
Evan pergi mengganti pakaiannya yang telah basah, kemudian ia pergi untuk memasak dan membereskan rumah seperti biasa.
"evannn" teriak robi yang sedang asik menonton tv yang menyiarkan acara judi batu. robi tertarik dengan judi batu ia sering mencoba peruntungan tetapi selalu gagal.
Evan yang mendengarnya dengan segera menuju ke ruangan tv di sana sudah ada robi dan memei sedang asik menonton tv.
"cepat buatkan aku kopi" ujar robi.
"hah menantu ini selalu tidak berguna hanya seperti pembantu" ujar memei.
"ha ha ha" tawa robi mengejek.
tanpa berkata apa-apa Evan menuju ke dapur untuk membuat kan kopi.
di ruang tv memei menceritakan ke pada robi akan pertemuannya dengan teman SMA nya yang bernama Tina dan juga anaknya yang bernama Riyan. memei menceritakan bahwa ia berniat menjodohkan Shinta dengan Rian. dengan begitu mereka tidak akan khawatir dengan masa depan mereka kelak.
"bagai mana menurutmu" ujar memei tersenyum licik.
"bagus sekali ide mu aku juga sudah muak melihat Evan selain mengerjakan pekerjaan rumah tidak ada hal lain yang bisa ia kerjakan" robi juga setuju.
"lusa mereka akan datang ke rumah kita" ucap memei.
"kalo begitu lebih baik kita sekarang jangan buang-buang waktu ini kesempatan bagus buat masa depan keluarga kita, ayo kita segera keluar untuk berbelanja pakaian setidaknya kita juga harus terlihat sebagai keluarga yang berada".
Evan telah selesai membuat kopi ia langsung menaruhnya di atas meja.
memei dan robi langsung pergi seperti tidak menganggapnya sama sekali. robi yang tadi minta di buatkan kopi juga tidak menyicipi kopinya.
mereka langsung pergi menggunakan mobil untuk berbelanja pakaian.
Evan sudah terbiasa dengan hal ini, kemudian Evan mematikan tv yang masih menyala.
ketika Evan menoleh ke arah pintu ternyata ia melihat Shinta yang telah kembali dari berolahraga.
Evan menatap ke arah Shinta, Shinta juga menatap Evan.
terlihat pakaian Shinta yang basah oleh keringat sehingga membuat bentuk tubuhnya samar-samar terlihat.
"kejadian kemarin aku minta maaf akau berjanji tidak akan mengulanginya lagi" ujar Evan.
"tidak apa-apa lupakan saja" jawab Shinta yang sudah tidak mau membahas hal semalam karna itu akan membuatnya malu dan canggung.
"apa kah kamu sekarang suka minum kopi aku sebelumnya tidak pernah melihatmu minum kopi" tanya Shinta melihat secangkir kopi di atas meja.
__ADS_1
Evan menggelengkan kepalanya
"tadi ada orang gila di depan rumah ia minta aku buatkan kopi tetapi setelah aku kembali ia sudah pergi" ujar Evan.
"ohh" Shinta menaiki anak tangga untuk pergi masuk ke kamar tetapi akan ketika baru dua kali melangkah ia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke bawah.
sebelum Shinta menyentuh kerasnya lantai Evan sudah menangkapnya.
"apakah kamu tidak apa-apa" tanya Evan khawatir, sedikit saja ia terlambat jelas Shinta mungkin akan terluka.
Shinta tidak berkata apa-apa ia malah justru wajahnya berubah memerah Semerah merahnya, pikirannya kacau sekacau kacaunya,
tubuhnya terasa aneh dan sangat panas.
Evan merasakan tubuh Shinta seperti menjadi panas dan juga wajahnya semakin memerah.
Evan baru sadar ternyata ia menyelamatkan Shinta dari jatuhnya tetapi kedua tangannya malah memegang erat buah dada Shinta.
"pantas saja terasa kenyal dan padat" ujar Evan dalam hati.
Shinta kemudian langsung mendorong Evan dan langsung pergi menuju kamarnya.
Evan masih merasakan hangat dan lembut di bagian tangannya ingin ia merasakan dan mencium aroma tangannya saat ini.
walaupun sebenarnya bagi pasangan suami istri itu adalah hal yang wajar saja tapi bagi Evan itu adalah kedua kalinya ia menyentuhnya setelah kejadian dahulu waktu Shinta sedang dalam ke adaan di beri obat.
siang hari Shinta masih berada di kamar. ia belum sarapan dari pagi Evan agak khawatir, sehingga ia pergi untuk menghampirinya.
"tok tok" suara Evan mengetuk pintu kamar Shinta.
"Shinta kamu sedang apa bolehkah aku masuk" tanya Evan.
Shinta berusaha untuk melupakan kejadian tadi bagi bagaimana mereka juga suami istri tidak ada gunanya mengurung diri di dalam kamar.
Shinta membukakan pintu untuk Evan wajahnya berusaha seperti tidak terjadi apa-apa.
"Shinta kamu baik baik saja kenapa kamu tidak makan, soal kejadian tadi pagi aku minta maaf aku tidak sengaja memegangnya" Evan mengatakan memegang sambil menggaruk kepada tetapi mencuri curi pandang melihat dada Shinta. bagaimanapun Evan adalah lelaki yang normal.
pipi Shinta memerah rasa malu juga terlihat jelas dari wajahnya. tidak dapat di pungkiri bahwa dada Shinta memiliki ukuran yang cukup besar sehingga membuatnya semakin cantik menggoda sehingga banyak sekali lelaki kaya yang menyukainya.
"oke sebentar lagi aku akan turun setelah aku mandi" Shinta masih menggunakan pakaian olahraga ia belum mandi dari pagi karna terus memikirkan buah dadanya yang tersentuh Evan.
"oke baiklah aku akan menunggumu di bawah"
__ADS_1
ujar Evan seraya berjalan pergi meninggalkan kamar Shinta.
beberapa menit kemudian Shinta turun dari kamar ia mengenakan pakaian santai dengan rambut yang masih basah sungguh sangat cantik menawan.
Evan merasa sangat beruntung bisa menikah dengan Shinta. Shinta bak seorang jelmaan bidadari di kota itu.
"Shinta aku telah membuat sup untukmu"
Evan seraya mengambilkan supnya.
Shinta duduk di kursi, sementara Evan memberikan supnya.
"terima kasih" ujar Shinta.
Shinta makan dengan lahap sup yang di buatkan oleh Evan.
"pelan pelan makannya nanti tersedak" ujar Evan dengan tangan menahan dagu memperhatikan Shinta yang sedang makan.
Shinta menjadi grogi diperhatikan oleh Evan.
"kamu jangan memandangiku terus" ucap Shinta merasa malu.
dari luar rumah terdengar suara mobil tidak lama berselang memei dan robi sedang masuk ke dalam rumah.
memei dan robi baru saja pulang dari berbelanja pakaian baru untuk menyambut Tina dan Rian.
"Bu kalian dari mana" tanya Shinta kepada memei.
"kami dari berbelanja pakaian baru besok akan ada teman SMA ku datang bersama anaknya aku berencana mengenalkannya kepadamu" ucap memei.
"maksud ibu" Shinta seketika berhenti dari makannya.
"sudah jelas aku akan menjodohkan mu dengan anaknya" memei tertawa sinis.
"tapi aku sudah menikah" Shinta mulai tidak suka mendengar ia akan di jodohkan.
"gampang tinggal kamu ceraikan saja dia" ujar memei sambil menunjuk ke arah Evan.
"Evan lebih baik kamu segera ceraikan Shinta karna kami sudah menemukan orang yang jauh lebih baik dari pada kamu yang pengangguran.
Evan tidak menggubris kata-kata dari mereka, andai saja mereka tau siapa Evan sebenarnya tentu mereka akan menjadi gila memujanya.
"Bu aku tidak akan menceraikan Evan, selama ini kami baik baik saja" ujar Shinta sangat serius.
__ADS_1