
Shinta sangat heran ia memang menyuruh Evan untuk membeli sebuah hadiah untuk di berikan kepada Fitri, tapi ia tidak menyangka Evan akan memilih hadiah yang sangat mahal seperti itu, jelas timbul pertanyaan dalam hati Shinta dari mana ia mendapat uang untuk membelinya. tetapi Shinta belum mau bertanya sekarang di karenakan masih bnyak orang ia berpikir menanyakannya di rumah.
"kalo boleh tau siapa seseorang yang begitu murah hati memberikan hadiah ini" ujar Demian sambil melihat sekelilingnya.
mendengar perkataan Demian pandangan semua orang tertuju kepada Evan.
"suami dari temanku Shinta yang memberikannya ayah" jawab Fitri sembari menunjuk ke arah Evan.
Demian melihat ke arah Evan ia memperhatikan pakaian Evan dari bawah sampai atas tidak terlihat bahwa ia adalah orang yang kaya.
bahkan bila di total seluruh yang ia pakai tidak lebih dari 300 ribu.
Evan yang menjadi pusat perhatian tampak tenang ia sama sekali tidak memperdulikan apa yang terjadi baginya uang 50 miliar bukan uang yang besar baginya.
"terima kasih Evan atas hadiahnya" ujar Demian sambil tersenyum. ia melihat dari tingkah laku Evan yang terlihat sangat santai walau sempat di remehkan, dari pengalaman Demian selama ini dalam berbisnis dia sadar bahwa mungkin Evan mempunyai latar belakang yang mengerikan, untuk itu dia harus bersikap ramah dan tidak memandangnya remeh.
"sama sama paman Fitri adalah teman Shinta sudah seharusnya kami memberikan hadiah yang terbaik" ujar Evan tanpa ekspresi.
tiba tiba Berto berteriak "Evan kamu hanyalah menantu yang menumpang hidup bagaimana mungkin kamu mampu membelinya sudah jelas kamu pasti mencurinya".
sebagian para tamu juga mulai berpikir bahwa Evan memang mencurinya karna mereka juga tahu bahwa Evan hanyalah menantu yang menganggur.
"dari pada kamu mengurusi ku lebih baik kamu bersiap siap" ujar Evan sambil tersenyum tipis.
hp Berto berdering, Berto melihat bahwa ayahnya yang menelpon ia segera mengangkatnya.
"Berto kamu di mana apa yang kamu lakukan" terdengar suara dari Eduardo ayah Berto dengan nada marah bercampur sedih.
"aku sedang di acara teman, ada apa yah".
"kamu menyinggung siapa, keluarga kita sudah hancur ayah baru saja di pecat dan alasannya karna aku tidak bisa mendidik anak".
sebelumnya Zaki telah memecat Eduardo setelah menerima perintah dari Evan.
Berto yang mendengarnya langsung terduduk lemas "apa ayah, aku tidak ad menyinggung siapapun".
__ADS_1
"semua ini salah mu bahkan aset kita pun juga ikut di sita sial" Eduardo mematikan telpon.
tubuh Berto serasa tidak bertenaga matanya meneteskan air mata kesombongannya yang tadi ia perlihatkan hilang berubah menjadi orang yang minta di kasihani.
seluruh orang juga ikut mendengar percakapan antara Berto dan ayah nya karna memang suara hp sangat kuat.
Berto msih bingung siapa yang sebenarnya ia singgung, ia terus berpikir hingga muncul pikiran bahwa ia hanya menyinggung Evan.
ia coba menghilangkan pikirannya bagaimana mungkin bisa Evan sedangkan ia hanya menantu tidak berguna.
tiba tiba ia teringat bahwa bos besar baru di glory group yang tidak pernah terlihat bermarga ye. tentu Berto juga mulai memikirkan bahwa Evan juga bermarga ye atau mungkin Evan ada hubungannya atau Evan mungkin adalah bos itu. Berto melihat ke arah Evan serasa tidak percaya.
"Evan ye apa ini perbuatan mu" tanya Berto dengan posisi masih berlutut di lantai ia bertanya dengan ragu.
sementara semua orang masih merasa bingung Evan hanya tersenyum ke arah Berto dengan senyuman penuh makna.
ternyata benar Evan di balik semua ini Berto semakin tidak terima dan tidak terkendali ia berteriak histeris, bahkan ia juga mulai memecahkan gelas.
Demian yang melihat Berto semakin menggila segera memanggil sekuriti.
"Evan sebenarnya apa yang terjadi kenapa Berto sepertinya sangat marah kepadamu" tanya shinta sangat heran.
Evan hanya tersenyum "aku juga tidak tau mungkin ini adalah karma nya karna ia selalu suka merendahkan orang lain" Evan sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
setelah semua kekacauan selesai acara berlangsung meriah Fitri merasa sangat senang lukisan itu di taruh di ruang utama karna lukisan itu sangat mahal dan berharga.
setelah acara selesai semua tamu mulai meninggalkan acara Shinta dan Evan juga berpamitan kepada Fitri.
sesampainya di rumah Evan dan Shinta langsung masuk menuju kamar. Shinta duduk di atas kasur.
"Evan sebenarnya apa yang terjadi tadi bagaimana kamu bisa mendapatkan lukisan itu".
"aku membelinya" jawab Evan dengan santai.
Dewi yang mendengarnya langsung melempar Evan dengan bantal.
__ADS_1
"kamu sudah mulai sering suka berbohong ya".
Evan sadar jika dia jujur pun Shinta juga tidak akan mempercayainya.
"aku mendapatkannya dari seorang teman baikku".
"barang begitu mahal di berikan kepadamu tentu saja temanmu sangat murah hati".
"dulu kami masih kecil sangat berteman baik aku sering menolongnya ketika ia susah, sekarang ia telah sukses dan dia juga tidak lupa kepadaku".
"oh kapan kapan undanglah temanmu untuk makan sekalian kita mengucapkan terima kasih".
"iya terima kasih pasti aku sampaikan cuma kalo makan aku rasa tidak bisa karna ia baru saja pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis".
"ya sudah ucapkan saja terima kasih banyak" Shinta mulai berbaring di kasur.
Evan pun mulai menarik selimutnya dan berbaring di lantai.
esok hari seperti biasa Evan membereskan rumah, memasak dan mengantarkan Shinta pergi kerja.
tiba Waktu pulang kerja Shinta menunggu Evan di luar kantor, sebelumnya Evan mengirimi Shinta pesan bahwa ia agak telat sebentar karna sedang terjadi kemacetan akibat ada sebuah truk terguling di tengah jalan.
ketika shinta sedang memainkan hp nya tiba tiba ada sebuah mobil Jeep berwarna hitam berhenti di depannya.
keluar dari dalam mobil 2 orang bertopeng berpakaian hitam langsung memegang Shinta dengan kuat. Shinta mencoba memberontak sekuat tenaga hingga sepatunya terlepas. tetapi Shinta langsung di bekap dengan menggunakan kain yang sudah di beri obat bius.
Shinta sudah tidak sadarkan diri ia di bawa masuk ke dalam mobil dan dengan kecepatan tinggi mobil itu segera pergi.
terlihat sekali penculik itu sangat terlatih terlihat dari cara gerakannya dan juga waktu yang tepat dimana tidak ada satupun orang yang melihatnya.
selang beberapa menit Evan tiba di depan kantor ia turun dari mobil melihat ke kanan ke kiri depan belakang tetapi tidak menemukan Shinta.
Evan menghubungi Shinta menggunakan hp tetapi nomornya tidak bisa di hubungi.
benar saja para penculik itu telah melempar hp Shinta ke sungai akar tidak ada yang menelponnya dan juga tidak bisa di lacak.
__ADS_1