Mengandung Anak Jin Tampan

Mengandung Anak Jin Tampan
Mual


__ADS_3

Episode 49:


" Baiklah."


Dengan berat hati Arkha terpaksa mengiyakan perkataan Puspita dan tidak akan mengatakan apa yang telah terjadi pada siapapun.


Puspita pun tertawa senang karena akhirnya Arkha menyetujui permintaannya itu.


Di sisi lain ada Aleta yang sedang berkutat di dapur istana. Entah apa yang ia masak hingga begitu bersemangatnya mengaduk sesuatu di dalam wajan.


Bahkan para petugas dapur istana pun hanya boleh melihat tanpa harus membantunya.


Itulah permintaan Aleta. Padahal sepanjang Aleta memasak, ia sering sekali mual karena mencium bau bumbu yang ada di dapur istana tersebut.


Hingga pelayan istana yang ada di dapur pun melihatnya dengan tatapan heran. Namun sama sekali mereka tak berani untuk bertanya.


Dengan penuh perjuangan dan pengorbanan serta keringat yang mengucur, akhirnya masakan yang dibuat Aleta pun selesai juga.


Aleta lantas mengemasnya dalam wadah makanan dan segera membawanya dengan penuh semangat sambil bernyanyi riang.


Para pelayan dan kooky istana hanya bisa tercengang melihat tingkah Aleta yang seperti anak kecil itu. Tak sedikit pula dari mereka yang geleng-geleng kepala sambil tersenyum geli melihatnya.


Hari ini adalah hari penting bagi kerajaan lintang, di mana hari ini kerajaan lintang akan menyerang kerajaan Atlas.


Semua prajurit dan petinggi-petinggi istana berkumpul di lapangan


istana termasuk Senopati Arkha.


Sebelum berperang, mereka akan mendengarkan arahan dari penasehat kerajaan dan raja Bramantyo itu sendiri.


Saat semua mendengarkan dengan khusuk, tiba-tiba tangan Arkha di tarik oleh seseorang.


Orang itu membawa Arkha jauh dari kerumunan para prajurit dan dengan cara diam-diam pula seperti seorang penculik.


" Kita mau kemana tuan putri?" tanya Arkha.


" Hust diam lah!"


Arkha pun diam hingga mereka sampai di tempat yang mereka tuju, yaitu di belakang istana.


Aleta pun mengajak Arkha untuk duduk di sebuah kursi yang ada di sana dan langsung membuka tempat makan yang ia bawa tadi lalu memberikannya pada Arkha.


" Apa ini tuan putri?" tanya Arkha yang memang tak tahu dengan masakan apa yang Aleta masak.


" Ini namanya perkedel kentang, saya masakannya pakai minyak zaitun loh, jadi sehat kok," ucap Aleta yang di angguki oleh Arkha.

__ADS_1


" Lalu yang ini namanya apa?" tanya Arkha lagi, menunjuk sesuatu yang ada ditempat makan itu juga.


" Yang ini namanya sambel terasi, tapi karena tidak ada terasi di dapur istana, jadi saya buat sendiri, makanya agak lama," kata Aleta lagi, dan Arkha kembali mengangguk karena kedua masakan itu tak asing baginya.


" Lalu yang ini apa, apakah ini makanan juga?" tanya Arkha lagi menunjuk tumpukan roti besar yang didalamnya tersusun daging dan sayuran segar.


" Ya iya lah Arkha, kan ini makanan kesukaan kam,,,,,." Namun seketika ucapannya berhenti karena mengingat sesuatu.


Tawa yang tadi sempat terbit pun perlahan mulai redup.


Aleta lupa bahwa saat ini Arkha sedang tak ingat masa depannya bersama Kanaya. Jadi percuma saja jika Aleta mengatakan hal yang menyangkut tentang kehidupan mereka di dunia masa depan.


" Makanan kesukaan?" beo Arkha.


" Emmm aaa maksudnya makanan kesukaan saya," jawab Aleta sekenanya, dan untungnya Arkha pun percaya.


" Ini namanya burger," jelas Aleta seraya menyodorkan burger tersebut kehadapan Arkha. Dan Arkha pun menatap burger tersebut dengan ragu-ragu.


" Apakah ini untuk hamba tuan putri?" tanya Arkha sedikit ragu, sebab ia tak mau asal mengira bahwa burger yang di buat khusus oleh putri kerajaan tersebut untuknya yang hanya seorang Senopati.


Tanpa ragu pula Aleta menganguk senang.


" Coba lah, pasti kau suka!" ucap Aleta lagi.


Dan akhirnya Arkha pun menerimanya lalu mulai menggigitnya sedikit.


Aleta sampai tertawa geli melihat tingkah Arkha yang terlihat bak orang yang tidak makan selama sebulan.


" Pelan-pelan dong makannya!" kata Aleta.


" Enak," jawab Arkha dengan mulut penuh dengan makanan.


" Terimakasih atas jamuan nya tuan putri," ucap Arkha setelah ia selesai makan burger tersebut.


" Sama-sama, tapi masih ada ini loh yang belum kamu makan," kata Aleta sembari menyodorkan kembali wadah yang berisi nasi, sambal terasi dan perkedel kentang yang ia bawa tadi.


" Ini untuk saya juga?" tanya Arkha.


Aleta lantas menganguk, dan Arkha pun menerima kembali makanan keduanya dengan malu-malu.


" Ini saya makan ya tuan putri," kata Arkha.


" Silahkan!" jawab Aleta.


Arkha pun kembali memakan makanannya dengan sangat lahap, karena selain lapar masakan yang Aleta buat juga sangat lezat dan pas di lidah Arkha.

__ADS_1


Aleta sangat senang karena ternyata Arkha menyukai makanan yang ia buat sendiri itu, hingga tanpa sadar Aleta memandangi Arkha yang sedang asyik mengunyah makanannya tersebut.


Arkha yang menyadari dirinya di tatap sedemikian rupa oleh Aleta pun merasa canggung.


" Tuan putri mau coba?" tawar Arkha.


" Hahh kenapa?" ucap Aleta seperti orang yang tertangkap basah.


" Saya bilang tuan putri mau coba?" ulang Arkha.


Aleta terdiam, tak menolak tidak pula mengiyakan. Ia malah tercengang memandang wajah Arkha bak orang terkena hipnotis.


Lalu tanpa diduga Arkha telah menyodorkan suapan nya di depan Aleta.


Namun entah kenapa tiba-tiba perutnya terasa di obrak-abrik dari dalam setelah mencium bau sambal terasi di depan hidungnya tersebut.


Aleta merasa mual dan langsung menutup mulutnya dengan tangan serta segera menjauh dari Arkha untuk memuntahkan isi perutnya.


Arkha merasa bingung dan serba salah ketika melihat Aleta yang nampak lemah karena mengeluarkan banyak cairan dari mulutnya.


Arkha mendekati Aleta dan mencoba memijat tengkuk Aleta berharap itu bisa membantu Aleta.


Tanpa mereka sadari hal itu terlihat oleh pangeran Antaraksa yang kebetulan juga akan ikut andil dalam peperangan melawan kerajaan Atlas.


Tentu saja pangeran Antaraksa merasa cemburu ketika melihat kebersamaan Arkha dan calon istrinya tersebut, tanpa mau tahu keadaan Aleta yang saat ini sedang merasa lemas.


" Tuan putri saya akan membawa tuan putri ke kamar ya," kata Arkha.


Aleta lantas menganguk lemah. Dan tanpa basa-basi lagi Arkha pun segera membopong tubuh Aleta untuk menuju ke kamar.


" Kenapa dengan putri saya Senopati Arkha?" tanya permaisuri Ayu yang kebetulan berpapasan dengan Arkha yang sedang menggendong Aleta.


Arkha pun meletakkan tubuh Aleta di atas kasurnya dengan sangat hati-hati.


" Tadi tuan putri Aleta muntah-muntah saat bersamaan saya di belakang istana," jawab Arkha.


" Kenapa bisa bersama kamu?"


" Tidak, kami hanya kebetulan berpapasan saja di sana." Dan tentu saja Arkha berbohong, itupun hanya untuk menutupi pertemuannya dengan putri Aleta agar tidak terjadi salah paham.


" Ya sudah, kau panggilkan tabib saja!" perintah permaisuri Ayu kepada Arkha.


Arkha pun segera melaksanakan perintah permaisuri Ayu dengan cepat, dan tak menunggu waktu lama tabib istana pun datang dan segera memeriksa tubuh Aleta dengan seksama.


Mulai dari denyut nadi bagian leher dan tangan hingga memeriksa perut Aleta.

__ADS_1


Namun kening tabib tersebut berkerut heran setelah mendapati hal aneh pada perut Aleta. Ia merasa perut Aleta agak membuncit dan agak padat, sehingga membuat sang tabib menggeleng tak habis pikir dengan perkiraannya kali ini.


__ADS_2