei dengan muka masam seperti biasa. sambil menaruh makanannya di meja.
"Bu kami ..." Shinta belum selesai bicara sudah di potong omongannya.
"aku tidak bertanya kepadamu aku bertanya kepada menantu tidak berguna ini".
Evan tidak ingin merusak suasana hati Shinta "Shinta lebih baik kamu segera masuk dan beristirahat" Evan menyuruhnya segera pergi agar tidak mendengarkan kata kata memei yang dapat merusak suasana hatinya.
"saya dan Shinta tadi baru pulang merayakan hari jadi pernikahan kami Bu".
"apa kamu merayakannya di pinggir jalan, makan 2 mangkuk mi, kamu membuat ku jengkel saja lain kali jika kamu tidak bisa memberikan hal yang mewah lebih baik di rumah saja".
"iya Bu aku mengerti" evan sangat malas untuk meladeninya. jika ibunya tau apa yang terjadi malam ini tentu saja mungkin sikapnya pasti akan berubah terhadap evan akan tetapi bagi evan itu bukan masalah yang terpenting adalah istrinya selalu bahagia.
"sudah kau cepat pergi aku melihatmu jadi tidak selera makan".
Evan segera pergi tanpa mengatakan kata kata.
ketika Evan masuk ke dalam kamar Shinta sudah tertidur di atas kasur karna kelelahan seharian. Evan mengambil selimut menyelimutinya ingin sekali ia mencium keningnya tapi ia masih belum punya keberanian. ia segera mengambil selimut dan berbaring di lantai.
tiba tiba ia menerima pesan bahwa kakaknya Dewi ye sudah berada di kota amster. besok ia meminta evan menemuinya di glory group, ia juga memberi tau Evan bahwa nanti di sana akan banyak orang yang hadir.
Evan sangat terkejut tiba tiba kakaknya sudah ada di sini banyak pikiran yang terlintas di benaknya apa yang kakaknya inginkan di sini.
esok hari Evan bangun seperti biasanya membersihkan rumah mencuci dan memasak. Shinta baru bangun dari tidurnya ia menyadari semalam karna terlalu lelah ia tidak tidur memakai selimut tapi kini ad selimut di badannya. "ternyata evan sangat perhatian kepadaku" ia tersenyum memikirkannya.
beberapa waktu kemudian Evan mengantar Shinta seperti biasanya, kemudian ia segera pergi ke glory group.
sesampainya di pintu ia sambut oleh Zaki, kemudian mereka segera menuju ke ruangan pertemuan di sepanjang jalan Zaki bercerita bahwa kakaknya mengumpulkan seluruh bos bos besar, pejabat pemerintah, orang orang kaya, bahkan juga mengumpul kepala preman di seluruh kota amster. Evan sedikit terkejut dengan perkataan Zaki nampaknya kakaknya ingin mengenalkannya ke seluruh orang besar di kota ini.
__ADS_1
setibanya Evan di ruangan Zaki membukakan pintu semua orang di dalam ruangan berdiri memberikan hormat kecuali Dewi ye.
Evan masuk sangat senang ini pertama kalinya ia bertemu kakaknya setelah sekian tahun. terakhir kali mereka bertemu dalam keadaan sangat miskin dan kakaknya pamit untuk mencari kedua orang tuanya.
Evan segera menghampiri Dewi ia memeluknya "kak bagaimana kabarmu" air mata Evan menetes dari pipinya jatuh ke atas pundak dewi. semua orang yang melihatnya ikut terharu.
"kakak baik baik saja bagaimana kabarmu" tanya Dewi.
"aku juga baik baik saja" Evan tidak mungkin mengatakan bahwa selama ini ia telah menikah dan hidup penuh hinaan ia takut jika kakaknya tau apa yang terjadi padanya maka ia akan marah dan menghancurkan keluarga Lu yang selalu memandang Evan seperti sampah, sebenarnya Evan tidak peduli dengan keluarga Lu cuma ia hanya khawatir pada istrinya.
beberapa saat kemudian Dewi mempersilahkan semua orang agar duduk kembali. Evan yang melihat semua orang bahkan hanya duduk saja mereka tidak berani sebelum di suruh kakaknya yang terpikirkan oleh Evan bahwa keluarganya sangat berkuasa.
"perkenalkan ini adik ku nama nya Evan ye karna aku sekarang berada terus di luar negeri jadi glory group ini aku serahkan ke padanya" tentu saja seluruh perputaran uang di kota amster semuanya berada di bawah naungan glory group.
semua orang memberikan tepuk tangan dan bersulang untuknya sebagai tanda hormat.
Evan pun bersulang untuk mereka "terimakasih untuk kalian semua, karna kalian sudah tau siapa aku jadi aku harap kalian dapat merahasiakan identitas ku untuk saat ini" Evan kemudian meminum segelas bir.
Dewi ye tidak berbicara apapun mengenai keinginan Evan untuk menutupi identitasnya, itu adalah urusan pribadinya pikirnya.
"baik kali ini aku ke kota amster untuk mengenalkan adik ku ini agar kita kalian bertemunya bisa saling menyapa, jadi langsung saja kita makan dan minum sampai puas" ujar Dewi ye.
setelah entah berapa lama Evan melihat jam d hp nya bahwa sudah waktunya Shinta pulang kerja.
"kak aku pergi dulu ada urusan penting" Evan tidak bisa mengatakan bahwa ia akan menjemput istrinya pulang kerja, karna ia belum mau mengatakan kepada kakaknya bahwa ia telah menikah.
"oke kamu hati hati di jalan" jawab Dewi.
Dewi memanggil Zaki "Zaki kamu tau Evan mau ke mana kenapa buru buru sekali dan ekspresi mukanya agak berbeda".
"nyonya muda biasanya tuan muda jam segini menjemput istrinya pulang bekerja" .
__ADS_1
mendengar kata kata Zaki bahwa Evan sudah menikah ia cukup kesal karna Evan tidak memberi tahunya. jadi Dewi ingin mencari tahu sendiri seperti apa istrinya.
"Zaki besok siang aku ingin bertemu dengan istrinya di restoran Vinsen aku harap kamu segera mengaturnya dan ingat jangan sampai Evan mengetahuinya".
"baik nyonya segera saya mengerjakannya" jawab Zaki.
Evan mengendarai mobilnya dengan cepat tidak perlu waktu lama ia telah sampai. Shinta sudah menunggu di pintu keluar.
Shinta segera masuk ke dalam mobil.
"dari mana saja tumben kamu telat menjemput ku"
"oh tadi aku ada urusan sebentar"
Shinta mendekatkan hidungnya ke depan mulut evan "kenapa ada bau alkohol".
"ini tadi aku pergi bertemu teman lama dan minum beberapa gelas saja".
"lain kali tidak usah minum aku tidak suka baunya" Shinta heran sejak kapan suaminya suka minum.
"baik aku mengerti".
esok hari ketika Shinta sedang bekerja cuaca hari itu sangat panas ia keluar ke depan perusahaan untuk membeli minuman dingin. ketika ia berbalik hendak kembali ada sebuah mobil mewah roll royce berhenti di depannya keluarlah dus orang berbadan kekar menggunakan setelan jas.
"nona bisa kah anda ikut dengan kami" tanya salah seorang tersebut.
"kalian siapa jangan macam macam ini tempat umum aku akan berteriak" shinta sangat panik
"nona tenang saja kami tidak berniat jahat kami hanya menjalankan perintah dari tuan kami" jawabnya sambil tersenyum.
"nona tolong percayalah kepada kami mohon agar nona bisa ikut" salah seorang yang lain ikut membujuknya.
__ADS_1
mari bantu author ya untuk terus berkarya dengan memberikan like terima kasih