Mengandung Anak Jin Tampan

Mengandung Anak Jin Tampan
Dimensi Zaman


__ADS_3

Episode 37:


Kanaya menggeram, ia merasa kesal karena sudah kalah telak dengan Arkha. Abram yang melihat sepasang sejoli itu bersitegang, membuatnya


Merasa serba salah. Alhasil ia hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Kanaya menatap tajam ke arah Abram, seolah meminta penjelasan, namun Kanaya gengsi untuk menanyakannya.


" Eeee iya, sebenarnya ini tuh pemberian Arkha," ucap Abram yang paham maksud dari tatapan Kanaya.


" Pasti dia ngasih kamu ada maunya kan?" Ucap Kanaya masih tak mau mengalah.


Sedangkan Arkha dengan santainya melipat kedua tangannya sambil tersenyum simpul.


" Enggak. Dia ngasih secara cuma-cuma kok, karena memang dulu, aku orang yang tak punya. Bisa bertemu dan di tolong oleh Arkha, adalah suatu hal yang patut aku syukuri. Dia adalah teman, sahabat, sekaligus saudara angkat yang sangat baik," ucap Abram yang tiba-tiba melow.


Bukannya terharu, Kanaya malah semakin kesal.


Dia lantas keluar dari ruangan Abram sambil menghentakkan kakinya karena jengkel.


" Aku mau pulang," ucap Kanaya sambil berjalan keluar.


" Sayang tunggu!" Panggil Arkha, namun sama sekali tak di gubris oleh Kanaya.


" Gue pulang dulu ya bro," pamit Arkha pada Abram.


" Iya, ati-ati Lo. Selesaikan dengan kepala dingin, jangan ambek yang di gedein!" Ucap Abram menasehati.


" Iya, bawel amat sih Lo," jawab Arkha sambil tergesa-gesa menyusul Kanaya.


Abram menggelengkan kepalanya melihat tingkah sepasang sejoli muda itu.


" Sayang, sayang tunggu!" Ucap Arkha yang kewalahan mengejar Kanaya. Dan setelah beberapa langkah, akhirnya Arkha bisa menghalangi Kanaya meskipun dengan nafas ngos-ngosan.


" Apa lagi?" Ketus Kanaya.


" Kamu kenapa sih, kok tiba-tiba ngambek. Padahal kan seharusnya Aku yang ngambek karena kamu di pegang cowok lain," bala Arkha.


Sontak saja Kanaya melipat kedua tangannya dengan wajah yang di tekuk masam.


" huff, masih belum sadar juga ternyata."


" Sadar kenapa sih?" Tanyanya masih tak mengerti.


Kanaya langsung berbalik menghadap Arkha dengan tatapan elangnya.


" Kamu gak sadar kalau tadi Alia liatin kamu terus?"


Ya terus kenapa? Kan aku tidak menghiraukan," jawab Arkha.


" Tetep aja ini salah kamu, kenapa pas tadi aku nyuruh kamu pake baju yang gedean dikit, kamu malah nolak. Kan dia bebas liatin tubuh kamu yang seksi itu." Kanaya sedikit melirik perut sispek Arkha, begitu pula Arkha yang mengikuti arah pandang Kanaya.


Arkha lantas tersenyum geli ketika mengetahuinya ternyata Kanaya sedang cemburu berat.


" Kenapa senyum-senyum? Merasa paling ganteng karena di liatin cewek-cewek, sengaja tebar pesona, iya?" Kesal Kanaya.


Namun Arkha masih saja menertawakannya, bukannya di hibur dan di beri penjelasan.


Lagi pula salah Arkha juga karena terlalu menyepelekan suatu hal yang akhirnya bisa membuat Kanaya kesal. Sudah tahu mood ibu hamil bisa berubah-ubah.

__ADS_1


" Ihhhh bete ah sama kamu," ucap Kanaya karena merasa di abaikan rasa kesal dan marahnya oleh Arkha.


" Aku mau pulang sekarang!" Kanaya pun berjalan menuju mobil dengan menghentak-hentakkan kakinya.


Arkha juga mengikuti langkah Kanaya sambil masih tersenyum geli.


Sebenarnya bukannya Arkha tidak mau membujuk Kanaya agar rasa kesalnya berkurang, hanya saja dia tidak mau menjelaskan di saat hati Kanaya masih di penuhi emosi. Arkha hanya menunggu sedikit waktu lagi untuk meluluhkan hati Kanaya kembali.


Tak ada perbincangan di antara mereka saat di dalam mobil. Kecuali Arkha yang sesekali melirik ke arah Kanaya yang sedari tadi nampak masih memasang wajah cemberutnya.


" Masih ngambek?" Tanya Arkha di sela-sela keheningan.


Kanaya hanya diam, sengaja tak menjawab pertanyaan Arkha karena suasana hatinya masih sedikit kesal, meskipun hanya sedikit.


Arkha lantas tersenyum seraya mengacak rambut Kanaya dengan gemas.


Sontak saja Kanaya langsung menepisnya dan memandang tajam ke arah Arkha.


" Gak usah sok akrab!" Ucap Kanaya dengan nada ketus.


" Duh istri Mas kalau lagi marah masih tetap cantik ya, apa lagi kalau tidak marah lagi, pasti seperti bidadari surga," ucap Arkha mencoba merayu Kanaya. Meskipun Arkha bukan tipe laki-laki yang pandai merayu, namun apa yang ia katakan, memang benar adanya.


Begitu juga dengan Kanaya, dia tipe wanita yang mudah luluh hanya dengan kata-kata manis.


Dan saat ini Kanaya sedang memalingkan wajahnya karena malu ketahuan Arkha bahwa saat ini wajahnya sudah bak kepiting rebus.


Namun hanya sesaat, setelah itu Kanaya kembali menetralkan kembali perasaannya yang berbunga-bunga karena pujian Arkha.


" Gak usah sok ngerayu, aku masih bete sama kamu tau," ucapnya masih berusaha mempertahankan egonya.


" Tidak merayu kok sayang. Mas bukan tipe laki-laki pengumbar janji manis. Ini riley," ucap Arkha tanpa ada keraguan di wajahnya.


" Bohong banget," ucap Kanaya sambil mengulum senyumnya, persis seperti ABG labil.


" Apa aku harus mati dulu, biar kamu percaya?" Akhirnya Arkha pun ikut-ikutan alay.


" Apaan sih, pulang yuk!" Ucap Kanaya pada akhirnya.


Mobil mereka yang sempat berhenti di pinggir jalan itupun kembali Arkha jalankan.


Hingga tak lama mereka telah sampai di halaman hotel.


" Capek?" Tanya Arkha ketika mereka telah turun dari mobil.


Kanaya hanya mengangguk dengan menunjukkan wajah lesu.


Tanpa menawarkan, Arkha tiba-tiba berjongkok tepat di depan Kanaya. Sontak membuat Kanaya terperangah sekaligus malu. Sebab, suasana di luar hotel masih terlihat ramai.


" Mau ngapain Mas?" Tanya Kanaya sambil melirik kiri dan kanan, kalau-kalau mereka di perhatikan aneh oleh orang-orang yang berlalu lalang.


" Mau gendong kamu lah, masa gendong Alia," jawabnya.


Mendengar nama Alia di sebut, Kanaya langsung melotot tajam kearah Arkha.


" Kok Alia?" Protesnya.


" Ya makanya, kalau gak mau Alia yang nemplok di punggung kekar suamimu ini, jangan banyak tanya!" Jawab Arkha.


Sontak saja Kanaya langsung mengalungkan tangannya, bersiap untuk di gendong. Dia sama sekali tak perduli jika nanti banyak karyawan hotel yang memperlihatkannya, itu malah kesempatan bagi Kanaya untuk menunjukkan pada mereka, bahwa Arkha sudah mempunyai pawang.

__ADS_1


" Ayo!" Ucap Kanaya yang sudah siap sedia.


Arkha langsung menggendong Kanaya untuk masuk ke dalam hotel.


Dan benar kata Kanaya. Beberapa karyawan dan penghuni hotel tersebut, memandang mereka tak berkedip. Sebagian dari mereka ada yang baper, ada yang ikut bahagia melihat pemandangan didepan mereka, namun tak sedikit pula yang merasa marah dan jengkel, terlebih para wanita yang diam-diam mengagumi Arkha.


Kanaya tak perduli, ia malah semakin mendekatkan tubuhnya pada Arkha, ia juga sengaja menyandarkan kepalanya di pundak Arkha, hal itu tentunya semakin membuat panas para wanita yang mengagumi Arkha.


" Nah sudah sampai," ucap Arkha ketika mereka sudah sampai di kamar.


Namun tak ada suara atau pergerakan pada Kanaya, ia malah mendengar dengkuran halus tepat di telinganya.


Ternyata Kanaya sudah tertidur damai di gendong Arkha saat mereka di perjalanan menuju kamar tadi.


" Ternyata sudah mimpi indah Dinda nya Kanda," ucapnya sambil tersenyum khas Arkha.


Agar tidur Kanaya tak terganggu, Arkha dengan perlahan dan hati-hati meletakkan Kanaya di atas tempat tidur.


Tak lupa ia juga melepaskan sepatu hak dan menggantikan pakaian Kanaya serta menghapus make up pada wajah Kanaya.


Setelah selesai, Arkha pun berniat ke kamar mandi. Ia merasa tubuhnya sangat lengket dan perlu kesegaran air.


Kanaya meraba-raba tempat di sampingnya, mencari keberadaan Arkha di sana. Namun karena tak menemukannya, Kanaya pun membuka matanya. Dan benar saja, Arkha tak nampak di sampingnya.


Kanaya merasa sangat haus. Ia pun beranjak untuk mengambil gelas yang berisi air putih di atas nakas.


Namun ia menemukan kembali sebuah buku yang pernah ia buka waktu lalu.


Ia ingat, Arkha pernah memarahinya karena buku tersebut.


Jujur ia sangat penasaran dengan isi buku tersebut, namun ia kembali teringat bagaimana murkanya Arkha saat itu. Seolah buku tersebut sangat rahasia dan berbahaya.


Kanaya pun mengurungkan niatnya dan ingin kembali tidur, namun kembali rasa penasarannya seolah tak bisa terbendung lagi, seakan ada sesuatu yang menariknya untuk kembali membuka buku tersebut.


Dan akhirnya ia menuruti keinginan hatinya tersebut.


Kanaya kembali mendekati buku itu, dan dengan perlahan-lahan, ia membuka halaman pertama.


Kanaya kecewa. Yang ia dapatkan hanya sebuah lembaran kosong yang sudah usang bentuknya.


Hal itu tak menyurutkan rasa penasarannya, ia kembali membuka halaman kedua buku tersebut, namun hasilnya tetap sama. Buku tersebut masih kosong dan tanpa ada coretan sedikit pun.


Tapi tiba-tiba ada sesuatu yang membuat Kanaya merasa heran sekaligus penasaran.


Ada setitik cahaya yang tiba-tiba muncul dari buku tersebut, namun semakin lama, cahaya tersebut semakin membesar, hingga membentuk sebuah pusaran angin.


Kanaya merasa ketakutan saat tubuhnya terasa di tarik kuat oleh lubang hitam tersebut.


" TOLONG!! Mas tolong aku!" Teriak Kanaya. Berharap Arkha akan mendengar teriakannya tersebut.


Arkha yang masih berada di kamar mandi pun mendengar teriakkan Kanaya. Tanpa pikir panjang, Arkha yang kebetulan telah selesai mandi, segera memakai handuknya dan melihat apa yang terjadi pada Kanaya.


Arkha terkejut bukan main kala melihat separuh tubuh Kanaya bagian kaki, sudah di hisap oleh lubang hitam tersebut.


" MAS TOLONG!!"


Arkha bergegas menghampiri Kanaya dan menarik tangan Kanaya dengan sekuat tenaga.


Namun usahanya sia-sia saja. Tubuh Kanaya telah sempurna masuk kedalam pusaran angin tersebut.

__ADS_1


Dan tanpa pikir panjang lagi, Arkha yang masih bertelanjang dada pun menyusul Kanaya ke alam lain, yang di sebut juga dimensi zaman.


__ADS_2