Menantu Super Kaya

Menantu Super Kaya
episode 40 "Evan kembali"


__ADS_3

di rumah Shinta masih menangis memikirkan Evan ia tidak tau apa yang sedang terjadi kepadanya ia hanya bisa berharap semoga Evan baik baik saja.


memei dan robi tampak senang Karna mereka tidak perlu harus repot repot untuk menyingkirkan nya.


"haha bagaimana Tante setelah ayahku menyingkirkan Evan tampaknya anakmu sudah menjadi janda" tanya Riyan memperhatikan Shinta.


"tentu saja setelah menyingkirkan menantu tidak berguna itu aku memang berencana menjodohkan kalian" jawab memei.


Shinta masih tidak percaya ibunya begitu tega kepada Evan padahal Selami ini Evan selalu menuruti apa perkataannya walaupun ia selalu di tindas olehnya.


terdengar suara mobil dari luar rumah, terlihat loris keluar dari dalam mobil dengan memegang sebuah besi baja.


terlihat jelas ada bekas percikan darah di wajahnya semua orang mengira bahwa itu adalah darah Evan.


Shinta yang melihatnya menjadi lemas jatuh ke bawah ia menangis menutupi wajahnya dengan kedua tangannya ia mengira Evan telah di bunuh oleh loris.


"bagus suamiku akhirnya kamu kembali" Tina berjalan menghampiri loris.


"ayah terima kasih kamu telah membawa kembali harga diriku" ujar Riyan seraya mendekati loris.


tiba-tiba hal yang aneh terjadi loris langsung memegang leher Tina ia menamparnya berkali-kali.


"plak plak plak plak plak" suara tamparan itu sangat keras hingga gigi Tina sampai ada yang lepas.


semua orang yang melihat menjadi terkejut pada waktu itu termasuk memei dan robi melihat loris dengan gila memukul. bagaimana mungkin seorang suami memukuli istrinya begitu keji.


setelah beberapa kali tamparan akhirnya Tina jatuh ke lantai tidak sadarkan diri dengan mulut keluar darah.


"ayah apa yang kamu lakukan kepada ibu" ujar Riyan terkejut melihat loris yang begitu sayang kepada Tina telah berubah menjadi orang lain.


loris tanpa banyak basa-basi langsung bergantian menghantam dada Riyan dengan pipa baja hingga terpental beberapa meter membuat Riyan mengerang kesakitan. dapat di pastikan jelas ada beberapa tulang rusuknya yang patah.


"kalian masih beruntung paling tidak hanya beberapa bulan berbaring di rumah sakit dari pada harus kehilangan nyawa" ujar loris dalam hati.


memei dan robi sontak menjadi ketakutan mereka sangat menggigil.

__ADS_1


kemudian setelah melihat anak dan istrinya tidak sadarkan diri loris segera menelpon ambulan Evan yang melihat dari kejauhan terlihat sangat puas.


loris melakukan itu semua agar Evan merasa puas jika Evan tidak puas malah bisa jadi mereka akan jauh lebih menderita dari pada ini.


dari kejauhan Evan berjalan mendekati Shinta yang sedang duduk di lantai menangis menutupi wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya.


"Shinta kenapa kamu menangis" ujar Evan.


Shinta serasa mendengar suara Evan ia menoleh ke atas betapa senang hatinya melihat Evan kembali dalam keadaan baik baik saja.


Shinta segera bangun memeluk Evan dengan erat sambil terus menangis.


"apakah kamu tidak tahu aku mengkhawatirkan mu" ujar Shinta di dalam pelukan Evan.


"sudah aku sekarang sudah tidak apa apa" Evan mencoba menenangkan Shinta.


"sukur jika kamu tidak apa-apa aku tidak bisa membayangkan bila terjadi sesuatu kepadamu".


"kamu lihat aku baik-baik saja kan" Evan mulai mengusap air mata Shinta.


Evan mengajak Shinta untuk pergi masuk ke kamar untuk menenangkan diri melupakan apa yang terjadi barusan. sambil berjalan Evan melihat memei dan robi yang masih sangat ketakutan setelah melihat loris memukul istri dan anaknya tidak menutup kemungkinan jika memei dan robi juga dapat di pukul.


setelah mereka pergi memei dan robi masih tidak paham apa yang terjadi mengapa Evan baik baik saja justru loris malah menghajar keluarganya sendiri.


"sialan ntah kenapa anak itu bisa lolos begini" ujar memei.


robi juga merasa sangat aneh akhir-akhir ini Evan terlihat berbeda ia sudah berani berkata-kata dan melawan.


memei dan robi menutup pintu juga pergi masuk ke dalam kamar mereka masih terpikirkan kejadian aneh barusan hingga malam hari.


"lain kali kamu jangan seperti ini lebih baik mengalah saja aku takut kamu kenapa-kenapa" ujar Shinta.


"tidak apa-apa kamu tidak perlu khawatir" jawab Evan.


"lalu sebenarnya apa yang terjadi mengapa loris tidak menghajar mu justru kembali dan menghajar istri dan anaknya" tanya Shinta juga merasa bingung dengan apa yang terjadi barusan.

__ADS_1


Evan juga merasa bingung harus mengatakan apa belum saatnya Evan ingin memberikan identitasnya jadi lebih baik dia untuk diam dulu.


Evan diam tanpa berkata-kata, Shinta melihat Evan juga tidak ingin memaksanya.


"jika kamu tidak mau memberitahuku juga tidak apa-apa" ujar Shinta.


Evan tersenyum "ini sudah malah lebih baik segera istirahat besok kamu juga harus bekerja" ujar Evan.


Shinta berbaring di atas kasur tetapi perasaannya masih di selimuti rasa takut atas kejadian tadi rasa takut yang sangat besar rasa takut kehilangan.


"Evan maukah kamu menemaniku tidur di atas kasur" ujar Shinta malu malu.


Evan mendengar dengan sangat jelas walaupun Shinta mengatakannya dengan sangat pelan.


Evan kaget bercampur senang ini adlah yang ia tunggu selama ini ternyata ada hikmah dari kejadian ini.


"Shinta terima kasih" sangking gembiranya Evan sampai bingung mesti berbicara apa.


"aku harap kamu jangan mengambil kesempatan dan juga aku akan menaruh guling sebagai pembantu" ujar Shinta yang masih belum siap jika harus saling bersentuhan dengan Evan.


"tidak masalah aku juga mengerti" Evan sangat senang perasaannya waktu itu begitu bahagia.


Evan segera mengambil selimutnya dan naik ke atas kasur.


Evan langsung merasakan aroma tubuh Shinta dan suara napasnya terdengar begitu jelas membuat jantungnya berdegup kencang.


Shinta juga merasakan hal yang sama pada malam itu kedua yang yang baru tidur satu ranjang merasakan sesuatu yang sangat beda. rasanya seperti saling melengkapi dan saling membutuhkan.


tidak lama berselang mereka berdua akhirnya tidur dengan nyenyak.


tidak terasa waktu malam telah berubah menjadi pagi Shinta mulai membuka matanya dan mengusapnya.


tanpa di sadari guling di sebelahnya telah jatuh ke lantai dan kini ia sekarang berbaring di atas badan Evan menimpanya. Shinta terkejut ia segera turun perlahan lahan sementara Evan masih tertidur pulas ia tidak ingin Evan sampai tau atau ia akan merasa sangat malu.


Shinta segera masuk ke dalam mandi membasuh mukanya sambil berkaca.

__ADS_1


"astaga apa yang terjadi kenapa aku bisa tidur di atas tubuh Evan" ujar Shinta dalam hati.


Evan tersadar dari tidurnya melihat Shinta sudah tidak ada di sebelahnya Evan merasa malam ini kenapa begitu cepat Evan masih ingin merasakan tidur di satu kasur yang sama bersama-sama Shinta.


__ADS_2