
memei sangat kesal seolah olah sedang di permainkan oleh menantunya yang tidak berguna.
"Shinta aku sudah memikirkannya bagaimana jika mobil ini kamu berikan kepada kami" kata memei.
"apa Bu" Sinta sangat kaget.
"kami sudah cukup tua biar kami yang mengendarai mobil ini kamu dan Evan bisa memakai mobil yang lama" tentu saja memei ingin mengambil mobil ini untuk keluar jalan jalan menunjukan kepada teman temannya dan juga untuk pamer
"tapi Bu" Shinta bingung bagaimana ia bisa menerima nya karna sebenarnya yang membeli mobil ini adalah Evan bukan dia. Jia Shinta yang membelinya bukan masalah tapi ini Evan, Shinta mulai merasa sangat bersalah.
" tidak ada tapi tapian bukankah kamu sudah menjadi ketua proyek kenapa begitu pelit bukankah uangmu banyak".
"sudahlah Shinta biarkan ayah dan ibumu yang merawat mobil ini" robi pun sangat ingin juga memiliki mobil ini.
"sudahlah Shinta tidak apa apa" ujar Evan kepada Sinta dengan santai.
"tapi bagaimana denganmu" jawab Shinta.
"tidak apa tidak masalah".
"hei apa hak mu ikut bicara kamu pikir mobil ini kamu yang membelinya sehingga kami harus meminta pendapatmu" memei mencemooh Evan.
"Evan lebih baik kamu konsen menyetir saja ini bukan urusanmu" robi juga berbicara.
Shinta yang mendengarnya sungguh sangat malu terhadap tingkah laku kedua orang tuanya.
"sudahlah yah Bu jika kalian menginginkan mobil ini kalian bisa memakainya" jawab Shinta dengan sangat kesal.
sesampainya di rumah memei dan robi langsung masuk ke dalam rumah, sementara Evan dan Shinta memarkirkan mobilnya.
"Evan aku minta maaf atas nama kedua orang tuaku".
"tidak apa aku sudah terbiasa"
" tetapi kamu lah yang membeli mobil itu bagaimana mungkin mereka bisa seperti ini" Shinta merasa malu dengan sikap kedua orang tuanya ia pun menundu kan kepalanya.
tiba tiba Evan membelai rambut Shinta dan mengangkat kepalanya seraya berkata
"bukankah mereka kedua orang tuamu dan aku adalah suamimu jadi aku menganggap mereka juga sebagai orang tuaku".
Shinta yang mendengar kata kata Evan di tambah sentuhan tangannya hatinya sangat tersentuh pipinya memerah ia segera pergi dengan cepat masuk ke dalam rumah.
esok pagi hari Evan yang baru selesai mencuci piring pergi ke depan rumah ternyata Shinta sudah berangkat kerja tetapi kenapa mobil butut nya masih ada.
__ADS_1
Evan mengecek mobil itu dan berupaya menghidupkannya, ternyata mobilnya sedang rusak. "pantas saja Shinta sudah berangkat cuaca sedang mendung mungkin dia naik taksi" ujar Evan dalam hati.
langit mulai gerimis "musim hujan ini paling tidak selama 3 bulan ke depan susah juga jika menggunakan sepeda listrik ini" Evan berpikir.
akhirnya Evan memutuskan untuk membeli satu buah mobil lagi.
kemudian Evan segera membereskan pekerjaan nya memakai mantel hujan dan berangkat menuju toko mobil yang kemarin, menggunakan sepeda listriknya.
setelah sampai Evan melepaskan mantelnya dan memarkirkan sepeda listriknya.
Evan masuk ke dalam toko ia melihat ke arah mobil yang pernah ia beli.
kariawan toko yang kemarin kembali melihat Evan ia bergegas menghampirinya "halo tuan ada yang bisa saya bantu apakah tuan ingin membeli mobil lagi".
kariawan ini tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, kemarin ia terlalu bodoh meremehkan orang sekarang sikapnya sangat ramah dan bersahabat. Evan pun tampaknya sudah melupakan kejadian sebelumnya.
"saya ingin membeli sebuah mobil".
"boleh saya tahu model seperti apa yang tuan inginkan" kariawan berkata dengan sangat lembut.
"saya ingin membeli mobil seperti kemarin" Evan membeli mobil sama persis seperti kemarin karna Evan merasa nyaman mengendarainya.
"baik tuan mari ikuti saya" kariawan mengantarnya melihat mobil tersebut.
kariawan sangat heran melihat Evan membeli mobil bahkan seperti membeli kacang, mungkin dia orang yang sangat kaya.
tentu saja jika Evan mau dia bisa saja membeli toko ini dan seluruh isinya.
"baik tua mari ikuti saya ke ruangan"
setengah jam kemudian semua urusannya telah selesai Evan segera pergi untuk menjemput istrinya.
kariawan itu sangat senang ternyata Evan telah melupakan kejadian tempo lalu bahkan dia juga bisa mendapatkan bonus.
Evan sampai di depan kator ia menunggu Shinta. tiba tiba hp Evan mendapatkan pesan
"dik seminggu lagi aku ingin jalan jalan ke kota amster bertemu dengan mu" ternyata itu pesan dari kakaknya Dewi ye.
Evan terkejut ad keperluan apa kakaknya, Evan takut kakaknya akan membongkar identitasnya. tentu saja Evan tidak mau itu semua terjadi, Evan terus berpikir akhirnya ia tidak membalas pesan itu ia berharap kakaknya tidak jadi datang dalam waktu dekat ini.
Shinta masuk kedalam mobil " ada apa kamu kenapa bengong tidak" tanya Shinta.
Evan melihat ke sebelah dan tersadar " tidak apa apa hanya ad sedikit masalah"
__ADS_1
"masalah apa coba ceritakan padaku mungkin aku bisa membantu".
"masalahnya kamu terlalu cantik makanya aku jadi bengong memikirkan mu" ini pertama kalinya Evan menggombal kepada istrinya, memang istrinya terlihat sangat cantik hari ini.
"sialan kamu menggodaku" Sinta memalingkan mukanya.
"oh ya bagai mana kamu bisa membawa mobil ini bukankah ibu berkata ia akan memakainya" Shinta paham betul sifat ibunya jika ia sudah mendapat yang ia inginkan tidak akan mudah ia mengembalikannya.
"hem aduh gimana ya aku membeli yang baru lagi" sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
"apa gampang sekali kamu membeli mobil"
"aku masih ad tabungan"
"Evan sebenarnya berapa banyak tabunganmu aku curiga" bagaiman mungkin membeli 2 mobil dalam beberapa hari apa aku sedang bermimpi itu yang ad di pikiran Shinta.
"kalo aku bilang aku kaya sekali apa kamu akan percaya"
"sudahlah kamu jangan banyak berkhayal".
mereka asik mengobrol Shinta pun sudah tidak mempertanyakan asal mobil itu.
"bagaimana kita pergi jalan jalan" Evan berkata sambil bercanda tapi mengandung makna yang dalam.
"apa kamu mau mengajak ku berkencan" Shinta paham maksud Evan.
Evan kembali menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal ia merasa malu ini pertama kalinya ia mengajak istrinya jalan jalan.
"boleh kebetulan sekali aku ingin membeli baju".
Evan sangat senang bahwa istrinya bersedia sampai ia batuk dan tersedak tidak bisa di bayangkan perasaan Evan saat itu.
akhirnya nya mereka pergi jalan ke mall karna Shinta juga ingin membeli baju.
sesampainya di mall mereka melihat lihat toko baju.
"nampaknya toko cukup bagus" Evan menunjuk ke arah toko sambil memanggil Shinta.
Shinta yang menoleh melihat toko itu "kamu jangan bercanda mana mungkin kita mampu membeli barang di sana itu adalah toko kelas atas".
Evan tau istrinya adalah orang yang sederhana tidak mungkin ia mau menghabiskan banyak uang hanya untuk membeli baju, "tapi sekarang ad aku apapun yang kamu mau pasti akan ku turuti" ujar Evan dalam hati.
mari bantu author ya untuk terus berkarya dengan memberikan like terima kasih
__ADS_1