Mengandung Anak Jin Tampan

Mengandung Anak Jin Tampan
Rencana Jahat Puspita Ketahuan


__ADS_3

Episode 47:


" Ada apa dengan mu putriku, apa kepalamu sakit?" tanya permaisuri Ayu yang terlihat sangat panik.


Aleta hanya menggeleng sambil terus memegangi kepalanya. Bayangan bayangan itu tak henti-hentinya berputar-putar di kepalanya.


Namun sesaat kemudian Aleta tak lagi memegangi kepalanya dan nampaknya ia tak lagi meringis kesakitan seperti sebelumnya. Sepertinya bayangan bayangan di kepalanya tadi tak lagi berputar-putar dan sempat membuatnya tak nyaman.


" Sudah lebih baik ibunda," ucap Aleta kepada permaisuri Ayu.


" Syukurlah, akan tetapi apakah perlu ibunda panggilkan tabib istana?" tanya permaisuri Ayu. Ia sedikit lega karena Aleta terlihat sudah lebih baik dari sebelumnya, namun ia hanya ingin memastikan lagi kesehatan sang putri melalui tabib istana.


Aleta pun menggeleng dan tersenyum kepada ibunya itu.


" Tidak perlu Ibunda," tolaknya.


" Baiklah jika begitu lebih baik kau istirahat saja putriku, agar tenaga mu kembali pulih!" kata permaisuri Ayu.


" Baiklah ibunda."


Aleta pun menurut dan kembali berbaring di tempat tidurnya serta mencoba memejamkan mata kembali.


" Ibunda tinggal keluar dahulu ya," kata permaisuri Ayu sambil membenahi letak selimut Aleta.


Aleta yang belum tertidur pun mengangguk dengan mata yang masih terpejam.


Lantas permaisuri Ayu pun keluar dari kamar Aleta dan membiarkan Aleta untuk beristirahat terlebih dahulu, karena ia tahu bahwa putrinya itu sedang lelah lahir dan batinnya.


Sebenarnya permaisuri Ayu pun sudah mengetahui bahwa sang putri ada rasa terhadap Senopati Arkha, dan bahkan ia tahu Senopati Arkha juga merasakan hal yang sama terhadap putrinya itu.


Sebagai seorang ibu, tentu permaisuri Ayu pun merasakan kesedihan yang di rasakan Aleta, namun ia juga tak dapat berbuat apa-apa untuk menolong sang anak. Karena ia tahu benar sifat sang suami jika kemauannya di bantah, maka ia akan murka besar dan tak segan-segan menghukum orang tersebut.


Permaisuri Ayu hanya tak ingin jika ia mendukung perasaan keduanya, maka raja Bramantyo akan menghukum Arkha, atau mungkin membunuhnya. Dan hal itu tentunya akan membuat putrinya sangat sedih dan drop nantinya.

__ADS_1


Sedangkan di bagian pendopo atau yang biasa digunakan untuk rapat antara petinggi kerajaan, di sana para petinggi kerajaan pun telah berkumpul untuk membahas tentang rencana peperangan yang akan dilakukan esok hari. Rencananya mereka akan menyerang kerajaan Atlas terlebih dahulu.


Kerajaan Atlas hanyalah kerajaan kecil saja yang letaknya di sebrang kerajaan lintang itu sendiri.


Mereka berencana untuk menyerang kerajaan dari yang terkecil terlebih dahulu, seperti kerajaan Atlas contohnya.


" Jadi bagaimana persiapan untuk besok, apakah sudah diatur dan sudah di persiapkan semua?" tanya sang raja yang baru saja memulai rapat.


" Sudah siap semua Baginda raja," jawab penasehat Martha dan diangguki pula oleh petinggi-petinggi yang lain.


" Mohon maaf Baginda raja, saya mohon izin berbicara," ucap Senopati Arkha.


" Silahkan!"


" Mohon maaf sebelumnya Baginda raja, apakah peperangan ini memang harus dilakukan, emmm maksud hamba apa tidak sebaiknya kita batalkan saja rencana ini. Selain menelan banyak korban, peperangan ini juga mengakibatkan musuh dimana-mana," ucap Arkha tanpa ragu sedikitpun saat mengatakannya.


" Apa maksudmu Senopati Arkha?" bukan sang raja yang menjawabnya, melainkan penasehat Martha yang tak terima dengan ucapan Arkha yang mengusulkan untuk membatalkan penyerangan.


Penasehat Martha pun terdiam dan hanya bisa tertunduk dengan hati yang masih dongkol.


" Dengar Senopati Arkha! aku sudah memerintahkan Patih Dayura untuk menemui raja dari kerajaan itu dan membicarakan hal itu secara baik-baik untuk membagi separuh kekuasaannya kepada kerajaan kita, namun raja itu langsung marah dan tak terima. Jadi dengan terpaksa saya akan merebut paksa kerajaan tersebut, bahkan secuil pun tidak akan ku bagi dengan nya," jawab raja Bramantyo.


" Tapi bagaimana dengan silaturahmi kita terhadap kerajaan Atlas? jika kita yang menyerang lebih dulu, maka itu akan memicu kebencian terhadap kerajaan-kerajaan lainnya karena telah terlalu kejam terhadap kerajaan-kerajaan kecil seperti kerajaan Atlas," kata Arkha.


Tiba-tiba raja Bramantyo pun tertawa mendengar ucapan Arkha, lalu di susul oleh petinggi-petinggi yang lain yang ikut menertawakan Arkha, seolah mereka menganggap ucapan Arkha hanyalah sebagai cerocosan semata oleh mereka.


Raja Bramantyo lantas berdiri lalu mendekati Arkha dan menepuk pundak Arkha dengan angkuh.


" Arkha Arkha, kau ini pura-pura bo*oh atau benar-benar bo*oh? jika aku tidak menjarah mereka, kerajaan ini tidak akan maju dan berkembang. Apa kau lupa bahwa itulah tujuanku mendirikan kerajaan ini, yaitu untuk menjajah mereka," ucap raja Bramantyo dengan angkuhnya.


Arkha hanya bisa menunduk lesu sambil menggeleng-geleng. Ia hanya tak habis pikir dengan pemikiran raja Bramantyo yang begit dangkal, dan Arkha pikir juga percuma membantah dan memberontak rencana mereka, mereka pasti akan tetap pada pendiriannya.


" Lalu bagaimana menurutmu penasehat Martha, apa kau punya usulan lain?" tanya raja Bramantyo yang kini kembali fokus pada rapat mereka.

__ADS_1


" Sejauh ini belum ada Baginda raja, hanya saja hamba ingin menyampaikan bahwa untuk peperangan besok semua keperluan sudah siap tanpa kurang apapun," jawabnya.


" Bagus, kau memang orang yang dapat ku andalkan," ucap sang raja sambil mengangguk.


Rapat sudah berjalan kurang lebih sekitar satu jam lebih, dan kini akhirnya mereka pun membubarkan rapat mereka siang ini.


Sedangkan Arkha yang sedari tadi ingin keluar dari tempat rapat tersebut pun bisa bernafas lega karena akhirnya ia bisa terbebas dari orang-orang yang tidak sependapat dengannya.


Arkha pun berjalan menyusuri taman istana sambil sesekali menghirup udaranya yang segar meskipun sudah siang.


Di sisi lain ada Aleta yang juga berjalan di sekitaran istana. Tadi ketika permaisuri Ayu keluar, ia pun meminta kepada kedua dayangnya untuk menemaninya jalan-jalan di luar, ia hanya merasa suntuk jika harus berada di dalam kamarnya terus-menerus.


Awalnya kedua dayang tersebut menolak karena perintah dari permaisuri Ayu agar Aleta istirahat saja, namun Aleta tetap keukeh dan meminta agar dirinya ditemani, terpaksa kedua dayang tersebut pun menurutinya.


Dan di sana Aleta pun melihat Arkha yang berjalan mondar-mandir seperti orang kebingungan. Aleta pun tersenyum dan bersemangat untuk mengangkat tangan dan suaranya untuk memanggil nama Arkha.


" Sen,,,,,,,!" namun ia mengurungkan niatnya dan menurunkan kembali tangannya. Bahkan senyum di wajahnya pun meredup seketika.


Ia hanya berpikir, percuma tetap berusaha mendekati Arkha jika Arkha sendiri tak mengingatnya sama sekali.


Takdir seolah sedang bermain-main dengannya, dulu dirinya yang melupakan masa lalu mereka, dan kini keadaan seolah terbalik padanya, Arkha pun kini sama sekali tak mengingat kenangan indah mereka yang menikah dua kali di zaman yang berbeda.


Aleta pun hanya bisa tertunduk lesu dan mengurungkan niatnya untuk menemui Arkha, lantas ia pun berbalik arah untuk kembali ke kamarnya. Namun tanpa Aleta sangka, Arkha pun menyadari kehadirannya dan tersenyum manis kearah Aleta meski tak terlihat oleh Aleta itu sendiri.


Tak di sangka dari belakang Aleta, Puspita sudah bersiap untuk melakukan hal jahat pada Aleta, ia pun mengacungkan sebuah pisau kecil kepada Aleta yang tidak menyadari kehadiran Puspita karena posisi yang membelakangi.


Namun tentu saja hal itu tak luput dari pandangan Arkha yang memperhatikan gerak-gerik Puspita dari belakang.


Saat Puspita hendak mencoba menggores kulit Aleta, lebih dulu Arkha pun menggagalkan aksinya.


Dan seketika itu pula Aleta pun berbalik untuk melihat siapa yang sedang ribut di belakangnya.


Alangkah terkejutnya Aleta ketika melihat tangan Arkha yang sudah berlumuran darah, mengucur di sela-sela telapak tangannya yang kini sedang menggenggam sesuatu yang di pegang oleh Puspita.

__ADS_1


__ADS_2