
Episode 50:
" Maaf Yang mulai ratu, bisakah kita bicara sebentar?" ucap tabib istana sambil sesekali melirik ke arah Arkha yang masih setia berdiri di kamar Aleta.
Matanya seolah memberi isyarat bahwa sang tabib hanya ingin berbicara berdua saja dengan permaisuri tanpa adanya orang lain yang mendengarnya.
Permaisuri Ayu yang mengerti maksud sang tabib pun segera memerintahkan Arkha untuk keluar dari sana.
" Baiklah, Senopati Arkha bisa kau tinggalkan kami berdua dulu!" kata permaisuri Ayu.
Arkha pun mengangguk dengan hormat lalu segera meninggalkan kamar Aleta.
" Baiklah tabib, apa yang ingin anda bicarakan dengan saya?" ucap permaisuri Ayu ketika Arkha sudah tak nampak lagi keberadaannya.
Sedangkan Aleta tertidur dengan pulas karena tadi sudah diberi obat tidur oleh sang tabib, jadi tak kan ada yang mendengar pembicaraan mereka.
" Begini Yang mulia ratu, dengan berat hati hamba harus mengatakan ini dengan Yang mulia, karena ini juga menyangkut tentang kehormatan kerajaan," ucap tabib.
" Menyangkut tentang kehormatan kerajaan, maksudmu? Tolong paman jangan berbelit-belit dan membuat saya bingung seperti ini. Katakan dengan jelas dan jangan bertele-tele!" kata permaisuri Ayu sedikit kesal.
" Baiklah maafkan hamba Yang mulia ratu. Jadi sebenarnya saat ini tuan putri Aleta sedang mengandung, dan usia kandungannya sudah dua bulan tujuh hari," jelas tabib.
" APA!! Apa aku tidak salah dengar Paman? putriku sedang mengandung, tapi bagaimana bisa?"
Permaisuri Ayu sangat syok mendengar bahwa putrinya sedang mengandung, hingga tak sadar ia pun terduduk lemas di lantai dengan rasa tak percaya nya.
" Apakah Yang mulia ratu tidak apa-apa?" tanya tabib istana dengan nada khawatir.
Permaisuri Ayu lantas menggeleng seraya mengangkat satu tangannya untuk mengisyaratkan kepada sang tabib bahwa dia baik-baik saja.
" Maafkan hamba Yang mulia ratu, akan tetapi itulah kenyataannya," jawab sang tabib lagi untuk meyakinkan permaisuri Ayu.
" Baiklah kalau begitu tolong panggilkan Yang mulia raja sekarang!" ucap permaisuri Ayu.
" H_hamba Yang mulia?" tanya sang tabib sedikit ragu sambil melihat sekelilingnya mana tahu ada orang selain mereka berdua di sana yang permaisuri perintahkan.
" Lalu siapa lagi, bukankah kita hanya berdua," ucap permaisuri Ayu dengan penuh emosi karena terbawa-bawa perasaannya yang sedang kalut.
" B_b baik Yang mulia."
Tabib pun langsung bergegas menemui sang raja, dan tak lama kemudian raja Bramantyo datang dengan tergopoh-gopoh karena mendengar sang putri sempat sakit.
" Ada apa dengan putri kita adinda?" tanya raja Bramantyo.
__ADS_1
Permaisuri Ayu yang melihat suaminya baru saja tiba pun langsung menghambur memeluk suaminya itu sambil menangis.
Tentu raja Bramantyo bingung di buatnya. Ia heran mengapa tiba-tiba istrinya itu menangis.
" Putri kita Kanda," ucap permaisuri Ayu sambil terus menangis.
" Iya ada apa dengan putri kita?" tanyanya lagi.
" Dia,,,,,dia,,, hiks hiks," ucap permaisuri Ayu.
" Tabib, tolong ambilkan ratu minum!" perintah sang raja karena melihat sang istri yang nampaknya syok berat.
Tabib pun segera mengambilkan minum dan segera memberikannya kepada raja, lalu raja meminumkannya kepada sang ratu dengan penuh kehati-hatian.
Setelah di rasa agak tenang, raja lantas mendudukkan istrinya itu pada kursi yang ada di kamar Aleta.
" Sekarang coba jelaskan dengan perlahan, ada apa dengan putri kita dan apa yang membuatmu menangis?"
Raja menanyai istrinya dengan begitu lembut.
" Putri kita,,,,, dia,,,,, dia hamil Kanda huwaaaaa!!"
Permaisuri Ayu kembali memeluk suaminya,badan kali ini sambil menangis histeris.
Raja Bramantyo tak tahu harus marah pada siapa atas kejadian ini. Dia seolah masih tak percaya dengan yang di katakan sang istri.
" Siapa yang mengatakan demikian istriku?" tanyanya berusaha menahan emosinya dihadapan sang istri.
" Tabib yang memeriksa putri kita dan dia bilang bahwa putri kita sedang mengandung."
Sedangkan sang tabib tak berani menatap sang raja karena ia tahu bahwa saat ini sang raja pasti sedang diselimuti emosi.
Dia pun menundukkan kepalanya dengan perasaan yang takut.
Dan benar saja. Raja lantas berdiri dan menghampiri tabib istana itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
" Apa maksudmu mengatakan seperti itu?" tanya raja masih dengan nada bicara yang biasa.
" T_tidak bermaksud apa-apa Yang mulia," jawab tabib dengan gugup.
" Lalu apakah itu benar bahwa putriku saat ini sedang mengandung?" ucapnya sambil mengitari tabib dan sesekali mengusap debu yang sebenarnya tidak ada di pakaian tabib tersebut.
Dan hal itu semakin terlihat menyeramkan bagi sang tabib.
__ADS_1
" B_ b benar Yang mulia, saya tidak berbohong. Jika Yang mulia tidak percaya, Yang mulia bisa memeriksakannya pada tabib lain," kata tabib dengan suara bergetar.
Tiba-tiba sang raja terdiam setelah mendengar penjelasan tabib tersebut. Ia mulai berpikir bahwa apa yang di katakan oleh sang tabib itu benar juga.
" Baiklah, kalau begitu tolong kau panggilkan semua tabib yang ada di kota ini untuk memeriksa putriku!" perintahnya kepada tabib.
Tak mau membuang waktu lagi, tabib tersebut langsung melaksanakan perintah sang raja untuk mengumpulkan semua tabib yang ada di kota kerajaan tersebut untuk menghadap sang raja.
Sembari menunggu tabib, raja juga memerintahkan seseorang untuk mengundang calon besan nya untuk datang ke istana. Namun raja memilih untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya kepada calon besan nya sebelum ada kepastian.
Dan setelah beberapa waktu menunggu, akhirnya tabib istana berhasil mengumpulkan beberapa tabib dari luar kerajaan untuk menghadap raja Bramantyo.
" Sekarang saya minta kalian untuk memeriksa putriku, dan apapun yang kalian ketahui nanti tentang putriku, saya minta kalian untuk tidak mengatakannya kepada siapapun, apa lagi kerajaan lain."
" Baik Yang mulia," ucap mereka secara bersamaan.
Satu persatu dari tabib tersebut memeriksa sang putri dengan sangat jeli dan masing-masing mengatakan bahwa sang putri memang sedang hamil dua bulan tujuh hari.
Berapa marahnya sang raja saat ini. Ingin rasanya ia memberi pelajaran kepada laki-laki yang telah berani menghamili putrinya tersebut. Dan dia tahu kemana dia harus melampiaskan amarahnya.
" PENGAWAL!!" teriak raja.
" Hamba menghadap Yang mulia," ucap pengawal sambil menunduk hormat.
" Panggilkan pangeran Antaraksa sekarang dan suruh dia menghadap saya sekarang juga!"
" Laksanakan Yang mulia raja." Dengan gaya hormat pengawal tersebut beranjak pergi dari hadapan raja Bramantyo dan segera melaksanakan tugasnya untuk memanggil pangeran Antaraksa.
" Ananda menghadap paman raja," ucap Antaraksa ketika ia sudah di hadapan raja Bramantyo.
Tanpa ia duga tiba-tiba raja Bramantyo langsung mencengkeram pakaiannya dengan kuat dan itu tentunya membuat pangeran Antaraksa bingung.
" Ada apa ini paman raja, kenapa tiba-tiba saya di serang?" tanyanya sambil menahan cengkraman raja Bramantyo.
" berani-beraninya kau berpura-pura tidak tahu tentang apa yang telah kau lakukan pada putriku," ucapnya dengan penuh emosi.
" Memangnya ada apa dengan tuan putri, aku tidak melakukan apa-apa padanya," ucap pangeran Antaraksa menyangkal tuduhan sang raja terhadapnya sambil menahan cengkraman raja.
" Jangan berbohong kau ba*ingan!"
Sedangkan permaisuri Ayu masih tak bisa menahan rasa sedihnya dan hanya bisa menangis di samping Aleta yang masih belum sadarkan diri akibat obat tidur yang diberikan tabib istana tadi.
" Berhenti kanda, apa yang kanda lakukan pada putraku?" ucap raja Andara yang baru saja tiba.
__ADS_1