
tidak lama Shinta keluar dari kamar mandi dengan muka sedikit menunduk ia berharap Evan tidak mengetahui apa yang terjadi barusan.
"maaf aku baru bangun kesiangan" ujar Evan menggaruk kepalanya yang tidak terlalu gatal dengan mata sedikit merah.
"iya tidak apa-apa" Shinta bisa akhirnya bisa tenang sepertinya Evan tidak mengetahui kejadian semalam tentang ia yang memeluknya dari atas.
Shinta sedang bersiap siap untuk berangkat kerja Evan sedang memberereskan bekas kejadian semalam.
kemudian Evan mengantarkan Shinta untuk pergi bekerja. sementara di rumah sakit Tina dan Riyan sudah sadar dari pingsannya. loris menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi tetapi ia tidak memberi tahu tentang identitas Evan ia hanya memberi tahu bahwa Evan buka orang yang mampu mereka singgung, dan lain kali lebih baik jangan mengusiknya atau kalian akan berakhir menyedihkan.
Riyan dan Tina tertegun mendengar perkataan loris bukankan Evan hanya menantu sampah. tapi loris tidak mungkin berkata omong kosong dan juga dengan kejadian semalam sehingga mereka berdua memilih untuk tidak lagi berurusan dengan Evan.
sampai di perusahaan Shinta langsung masuk ke dalam kantor. ketika Evan hendak menaiki mobil dan pergi.
"Yo bukankah ini menantu yang numpang makan itu" sebuah suara berasal dari belakang Evan.
Evan lalu menoleh ia melihat Richard cucu kakek Lu dan juga sepupu dari Shinta.
Evan sangat malas berurusan dengannya sehingga ia tidak memperdulikannya dan hendak masuk ke dalam mobil.
tiba tiba tangan Richard menahan pundak Evan.
"sombong sekali kamu ingat kamu itu hanya menantu tidak berguna di keluarga kami" ujar Richard.
"sama seperti istrimu juga tidak berguna" Richard memang tidak menyukainya Shinta sama sekali apa lagi setelah ia menjadi pemimpin proyek itu.
tiba-tiba Evan langsung melepaskan pegangan tangan Richard lalu mencekiknya dengan kuat.
"nama istriku apa pantas untuk kamu sebut" Evan mulai marah ia paling tidak suka jika ada yang mulai menjelekan istrinya.
Ricard mencoba melepaskan diri tetapi ia tidak cukup kuat. Richard hanya bisa terdiam ia sadar tidak akan bisa melawan Evan. jika berkelahi bisa di pastikan bahwa Richard akan kalah.
"jika kamu masih brani menyebut istriku aku pastikan kamu akan menderita" ujar Evan.
Evan kemudian melepaskan Richard seraya pergi mengendarai mobilnya.
__ADS_1
"sialan akau akan membalasnya kamu pasti akan menderita liat saja nanti" ujar Richard memegangi lehernya yang sakit.
Richard serasa tidak percaya apa yang di lakukan Evan barusan kepadanya. Richard terus memandangi mobil Evan yang telah berjalan meninggalkannya
"tringgg" suara hp Evan berbunyi.
ternyata kakaknya Dewi ye menelponnya.
"halo Evan kamu sedang berada di mana" tanya Dewi yang baru tiba di kota amster.
"aku sedang berada di jalan ada apa kakak menelponku" tanya Evan.
"aku sedang berada di glory grub kamu kemari segera" ucap Dewi.
"oke aku akan segera ke sana" Evan terkejut kakaknya sudah ada di sini ia sangat senang sehingga ia segera pergi ke glory group.
di glory grub Dewi sedang berbicara dengan Zaki. Dewi bertanya tentang kehidupan adiknya belakangan ini.
Zaki menceritakan semuanya kepada Dewi termasuk Evan yang selalu di tindas oleh mertuanya dan juga keluarga mertuanya.
tidak lama Evan tiba di glory group ia segera menuju ke tempat Dewi.
Evan membuka pintu lalu masuk ia melihat Dewi sedang duduk di kursi Evan terlihat senang ini pertemuan kedua kalinya selama beberapa tahun terakhir.
"kak bagaimana kabarmu" tanya Evan.
"aku baik baik saja" ekspresi Dewi terlihat masih kesal.
"ada apa yang terjadi kenapa wajahmu terlihat kesal" Evan merasakan sesuatu.
"Evan apakah selama ini kamu selalu di tindas oleh mertuamu selama kamu menikah" tanya Dewi.
Evan terkejut Dewi menanyakan itu kepadanya, kakaknya tau dari mana.
"tuan muda saya minta maaf nona ye bertanya kepada saya dan saya tidak bisa membohonginya" Zaki tidak bisa membohonginya Dewi karna dengan banyak koneksi Dewi bisa mengetahuinya dengan mudah. justru jika Zaki berbohong tentu ia takut tidak mampu menanggung akibatnya.
__ADS_1
Evan melihat ke arah Zaki ia juga tidak bisa menyalahkan Zaki, dan juga Zaki telah banyak membantunya.
"kak aku baik baik saja" ujar Evan mencoba menenangkan kakaknya.
"aku tidak terima adikku di perlakukan seperti itu apa bagusnya keluarga Lu akau akan hancurkan mereka" bentak Dewi.
Evan merasa sangat cemas dan gawat, jika kakaknya menghancurkan keluarga Lu tentu akan berimbas kepada seluruh anggota keluarga Lu itu bisa membuat Shinta sangat sedih. Evan sangat mencintai Shinta ia tidak ingin melihatnya sedih.
"kak aku mohon kakak tenang saja aku bisa mengurusnya" ujar Evan terlihat tampak memohon.
"apakah kamu puas di perlakukan seperti itu, kamu selalu di hina di maki selama ini aku mendengar kamu sudah menikah aku mengira kamu cukup bahagia ternyata tidak demikian" amarah Dewi bergejolak.
"kak aku sangat mencintai istriku jika kakak menghancurkan keluarga Lu itu akan membuatnya sedih aku tidak ingin itu terjadi" ujar Evan dengan nada perasaan yang dalam serta tatapan mata yang sangat berharap mengarah kepada Dewi.
Dewi melihatnya adiknya begitu memohon hati mulai pelan pelan menjadi tenang.
"kak aku mohon kepadamu biarkan aku yang mengurus masalahku sendiri" ucap Evan.
setelah beberapa saat Dewi pun menjadi luluh oleh adiknya ia memutuskan untuk tidak menghancurkan keluarga Lu.
"oke tapi aku tidak ingin lagi mendengar kamu selalu di rendahkan dan di remehkan" ujar Dewi ye dengan tegas.
"baik kak akau berjanji" Evan bisa merasa lega hampir saja keluarga Lu akan musnah.
setelah amarah Dewi mulai mereda mereka mengobrol asik Evan juga menyampaikan bahwa ia sangat mencintai cucu kakek Lu yaitu Shinta.
karna Shinta lah Evan yang membuat Evan belum bisa untuk menghukum atau bahkan menghancurkan keluarga Lu yang selalu menghinanya karna Evan tidak ingin membuat Shinta menjadi sedih.
setelah cukup lama Evan berpamitan bahwa dia ada urusan yang harus di kerjakan sehingga harus meninggalkan Dewi dan berjanji akan segera menemuinya nanti.
urusan Evan adalah tentang memasak tetapi ia tidak mungkin menceritakan kepada Dewi ia takut Dewi kembali menjadi marah.
setelah Evan pergi "aku memang tidak menganjurkan keluarga Lu tetapi tidak ada salahnya bagiku untuk membuat perhitungan kepada Meraka" ujar Dewi dalam hatinya.
di tempat lain memei dan robi mereka pergi untuk makan di luar mereka tidak ingin mengingat kejadian semalam yang tidak masuk di akal bagaimana Evan baik baik saja sedangkan loris malah menghajar keluarganya itu membuat mereka semalam susah untuk tidur dan sungguh tidak bisa dimengerti jadi mereka memilih untuk keluar dan jalan-jalan.
__ADS_1