
selanjutnya acara pertemuan itu berjalan dengan lancar, semual anggota keluarga pulang meninggalkan rumah kediaman kakek Lu hanya menyisakan Richard dan kakek Lu di sana.
Ricard berkata kepada kakek " kek apakah kamu serius proyek ini serahkan ke Shinta"
" iya karna ia telah mendapatkan kerja sama " kakek menjawab.
"tapi dia hanya seorang perempuan kek" Richard sadar jika Shinta berhasil dalam proyek ini bisa saja kesempatan nya untuk menjadi bos perusahaan konstruksi keluarga Lu di rebut olehnya.
" jika dia perempuan kenapa"
"tidak kah kakek berpikir dia hanyalah seorang perempuan dia blum ad pengalaman kek dan suaminya adalah sampah yang membuat malu keluarga kita kek apa kata semua rekat bisnis kita kek".
mendengar perkataan Richard kakek Lu mengerti apa yang di maksud nya. Kakek Lu bukan orang yang dengan mudah mengambil keputusan.
setelah berpikir beberapa saat kakek Lu mempertimbangkan perkataan Richard memang ada benarnya.
"aku mengerti maksudmu kamu tenang saja" kakek menepuk pundak Ricard dan menyuruhnya untuk pulang.
keluarga Shinta yang telah sampai di rumah.
"hari ini aku senang sekali Shinta melihat kamu bisa menjadi ketua proyek ini aku sangat bangga" mendengar kata dari ibunya Shinta hanya tersenyum ia melihat ke arah Evan. tidak bisa di pungkiri bahwa Shinta bisa mendapatkan semua ini karna ia mempercayai kata kata Evan.
mereka pun segera menuju kamar masing masing untuk beristirahat.
Shinta setelah mandi menggunakan pakaian tidur berwarna abu abu tampak cantik kulitnya tampak sangat putih dan bersinar. Evan yang melihatnya tidak bisa menolehkan pandangannya ke tempat lain.
Shinta kemudian berbaring di atas kasur Evan pun berbaring di lantai seperti biasanya.
"Evan apakah kamu tidak merasakan dingin di lantai" tanya Shinta
"aku sudah terbiasa merasakannya"
__ADS_1
"dasar bodoh" Shinta menarik selimutnya.
Evan heran kenapa istrinya berkata bodoh kepadanya.
"ah sial apakah maksud istriku aku bisa tidur di kasur Karna di sini dingin" Evan yang menyadari sangat menyesal tapi dia sudah terlambat jika dia tetap naik ke atas kasur takutnya istrinya akan marah bahkan akan mengusirnya dari kamar.
Evan merasa senang malam ini istrinya sudah menerima nya perlahan lahan ia malam ini serasa seperti orang paling bahagia di dunia ini.
besok paginya Shinta sudah berangkat ke kantor pagi pagi karna kini ia telah menjadi seorang pemimpin proyek tentu tugasnya semakin banyak dan sibuk. kedua mertua Evan masih blum Bangun. setelah Evan membersihkan rumah dan memasak Evan menerima pesan dari Zaki.
"tuan mudah apakah tuan ada waktu siang ini untuk mengahadapi acara di restoran everens saya berencana mengenalkan tuan kepada seluruh orang penting yang ada di kota amster" restoran everens adalah sebuah restoran besar di kota amster yang hanya mampu di masuki oleh kalangan orang kaya di kota dan juga restoran ini di buka oleh glory group bisa di bilang bahwa restoran ini juga milik Evan.
"iya saya akan ke sana" Evan menjawab dengan cepat karna memang dia ingin lebih mengenal kariawannya mungkin suatu saat dapat membantunya.
segera Evan bersiap siap pergi menggunakan sepeda listriknya.
Evan cukup kaget melihat baterai sepeda listriknya penuh padahal Evan belum ad mengecasnya sama sekali. ia berpikir tidak mungkin mertua yang melakukan kemudian ia tersenyum pasti Shinta lah yang membantunya mengecas sepeda listriknya.
ketika sampai ia langsung memarkirkan sepeda listriknya lalu masuk ke dalam . Evan begitu takjub melihat restoran yang begitu megah interior nya begitu mewah bahkan ada sebuah patung yang di lapisi emas mungkin harganya bisa mencapai 5 miliar.
"taun ada yang bisa saya bantu" seorang pelayan tinggi cantik dengan pakaian kerja yang rapi menggunakan listrik merah tebal sangat mempesona menyapa Evan. harus di akui bahwa pelayan itu sangat cantik bahkan Evan sempat tertegun melihatnya.
"oo saya ad janji dengan orang di ruangan VIP mawar" ruangan itu adlah ruangan terbaik di restoran ini hanya orang tertentu yang bisa makan di ruangan itu bahkan jika ad yang punya uang pun belum tentu ia bisa makan di situ.
ekspresi pelayan berubah seketika mendengar perkataan Evan. ia melihat pakaian yang d kenakan Evan adlah pakaian lama yang sudah luntur bahkan ia hanya memakai sendal jepit.
"tuan jangan bercanda bahkan untuk makan di ruangan paling murah di sini pun ku anda tidak mampu" pelayan melipat tangannya dengan nada menghina .benar saja bahkan ruangan paling murah di restoran itupun tidak kurang dari ratusan juga untuk setiap hidangannya.
orang lain yang berada di dekat mereka pun ikut mencibir Evan karna penampilannya yang kampungan" lihat orang itu begitu kampungannya dia".
"mungkin dia hanya numpang Poto saja"
__ADS_1
"sungguh memalukan sekali".
"bahkan bajunya pun untuk mengelap sepatuku aku rasa tidak pantas".
orang terus menghina Evan, Evan yang sudah terbiasa menerima hinaan tidak mau meladeni mereka.
Evan melihat ke arah pelayan ia lalu mengeluarkan hp dan menelpon Zaki.
"halo Zaki kamu di mana saya sudah ad di lobi"
pelayan yang mendengar bahwa Evan menelpon Zaki ia tertawa tak tertahankan dalam pikirannya bagaimana mungkin orang yang seperti gembel ini mempunyai hubungan dengan orang paling di hormati sekota amster.
Evan sudah malas melihat pelayan itu iya polis bermain hp menunggu Zaki datang.
tidak lama kemudian datang sekelompok orang dari dalam ruangan menuju ke arah mereka dengan cepat.
setelah cukup dekat pelayan itu mengenali bahwa itu tuan Zaki dan di belakangnya adalah para bos, para orang kaya yang ada di kota amster.
merekam pun menghampiri Evan
"tuan muda ye selamat datang" zaki dan semua orang kaya itu membugkukkan badan 90 derajat dengan penuh hormat.
pelayan dan orang orang yang menyaksikan hal tersebut sangat kaget orang yang mereka hina dari tadi ternya adalah tuan muda ye yang menjadi rumor bahwa ia telah menjadi bos baru dari perusahaan glory group bahkan restoran ini pun ada di bawah naungan glory group
pelayan itu berubah mencari pucat menundukan kepalanya kakinya yang jenjang menjadi gemetaran punggungnya berkeringat hingga bajunya basah. ia berpikir kali ini pasti akan habis, sebelum ia meminta maaf Evan telah beranjak masuk ke dalam bersama rombongan orang kaya.
tidak lama kemudian seorang pria agak gemuk berlari agak cepek menghampiri pelayan tadi ternyata ia adalah manejernya.
"kamu sekarang di pecat cepat pergi meninggalkan tempat ini" manejer berbicara dengan aura membunuh yang kuat.
"kamu telah menyinggung seorang tuan muda penguasa glory group bahkan tempat ini adalah miliknya".
__ADS_1
habis sudah ternyata dia memang tuan muda ye yang misterius itu pelayan itu pun segera terjatuh menangis memikirkannya betapa bodohnya dirinya yang menghina bosnya sendiri.