
Episode 28:
Semua acara yang di langsungkan pun selesai hingga menjelang malam. Semua keluarga, termasuk Arkha dan Kanaya nampak kelelahan karena seharian mereka menyambut tamu undangan yang datang.
Nita dan Adi, bahkan setelah selesai makan malam, mereka memutuskan untuk langsung tidur saja.
Begitupun Arkha dan Kanaya yang kini sudah berada di kamar mereka.
" Kami sudah bersih-bersih?" Tanya Kanaya pada Arkha.
" Sudah. Kamu sudah juga kan? Sekarang kita tidur yuk!" Ajak Arkha.
" Tidur?" Beo Kanaya.
" Iya tidur. Terus kamu mau ngapain kalau tidak tidur?"
" Emmmmm aku pikir,,,,,,,." Kanaya sengaja menggantung ucapannya.
Nampaknya Arkha mengerti dengan maksud Kanaya. Ia lantas terkekeh sambil mencubit hidung Kanaya.
Satu hal yang tidak bisa Kanaya hilangkan jika sudah melihat senyum Arkha, yaitu Mengagumi keindahan yang tercetak jelas di pipinya. Kanaya selalu terhipnotis oleh senyum manisnya, bukan hanya Kanaya, mungkin wanita di luaran sana juga sama.
Perlahan tanpa sadar, tangan Kanaya terangkat untuk memegang lesung pipi milik Arkha. Tentu Arkha tak keberatan. Ia membiarkan saja Kanaya menyentuh pipinya hingga Kanaya puas.
Sungguh Kanaya tak membayangkan hal seindah ini sebelumnya. Bisa melihat tanpa merasakan saja, sudah membuatnya terpesona, apa lagi bisa menyentuhnya secara langsung seperti saat sekarang ini.
Sungguh tak dapat di ungkapkan dengan kata-kata, betapa mengagumkannya makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini.
Apa mungkin karena dia bukan manusia utuh, jadi Tuhan melebihkan keindahan wajah dan bentuk tubuh padanya? Entahlah. Hanya author dan Tuhan yang tahu.
" Indahnya!" Ucap Kanaya tanpa sadar.
" Kamu, tidak mengantuk?" Suara Arkha menyadarkannya. Kanaya lantas terkesiap dan memandang Arkha dengan canggung.
" I_iya ngantuk. Ini mau tidur." Ucap Kanaya salah tingkah. Ia juga membenarkan letak bantalnya, sekedar untuk menutupi rasa gugupnya.
" Kanaya!" Panggil Arkha. Kanaya lantas menoleh pada Arkha.
" Ya."
" Maaf ya."
" Untuk?"
" Semuanya."
" Semuanya?" Beo Kanaya.
__ADS_1
" Iya. Semua yang telah aku perbuat pada mu. Karena aku, kau harus menanggung beban ini sendiri."
" Aku sudah memaafkan mu. Lagipula, aku tidak sendiri, ada kamu, aku, dan dia." Kanaya menyentuh perutnya yang masih rata.
" Boleh aku pegang?" Tanya Arkha meminta izin untuk ikut memegang perut Kanaya.
Dengan senang hati Kanaya pun mengangguk. Arkha ikut menyentuh perut Kanaya dengan penuh kasih sayang.
" Maaf ya. Karena perbuatan ku, kamu harus rela menikah dengan ku. Kamu pasti sangat tersiksa karena terpaksa."
" Siapa bilang aku terpaksa menikah dengan mu?" Ucap Kanaya tidak terima.
" Bukankah kamu tidak mencintaiku? Aku telah merusak hubungan mu dengan Dion, bahkan pernikahan mu juga."
" Di bilang cinta, mungkin aku belum yakin. Tapi sungguh, menikah dengan mu, seolah telah menyelamatkanku."
" Menyelamatkan? Menyelamatkan mu dari siapa?" Tanya Arkha.
" Dari sifat be*atnya Dion." Ucap Kanaya cepat.
" Bahkan dari keegoisan ku sendiri." Lanjutnya.
" Apa kamu tidak mencintai Dion?" Tanya Arkha. Kanaya lantas menggeleng.
" Entahlah. Jika berdekatan dengan dia, perasaan ku seolah tak merasakan apa-apa kepadanya."
" Kenapa begitu? Apa kamu mencintai seseorang?"
" Entahlah, aku tidak tahu dengan perasaan ku sendiri. Dulu waktu masih kecil, aku sering bermimpi tentang seorang pangeran. Dia selalu mendatangi ku setiap malam di dalam mimpi ku itu. Dia tidak pernah absen memberi ku bunga. Dia juga sering menyebutkan sebuah nama yang seolah tidak asing bagi ku. Tapi sayangnya, aku selalu lupa."
" Apa kamu ingat wajah nya?" Arkha seolah sengaja mengorek informasi dari Kanaya.
" Tidak. Wajahnya tidak jelas."
Entah mengapa Arkha nampak terlihat lega setelah Kanaya mengatakan itu.
" Apa sudah besar, kamu masih bisa mimpi seperti itu?" Kanaya menggeleng tanda tidak pernah.
" Ya sudah, ceritanya besok saja lagi. Lebih baik sekarang kita tidur!" Ucap Arkha pada Kanaya. Kanaya mengangguk, lantas ia membenarkan letak bantalnya dan merebahkan tubuhnya.
Tetapi entah mengapa ia ingin sekali tidur sambil di usap perutnya oleh Arkha. Akan tetapi untuk mengatakannya, sangat sulit bagi Kanaya. Ia masih merasa malu kepada lelaki yang baru saja mengubah statusnya sebagai seorang suami itu.
Alhasil, dia harus menahan keinginannya itu.
Kanaya membolak-balik kan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, karena rasa gelisah yang melanda.
Akibat pergerakan Kanaya, Arkha jadi terbangun dan langsung melihat keadaan Kanaya yang sedari tadi nampak gelisah.
__ADS_1
" Kamu kenapa?" Tanya Arkha. Kanaya mengubah posisinya menjadi duduk, dan Arkha pun mengikutinya.
" Emmmm a_aku gak bisa tidur."
" Kenapa? Katanya sudah ngantuk. Apa ada yang kamu inginkan?" Arkha seolah mengerti apa yang di rasakan Kanaya. Ya, sedikit-sedikit dia tahu tentang ibu hamil. Tentang keinginan mengidam, emosional yang kadang bisa tidak stabil, hingga perubahan sikap mereka.
Dan benar saja, akhirnya Kanaya mengangguk membenarkan pernyataan Arkha.
" Tapi aku malu."
" Malu? Memangnya kamu malu sama siapa? Sama aku?" Tunjuk Arkha pada diri sendiri.
Kanaya pun mengangguk malu-malu.
" Aku ini sudah menjadi suami kamu. Aku juga ayah dari bayi yang kamu kandung ini. Lalu untuk apa lagi kamu merasa malu kepada suamimu ini."
" Katakan saja apa yang kamu mau!" Lanjut Arkha.
" A_ku ingin kamu mengusap perut ku sampai aku tertidur!" Ucap Kanaya dengan malu-malu.
" Oh,,,,, hanya itu? Apa ada yang lain?" Kanaya lantas menggeleng.
" Ya sudah. Sini!" Arkha memerintahkan Kanaya untuk berbaring. Setelah itu ia melakukan tugasnya hingga Kanaya tertidur dengan pulas.
Tiba-tiba di sela-sela kegiatannya, secercah cahaya muncul di depan jendela kamar nya.
Perlahan, cahaya itu berubah menjadi seorang pria bertubuh tinggi besar. Kulit tubuh hingga wajahnya merah sempurna, bak bara api yang menyala.
Matanya berkobar dengan api yang menyala.
" Ka_kakek!" Ucap Arkha pada pria aneh nan menyeramkan tersebut.
" Apa kabar cucuku. Masih ingat dengan ku?" Tanya pria itu dengan suara parau dan menyeramkan.
" Iya kek. Saya masih sangat ingat dengan kakek." Jawab Arkha.
" Lalu, apa kau masih ingat dengan janji mu?"
" Sa_saya masih ingat kek."
" Bagus kalau begitu. Kau harus mempersiapkan diri jika waktunya tiba nanti!"
" B_baik kek."
Pria itu beralih menatap Kanaya untuk sesaat, lalu sekilas menatap perut Kanaya, setelah itu kembali fokus pada Arkha.
" Jaga mereka dengan baik! Manfaatkan waktu yang singkat ini sebaik-baiknya!"
__ADS_1
" Baik kek."
Setelah itu, pria aneh itu menghilang seiring dengan cahaya yang juga lenyap dari pandangan Arkha.