Mengandung Anak Jin Tampan

Mengandung Anak Jin Tampan
Demam Tinggi


__ADS_3

Episode 54:


" K_kanda!" ucap permaisuri Ayu yang terkejut dan tak menyangka bahwa ternyata suaminya sudah menunggunya sejak tadi.


" Ada apa Dinda, apa kau butuh bantuan ku?" tanya raja Bramantyo namun dengan senyum miringnya.


" Dayang, tolong tuangkan air minum untukku!" Perintah sang raja kepada dayang yang bertugas di malam hari.


Dayang tersebut pun segera melaksanakan perintah sang raja untuk menuangkan air arak kedalam gelas berlapiskan emas tersebut lalu memberikannya kepada raja. Dan


raja pun menenggaknya hingga tandas.


" K_kanda Dinda hanya." Ucapannya berhenti karena permaisuri Ayu merasa gugup dan takut kepada sang suami. Karena dia tahu sendiri jika suaminya sudah murka, maka iapun tak pandang bulu.


Tanpa di duga raja Bramantyo beranjak dari tempat tidurnya dan menaruh gelas yang semula ia pegang ke atas nakas, lalu perlahan mendekat ke arah permaisuri Ayu. Dan hal itu membuat permaisuri Ayu semakin ketakutan hingga memejamkan mata dengan erat.


" Jangan terlalu tegang Dinda!" ucapnya sambil memegang pundak permaisuri Ayu.


" Kau jangan takut istriku! aku hanya ingin bertanya, bukan memakan mu," ucapnya masih dengan gaya santai.


" Be_bertanya?"


" Ya, aku hanya ingin menanyai mu, siapa orang yang mengizinkan putri kita keluar dari dalam penjara hemm?" tanyanya sambil menatap intens sang istri.


Degh


" Di_dinda tidak tahu kanda," jawabnya dengan gugup dan terbata-bata. Meskipun permaisuri Ayu tidak tahu siapa yang telah mengeluarkan Aleta, namun ia tetap saja takut karena ia tahu siapa saja yang bersangkutan dalam sebuah masalah, maka tiada ampun bagi mereka.


" JANGAN BERBOHONG PERMAISURI AYU!!" ucap raja Bramantyo dengan lantang hingga membuat permaisuri Ayu dan yang lainnya terkejut.


" D_dinda tidak berbohong kanda, sebab Dinda baru melihat ketika putri Aleta sudah di bopong kedalam kamarnya oleh beberapa prajurit dan ada Senopati Arkha juga di sana," jelas permaisuri Ayu, dan hal tersebut membuat raja Bramantyo tersenyum licik.


" Baiklah, mari kita melihat keadaan putri kita!" ajak raja Bramantyo pada istrinya sambil merangkul pundak sang istri serta seulas senyum hangat di bibirnya.


Hal itu bukannya membuat permaisuri Ayu menjadi senang karena di perlakukan istimewa oleh suaminya, namun semakin membuatnya takut bahkan gemetaran.


Namun mau tak mau permaisuri Ayu pun terpaksa mengikuti keinginan sang suami yang mengajaknya untuk menemui Aleta.

__ADS_1


" Oh ternyata kau juga ada disini Senopati Arkha?" tanya raja Bramantyo sekedar untuk berbasa-basi ketika dia dan permaisuri Ayu sudah tiba di kamar Aleta.


Melihat kedatangan rajanya Arkha langsung menunduk hormat dan perlahan mengundurkan diri dari hadapan Aleta yang masih terbaring lemah dan belum sadar.


" Kalian, maju!" Perintah raja dengan suara lantang, dia menunjuk beberapa orang prajurit yang tadi juga ikut serta mengantarkan Aleta.


Tanpa ragu mereka pun melaksanakan apa yang di perintahkan oleh raja mereka, meskipun mereka sendiri tahu bahwa raja mereka sedang marah besar.


" Katakan pada ku siapa yang menyuruh kalian mengeluarkan putri Aleta dari dalam penjara?" tanyanya dengan nada membentak.


Sepersekian detik kemudian tak ada yang menjawab ataupun membela diri. Mereka terlalu takut untuk mengatakan yang sebenarnya. Namun mereka juga sangat kasihan dengan tuan putri mereka.


" Apakah kalian tidak mendengar ku?" ulangnya sekali lagi.


" JAWAB!!" Mereka semua terkejut karena suara lantang dari raja Bramantyo, namun hal itu juga tidak menyurutkan nyali mereka untuk menutupi siapa dalang dibalik ini semua.


" Mohon ampun Yang mulia raja, bolehkah hamba ikut berbicara?" kata Arkha dengan sopan.


Raja Bramantyo pun beralih menatap Arkha.


" Silahkan, apa yang ingin kau bicarakan?"


" Kau tahu kenapa? karena anak ini sudah mempermalukan nama baik kerajaan, kau mengerti?" jelasnya dengan nada marah. Ia tak terima dengan pertanyaan Arkha yang seolah menyudutkan dirinya.


" Akan tetapi tuan putri Aleta sedang sakit dan memerlukan perawatan serta tempat yang layak untuk istirahat. Lagi pula tuan putri adalah anak raja sendiri, mengapa memperlakukannya seperti seorang tahanan saja?" Arkha bukan sengaja mengatakan itu, hanya saja dia tak bisa jika harus melihat ketidakadilan terjadi pada seorang putri raja itu sendiri.


Kali ini raja Bramantyo benar-benar tersulut emosinya. Dia merasa bahwa Arkha sedang mengatainya dan menganggap bahwa dia adalah seorang raja sekaligus ayah yang kejam bagi Aleta.


" Apakah kau tidak paham apa yang ku katakan? mengapa kau seolah ingin menyulutkan emosi ku saja, dan siap kau berani-beraninya mengaturku?"


" Apa kau orang yang sudah mengeluarkan Aleta?" tanya raja Bramantyo tepat sasaran.


" Ya, memang hamba orang yang telah memerintahkan para penjaga untuk mengeluarkan putri Aleta, sebab kondisi putri Aleta yang tidak memungkinkan untuk berada di ruangan penjara tersebut," jawab Arkha dengan mantap dan tanpa rasa takut sedikitpun.


Ia seakan sudah siap menghadapi kemarahan raja Bramantyo.


" Kurang ajar, lancang sekali kau." Raja Bramantyo pun mendekat ke arah Arkha dengan segenap rasa amarahnya.

__ADS_1


Namun sebelum perkelahian terjadi, Aleta lebih dulu terbangun dan mulai merasakan pusing yang sangat mencengkeram kepalanya.


" Ibunda!" panggil Aleta dengan mata separuh terpejam.


Permaisuri Ayu pun segera mendekat dan membelai rambut sang anak semata wayangnya tersebut.


" Iya putriku. Apa ada yang sakit, katakanlah!"


" Aku haus," ucap Aleta dengan suara pelan dan serak.


Permaisuri Ayu langsung mengkode para dayang untuk mengambilkan air putih untuk Aleta.


Dayang yang sudah mengerti maksud ratunya tersebut pun langsung melakukan apa yang di perintahkan.


Setelah di berikan minum, Aleta menatap heran pada dua pria yang berdiri saling berhadapan namun dengan wajah yang sama-sama menahan emosi.


" Ayahanda dan Senopati Arkha, mengapa kalian berdiri di situ?"


Arkha yang tak ingin Aleta sampai tahu apa yang sebenarnya terjadi, langsung mengubah mimik wajahnya dan tersenyum.


" Tidak ada apa-apa tuan putri, hanya saja kami sedang khawatir memikirkan tuan putri," jawab Arkha.


Namun Berbeda halnya dengan raja Bramantyo yang sama sekali tak berubah dari posisinya dengan tangan yang terus mengepal kuat.


Sorot mata tajamnya menatap Aleta membuat nyali Aleta menciut. Aleta pun menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak kuasa bertatapan dengan sang ayah keduanya itu.


" Kau telah membuat ayahanda murka untuk yang kedua kalinya Aleta," ucapnya dengan nada geram.


" Kanda." Permaisuri Ayu ingin ikut bicara, namun raja Bramantyo lebih dulu mencegahnya dengan memberi isyarat tangan yang di angkat ke atas.


" Sekarang katakan dengan jujur, siapa ayah dari bayi yang kau kandung?" tanyanya masih mencoba untuk tenang.


" Aku tidak bisa mengatakannya ayahanda," jawab Aleta dengan suara menahan tangis.


" KENAPA?!"


" Karena takdir yang melarang ku untuk mengatakannya," jawab Aleta dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya.

__ADS_1


" Takdir? apa maksudmu?" Raja Bramantyo menatap lekat pada putrinya, seolah mencari kebenaran di sorot mata indahnya.


" Takdir yang membuatku selalu serba salah," jawab Aleta lirih dan hampir tak terdengar.


__ADS_2