Menantu Super Kaya

Menantu Super Kaya
episode 42 "kemarahan Dewi"


__ADS_3

di sebuah restoran sederhana memei dan robi sedang makan.


"suamiku aku rasa menantu sampah itu akhir-akhir ini begitu beruntung" ujar memei.


"benar dan juga aku lihat ia mulai berani untuk melawan kita" jawab robi.


tidak lama beberapa saat kemudian datang seorang wanita tinggi dengan memakai kacamata berwarna hitam, wanita itu membawa belasan pengawal di belakangnya.


pengawal-pengawal yang di bawanya terlihat sangat besar memakai stelan jas berwarna hitam layaknya sebuah pengawal khusus kerajaan dan juga terlihat menyeramkan.


ternyata itu adalah Dewi ye ia berniat untuk memberi pelajaran ringan kepada mertua adiknya. sebelumnya ia mendapatkan cerita dari Zaki bahwa mertuanya sering sekali menghina dan menindas Evan memperlakukan nya layaknya seorang pembantu.


Dewi mengambil sebuah botol air dari atas sebuah meja lain dan melemparnya ke atas meja memei dan robi yang sedang makan.


"prang" suara botol menghantam meja memei dan robi sehingga membuat mereka terkejut dan juga memicu pandangan semua orang.


"ada apa ni" ujar memei kaget ia segera berdiri dan menoleh ke belakang.


ternyata wanita yang memakai kaca mata hitam itu adalah Dewi ye akan tetapi memei dan robi tidak mengetahuinya.


"siapa kamu apa yang kamu lakukan" tanya memei seolah ia tidak terima.


"apa kah kamu memei dari keluarga Lu" tanya Dewi ia ingin lebih memastikan bahwa ia tidak salah orang.


memei heran mengapa ia bisa tahu namanya kemudian ia berkata "benar aku memei ada apa kamu mencariku".


"plak plak plak plak" suara tamparan yang keras.


Dewi seketika menamparnya dengan keras beberapa kali. hal itu membuat memei terkejut ia tidak bisa menghindar.


"hei apa yang kamu lakukan terhadap istriku" ujar robi seraya bangun dari kursinya.


ketika robi bangun hendak mendekati Dewi ia langsung di tangkap oleh dua orang pengawalnya seraya memegangi pundak kanan dan kiri robi.


robi mencoba melepaskan diri tetapi ia tidak cukup kuat untuk bisa bergerak, kemudian datang seorang pengawal dari depan.


"buk bak buk" beberapa tinjuan mengarah ke arah perut robi yang mengenai uluh hatinya sehingga langsung jatuh ke bawah tidak berdaya.

__ADS_1


hal itu menjadi tontonan banyak orang tetapi tidak ada satupun yang hendak menolongnya bahkan juga tidak ada yang berani mendekat mereka takut juga akan terlibat jika mencoba menolongnya.


"kamu siapa mengapa kalian memukuli kami" ujar memei memegangi pipinya yang merah.


Dewi meraih rambut memei menjambaknya serta membenturkan kepalanya ke meja.


"buk buk buk" suara kepala mengenai meja kayu.


"kamu tidak perlu tau siapa saya" ujar Dewi sambil membenturkan kepala memei ke meja.


robi yang sudah tidak bisa bangun lagi kemudian wajahnya di tendang oleh salah satu pengawal.


"jrebak" tendangan keras mengarah ke muka robi yang masih tersungkur di lantai hingga membuat hidungnya berdarah.


kali ini memei dan robi tidak bisa lagi berkata apa-apa selain mengerang kesakitan memei memegangi kepalanya robi memegangi wajahnya.


memei melihat ke arah mereka ia masih ingin untuk menyiksanya ia masih merasa tidak puas jika bukan karna evan sempat melarangnya ia pasti akan menguliti mereka.


"lebih baik kalian memperlakukan seseorang dengan lebih baik ke depannya" ujar Dewi kemudian pergi meninggalkan tempat itu dengan di ikuti oleh pengawalnya.


ketika melihat Dewi dan rombongannya telah pergi semua orang baru brani mendekati mereka dan menelpon ambulan.


Shinta menerima kabar bahwa kedua orang tuanya masuk ke rumah sakit merasa panik apa yang sebenarnya telah terjadi ia segera menghubungi Evan untuk menjemputnya.


"kring" suara hp Evan berbunyi


"halo kamu sedang di mana " tanya shinta.


"aku sedang di pasar berbelanja sayur ada apa kenapa kamu terlihat seperti terburu-buru" tanya Evan.


"bisa kah kamu menjemputku ke dua orang tuaku masuk rumah saki" Shinta merasa sangat panik.


"oke oke kamu tenang aku akan segera ke sana" Evan segera pergi untuk menjemput istrinya.


tidak lama Evan sudah sampai di perusahaan Lu. Shinta langsung naik mobil dan menuju ke rumah sakit.


di rumah sakit memei dan robi berada di dalam ruangan yang sama mereka sudah mulai terlihat lancar dalam berbicara.

__ADS_1


"klem" suara pintu terbuka


Shinta masuk ke dalan ia melihat memei yang dahinya sudah di perban seri pipinya membengkak.


dan juga ad robi yang terlihat hidungnya memar. terlihat jelas jika mereka habis di pukuli.


"Bu sebenarnya apa yang terjadi mengapa kalian bisa seperti ini" tanya Shinta sembari duduk di sebelah memei.


"sialan aku tidak tau siapa wanita itu ia membawa banyak pengawal di belakangnya dan langsung memukuli kami" ujar memei merasa tidak terima dengan apa yang telah terjadi.


"benar sialan sekali bahkan ia memukuli kamu tanpa sebab benar sangat aneh" robi menambahkan.


"aneh juga kenapa itu bisa terjadi apa mungkin kalian pernah menyinggung seseorang" tanya shinta.


memei dan robi mulai memikirkannya mereka merasa tidak pernah membuat masalah kepada siapa pun tiba tiba memei dan robi teringat kata-kata terakhir wanita itu sebelum pergi yaitu memperlakukan seseorang dengan baik.


kemudian tiba-tiba Evan masuk ke dalam


"ayah ibu bagaimana keadaan kalian" ujar Evan dengan sopan.


tiba-tiba muncul pikiran di benak memei dan robi apakah yang di maksud wanita itu adalah Evan. karna hanya Evan yang sering mereka tindas dan mereka perlakukan dengan semena-mena.


robi menoleh ke arah memei, memei juga menoleh ke arah robi mereka sama-sama menggelengkan kepalanya.


mereka merasa tidak mungkin Evan ia tau Evan hanya orang miskin yang tidak jelas keluarga nya bahkan ia selama ini hanya menumpang hidup di keluarga Lu.


mereka berusaha untuk tidak yakin Evan adalah orang yang di maksud tetapi hanya evanlah orang yang selalu mereka tindas.


"ada apa Bu yah kenapa kalian seperti memikirkan sesuatu" tanya shinta heran melihat kedua orang tuanya seperti memikirkan sesuatu.


"aku rasa bukan dia" ujar robi kepada memei.


mereka berdua akhirnya setuju bahwa bukan Evan lah orang yang di maksud, mereka yakin Evan bukan siapa siapa dan tidak akan mungkin mampu melakukan hal seperti itu.


"sebenarnya apa yang kalian bicarakan dan pikirkan" tanya shin sembari dari tadi merasa aneh.


"bukan apa-apa kami merasa sangat sial hari ini kami sedang makan tetapi malah di aniyaya oleh orang yang tidak di kenal" ujar memei.

__ADS_1


"kenapa bisa ya aneh sekali" Shinta berpikir ini sangat aneh mana ada orang tanpa sebab langsung memukul.


"bu aku turut prihatin dengan apa yang terjadi kepada kalian" seru Evan.


__ADS_2