Mengandung Anak Jin Tampan

Mengandung Anak Jin Tampan
Akhirnya Bersama


__ADS_3

Episode 27:


Adi dan Nita hendak menemui Kanaya yang masih berada di kamar RS. Begitupun dengan Arkha. Ia ingin sekali menemui Kanaya, dan ingin sekali mengetahui keadaan Kanaya dan calon anaknya. Namun, baru saja hendak masuk ke dalam, Adi sudah menghadangnya di depan pintu kamar.


" Mau ngapain kamu ikut masuk?" Tanya Adi.


" Saya mau liat keadaan Kanaya juga Om." Jawab Arkha.


" Tidak boleh. Saya tidak mengizinkan kamu untuk bertemu anak saya." Ucapnya dengan nada ketus.


" Pa, please. Jangan bikin keributan lagi. Ini rumah sakit." Ucap sang istri memperingati.


" Tapi ma,,,,,,."


" Gak boleh ngebantah!" Nita benar-benar tak memberikan kesempatan Adi untuk bicara. Ia langsung memotongnya sebelum Adi berucap.


Bagai anak kecil yang di marahi ibunya, Adi pun menurut, namun dengan wajah yang di tekuk karena cemberut.


" Arkha, kamu boleh kok masuk kedalam! Kita lihat keadaan Kanaya sama-sama ya." Ucap Nita dengan sangat ramah.


" Iya Tante. Makasih."


" Ma!" Ucap Kanaya setelah mereka sudah sampai di kamar rawat Kanaya. Kanaya juga merentangkan kedua tangannya untuk menyambut sang mama. Begitupun Nita yang menyebut pelukan Kanaya dengan sayang.


" Gimana keadaan kamu sayang, apa masih ada yang sakit? Kalau ada, kamu langsung bilang sama mama ya!" Ucap Nita seraya melepaskan pelukannya.


" Gak ada yang sakit kok ma. Gimana keadaan anak Kanaya di dalam sini, dia gak papa kan?" Tanya Kanaya dengan nada kekhawatiran.


" Dia baik-baik aja. Papa tadi berharapnya, dia gak selamat. Tapi ternyata dia kebal juga." Siapa lagi yang mengatakan demikian kalau bukan Adi. Bukan hanya ayahnya, anak yang tidak berdosa saja Adi tidak menyukainya.


" Papa!" Sudah habis kesabaran nita menghadapi keegoisan suaminya itu.

__ADS_1


" Sekali lagi ngomong yang gak baik, mama gak mau ngomong sama papa lagi. Untuk selamanya!" Nita menekankan pada kalimat terakhirnya.


Ia juga menatap tajam ke arah Adi.


" Iya deh iya. Papa gak ngomong gitu lagi." Ucap Adi pasrah.


" Iya sayang. Anak kamu baik-baik aja. Dia gak papa, cuma urat perut aja yang kaget." Jelas Nita.


" Syukurlah." Kanaya lantas mengusap perutnya yang masih rata itu.


Diam-diam Arkha memperhatikan Kanaya dengan penuh rasa haru. Ia senang, ternyata Kanaya sama sekali tidak membenci janin tersebut. Malah dia sangat menyayangi nya.


" Papa sudah mutusin, Arkha akan nikahin Kanaya besok. Papa sudah terlanjur malu karena pernikahan Kanaya dan Dion gagal hari ini. Nanti papa juga akan bilang sama keluarga Dion tentang ini." Ucap Adi telak. Entah dapat hidayah dari mana, hingga tiba-tiba saja Adi menyetujui pernikahan Arkha dan Kanaya. Bahkan dia sendiri yang memutuskan hal tersebut. Padahal sebelumnya dia yang bersikeras membenci Arkha, bahkan cucunya sendiri.


Kanaya dan Arkha nampak sangat senang. Terlebih Arkha yang sedari dulu sudah mengharapkan Kanaya bisa kembali padanya. Kini impiannya tercapai sudah, Kanaya akan segera menjadi istrinya. Meski baginya, Kanaya dan dirinya, sebenarnya sudah menikah. Akan tetapi, jika harus di ulang kembali pun ia tidak apa-apa. Agar tidak muncul keraguan lagi nantinya.


Setelah itu, Kanaya di bawa pulang ke rumahnya. Ia di papah oleh Arkha dan ayahnya. Meski belum sepenuhnya akur, tapi Adi tidak segalak tadi.


Saat masih di koridor rumah sakit, keluarga Kanaya di buat tercengang karena hampir semua perawat dan dokter di rumah sakit tersebut, seolah menunduk hormat kepada Arkha.


Adi dan Nita sebenarnya sangat penasaran, namun mereka tak berniat untuk menanyakannya kepada Arkha. Lain halnya dengan Kanaya, ia sangat ingin bertanya, namun karena ada orang tuanya, akhirnya ia urungkan.


Setelah sampai di rumah, Kanaya langsung di suruh untuk istirahat di kamarnya. Begitupun Arkha, ia langsung pamit untuk pulang, karena besok, dia harus kembali lagi ke rumah Kanaya.


" Saya sudah tidak mempermasalahkan hal itu lagi. Saya sudah tidak ambil tahu lagi tentang semua yang bersangkutan dengan Kanaya. Terserah dia mau menikah dengan siapa saja, saya sudah terlanjur kecewa Om."


Seseorang duduk dengan santai di kursi kantornya. Kepulan asap rokok dan secangkir wine yang di tambah es batu, membuat hidupnya nampak selalu sejahtera tanpa sedikit masalah pun.


Dia sedang berbicara dengan santai kepada seorang pria paruh baya yang baru saja berstatus sebagai mantan calon mertuanya. Siapa lagi jika bukan Dion dan Adi.


Mereka sedang membahas tentang gagalnya pernikahan Dion dan Kanaya di dalam kantor Dion sendiri.

__ADS_1


" Saya selaku kepala rumah tangga, meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada nak Dion karena telah mempermalukan keluarga nak Dion, dan membuat nak Dion kecewa. Ini benar-benar di luar dugaan saya. Sekali lagi saya minta maaf. Jika ada rasa bersalah yang bisa menggambarkan perasaan kami saat ini, mungkin itu tidak cukup untuk membuat nak Dion memaafkan kami. Namun dengan segenap jiwa dan raga saya, saya benar-benar minta maaf sekali kepada nak Dion." Ucap Adi. Sebisa mungkin dia mendapat maaf dari Dion, bahkan bahasa yang ia gunakan saja, sebisa mungkin dia perhalus agar Dion tidak tersinggung.


" Sudahlah Om. Saya sudah terlanjur kecewa. Untuk maaf, nanti saya pikir-pikir dulu." Jawab Dion. Dia berlagak seperti orang yang paling tersakiti, padahal jika Adi tahu apa motifnya yang sebenarnya, mungkin dia akan bersyukur karena Dion tidak menjadi menantunya.


" Om sudah selesai? Jika sudah, silahkan Om pulang, karena sebentar lagi saya ada meeting." Kata Dion sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


" Ya sudah. Jika begitu Om permisi dulu ya nak."


" Hemm." Jawab Dion sesingkat mungkin. Bahkan ia tak menoleh sama sekali kepada Adi yang akan keluar dari ruangannya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Hari yang sudah di tentukan pun tiba. Kanaya dan Arkha sudah duduk di depan penghulu untuk mengikrar janji suci pernikahan.


Setelah kata sah menggema di seluruh ruangan, akhirnya Arkha dan Kanaya resmi menjadi sepasang suami isteri yang sah. Tak lupa, Kanaya mencium tangan Arkha dengan Hidmat. Meminta keridhoan atas segala lika-liku dan biduk rumah tangga yang akan mereka hadapi. Demikian pula dengan Arkha, ia mencium kening istrinya dengan segenap rasa haru, bahagia dan cinta, bercampur menjadi satu.


Doa setelah selesai ijab pun dilantunkan oleh pak penghulu. Semua tangan menengadah ke atas, memohon kelanggengan dan kebahagiaan untuk pasangan pasutri baru ini.


Setelah itu mereka duduk di pelaminan yang sudah di siapkan sebelumnya. Mereka menerima ucapan selamat dari banyaknya tamu undangan yang hadir di pernikahannya.


" Argh,,,,,,." Tiba-tiba saja Arkha merintih sambil memegangi kepalanya.


' Ya Tuhan, jangan sekarang. Izinkan aku bersama mereka untuk beberapa tahun lagi. Aku juga ingin merasakan kebahagiaan bersama mereka walaupun untuk sesaat.' Arkha bermonolog di dalam hati.


Tentu Kanaya yang berada di sampingnya pun sadar akan hal itu. Ia lantas bertanya dengan raut wajah yang panik.


" Kamu kenapa, kepala kamu sakit?" Tanya Kanaya. Dia juga menuntun Arkha agar duduk di kursi pelaminan, karena sebelumnya mereka berdiri untuk menyebut banyaknya tamu.


" Tidak apa-apa kok. Hanya pusing sedikit." Jawab Arkha.


" Beneran kamu gak papa?" Tanya Kanaya memastikan sekali lagi. Arkha mengangguk dan tersenyum kepada Kanaya. Lantas setelah itu mereka kembali melanjutkan acara salam-salaman sampai akhirnya selesai.

__ADS_1


__ADS_2