
di sepanjang jalan Shinta masih belum bisa mencerna hal yang barusan ia alami terasa seperti mimpi bahkan mimpi pun tidak bisa seperti ini.
ia bingung akan menjawab apa bila keluarga nya bertanya ia mendapat barang mewah dari orang belum pernah ia kenal. tentu orang orang akan berpikiran yang aneh. jadi Shinta akan tutup mulut dan menyembunyikan barang tersebut.
Shinta mengiri pesan kepada Evan agar tidak menjemputnya karna ia sudah berjalan menuju rumah menggunakan taksi.
setelah Evan menerima pesan dari Shinta ia juga menerima pesan dari kakaknya bahwa Dewi ye akan segera pergi karna ada kepentingan perusahaan yang mendadak. Evan segera pergi menuju bandara untuk menemui kakaknya.
sesampainya di bandara
"kak cepat sekali kamu pergi" tanya Evan.
"ad keperluan yang mendesak di perusahaan lain kali aku akan datang lagi" sambil menepuk pundak Evan.
Evan yang terlihat sedih karna sudah beberapa tahun tidak bertemu.
"ya sudah hati hati di jalan".
Dewi segera menuju pesawat jet pribadinya di ikuti oleh belasan pengawal.
Shinta sudah sampai di rumah.
"Shinta kamu dari kenapa baru pulang" tanya memei.
"banyak sekali bungkusan makananmu" tanya robi.
mereka sedang menonton di ruang tv.
"tadi ada teman yang mentraktir banyak makanan jadi di bungkus saja dari pada di buang" Shinta tidak mau bicara bahwa makanan itu sengaja di bungkus kan oleh orang yang tidak di kenal.
memei dan robi melihat makanan yang begitu banyak di lihat dari bungkusannya sangat mewah.
Shinta menaruh sebagian makanan itu di atas meja dan sebagian di bawa masuk ke dalam kamar, ia sengaja untuk menyisakan ya buat Evan. Evan belum pulang mungkin dia belum makan. Shinta sudah mulai perhatian.
memei dan robi mengambil sumpit dan mulai membuka kotak makanan itu.
__ADS_1
"astaga makanan ini enak sekali" ujar memei.
"iya benar belum pernah aku makan makanan seenak ini" tambah robi.
"Shinta kamu mendapatkannya di mana lain kali kamu harus mengajak kami makan di sana" memei terus mengunyahnya dengan cepat dan robi terlihat sangat rakus.
"gawat jika mereka minta antar kan ketempat itu" ujar Shinta dalam hati. itu adalah restoran Vinsen mana mungkin mereka mampu makan di sana, yang ad di pikiran Shinta hanya ingin terus berbohong.
"tidak usah bu tempatnya kurang bagus dan di pinggir jalan".
"oke kalau begitu lain kali kamu harus membelikannya lagi".
Shinta hanya bisa berkata ya makanan dari restoran Vinsen sudah pasti mahal. jika memang orang tuanya meminta lagi mungkin dia bisa membeli satu atau macam makanan itu yang di pikirkan nya, segera Shinta menuju ke kamar.
memei dan robi yang selesai makan segera menuju ke kamar, tidak lama berselang Evan pun juga sudah kembali.
"kamu baru pulang pasti belum makan itu akau ada membelikanmu makanan" ujar Shinta.
"kebetulan sekali aku belum makan terima kasih" Evan mengambil makanan itu dan mulai memakannya, sementara Shinta menuju ke dapur.
tidak lama berselang Shinta membawa segelas air putih meletakkannya di atas meja di depan Evan.
"sial kamu aku sudah berbaik hati mengambilkanmu air tapi kamu malah begini"
belum sempat Evan meminta maaf Shinta sudah berbalik dan pergi.
Evan tentu bukan sengaja iya kaget dan panik, ia segera menghabiskan makanannya dan segera pergi ke kamar menyusul Shinta.
Shinta sedang berbaring di kasur menghadap ke arah tembok dengan mata terpejam tetapi belum tertidur.
Evan menghampiri Shinta "maafkan aku istriku aku tidak bermaksud begitu aku hanya tidak terbiasa kamu mengambilkan air sehingga aku kaget" rayu Evan.
Shinta sebenarnya tidak seberapa marah ia justru bersedih mendengar kata kata evan selama ia menikah memang belum melakukan tugasnya sebagai istri bahkan hanya mengambilkan air saja belum pernah.
"Evan aku tidak marah justru aku ingin meminta maaf kepadamu atas perlakuan ku selama ini tidak baik ke padamu" Shinta tidak enak.
__ADS_1
Evan yang mendengarnya sangat tersentuh istrinya semakin hari semakin baik.
"istriku besok hari Minggu kamu libur bekerja bolehkah aku mengajakmu kembali berkencan" tanya Evan yang membuat suasana seketika berubah menjadi tegang.
Shinta belum bisa berkata kata sejenak, ini mungkin bisa menjadi kencan ke dua mereka selama menikah.
"oke bisa" Shinta jawab dengan malu.
perasaan di malam itu sangat indah yang kedua orang itu rasakan perasaan bahagia pesanan senang perasaan saling mengasihi menjadi satu, kehangatan sangat terlihat.
"hem istriku bolehkah aku tidur di kasur" pertanyaan ini singkat pendek tapi langsung merubah suasana Evan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Shinta tersentak ia belum siap "maaf aku belum terbiasa"
"aku mengerti istriku maaf" Evan segera turun dari kasur dan mengambil selimut berbaring di lantai tidak lama ia tertidur.
berbeda dengan Shinta jantungnya masih berdegup kencang atas kejadian malam ini tentu saja ia tidak bisa tidur.
ia memainkan ponselnya ia membuka informasi makanan di restoran Vinsen, ia berpikir kelak mungkin kedua orangtuanya ingin meminta dia membelikannya lagi jadi Shinta mulai mencari informasinya.
"sial ini gila" tak sadar y
tiba tiba Shinta berteriak, suaranya cukup keras tetapi tidak membuat Evan terbangun.
ia melihat sebuah gambar makanan lobster biru bentuk dan rupa sama seperti yang ia makan ternya harganya 300 juta belum lagi kepiting yang memei makan harganya bahkan 430 juta Shinta terbelalak.
"siapa sebenarnya wanita itu" tanya Shinta dalam hati. ia sadar bahwa dalam makan malam tadi setidaknya makanan di meja itu bernilai milyaran bahkan orang kaya di kota ini belum tentu mau menghabiskan uang hanya demi makanan.
tentu saja bagi Dewi itu harga makanan itu tidak ad apa apanya karna memang keluarga ye adalah bisa di bilang keluarga paling kaya di dunia.
esok hari seperti biasa Evan mengantar Shinta pergi ke kantor, sesampai di kantor ia melihat kelopak mata Shinta yang nampak cekung jelas sekali ia kurang tidur.
"istriku kenapa matamu kelihatan kurang tidur" tanya Evan.
"tidak apa apa semalam hanya susah tidur saja" Shinta tidak bisa menceritakan alasannya kenapa ia susah tidur hanya memikirkan kejadian kemarin bahkan tangannya sesekali masih gemetar setelah memegang cincin dan tas super mahal yang di berikan oleh wanita kemarin.
__ADS_1
Shinta menuju masuk ke dalam kantor. Evan berbalik menuju mobil tiba-tiba dan berniat pergi ke pasar untuk membeli sayur.
ketika Evan sedang memilih milih sayur ia melihat seorang gadis kecil sekitar 15 tahun sedang di ganggu oleh seorang pria.