
memei melihat ke arah Evan ia terlihat sangat tidak senang dengan ke hadiran Evan.
"andai saja kamu menikahi seorang yang kaya raya tentu tidak akan ada yang berani menindas kami" ujar memei yang kesal melihat Evan seperti tidak berguna.
memang benar pada Waktu itu hanya orang kaya dan berkuasa yang bisa menindas orang sesuka hati.
"ma ini tidak ada hubungannya dengan Evan" ucap Shinta.
"kamu sekarang sering terus membelanya apa kamu sudah lupa bahwa kami adalah orang tuamu" ujar memei sangat kesal kepada shinta yang terus membela Evan.
"aku tahu kalian adalah kedua orang tuaku dan Evan juga suamiku ma ia juga tidak ada hubungannya dengan kejadian ini".
memei juga tahu ini tidak ada hubungannya dengan Evan ia hanya ingin melampiaskan kekesalannya kepada Evan.
melihat memei dan robi sembari dari tadi menghina Evan Shinta memberikan sebuah kartu ATM dan menyuruh Evan untuk mengurus biyaya rumah sakit.
"baiklah kalo begitu aku akan mengurus biyaya rumah sakitnya dulu" ujar Evan sembari pergi meninggalkan ruangan itu.
esok hari memei dan robi sudah boleh di bawa kembali ke rumah. Evan Shinta menjemput mereka dan membawa mereka kembali ke rumah.
beberapa hari berlalu memei dan robi juga sudah mulai pulih dan sehat kembali. sore hari mereka duduk di kursi sambil menonton TV. sebuah berita menyampaikan bahwa gubernur Albert akan membuat sebuah pesta besar untuk merayakan ulang tahun anaknya. di sampaikan juga bahwa setiap warga kota amster yang ingin datang di perbolehkan.
memei dan robi sangat tertarik ia tidak boleh melewatkan kesempatan baik ini. selain mereka bisa menikmati pestanya sudah jelas nanti di sana akan banyak hadir banyak orang kaya sapa tau mereka bisa berteman dengannya. jelas ini sangat menguntungkan.
pesta itu akan di adakan lusa jelas pesta yang sangat meriah karna Albert merupakan pemimpin kota itu.
Evan yang sedang menunggu Shinta pulang kerja hp nya berbunyi.
"kring" sebuah telpon yang ternyata dari gubernur Albert sebelumnya Albert telah meminta nomor Evan di pertemuan sebelumnya.
"halo tuan Evan" sapa Albert dalam telepon.
"oh iya ada apa" tanya Evan.
"begini tuan lusa saya akan mengadakan sebuah pesta perayaan ulang tahun anak saya, saya berharap tuan bisa hadir" tanya Albert sangat menghormati Evan dan berharap ia bisa datang.
"oke baiklah aku akan berusaha untuk bisa hadir" ujar Evan ia merasa tidak enak bila tidak hadir karna gubernur sendiri yang mengundangnya dan ia harus menghargainya.
"terima kasih tuan Evan, selamat sore" Albert terlihat sangat senang mendengar Evan akan datang ini benar suatu keuntungan yang besar.
__ADS_1
lusa Evan akan menghadiri acara pesta di tempat Albert. ia berpikir untuk mencari alasan agar Shinta tidak tau, akan susah jadinya bila Shinta juga menghadiri pesta tersebut.
"kamu sedang memikirkan apa" tanya shinta yang datang tiba-tiba.
Evan terkejut dan menoleh ternyata Shinta sudah ada di belakangnya.
"tidak ada apa apa aku hanya sedang menunggunya" ujar Evan.
"kalo begitu lebih baik kita segera pulang hari sudah mulai gelapnya". ajak Evan.
Evan dan Shinta naik ke dalam mobil menuju ke arah rumah.
"hem Shinta apakah kamu lapar" tanya Evan sambil menyetir.
"iya aku sudah mulai lapar" jawabnya.
"bagaimana jika kita singgah makan sebentar akau tahu tempat makan yang cukup enak di sekitar sini"
"iya boleh" Shinta mengangguk.
Evan berhenti di sebuah kedai di pinggir jalan terlihat kedai itu sangat ramai dulu sebelum Evan mengenal Shinta ia sering makan di sini karena selain harganya yang murah juga rasanya yang enak.
"nak Evan sudah lama kamu tidak kemari" ujar pemilik kedai itu.
"iya Bi sudah lama sekali" jawab Evan.
"wanita cantik di sebelah mu ini siapa".
"perkenalkan bi ini Shinta dia istriku" jawab Evan tersenyum.
"halo bibi saya Shinta" seraya menjulurkan tangan menyalaminya.
"halo saya pemilik kedai ini kamu bisa memanggilku bibi" seraya menyalami Shinta.
"istrimu sungguh cantik Evan kamu beruntung"
Evan merasa malu dan bingung mau menjawab apa, Shinta juga terlihat malu.
"kalian mau pesan apa" tanya bibi pemilik kedai itu.
__ADS_1
Evan memesan 20 tusuk sate ayam dan 10 tusuk sate kambing ia juga memesan dua porsi nasi dan juga dua botol mineral dan satu botol bir.
tidak lama berselang makanan telah tiba di meja Shinta dan Evan makan dengan lahap. mereka makan hingga perut mereka kenyang.
makanan memang terlihat biasa tetapi rasanya lumayan enak.
Evan membuka bir untuk melepaskan kepenatan.
"Shinta apakah kamu ingin meminumnya" tanya Evan.
Shinta juga berpikir dalam beberapa hari ini begitu banyak masalah tidak ada salahnya ia meminumnya untuk melepas kepenatan.
"oke baiklah" jawab Shinta.
Evan menuangkan bir ke dalam gelas. Shinta langsung meminumnya terlihat sekali bahwa Shinta tidak biasa meminumnya mukanya mulai merah merona.
terlihat suasana sangat indah pada waktu itu Evan kembali memesan bir dan tidak terasa ia telah memesan beberapa botol bir Shinta yang tidak biasa minum juga menghabiskan beberapa gelas.
Evan sama sekali tidak merasakan mabuk karna dulu ia sering minum di sini bersama teman temannya.
setelah selesai mereka makan mereka segera kembali hari itu itu jam 8 malam tampak sekali Shinta yang sudah mabuk Evan segera membawanya pulang ke rumah.
sesampainya di rumah Evan membawa Shinta yang agak sempoyongan langsung menuju kamar.
ia melepaskan sepatunya dan menidurkannya di atas kasur Shinta yang mabuk begitu menggoda mukanya agak merah sangat cantik apalagi bajunya yang sedikit turun terlihat sedikit buah dadanya membuat Evan menelaah ludahnya.
Evan membaringkan Shinta kemudian ia berbalik badan hendak mandi terlebih dahulu sebelum ia tidur.
tiba tiba-tiba Shinta berbicara "kamu mau kemana jangan tinggalkan aku" seraya Shinta menarik lengan Evan dalam kondisi mabuk.
"aku tidak kemana-mana hanya ingin mandi sebentar" jawab Evan tetapi ia segera duduk di atas kasur karna pegangan Shinta yang kuat.
tiba tiba-tiba Shinta yang dalam kondisi mabuk bangun dan mendorong Evan jatuh ke atas kasur dan ia naik ke atas tubuh Evan.
Evan sontak terkejut badannya memanas ia juga merasakan tubuh Shinta yang memanas.
kemudian tiba-tiba Shinta mencium bibir Evan dengan lembut sontak saja napsu dalam diri Evan pun bergejolak. bibir shinta terus mencium Evan hingga sampai ke lehernya, kemudian Shinta mulai membuka bajunya.
"karna kamu yang meminta aku harap besok kamu tidak menyalahkan ku" ujar Evan kemudian mendorong Shinta sehingga Shinta menjadi di bawah dan Evan di atas.
__ADS_1