Mengandung Anak Jin Tampan

Mengandung Anak Jin Tampan
Kanaya Terluka


__ADS_3

Episode 26:


" Apa maksudmu Arkha? Jangan buat ini sebagai bahan bercandaan." Ucap Adi masih tak percaya dengan pengakuan Arkha.


" Tidak om, saya benar-benar tidak bohong." Arkha sempat melirik Kanaya yang juga sedang menangis. Setelah itu ia kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Adi perlahan mendekati Arkha dengan wajah memerah dan di liputi dengan amarah.


" KENAPA KAU LAKUKAN INI PADA PUTRI KU?! KENAPA KAU YANG KU ANGGAP BAIK TERNYATA ORANG YANG TELAH MENODAI PUTRI KU?! JAWAB!!" Adi tengah di liputi amarah yang besar, hingga ia mencengkram dengan kuat baju kaos yang di gunakan Arkha, hingga tubuh Arkha tergantung karena cekikikan dari Adi.


Sedangkan Dion saat ini sedang tersenyum penuh kemenangan di tempat nya. Ia merasa puas karena akhirnya, lawannya mendapatkan amukan dari calon mertua nya, yang lebih tepatnya, mantan calon mertua nya.


Dion sudah tak berminat lagi terhadap Kanaya, yang kesucian nya telah di ambil oleh orang lain dan bukan dirinya.


Ia pikir, biarlah dia tak mendapatkan separuh harta dari Adi, toh masih banyak orang lain yang dapat ia tipu dengan berkedok bertanggung jawab atas anak-anak gadis mereka yang dia hamili. Sungguh tidak berperikemanusiaan bukan?.


" Maafkan saya Om. Saya benar-benar minta maaf. Ada suatu alasan yang membuat saya melakukan itu." Jelas Arkha.


Adi nampak tak terima dengan alasan yang di katakan Arkha. Dia semakin mencekam kuat kerah baju yang di gunakan Arkha.


" Pa, Kanaya mohon hentikan pa! Kasihan Arkha." Kanaya lantas menghampiri Adi dan Arkha, berniat untuk menghentikan aksi sang ayah.


Nita sudah berusaha untuk mencegah, namun terlambat. Kanaya lebih dulu menghampiri mereka.


" Pa stop!" Ucap Kanaya sambil berusaha melepas cengkraman sang ayah dari leher Arkha. Dan akhirnya cengkraman tersebut pun lepas. Arkha memegang leher nya yang sakit akibat ulah Adi tersebut. Tiba-tiba Kanaya dengan cepat menghalangi Arkha dengan tubuhnya. Ia tak ingin Arkha di sakiti lagi oleh ayahnya lagi.


" Minggir Kanaya! Papa belum puas memberi pelajaran kepada bed*bah ini." Ucap Adi.


" Tidak pa. Kanaya tidak mau papa menyakiti ayah dari bayi yang Kanaya kandung ini." Ucap Kanaya sambil merentangkan kedua tangannya.


" PAPA BILANG MINGGIR!!!" Tanpa sadar, Adi telah mendorong tubuh Kanaya dengan sangat kencang, sehingga membuat Kanaya terjatuh ke lantai.


" Kanaya!!" Seru semua orang Bersamaan. Kecuali Dion dan keluarga palsunya yang masih setia menonton tanpa berniat untuk pergi.

__ADS_1


" Din,,,,,,, maksudnya Kanaya kamu tidak apa-apa?" Arkha nampak sangat panik. Ia berjongkok untuk mensejajarkan posisi nya dengan Kanaya. Bukan hanya Arkha, Adi dan Nita juga menghampiri putri nya itu.


" Sakit,,,,,, perut ku sakit banget,,,,, argh,,,,,!!" Rintih Kanaya sambil memegangi perutnya.


" Kita ke rumah sakit sekarang ya!" Tanpa persetujuan dari kedua orang tua Kanaya, Arkha pun segera membopong tubuh Kanaya untuk menuju ke mobil.


Adi dan Nita nampak nya tak protes, malahan mereka mengikuti Arkha dari belakang.


Adi dan Nita pun mengikuti mobil Arkha dari belakang, menggunakan mobil milik mereka.


Sesampainya di rumah sakit, Arkha segera membopong tubuh Kanaya seraya memanggil- manggil dokter dan perawat yang bertugas di sana.


" Pak Arkha! Ada apa pak, siapa yang sakit?" Tanya seorang dokter yang nampak akrab dengan Arkha.


" Nanti saja tanya nya. Sekarang tolong dia segera! Usahakan yang terbaik untuk nya!" Perintah Arkha. Tanpa bantahan lagi, dokter dan para perawat tersebut lantas menuruti perintah Arkha.


Mereka segera membawa Kanaya ke ruang ICU.


Selang beberapa menit. Adi dan Nita telah sampai ke rumah sakit tempat Kanaya di rawat.


" Bagaimana kondisi Kanaya, Arkha?" Tanya Nita memecah keheningan di antara mereka.


" Belum tahu Tante. Dokter nya belum keluar." Jawab Arkha.


" Semoga tidak terjadi apa-apa sama Kanaya dan bayinya." Ucap Nita.


" Semoga Tante." Lanjut Arkha.


" Jika terjadi sesuatu kepada anak saya, maka kamu akan saya tuntut Arkha." Ucap Adi yang tiba-tiba memecah keheningan.


Arkha tak menjawab. Lebih tepatnya ia bingung harus berkata apa. Mungkin benar yang di katakan Adi, jika terjadi sesuatu pada Kanaya, dia lah yang patut di salahkan.


" Maaf Om." Hanya itu yang keluar dari mulut Arkha.

__ADS_1


" Pa sudah! Jangan salahkan Arkha terus atas semua ini. Kanaya jatuh itu gara-gara siapa? Gara-gara kamu. Kamu harusnya lebih dewasa dan menjadi contoh yang baik untuk mereka, bukan malah emosi yang di gedein." Ucap Nita menasehati suaminya.


" Tapi kan kalau gak gara-gara dia, aku gak bakal dorong Kanaya sampai kayak gini." Adi merasa tak terima dengan omrlen istrinya yang malah menyalahkan diri nya.


" Memangnya dengan emosi, semua bisa kembali seperti sedia kala? Enggak pa. Yang harus kita pikirkan, gimana caranya Kanaya dan bayinya itu sehat selalu. Toh, Arkha nya mengaku dan siap bertanggung jawab." Jelas Nita lagi.


" Iya kan Arkha?" Arkha yang merasa dirinya di panggil pun menoleh.


" Iya Tante, saya siap bertanggung jawab atas perbuatan saya pada Kanaya." Ucap Arkha dengan mantap dan tanpa rasa ragu sedikitpun.


" Tuh." Ucap Nita. Adi hanya melengos saja saat istrinya memojokkan nya.


" Makanya pa. Jadi orang tuh dewasa dikit, jangan cuma emosi dan emosi aja yang gede. Ujung-ujungnya malah bikin kamu rugi sendiri nantinya." Nita seakan tak henti-hentinya mengomeli suaminya itu. Dia merasa geram dengan sifat suaminya yang selalu keras kepala dan sudah untuk menerima pendapat orang lain.


Arkha yang hanya menjadi penonton saja perdebatan di antara sepasang suami istri itu pun merasa tidak enak. Untung saja tak lama dokter yang menangani Kanaya sudah keluar.


Arkha pun segera menghampiri dokter tersebut, yang di iringi oleh Adi dan Nita dari belakang.


" Bagaimana Dok keadaan anak saya?" Adi pun dengan cepat menyela di antara Arkha. Namun itu tak mengapa bagi Arkha. Ia sadar, Adi adalah orang tua Kanaya, jadi dia yang lebih berhak tahu atas diri Kanaya.


" Bapak ini orang tua pasien?" Tanya sang dokter yang nampak bingung. Dokter tersebut pun sempat melirik ke arah Arkha, setelah mendapat anggukan dari Arkha, dokter tersebut pun akhirnya mengerti.


" O,,,,, kalau begitu, silahkan bapak ke ruangan saya ya pak!" Ucap dokter itu.


Adi pun mengikuti dokter itu untuk masuk ke ruangan nya.


" Begini bapak. Anak bapak saat ini sedang hamil tiga Minggu." Jelas sang dokter.


" Iya saya tau!" Jawab Adi dengan nada ketus.


" Dan syukur lah tidak terjadi apa-apa dengan kandungan nya. Tadi dia hanya sedikit syok, hingga terjadi kontraksi pada otot-otot perut, yang menyebabkan pasien merasa kesakitan. Namun itu tidak apa-apa, bayi dan ibunya baik-baik saja." Jelas dokter tersebut dengan sangat detail.


" Ya sudah, kalau begitu saya ucapkan terimakasih dokter. Apa anak saya sudah boleh pulang sekarang?" Tanya Adi.

__ADS_1


" Silahkan pak. Anaknya sudah di perbolehkan pulang!" Ucap dokter tersebut dengan sangat ramah.


" Kalau begitu saya permisi dulu." Setelah mengatakan itu, Adi lantas segera keluar dari ruangan sang dokter.


__ADS_2