
Lia menyapa Evan memberikan hormat membungkukkan badannya. kemudiaan mendatangi Desi.
"hai nona saya sekertaris Lia tuan telah mengatur saya untuk mengajak anda berkeliling".
"baik terima kasih maaf merepotkan".
Lia dan Desi segera pergi berkeliling, sementara Evan dan Klara duduk di sebuah sofa sambil menunggu mereka.
Klara tampak senang dan mengayun ayun kan kakinya.
"kamu tampaknya senang sekali" tanya Evan
"paman sofa ini sangat empuk untung saja aku tidak mengantuk kalo tidak pasti sangat enak tidur di sini" jawabnya dengan senyuman bahagia.
Evan yang mendengarnya sangat kasian dulu Evan juga orang miskin tentu ia juga bisa merasakan apa yang Klara rasakan saat ini.
"paman aku ingin ke toilet" ujar Klara.
Evan menunjuk kearah toilet, Klara menaruh tasnya kemudian berlari kecil menuju toilet.
kemudian tas Klara terjatuh dari sofa, Evan mengambilnya, tas itu terasa sangat ringan bahkan seperti tidak ada isinya, sehingga membuat Evan sangat penasaran kemudian membukanya.
Evan melihat di dalam tas itu hanya ada sebuah buku dan satu buah pena, ketika ia membuka buku itu Evan sangat terkejut matanya hampir menetes melihat buku itu. buku itu berisi berbagai macam mata pelajaran sudah jelas satu buku di campur untuk semua mata pelajaran.
Evan semakin bersedih mengingat mereka mentraktir nya makan mie barusan mungkin saja mereka menghabiskan uang makan mereka hari ini.
tidak lama Klara kembali "paman kenapa paman kelihatan sedih" tanya Klara.
"hem maaf Klara aku tadi tidak sengaja membuka buku mu aku melihat banyak mata pelajaran di dalam satu buku".
"tidak apa apa paman kakak ku sudah bekerja keras untuk menghidupiku sehingga dari harus berhemat dalam membeli buku" Klara juga bersedih mengatakannya tapi ia tetap berusaha untuk tegar.
tidak lama berselang Desi dan Lia sudah tiba, ekspresi Desi masih tampak heran tidak percaya.
"bagaimana Desi apa kamu bersedia bekerja di tempat ini aku akan memberikan gaji 50 juta kepadamu jika itu kurang aku bisa menambahnya" ujar Evan.
Desi belum bisa berkata apa-apa ia yang dulunya hanya penjaga toko biasa dengan gaji 4 jutaan kini ia mendapat kan pekerjaan
di sebuah perusahaan besar dengan gaji 50 juta ini masih terasa seperti mimpi.
__ADS_1
Klara mengerakkan badan Desi dengan tangannya sehingga Desi segera sadar.
"terima kasih banyak tuan sungguh aku sangat berhutang Budi kepada anda" ia membungkukkan badannya, kemudian memeluk Klara di iringi tetesan air mata.
Evan merasa senang dan ikut bahagia. Evan kemudian segera pergi menjemput istrinya pulang kerja.
di dalam kamar Shinta menyampaikan kepada Evan bahwa teman baiknya Fitri telah membuka sebuah restoran sederhana di jalan Linsi, di jalan itu cukup ramai.
"Evan aku berencana mengajakmu pergi ke acara Fitri apakah kamu ada waktu" tanya shinta.
"tentu saja kita harus datang ia sahabat baikmu".
"kali begitu kita harus menyiapkan hadiah"
"ya nanti biar aku saja yang mencarikannya"
Shinta kemudian segera pergi mandi. Evan sedang duduk duduk di lantai, tidak lama Shinta keluar dari kamar mandi.
ia membalut tubuhnya dengan handuk yang kecil dan sedikit basah sehingga tampak jelas lekuk tubuhnya, kulitnya sangat putih mulus tanpa luka memancarkan kecantikan yang luar biasa.
Evan yang melihatnya tertegun menelan ludah, bahkan hal yang memalukan terjadi hidungnya mengeluarkan darah.
Evan tidak berkata kata ingin sekali rasanya ia memakannya.
"tidak apa apa" Evan segera melakukan olahraga raga push up untuk menghilangkan rasa yang bergejolak.
"selesai Evan berolahraga ia berkata "Shinta apa kamu tidak memperhatikan anak tetangga kita ia begitu lucu"
"iya aku tahu ia juga imut"
"tidak kah kamu pikir jika d rumah ini ada anak kecil mungkin akan jadi menarik" Evan mengisyaratkan anak dengan berkata anak dengan keras.
"aku rasa tidak mungkin ibu dan ayah sudah tua mereka tidak mungkin bisa punya anak lagi".
"bukan itu" ujar Evan.
"lantas apa".
"lantas kita segera tidur saja besok kita akan berangkat awal".
__ADS_1
Evan tidak berani mengatakannya, walaupun sebenarnya bagi suami istri mempunyai anak itu adalah hal yang wajar. tapi bagi Evan menciumnya saja tidak pernah bagaimana mau punya anak.
esok hari seperti biasa setelah sarapan Evan mengantar istrinya pergi kerja. kemudian ia pergi untuk mencari hadiah untuk Fitri teman Shinta.
Evan pergi ke toko antik milik David Tian yang sebelumnya ia membeli sebuah bantal giok untuk hadiah kakeknya. ia mengirimi pesan ke David bahwa ia akan pergi ke sana.
David yang mendapatkan pesan itu merasa sangat senang tentu saja ini adalah kesempatan baik untuk berhubungan dengan keluarga ye. tidak lama Evan telah sampai di toko itu.
David memberikan hormat "selamat datang tuan muda" membungkukkan badannya 90 derajat.
"tidak perlu sungkan David aku ke sini ingin mencari hadiah untuk teman istriku" ujar Evan dengan santai.
"tuan ingin mencari barang yang seperti apa biar saya bantu Carikan"
"kalo ada aku ingin mencari sebuah lukisan karna ia membuka sebuah restoran jadi lukisan itu aku rasa sangat cocok di tempel di dindingnya".
segera dengan cepat David mencari lukisan dan menunjukan nya kepada Evan.
"tuan ini adalah lukisan pemandangan pedesaan yang di lukis oleh Steven pelukis legendaris di jaman dinasti Quin bagaimana menurut tuan".
Evan menyentuh dan melihat lukisan itu sangat indah goresannya sangat rapi sudah jelas ini barang bagus tentu sangat cocok sebagai hadiah.
"aku suka berapa harga lukisan ini".
"lukisan ini saya mendapatkannya dengan harga 50 miliar tapi jika tuan suka anda bisa membawanya" tentu saja bagi David lukisan ini bukan apa apa jika kelak ia bisa bekerja sama dengan keluarga ye tentu untungnya berkali kali lipat.
"tidak usah saya akan membayarnya kemarin kamu telah memberikan saya barang berharga, tenang saja jika kelak kamu mendapatkan masalah kamu bisa menghubungi saya".
"baik tuan terima banyak"
Evan memberikan sebuah kartu ATM kepada David ia langsung memprosesnya.
kemudian Evan berjalan meninggalkan toko itu di antar oleh David.
setelah pukul 7 malam Evan dan Shinta berangkat menuju ke acara Fitri. sesampainya di parkiran Evan dan Shinta keluar dari mobil tiba-tiba ad sebuah mobil parkir di sampingnya, terlihat sebuah mobil Ferrari dengan harga 2 miliar terlihat mewah. dari dalam mobil keluar seseorang menggunakan setelan jas mewah dengan badan sedikit pendek dan sedikit gemuk.
"Yo bukankah kamu Shinta gadis tercantik di SMA shanjing" ujar Berto.
Berto adalah teman semasa SMA dulu, Berto pernah menyatakan cintanya kepada Shinta, tetapi Shinta menolaknya.
__ADS_1
"hi Berto sudah lama tidak bertemu" Shinta menjawab dengan sedikit tersenyum karna ia memang sudah melupakan hal itu.