
Episode 41:
" Sudah Ma!" Adi pun menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya, lalu menenangkannya.
" Apa yang Papa bilang, Arkha pasti merencanakan sesuatu kepada putri kita," ucap Adi yang memang sempat tak suka terhadap Arkha setelah tahu Arkha menghamili putrinya.
" Iya Pa, Mama minta maaf sempat gak percaya sama Papa," ucap Nita menyesal.
" Maaf pak Bu, kedatangan kami kesini untuk memberikan surat panggilan ini kepada bapak dan ibu," ucap polisi tersebut seraya memberikan sebuah amplop kepada Nita dan Adi.
" Apa ini surat panggilan mengenai hilangnya anak saya?" Tanya Adi sambil menerima amplop tersebut.
" Benar pak. Kami harap, bapak dan ibu bisa datang ke kantor polisi siang ini."
" Siap pak, saya dan istri saya pasti akan datang," jawab Adi tanpa keraguan.
" Baiklah kalau begitu saya permisi dulu pak Bu," ucap sang polisi.
Adi dan Nita menganguk serta tak lupa mereka mengucapkan terimakasih sebelum polisi itu pergi.
Dan tak lama setelah kepergian polisi dari kediamannya, Nita dan Adi pun segera berangkat ke kantor polisi untuk menerima panggilan dari kepolisian.
" Baiklah kita mulai," ucap sang komandan polisi ketika mereka telah sampai ke kantor polisi dan sudah berhadapan dengan komandan polisi.
Adi dan Nita pun mengangguk.
" Apa putri bapak dan ibu sudah mengenal saudara Arkha ini sudah lama?" Tanya komandan polisi tersebut memulai interogasinya.
" Yang saya tahu baru beberapa bulan terakhir ini pak," jawab Adi, yang diangguki pula oleh Nita.
" Lalu selain saudara Arkha sendiri, apakah ada orang terdekat yang mungkin membenci mereka?" Lanjut komandan polisi.
" Kalau itu kami tidak tahu pak, tapi anak kami itu pernah gagal menikah sebelum bersama Arkha," ucap Adi.
" Siapa orang tersebut?"
" Namanya Dion pak, tapi saya tidak yakin kalau dia pelakunya, karena setelah itu mereka tidak saling berhubungan lagi pak."
Polisi tersebut lantas menganguk dan menutup interogasinya.
" Baiklah kalau begitu saya ucapkan terimakasih atas kerja samanya." Komandan polisi tersebut pun mengulurkan tangannya pada Nita dan Adi, dan di sambut pula oleh mereka.
" Iya pak, Kami juga banyak-banyak mengucapkan terimakasih. Saya harap pihak kepolisian segera mengusut kasus ini dengan tuntas dan segera menemukan anak dan menantu kami," ucap Adi.
" Naik pak, kami akan berusaha," jawab komandan polisi tersebut.
Setelah semuanya selesai, Adi dan Nita pun keluar dari kantor polisi dan memilih untuk pulang saja.
Hari yang melelahkan dan pikiran yang kacau, membuat mereka tak ingin berlama-lama berada di luar rumah.
Di sisi lain, Abram yang merasa masih penasaran dengan hilangnya bos sekaligus sahabatnya itu pun tak ingin tinggal diam saja.
Dia berpikir keras, duduk di ruang kerjanya sambil memikirkan bagaimana caranya dia bisa mencari dalang di balik hilangnya Kanaya dan Arkha.
Tiba-tiba satu ide muncul. Dia berpikir akan nekat masuk ke kamar Arkha dan Kanaya yang sudah di beri garis polisi tersebut, hanya untuk mencari bukti-bukti di sana.
Abram pun mulai meluncurkan aksinya. Masuk kedalam kamar yang di beri tanda larangan oleh polisi itu, secara diam-diam.
Setelah berhasil, Abram pun mulai mencari beberapa barang yang menurutnya mencurigakan.
Sudah berapa lama ia mencari, namun hasilnya tetap nihil. Tak ada barang-barang yang mencurigakan seperti benda tajam atau barang peninggalan sang penculik yang tercecer.
__ADS_1
Namun, netra nya menangkap suatu benda yang menurutnya sangat aneh, serta tubuhnya seolah tertarik untuk mendekati benda tersebut, seolah benda tersebut memiliki magnet.
Diraihnya satu-satunya buku yang tergeletak di bawah meja itu, dan membolak-balik nya.
" Yang lain gak jatuh, kok dia jatuh sendiri?"
Abram berbicara sendiri sambil membolak-balik buku tersebut dan memperhatikannya dengan seksama.
" Lagian kok cover nya aneh banget ya, kayak kitab-kitab kerajaan zaman dulu," pikirannya.
" Penasaran, coba buka deh," ucapnya lagi.
Abram pun mulai membuka halaman pertama. Namun baru saja membuka, dia sudah di suguhkan oleh kebingungan.
Sama halnya dengan Kanaya, pertama kali Abram membuka di lembaran pertama, ia hanya menemukan kertas kosong berwarna putih namun sudah usang, serta bentuknya yang nampak sudah lecek.
Keningnya berkerut dalam ketika melihat keanehan pada buku yang baru ia temukan tersebut.
Menit berikutnya Abram pun masih di selimuti rasa kebingungan dan penasaran yang makin meningkat, dia pun berniat untuk kembali membuka halaman kedua, namun tiba-tiba,,,,,.
" Permisi pak Abram, kenapa anda ada di sini?" Tanya seorang pelayan yang kebetulan lewat di depan kamar Arkha dan dia tak sengaja melihat pintu kamar tersebut terbuka, lalu ia pun menghampirinya dan melihat ada Abram di sana, dengan segenap keberaniannya yang ada, dia pun memberanikan diri untuk menegur bos nya itu, karena tempat tersebut memang tempat yang di larang untuk di masuki oleh siapapun kecuali pihak kepolisian.
Karena terkejut, refleks buku yang ia pegang pun terjatuh kelantai.
" Eeeee ini,,,,, mau pinjam, iya mau pinjam buku. Kebetulan kemarin sebelum pak Arkha menghilang, saya sempat pinjam buku kepadanya, dan baru sekarang sempat mengambilnya," ucap Abram, dan tentu saja itu adalah sebuah kebohongan untuk menutupi
" Oh begitu ya pak?" Tanya pelayan tersebut namun nampak sedikit ragu.
" Iya, ini bukunya," ujarnya sambil menunjukkan sembarang buku yang ada di meja milik Arkha.
Akhirnya pelayan tersebut pun mengangguk, percaya dengan ucapan Abram.
" Baiklah jika begitu saya permisi kerja lagi pak."
Pelayan itu hanya tersenyum lantas segera berlalu meninggalkan Abram yang masih berada di tempatnya.
" Hemmm hampir aja," ujarnya sambil mengusap dadanya.
Tiba-tiba Abram kembali mengingat buku yang ia jatuhkan tadi. Rasa penasarannya yang masih bergelayut di hati. Ia pun kembali mengambil buku tersebut, berniat ingin membuka kembali halaman yang sempat tertunda untuk ia buka.
Baru saja ia mulai memegang sampul buku tersebut, tiba-tiba seorang pelayan kembali memanggilnya, membuat konsentrasinya buyar dan membuat ia menggeram.
" Ada apa lagi sih?" Tanyanya sedikit kesal.
" Itu pak, saya hanya ingin menyampaikan, di bawah ada seorang wanita yang sedang mencari bapak," ucap pelayan tersebut.
" Siapa?"
" Saya tidak tahu pak, dia tidak mau mengatakan namanya, dia hanya bilang kalau bapak pasti mengenal dia."
Abram menghempaskan nafasnya dengan kasar, merasa kesal karena telah di ganggu dua kali.
Kali ini entah siapa lagi yang mengganggunya.
" Ya sudah, kalau begitu bilang tunggu saya di luar!" Perintah Abram.
" Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu," ucap pelayan tersebut sambil menunduk hormat, dan Abram pun hanya membalasnya dengan anggukan.
" Hahhh, mengganggu saja," keluhnya.
" Ya sudah kalau begitu lebih baik buku ini aku bawa saja dulu ke ruangan kerja ku," ucap Abram bermonolog sendiri.
__ADS_1
Dia pun keluar dari kamar Arkha dengan membawa buku peninggalan jin Aron tersebut.
Setelah menaruh buku itu ke ruangan kerjanya, Abram pun pergi untuk menemui tamu yang sedang menunggu di bawah.
Sedangkan di lain zaman, Aleta yang sedari tadi hanya uring-uringan di kamarnya. Sudah beberapa hari ini dia berdiam diri di kamarnya di karenakan luka pada kakinya yang belum sembuh.
Tabib dan sang raja sendiri juga melarangnya untuk tidak terlalu banyak bergerak dulu sebelum luka di kakinya itu mengering. Dengan sangat sangat terpaksa, Aleta pun menurutinya tanpa berani melawan lagi.
" Dayang!" Panggil Aleta.
" Saya tuan putri," jawab dayang tersebut dengan sopan dan segera mendekat pada Aleta.
" Aku mau keluar, bosan di kamar terus," rengek Aleta, plus dengan gaya manjanya.
" Tapi kan kaki tuan putri belum sembuh benar," ucap sang dayang.
Dia hanya khawatir kalau-kalau luka yang belum sembuh benar itu akan berdarah kembali.
" Aku tidak perduli, pokoknya aku mau keluar," ucap Aleta keukeh.
Dayang tersebut semakin bingung dan hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya.
" Di sini apa ada kursi roda?" Tanya Aleta lagi.
Dayang yang mendengar kata kursi roda pun mengerut bingung.
Melihat perubahan wajah yang bingung tersebut, Aleta langsung tersadar dan seketika menepuk keningnya.
Aleta baru sadar bahwa di zaman kerajaan mana ada yang namanya kursi roda.
" Kenapa tuan putri?" Tanya dayang tersebut ketika melihat Kanaya yang menepuk jidatnya sendiri.
" Dan apa itu kursi roda?" Tanyanya lagi.
" Eeee itu semacam sebuah kursi yang bisa di dorong," jawab Aleta.
" Ooooo."
" Ya sudah lupakan saja!" Ucap Aleta.
" Kau bisa memapah ku?" Tanya Aleta lagi.
" Bisa tuan putri," jawab dayang tersebut.
" Baiklah jika begitu papah aku!" Perintahnya.
" Baiklah, hamba memanggil dayang Puspa dulu untuk membantu hamba tuan putri," izinnya.
" Silahkan."
" Sebenarnya tuan putri mau kami antar ke mana?" Tanya salah satu dayang yang memapahnya.
" Aku mau ke tempat latihan pedang," jawabnya.
" Laksanakan tuan putri."
Mereka pun membantu Aleta untuk menuju tempat yang di maksud. Dengan tertatih-tatih, Aleta memaksakan diri untuk ke tempat latihan pedang, dan sebenarnya hanya untuk bertemu Arkha di sana.
" Stop stop stop!" Ucap Aleta ketika mereka hampir sampai di tempat latihan pedang.
" Kenapa tuan putri?"
__ADS_1
" Wanita yang di sana itu siapa?" Tanya Aleta sambil menunjuk ke arah seorang wanita yang sedang asyik memandangi Arkha yang sedang latihan dengan tatapan memuja.