
Episode 57:
Sebelum pulang, Dila dan Abram menyempatkan diri untuk berbelanja. Awalnya Dila menolak karena merasa tak enak hati, namun Abram terus saja memaksa, katanya membeli oleh-oleh untuk calon anaknya.
Dan benar saja. Semua belanjaan mereka dipenuhi dengan kebutuhan bayi. Dari mulai baju-baju lucu, susu, popok bayi, serta banyak mainan dan lainnya. Hanya beberapa saja milik Dila, itupun Abram yang memaksa agar Dila mau menerimanya.
Selesai berbelanja, hari pun sudah sore. Matahari mulai menyembunyikan dirinya di ufuk barat. Sangking asyiknya, mereka sampai tak sadar bahwa hari pun sudah mulai gelap.
Mereka memutuskan untuk pulang saja, karena dirasa semuanya sudah cukup.
Tak lupa setelah sampai di rumah Dila, Abram menurunkan semua belanjaannya tadi dan membawanya ke dalam.
Dan untungnya Abram di sambut dengan baik oleh keluarga Dila, bahkan sangat ramah.
Sejak awal sebelum Dila mengenal Dion, mereka memang sudah menyukai Abram. Namun karena kehamilan Dila, mereka terpaksa menikahkan Dila dengan Dion dan memutuskan hubungan dengan Abram.
Tapi setelah mereka tahu bahwa putri mereka sangat menderita bersama suaminya, mereka pun mengambil kembali putri dan cucu mereka.
" Hay cantik, nih kenalin om Ab-ram!" ucap Dila mengejakan nama Abram kepada putranya. Dila juga langsung menggendong sang putri dan menimang nya.
" Halo Ica," sapa Abram kepada bayi cantik tersebut.
" Hayo Om." Dila menjawab dengan gaya bicara anak kecil.
" Boleh aku gendong?" tanya Abram.
" Boleh dong. Tapi maaf Om, Felicia nya belum mandi, jadi agak acem deh."
" Ya udah, gak papa. Om juga belum mandi, jadi kita impas kan," ucapnya.
Dila pun memberikan putrinya dengan senang hati untuk Abram gendong. Namun baru beberapa menit menggendong, Abram merasa ada yang lain pada bagian bo*ong si kecil, seperti bau yang tidak sedap.
" Kayak ada bau tidak sedap," ujarnya.
" Masak sih?"
" Beneran."
__ADS_1
" Jangan-jangan, coba kamu periksa bawahnya!" kata Dila sambil menunjuk bo*ong si kecil. Alhasil Abram pun menurut dan melakukan apa yang di perintahkan Dila.
" Hehmmm bener, dia pup deh kayaknya." Dengan ekspresi tak nyaman, Abram menunjukkan cairan kuning kental itu kepada Dila. Bukan merasa jijik, hanya saja Abram memang baru pertama kali dan belum berpengalaman tentang mengurus bayi
Dila terkejut dan merasa tak enak hati. Lantas dengan segera ia mengambil alih Felicia dari gendongan Abram dan menggantikan popoknya.
" Duh maaf ya Bram, kamu jadi kotor gitu deh jadinya," ucap Dila merasa tak enak hati.
" Tidak apa-apa kok, aku malah senang. Itu tandanya, Felicia sudah merasa dekat dengan ku," jawab Abram dengan tersenyum tulus.
" Ya sudah, aku mau cuci tangan dulu ya." Setelah mendapat anggukan dari Dila, Abram lantas ke kamar kecil untuk mencuci tangannya.
Setelah puas bermain dengan Felicia, Abram berpamitan pulang kepada semua keluarga Dila. Tak lupa sebelum pulang, Abram menyatakan niatnya untuk melamar Dila besok.
" Kami sangat merasa senang sekali jika Nak Abram mau menerima Dila kembali," ucap ibu Dila sambil memegang tangan Abram dan tersenyum lembut bak seorang ibu.
" Iya Tante, Bram juga senang bisa bersama Dila kembali." Abram juga membalas genggaman tangan calon mertuanya itu.
" Rencananya besok Abram mau memberi tahu orang tua Abram yang ada di kampung untuk datang kesini, dan mungkin lusa Abram dan orang tua Abram akan datang untuk melamar," ucap Abram lagi.
" Ibu senang sekali, akhirnya ibu akan segera punya menantu yang baik seperti kamu," ucap ibu Dila dengan tatapan haru.
" Kalau begitu saya pamit pulang dulu semuanya," kata Abram sambil menyalami keluarga Dila satu persatu. Tak lupa sebelum pergi, Abram sempat menangkup kan kedua tangannya sebagai tanda rasa hormat.
Sedangkan di tempat lain, di tempat di mana Aleta di kurung dengan begitu kejam, tanpa di beri makan sedikit pun selama tiga hari.
Wajahnya nampak sangat lusuh dan tak terawat, serta tubuhnya yang kurus dan kusam.
Para dayang atau permaisuri yang tak tega melihat penderitaan Aleta, hanya bisa sedih dan tak bisa berbuat apa-apa. Sebab, penjara di jaga dengan ketat dan tak ada yang boleh masuk satu orang pun meski sekedar memastikan bahwa Aleta baik-baik saja, termasuk Arkha yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Aleta atau sekedar membawakan makanan, karena Puspita seolah selalu memantaunya agar Arkha tidak mendekati Aleta.
Sungguh miris keadaan Aleta saat ini. Ia meringkuk tak berdaya sambil menangis tak bersuara didalam penjara dengan beralaskan kain tipis lusuh yang tak layak pakai lag.
Raja Bramantyo memang sengaja tak memberi makan Aleta beberapa hari ini, sebab besok adalah proses hukuman Aleta akan dilangsungkan.
" Ma, Mama. Naya takut," rintihannya sambil meringkuk menahan sakit karena lapar.
" Mas Arkha gak perduli sama Naya lagi Ma. Naya sendirian di sini," ucapnya lagi terdengar sangat pilu.
__ADS_1
Tiba-tiba saja sebuah gumpalan awan hitam, muncul di hadapan Aleta. Semakin lama awan tersebut semakin mengecil hingga berubah menjadi seorang bertubuh besar dan berwarna merah dengan api yang menyala pada kedua matanya.
Dan tentu saja Aleta langsung mengenali orang tersebut dan tersenyum senang atas kedatangannya.
" Jin Aron. Kau datang?"
" Benar tuan putri. Hamba datang untuk tuan putri," jawabnya dengan suara yang menggelar.
" Kenapa kau tak datang dari kemarin?"
" Maafkan hamba tuan putri. Hamba tidak akan datang jika bukan suatu hal yang genting, kecuali jika tuan putri memanggil."
" Jin Aron, saya sangat lapar. Bolehkah saya meminta makanan terlebih dahulu?" kata Aleta sambil memegangi perutnya.
" Dengan senang hati tuan putri." Lantas dengan sihir ajaibnya, beberapa makanan langsung tersedia di depan Aleta.
Aleta sangat senang melihat banyak makanan lezat di depan matanya. Ia lantas memakan dengan lahap semua makanan tersebut hingga habis tak bersisa.
Setelah selesai makan, Aleta tersenyum senang, dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada jin Aron. Ia tak membayangkan jika tak ada jin Aron, mungkin beberapa jam lagi dia akan ma*i kelaparan.
" Ada yang ingin hamba sampaikan tuan putri," ucap jin Aron setelah Aleta selesai makan.
" Mengenai apa jin Aron?"
" Mengenai kerajaan ini tuan putri."
" Ada apa gerangan dengan kerajaan ini?"
" Besok, kerajaan lintang dan kerajaan sabit akan berperang."
"APA?!" tentu saja Aleta terkejut dengan kabar terbaru saat ini. Bagaimana tidak, dua kerajaan yang awalnya berteman baik, kini tiba-tiba saja mereka berperang.
" Benarkah itu? apa penyebab mereka sampai berperang?"
" Katanya raja Andara tidak terima karena putranya di khianati oleh tuan putri. Mereka menuntut raja Bramantyo dan meminta separuh kerajaan ini, namun raja Bramantyo tak terima dan memilih untuk berperang," jelas jin Aron.
Aleta merasa syok. Dia seolah tak mampu menopang tubuhnya yang tiba-tiba saja merasa lemas, dan akhirnya tubuhnya ia sandarkan pada dinding penjara agar tidak terjatuh.
__ADS_1
" Lagi-lagi aku tidak mengerti dengan semua ini. Kenapa harus begini, aku tidak sanggup." Aleta menutup wajahnya dengan kedua tangan serta menangis pilu.
Dadanya terasa sesak menerima kenyataan yang seharusnya tidak terjadi jika ia masih di dunia masa depan. Namun ia merasa ini juga salahnya. Jika ia tidak membuka buku tersebut, maka semua ini tidak akan pernah terjadi.