Menantu Super Kaya

Menantu Super Kaya
episode 23 "suasana sedih"


__ADS_3

gadis itu terlihat menggunakan seragam SMA, sangat tampak dari wajah lelaki tua itu bermuka mesum, gadis itu tidak berani berteriak tetapi wajahnya jelas sangat ketakutan. terlihat sekali lelaki tua itu ingin melecehkannya.


Evan mengikuti mereka berdua dari kejauhan. benar dugaan Evan lelaki tua itu membawa gadis kecil itu di sebuah gang sepi kemudian mendorongnya ke tembok hendak melecehkannya. Evan segera berlari mengejar.


lelaki tua itu mulai meraba tubuh gadis kecil itu, tiba tiba Evan lang memukul wajah lelaki tua itu. lelaki itu terpental cukup jauh meraung kesakitan hidungnya mengeluarkan darah segar.


"sial siapa kamu berani ikut campur" lelaki itu memegangi wajahnya.


gadis kecil tadi segera bersembunyi di belakang Evan.


"Paman tolong aku" ucapnya sambil menggertakan gigi dan badannya gemetaran.


Evan semakin marah bagaimana mungkin ada seorang pria tua yang tidak bermoral ini.


Evan menyuruh gadis kecil itu untuk mundur. pria tua itu mengeluarkan pisau langsung menyerang Evan.


"kurang ajar mati saja kamu" ujar pria tua itu sambil mengayunkan pisau ke arah Evan.


Evan yang terkejut berusaha menghindar tapi pisau itu masih menyerempet tangannya hingga terluka.


lelaki tua itu kembali mengayunkan pisaunya tetapi kali ini berhasil menangkapnya dan memukul wajah pria itu serta memberikan sebuah tendangan kerah ke arah uluh hatinya, sehingga pria itu jatuh mengerang kesakitan.


Evan dan gadis kecil itu segera meninggalkan tempat itu.


"terima kasih paman perkenalkan nama saya Klara" gadis kecil itu yang sembari dari tadi ketakutan sekarang mulai tersenyum.


"tidak apa apa sudah kewajiban paman, kamu mau ke mana" tanya Evan.


"saya mau ke tempat kakak saya bekerja paman seperti biasanya"


"kalo begitu biar paman antar bagaimana"


"terima kasih paman semoga tidak merepotkan paman".


Evan mengantar Klara sambil berjalan kaki sekitar 15 menit ia telah sampai di sebuah supermarket. mereka segera masuk untuk menemui kakak Klara.


Klara berlari memeluk kakaknya ia menceritakan semua yang terjadi kepadanya.


Klara dan kakaknya menghampiri Evan.


"terima kasih tuan perkenalkan nama saya Desi kakaknya Klara". Desi mengulurkan tangannya.


Evan menyalami Desi " bukan apa-apa itu sudah menjadi kewajiban kita semua" Evan bersenyum tipis.

__ADS_1


"sebagai rasa terima kasih bagaimana jika saya mentraktir tuan"


"ayok paman terima lah rasa terima kasih dari kami" Klara.


"oke lah kalo begitu"


mereka menuju sebuah restoran kecil di dalam supermarket itu. Desi memesan 3 mangkuk mie.


"oh ya rumah kalian dimana" tanya Evan.


"kami tinggal di kontrakan di dekat pasar pagi" jawab Desi di iringi dengan senyuman manis.


Evan yang sering berbelanja sayur cukup tau kawasan di pasar pagi banyak pemukiman kumis bisa di pastikan mereka bukanlah orang yang mempunyai banyak uang.


"lalu di mana ke dua orang tua kalian"


pertanyaan ini membuat Klara dan Desi terlihat sangat sedih, Desi tidak bisa berkata kata.


"ayah dan ibu sudah meninggal paman dalam kecelakaan sekarang kakak bekerja keras untuk menyekolahkan ku supaya kelak bisa jadi orang sukses" jawab Klara di iringi senyum.


Desi yang sempat sedih mengingat kejadian itu kembali tersenyum melihat adiknya.


Evan terasa hatinya sangat iba Oleh nasib mereka.


"tidak apa apa oh ya kamu bekerja di mana"


"aku belum bekerja" Evan tidak mau membongkar identitasnya.


"aku bekerja jadi kariawan di salah satu toko di sini jika kamu berminat aku bisa membantumu mendapatkan pekerjaan, walaupun gajinya tidak besar tapi paling tidak bisa mendapatkan 3 juta perbulan" ujar Klara.


Evan tidak berkata apa-apa ia melihat ke arah Klara ia memperhatikan pakaian seragam sekolah Klara yang sudah memudar bahkan ada bekas jaitan.


"maaf Desi gaji mu jadi kariawan di sini berapa" tanya Evan.


"tidak banyak banyak sekitar 4 jutaan perbulan tapi aku masih bersyukur karna masih banyak orang di luar sana yang belum bekerja".


pesanan mie mereka telah sampai mereka mulai memakannya, Evan terus memperhatikan Klara makan dengan lahap cukup jelas bahwa mungkin tadi pagi ia belum makan.


"dengan gaji segitu bagaimana ia bisa menjalani kehidupan yang begitu sulit ini" ujar Evan dalam hati.


"em Desi aku sebenarnya punya perusahaan kecil bagaimana jika kamu bekerja di tempat ku saja" Evan yang tidak tega melihat mereka berdua akhirnya membuka identitasnya.


mengapa Evan membuka identitasnya jelas karena sebelumnya ia berkata belum bekerja bagaimana mungkin ia menawari orang pekerjaan.

__ADS_1


Desi dan Klara melihat ke arah Evan tanpa berkata kata.


"aku bisa memberimu gaji 50 juta perbulan bagaimana".


Desi yang mendengarnya serasa tidak percaya gaji itu terlalu besar ia mulai takut ke pada Evan itu terlihat tampak jelas dari ekspresi nya.


"kamu tidak perlu takut kamu cuma ikuti aku saja" Evan memasang wajah penuh senyum.


Desi belum berkata apa apa ia masih bingung harus menerima atau menolak.


"setidaknya dengan gaji yang lebih besar kamu bisa menyekolahkan Klara dengan lebih baik membelikannya baju".


mendengar perkataan Evan Desi merasa sangat sedih selama ini ia belum bisa memberikan adiknya yang terbaik.


"bagaimana Klara kamu setuju kan kakakmu Bekerja di tempatku" Evan membujuk Klara karna ia melihat Desi masih ragu ragu.


"jika kakak bekerja tempat paman tentu saja aku bisa membeli baju baru dan tas sudah lama aku tidak pernah ganti" kata Klara dalam hati sambil melihat pakaian nya.


Desi yang melihat Klara paham dengan maksud Klara jika ia bekerja ketempat Evan tentu ia bisa membelikan pakaian baru buat adiknya.


"terimakasih tuan aku bersedia bekerja di tempat anda".


Evan menyuruh mereka menunggu di depan pintu keluar sepurmarket sementara Evan pergi mengambil mobilnya.


Evan menjemput mereka dan berjalan menuju glory group.


"hem aku punya satu permintaan kepada kalian" tanya Evan.


"tuan anda sudah baik kepada kami, katakanlah jika kami bisa membantunya" jawab Desi.


"aku minta kalian bisa menjaga rahasia ini dan juga menutupi identitas ku pada siapa pun" nada bicara Evan tampak serius.


Desi cukup heran ia berpikir bahwa Evan nampaknya cukup kaya, Karana Evan telah membantunya tentu saja ia akan menjaganya.


"baik tuan anda tidak perlu khawatir".


sesampainya di sana Desi dan Klara sangat takjub melihat bangunan kantor yang begitu besar dengan tinggi 100 lantai. ini lah glory group yang terkenal itu.


"selamat siang tuan muda" sapa para kariawan.


Desi merasa kagum ternyata Evan adalah orang yang super kaya.


sekertaris Lia segera menghampiri mereka karena sebelumnya Evan telah mengiriminya pesan bahwa ia akan mengajak seorang wanita Bekerja di perusahaannya ia memerintahkan Lia untuk mengantarnya melihat lihat.

__ADS_1


__ADS_2