Menantu Super Kaya

Menantu Super Kaya
episode 33 "sebuah gaun"


__ADS_3

situasinya di waktu itu bagaikan hening bagi Evan dan Shinta.


"bagai mana kita segera kembali ini sudah cukup malam" ujar Shinta secara tiba-tiba yang memecah keheningan tersebut.


"baik ayo kita segera kembali" jawab Evan.


Evan dan Shinta meninggalkan taman bermain itu mereka menaiki sebuah mobil taksi.


di rumah memei dan robi yang sedang menonton tv mendengar sebuah ketukan pintu. memei segera bangkit untuk membuka pintu.


ternyata ada seorang kurir yang mengirimkan bungkusan paketan yang cukup banyak atas nama Shinta.


setelah memei menandatangani tanda terima kurir itu segera pergi. memei segera membawa masuk barang barang itu dan menaruhnya di meja dekat tv.


"Mei itu paketan dari siapa" tanya robi.


"keliatan nya ini punya Shinta karna tertulis di bungkusnya atas nama Shinta" jawab memei.


robi mulai memperhatikan bungkus barang barang itu.


"Mei coba kamu lihat bungkusan ini sangat mewah" robi melihat sambil menyentuhnya.


memei pun juga lebih memperhatikan dengan jelas.


"benar juga katamu jika di lihat dari bungkusnya sudah jelas bahwa ini adalah barang mahal".


melihat dari bungkusnya yang terlihat mewah rasa penasaran memei dan robi timbul. mereka berniat hendak membukanya.


"tok tok tok"


terdengar suara orang mengetuk pintu memei mulai bangkit untuk membukakan pintu. ternyata Evan dan Shinta sudah kembali. muka memei berubah masam melihat Evan semakin hari semakin akrab dengan Shinta.


Evan melihat semua bungkusan yang ada di atas meja sementara robi hendak membukanya.


"jangan di buka" teriak Evan tiba tiba.


serentak mendengar teriakan Evan semua mata tertuju kepadanya.


"apa maksudmu kami tidak boleh membukanya bukankah ini barang punya Shinta apa hak mu melarang kami" bentak robi sambil memegang gunting hendak membuka bungkus itu.


Evan jelas tidak membiarkan orang lain untuk membukanya karna barang itu sengaja ia beli khusus untuk istrinya. akan tetapi tidak mungkin bagi Evan untuk dapat mengakui bahwa barang itu adalah ia yang membelinya.

__ADS_1


Shinta juga merasa bingung perasaanya ia tidak ada membeli barang apa lagi ia memperhatikan bungkus dan kemasannya juga sangat mewah.


sebelum Shinta sempat berbicara Evan segera membisikkan bahwa Evan lah yang membelinya tetapi menggunakan nama istrinya sebagai penerima.


Evan mau agar Shinta mengakui itu barangnya karna Evan tidak mau kalo barangnya di buka oleh orang lain.


Shinta pun yang mengerti maksud Evan langsung bersuara " ayah hentikan itu berisi barang pribadiku" ujar Shinta seraya menghampiri serta mengemas barangnya untuk di bawa ke kamar.


memei dan robi juga tidak jadi membuka barang itu apa lagi setelah mendengar bahwa isinya adalah barang pribadi.


Evan merasa lega jika sampai di buka oleh mertuanya tentu Evan akan kerepotan untuk menjelaskannya karna barang itu tampak mewah serta mahal.


Evan dan Shinta segera mengambil barang barang itu dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"Evan apa sebenarnya isinya" tanya shinta. sambil melihat ke arah barang-barang itu.


"aku membeli beberapa pakaian karna pakaian yang biasa ku kenakan sudah mulai luntur warnanya"


Shinta yang mendengarkannya merasa bersalah selama ini sangat jarang ia membelikan Evan pakaian.


melihat ekspresi Shinta yang terlihat sedih karna mengingat ia belum pernah membelikan Evan pakaian. kemudian Evan menyodorkan sebuah kotak kepada Shinta.


Shinta mengambil kotak itu dan membukanya, terlihat di dalamnya sebuah gaun berwarna merah muda yang sangat cantik dan berkilau bahkan juga ada beberapa berlian yang menghiasinya sehingga menimbulkan kesan mewah dan mempesona.


"ah Evan gaun ini sangat bagus" ucap Shinta.


Evan sangat senang melihat shinta yang menyukainya.


"tetapi sepertinya gaun ini sangat mahal dari mana kamu membelinya" tanya Dewi bingung.


Evan tersenyum "bukankah aku bilang suamimu ini orang kaya".


mendengar ucapan Evan Shinta meras kesal ia tahu jelas bahwa Evan tidak bekerja bahkan Evan berasal dari keluarga yang miskin.


"aku serius jika kamu tidak jujur aku tidak akan menerima gaun ini" tanya shinta.


Evan tau istrinya tidak akan percaya apa yang ia katakan. sehingga seperti biasa Evan harus kembali berbohong.


"aku tadi berjalan-jalan di mall untuk membeli sebuah celana ternyata mendapatkan kupon undian dan hadiah utamanya adalah gaun itu, bagaimana menurutmu" Evan kembali tersenyum.


"wah kamu sungguh beruntung, kalo begitu terima kasih atas hadiahnya" Shinta menerima hadiah dari Evan tampak dari ekspresinya bahwa Shinta sangat menyukai gaun itu.

__ADS_1


Evan masih tersenyum "sudah seharusnya".


"terima kasih juga untuk hari ini" ujar Dewi sedikit malu sambil berbaring di atas kasur.


Evan yang mendengarnya tertegun sejenak "lain kali kita juga bisa seperti itu lagi".


Evan juga segera berbaring di atas tikar ia memikirkan hari ini yang begitu indah menghabiskan waktunya bersama Shinta ingin rasanya ia memeluk istrinya sekarang. akan tetapi itu masih dalam angan-angan sehingga Evan hanya bisa memeluk guling yang dalam pandangannya adalah Shinta.


esok hari seperti biasa Evan membereskan rumah dan juga memasak kemudian Evan mengantarkan Shinta pergi bekerja.


setelah Evan mengantar Shinta ia segera pergi ke glory group karna semalam ia menerima pesan dari Zaki ada beberapa dokumen yang harus ia tanda tangani.


setibanya di glory group Evan langsung menuju ke kantor direktur di mana Zaki sudah menunggu.


"tuan muda anda sudah datang" sembari Zaki memberikan hormat menunduk kan badannya.


"iya" Evan segera duduk di kursi.


"mana yang harus di tanda tangani" tanya Evan.


Zaki mengambil beberapa dokumen dan meletakkannya di atas meja.


"tuan muda apakah siap nanti anda ada waktu" tanya Zaki.


"siang nanti aku tidak sibuk ada apa" ujar Evan sambil menandatangani dokumen satu persatu.


"gubernur kota ini mengundang anda untuk makan siang di rumahnya".


sebelumnya tadi pagi gubernur telah menghubungi Zaki ia berharap jika tuan muda ye bersedia untuk makan bersama, akan tetapi Zaki tidak bisa mengambil keputusan karna status tuan muda ye.


Evan belum merespon pertanyaan Zaki ia masih mencoba berpikir.


"jika tuan tidak berkenang untuk datang tidak apa apa tuan" Zaki menambahkan.


Evan mulai berpikir bagaimanapun seorang gubernur kota ini mengundangnya untuk makan tidak elok rasanya jika ia menolaknya. walaupun Evan bisa saja menolaknya dengan status keluarga ye yang begitu besar.


"baiklah sampaikan kepadanya bahwa nanti siang aku akan datang" ujar Evan sambil menutup dokumen yang telah selesai ia tanda tangani.


"baik tuan saya akan sampaikan kepadanya dan juga nanti siang saya akan menjemput tuan".


"oke nanti kamu jemput aku di simpang rumahku" Evan tidak membiarkan Zaki menjemputnya sampai ke rumah, Evan berpikir bagaimana ia bisa menjelaskan kepada mertuanya jika ia di jemput oleh mobil yang sangat mewah.

__ADS_1


__ADS_2