
Episode 15:
Dia benar benar sangat marah saat ini. Tangan nya sudah mengepal kuat, ingin rasanya dia menyumpal mulut penghianat itu dengan sampah, namun dia tak melakukan nya, hati nya seakan tersentil dengan kata-kata itu.
Tanpa menoleh lagi, Arkha memilih membawa Kanaya secepatnya keluar dari rumah itu dari pada harus meladeni si pemilik rumah.
karena tidak bisa menyetir, Arkha memilih memesan taksi saja dan mobil Kanaya yang di bawa tadi ia titipkan kepada orang lain dan menyuruh orang untuk mengambilnya nanti.
Mereka pun akhirnya sampai di halaman rumah Kanaya. Setelah menyelesaikan transaksi, Arkha segera membawa Kanaya ke dalam untuk segera beristirahat.
Orang tua Kanaya yang melihat anak nya pulang dalam keadaan menangis, mereka menghampiri nya dengan perasaan khawatir.
" Naya, kamu kenapa nak?" Tanya Nita dengan nada cemas.
Bukan nya menjawab, Kanaya malah langsung menghambur memeluk Mama nya. Tentu saja semakin membuat kedua orang tua nya khawatir.
" Arkha! Kanaya kenapa bisa jadi begini?" Tanya Nita kepada Arkha yang sedari tadi hanya diam. Sedang kan Nita sibuk menenangkan anaknya itu dengan mengusap-ngusap punggung sang anak.
" Maaf Tante, bukan nya saya lancang dan tidak mau mengatakan yang sebenarnya, Tapi lebih baik Kanaya di suruh istirahat saja dulu, setelah dia lebih tenang, biarkan dia yang menjelaskan semuanya!" Jawab Arkha dengan sesopan mungkin.
" Arkha benar ma, lebih baik kamu bawa Kanaya ke kamar nya saja dulu!" Lanjut Adi membenarkan.
Dan tanpa bantahan lagi Nita segera membawa Kanaya ke kamar nya untuk istirahat.
Sedangkan Adi mempersilahkan Arkha untuk duduk dan meminta asisten rumah tangga nya untuk membawakan air dan cemilan. Meskipun Arkha sudah menolaknya karena merasa tidak enak, tetap saja Adi menyuruh pembantunya untuk membawakan.
Sejenak Arkha jadi berpikir, 'Aindai dulu mertua nya sebaik Adi, mungkin dia tidak akan pernah berpisah dari istrinya'. Dan mendadak Arkha pun jadi sedih saat kembali mengingat masa lalu nya.
" Kamu sedang ada masalah?" Tanya Adi yang tentunya mengagetkan Arkha yang sedang melamun.
" E_ tidak Om." Kelit nya.
" Saya hanya sedang rindu kepada keluarga saya Om." Lanjut nya.
" Memang keluarga kamu sekarang ada di mana?"
__ADS_1
" Keluarga saya semuanya telah meninggal Om, dan saya tinggal sebatang kara di dunia ini." Ucap nya dengan tersenyum. Tentu yang di katakan Arkha bukan sebuah kebohongan. Keluarga nya memang sudah lama meninggal, karena usia mereka yang terbilang satu abad itu, dan tak mungkin lagi untuk hidup lebih lama lagi.
Berbeda dengan Arkha yang memang memiliki kekuatan agar dia tetap hidup dan awet muda, demi sebuah tujuan.
" Saya turut berbelasungkawa ya." Ucap nya dengan tulus.
"Iya Om terimakasih." Jawab nya singkat. Adi pun mengangguk, setelah itu tak ada perbincangan yang serius di antara mereka.
" Om, kalau begitu saya pamit pulang dulu ya." Pamit Arkha yang di angguki oleh Adi.
" Terimakasih kamu sudah mau menjaga Kanaya." Ucap nya dengan senyum yang mengembang.
" Iya Om sama-sama. Kalau begitu sampaikan salam saya untuk Tante dan Kanaya, saya pamit pulang dulu."
" Iya nanti saya sampaikan. " Ucap nya sambil membalas menyalami Arkha.
" Oya, nanti kalau ada waktu luang, kamu main ke sini lagi ya!" Pinta nya dan di angguki Arkha dengan senyum tulus nya.
Malam sudah larut. Arkha yang sedari tadi hanya menguling-gulingkan tubuh nya di kasur, dari tadi dia tak bisa memejamkan mata karena kegelisahan yang melanda hati nya saat ini.
Hati nya gelisah, dia benar-benar tak bisa memejamkan mata nya sebelum menemui gadis itu. Dia beranjak dari tempat tidur nya dan memilih untuk menemui Kanaya.
Jika bertanya mengapa Arkha bisa tidur dan juga memiliki rumah, padahal dia adalah seorang jin. Bukan! Arkha bukan lah seorang jin, tapi manusia yang memiliki kekuatan jin.
Kekuatan itu hanya bisa memperpanjang umur nya dan membuat nya awet muda, selebihnya dia adalah manusia biasa yang harus mengerjakan apapun sendiri tanpa bantuan kekuatan yang ia miliki.
Di sisi lain, Kanaya juga belum bisa memejamkan mata nya, pikiran nya terus berputar-putar mengenai kejadian tadi siang.
Dia sangat bingung saat ini, antara memaafkan atau lebih baik meninggalkan saja.
Tapi bukankah dia juga tidak sesuci itu untuk mempertahankan keegoisan nya, bukankah dia juga melakukan kesalahan yang sama, apa salahnya jika dia dan Dion mencoba memperbaiki kesalahan masing-masing.
Pikiran itu terus berputar-putar di kepala nya, mencari jalan yang terbaik untuk hubungan mereka.
Akhirnya tekat Kanaya pun sudah bulat, dia akan memaafkan kesalahan Dion dan memulai hubungan nya dari awal lagi.
__ADS_1
Sedangkan rahasia nya yang sudah tak suci lagi itu, dia pendam saja dulu, sampai dia mempunyai waktu yang tepat untuk mengatakan nya, dan besok dia berencana akan menemui Dion di kantor nya untuk meminta maaf kepada kekasih nya itu.
Bersamaan dengan itu, mata nya pun mulai lelah, dia ingin segera beristirahat. Namun dia di kejutkan dengan suara ketukan di pintu balkon nya.
" Kanaya buka pintunya, ini aku Arkha." Suara itu terdengar jelas di telinga Kanaya, membuat wanita itu memutar matanya jengah.
Dengan malas dia membukakan pintu itu.
" Kenapa?" Tanya nya ketus. Hal itu tentu membuat Arkha mengernyit heran,' kenapa tiba-tiba dia jadi jutek begini? Memang aku melakukan kesalahan apa?' begitu pikir nya.
" Ya ampun, bukannya di suruh masuk dulu, ini malah di jutekin begitu." Ucap nya dengan bibir yang sengaja di manyun kan.
" Kenapa aku harus nyuruh laki-laki masuk ke kamar ku? Yang ada nanti jadi fitnah. Lagian kenapa bertamu tengah malam begini? Lewat balkon lagi, gak sopan." Ketus nya begitu angkuh, dengan dua tangan di lipat di depan dada.
" Yee, biasanya juga begitu, tapi kamu gak protes." Jawab nya dengan santai.
Namun yang di ajak bicara tiba-tiba melotot.
" Jadi maksud kamu biasanya juga lewat balkon?" Tanya Kanaya begitu terkejut.
" Iya." Jawab Arkha dengan santai nya.
" Memang kamu pikir aku lewat mana lagi? Lewat pintu depan? Ya tidak mungkin lah, bisa-bisa langsung di usir sama orang tua kamu."
" E_engak, aku pikir kamu bisa tiba-tiba muncul itu karena kekuatan." Ucap nya canggung dan begitu pelan, dia sangat malu karena sudah berfikir terlalu jauh dan sangat tidak masuk akal itu.
" Hahaha! Jadi kamu mengira aku bisa menghilang?
" Arkha pun tergelak mendengar kekonyolan Kanaya yang berfikir dirinya bisa menghilang dan muncul tiba-tiba seperti di film-film.
Kanaya pun mengangguk canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
*******
Maaf ya gays karena novel ini banyak mengandung kehaluan yang tinggi. Jika ada pesan yang bermanfaat bisa di ambil yang baik nya, tapi jika banyak yang tidak bermanfaat mohon maaf, semoga bisa menghibur di waktu galau ya .
__ADS_1