Mengandung Anak Jin Tampan

Mengandung Anak Jin Tampan
Mimpi Atau Nyata?


__ADS_3

Episode 38:


Kanaya merasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia pun perlahan membuka matanya dan meraba-raba tempat di sekelilingnya.


Samar-samar ia melihat ruangan yang serba berwarna merah di sekelilingnya.


Setelah penglihatannya sudah benar-benar jelas, betapa terkejutnya Kanaya saat merasa dirinya bukan di kamar hotel, melainkan di sebuah ruangan yang cukup besar, mewah dan elegan. Persis seperti kamar-kamar kerajaan zaman dulu.


Kanaya juga meraba tubuhnya, takutnya terjadi apa-apa padanya.


Namun ia di buat terkejut untuk yang kedua kalinya.


Bagaimana tidak, saat ini ia sudah berganti pakaian yang begitu aneh itu. Siapa yang menggantikan pakaiannya dengan pakaian ala-ala putri kerajaan begini? Apa saat ini ia sedang bermimpi?.


Kanaya memegangi kepalanya yang terasa agak berat. Dia pun bangkit dari tempat tidurnya dan memutuskan untuk mencari tahu bagaimana bisa dia sampai di ruangan itu.


Namun seorang wanita yang berpakaian yang tak kalah aneh pun menghampirinya.


Wajahnya begitu ayu, meski sudah tak muda lagi. Di padukan dengan pakaian ala-ala ratu kerajaan, membuat dia semakin cantik.


" Sayang apakah kau baik-baik saja? Katakan kepada ibunda dimana yang terasa sakit?" Tanya wanita itu.


Kanaya membulatkan matanya mendengar ucapan wanita paruh baya itu, yang memanggil dirinya sebagai Ibunda. Fix saat ini dia sedang berada di alam mimpi.


Kanaya lantas menggeleng cepat, sambil pandangannya tak lepas dari permaisuri kerajaan itu.


" Ya sudah, lebih baik sekarang ananda makan dulu ya!"


Lagi-lagi Kanaya hanya mengangguk tanpa berkedip sedikitpun.


Wanita itu meraih mangkuk yang terbuat dari emas, dan menyodorkan sesendok bubur kepada Kanaya, berniat menyuapinya.


Lagi-lagi Kanaya menurut. Dia pun membuka mulutnya dan melahap bubur tersebut hingga habis.


" Ibunda senang, akhirnya kau baik-baik saja," ucapnya seraya tersenyum, sambil mengusap sisa makanan di bibir Kanaya.


Kanaya semakin di buat tercengang dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya saat ini.


Ia tak mampu berkata, seakan masih tak percaya, sekaligus bingung.


" Aku dimana?" Dan akhirnya Kanaya memberanikan diri untuk bertanya.


" Kau sedang di kamar mu ananda. Apa kau lupa?" Jawab wanita itu.


" Ka_kamar?" Ucap Kanaya.


Lalu wanita itu menganguk.


" Baginda ratu, air hangat nya sudah siap," ucap seorang wanita yang sepertinya seorang dayang.


" Baiklah, kau bisa keluar sekarang!" Ucap wanita yang mengaku sebagai Ibunda Kanaya itu.


Setelah dayang itu keluar, wanita paruh baya yang bernama permaisuri Ayu Ningrum itu pun mempersilahkan Kanaya untuak mandi. Meskipun masih dengan perasaan yang di selimuti rasa bingung, Kanaya pun menurutinya.

__ADS_1


Setelah selesai mandi dan di berikan pakaian gaun oleh para dayang, Kanaya pun kembali duduk di tepian tempat tidur. Ia masih merasa canggung harus melakukan apa.


" Ananda, jika kiranya ananda bosan atau lelah, ananda bisa jalan-jalan di sekitaran kerajaan. Nanti bisa di temani oleh para dayang," ucap permaisuri Ayu.


Kembali Kanaya mengangguk canggung.


" Tunggu!" Ucap Kanaya tiba-tiba.


Tentu saja hal itu membuat permaisuri Ayu mengurungkan langkahnya dan kembali berbalik ke arah Kanaya.


" Eeeee maaf," ucap Kanaya setelah menyadari kesalahannya karena memanggil dengan kurang sopan. Karena sedikit-sedikit Kanaya tau, bahwa biasanya kerajaan itu identik dengan ramah tamah dan sopan santunnya.


" Maaf Ibunda, apa saya boleh bertanya?" Ulang Kanaya.


" Mau bertanya apa ananda?" Tanyanya dengan sopan.


" Ibunda ada melihat Mas Arkha tidak, dan bagaimana caranya saya bisa sampai di sini?" Tanya Kanaya memberanikan diri.


" Mas Arkha? " Beo permaisuri Ayu.


" Mungkin maksud ananda Senopati Arkha?" Tanya permaisuri Ayu memperjelas maksud Kanaya.


Kanaya yang bingung pun mengangguk ragu-ragu sambil nyengir.


" Senopati Arkha tadi sedang latihan, katanya mau memulihkan tenaga karena tadi setelah jatuh dari jurang. Begitupun ananda, tadi ananda dan Senopati Arkha tergeletak di hutan dalam keadaan yang tidak sadarkan diri." Kanaya di buat tercengang dengan cerita permaisuri Ayu itu, dan tiba-tiba ia ingat sesuatu.


Bukankah dia tadi masuk ke kesebuah pusaran angin setelah ia membuka buku yang jelas-jelas di larang untuk di buka oleh Arkha. Lalu sekarang bagaimana dengan Arkha, apa dia juga ikut? Apa yang di maksud Senopati Arkha itu adalah Arkha sendiri?.


Kanaya semakin di buat bingung oleh semua ini. Di pinang, di pinang siapa lagi maksudnya. Bukannya dia sendiri sudah menikah?.


Terus, apa juga yang di maksud daging manisan?


Entahlah, Kanaya juga sangat bingung dengan keadaannya sekarang. Mimpinya terlalu indah menurutnya.


Kanaya pun tak mau ambil pusing. Biarlah dia mengetahuinya dengan seiring berjalannya waktu.


" Iya Ibunda," jawab Kanaya dengan sopan.


Permaisuri Ayu pun tersenyum, lantas melenggang pergi dengan dikawal beberapa dayang di sampingnya.


" Hufff" Kanaya menghembuskan nafasnya dengan kasar.


" Eeee kamu," tunjuk Kanaya pada seorang dayang, namun masih dengan nada sopan. Ia hanya tidak tahu harus manggilnya dengan sebutan apa.


" Saya tuan putri?" Tanya dayang tersebut.


" Iya, maaf ya," ucap Kanaya tak enak hati.


Dayang tersebut lantas menghampiri Kanaya.


" Ada yang tuan putri perlukan?" Tanyanya dengan sopan.


" Bisa temani saya keluar?" Tanya Kanaya.

__ADS_1


" Bisa tuan putri. Silahkan!" Ucapnya seraya membungkukkan tubuhnya.


Kanaya lantas bangkit dari tempat tidur dan berjalan lebih dahulu.


Sebenarnya alasannya keluar hanya untuk mencari keberadaan Arkha, dan ingin memastikan bahwa ini hanya mimpinya semata saja.


" Kamu tau di mana tempat latihan pedang?" Tanya Kanaya pada dayang di sampingnya.


" Di sebelah sana tuan putri. Akan tetapi, lebih baik tidak usah ke sana, karena sangat berbahaya bagi tuan putri," ucap dayang tersebut. Dayang tersebut juga menunjuk ke arah kanan.


" Baiklah. Tidak apa-apa, aku ingin tetap ke sana!" Jawab Kanaya.


Karena keinginan Kanaya adalah perintah bagi mereka, mereka pun terpaksa menuruti keinginan Kanaya, dan mereka hanya harus mengawal Kanaya kemanapun Kanaya pergi.


Kanaya menyusuri sebuah taman yang begitu indah dengan banyaknya bunga yang bermekaran di sana, serta terdapat beberapa jembatan untuk menyebrangi anak sungai yang berkelok-kelok.


Sungguh Kanaya merasa takjub dengan pemandangan indah bak di film-film kerajaan.


Tak jauh dari taman tersebut, Kanaya mendengar suara orang yang sedang beradu pandang.


Ia pun bergegas mencari asal suara tersebut.


Kanaya tak sabar ingin mengetahui siapa yang beradu pandang tersebut. Dengan gegabah dan tanpa menghiraukan panggilan para dayang nya, Kanaya berlari menuju asal suara tersebut. Kanaya pun mengangkat sedikit gaun yang ia gunakan, karena menurutnya sangat ribet.


" Tuan putri tunggu, jangan lari!!" Teriak para dayang sambil mengejar Kanaya.


Namun sama sekali Kanaya tak menghiraukan panggilan mereka.


Dan benar saja. Dari kejauhan Kanaya sudah mengenali siapa yang sedang beradu pedagang itu.


Dia pun mempercepat larinya seraya memanggil nama suaminya.


" Mas, Mas Arkha!!!" Panggil Kanaya sambil berlarian ke arah Arkha.


" Tuan putri, jangan lari!!" Teriak para dayang yang masih mengejar Kanaya.


Mendengar namanya di panggil, senyum Arkha mengembang.


Matanya tak berkedip memandang wanita yang selama ini ia kagumi tersebut.


Namun lamunannya buyar ketika menyadari Kanaya tersandung sesuatu dan akan jatuh.


Bruuuuuk


Dengan sigap Arkha menyambut tubuh Kanaya.


Kini posisi mereka saling berhadapan, bahkan sangat dekat, hingga berjarak beberapa senti saja.


Kanaya cengengesan, merasa bersalah karena tidak berhati-hati. Padahal ia tahu sekarang ini ia sedang mengandung.


Berbeda dengan Kanaya. Arkha malah gugup karena berada sedekat itu dengan Kanaya.


Jangan di tanya lagi, saat ini kondisi jantung nya jelas tidak baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2