Mengandung Anak Jin Tampan

Mengandung Anak Jin Tampan
Cerita Abram Dan Dila


__ADS_3

Episode 43:


Aleta tak menjawab, namun tak pula merespon apa-apa, ia terus saja menangis histeris tanpa memperdulikan siapapun di sampingnya.


Tak hanya para dayang dan abdi kerajaan saja yang berbondong-bondong datang melihat keadaan Aleta, namun raja Bramantyo dan permaisuri Ayu yang mendengar jelas teriakan Aleta pun langsung menghampiri Aleta untuk memastikannya.


" Ada apa dengan putri saya Arkha?" Tanya permaisuri Ayu yang sangat panik melihat putri semata wayangnya histeris.


" Tidak tahu yang mulia, tiba-tiba saja tuan putri menangis histeris tanpa sebab," jawab Arkha yang masih berada di samping Aleta serta berusaha menenangkannya dengan cara menggenggam tangan Aleta, bahkan ia tak sadar bahwa dia sedang di lihat banyak orang termasuk raja Bramantyo dan istrinya.


" Biar saya bawa ke kamar tuan putri saja yang mulia," usul Arkha, bahkan dengan berani dia berkata seperti itu. Rasa khawatirnya seolah menutupi rasa takut dan malunya.


Setelah mendapat anggukan dari permaisuri Ayu, Arkha pun segera membopong tubuh Aleta tanpa menghiraukan tatapan tajam dari raja Bramantyo.


Bahkan setelah sampai di kamar putri Aleta, Arkha tak melepaskan genggamannya pada tangan Aleta. Ia tak sadar bahwa dia sedang di pandang aneh oleh semua orang termasuk Puspita yang merasa cemburu dengan perhatian yang di berikan Arkha kepada Aleta, menurutnya itu sangat berlebihan sebagai seorang Senopati terhadap tuan putrinya.


Bahkan tanpa sadar Arkha juga mengelus punggung tangan Aleta untuk menenangkannya.


" Ehemmm," ucap raja Bramantyo seakan memberi kode kepada Arkha untuk menjauh dari Aleta.


Arkha yang tersadar karena deheman raja Bramantyo pun terjingkat kaget dan segera mengubah posisinya serta menjauh dari Aleta.


Setelah beberapa saat akhirnya tangis Aleta pun mulai mereda, mungkin karena kelelahan juga ia pun tertidur dengan sisa tangisnya.


" Saya minta kalian semua bubar, tidak ada yang perlu di pertontonkan," ucap raja Bramantyo yang nampaknya sangat marah entah karena apa.


Akhirnya beberapa dayang yang mengurus Aleta juga Puspita yang kebetulan tadi juga ikut mengantarkan Aleta ke kamarnya pun ikut keluar dari kamar Aleta. Kecuali Arkha yang hanya diam mematung sambil menatap Aleta yang sudah tertidur pulas.


Karena tak ada pergerakan dari Arkha, Puspita pun menarik tangan Arkha hingga tubuhnya pun mengikuti langkah Puspita.


" Kanda kenapa seperti itu terhadap tuan putri?" Tanya Puspita tiba-tiba saat mereka sudah sampai kembali di taman.


" Seperti itu bagaimana maksud kamu?" Tanya Arkha yang tak mengerti mengapa dirinya tiba-tiba seolah di pojokan.

__ADS_1


" Kanda terlihat perhatian sekali terhadap tuan putri tadi," jawab Puspita dengan memasang wajah cemberutnya.


Mendengar pertanyaan itu, untuk sesaat Arkha terdiam, lalu tak lama ia pun terkekeh seolah tak terjadi apa-apa.


" Oh jadi itu, jadi kamu cemburu?" Kekeh Arkha.


" Ihhhh Kanda, saya tanya serius ih," kesal Puspita.


" Ya kamu, terlihat sekali cemburunya," jawab Arkha masih dengan sisa kekehan nya.


" Kanda ih, wanita mana yang tidak cemburu kala melihat calon suaminya terlihat begitu khawatir terhadap wanita lain coba?" Puspita melipat kedua tangannya untuk mengekspresikan betapa kesalnya ia terhadap Arkha.


" Tidak Puspita, kau jangan cemburu. Itu hanya bentuk pengabdian ku terhadap tuan putri, tidak lebih," ucap Arkha terlihat sungguh-sungguh dalam mengucapkannya, namun setiap kali mengucapkannya hatinya terasa pedih, namun sebagai seseorang yang sudah di rawat dan di besarkan hingga di angkat menjadi seorang Senopati, tak pantas baginya untuk menolak perjodohan dirinya dan Puspita apa lagi untuk mencintai tuan putrinya.


" Apakah benar itu?" Nampaknya Puspita sangat percaya dengan ucapan Arkha.


Arkha menganguk serta senyum yang ia paksakan.


Setelah merasa yakin dengan Arkha, Puspita pun tersenyum senang.


Sedangkan Abram yang akan menemui tamunya tersebut di buat terkejut melihat siapa wanita yang bertamu.


" Di_dila!" Ucapnya dengan nada lirih.


" Abram, boleh aku minta waktunya sebentar?" Tanya Dila dengan mata dan wajah yang sembab.


Dengan ragu-ragu Abram pun mengangguk, hatinya masih terasa sakit semenjak kejadian waktu itu.


Flashback delapan bulan lalu:


Brakkkk


Dila terkesiap ketika Abram dengan kuatnya menggebrak meja yang ada di cafe yang saat ini mereka kunjungi.

__ADS_1


Kebetulan sore itu cafe dalam kondisi sepi pengunjung dikarenakan hujan deras.


" TEGA KAMU DILA!" Teriak Abram.


" Seminggu yang lalu kamu bilang janin yang kamu kandung sekarang adalah anak aku, buah cinta kita!" Abram tersenyum miris ketika mengucapkannya. Nampak batinnya sangat terluka saat ini.


" Dan bodohnya aku pun percaya gitu aja. Padahal kita melakukannya hanya sekali, seharusnya aku mikir, bahwa mustahil jika melakukannya cuma sekali bakalan langsung jadi," lanjut Abram.


Sedangkan Dila tak mampu berkata apa-apa, hanya air mata penyesalan lah yang terus mengalir percuma tanpa bisa membasuh kesalahan yang ia perbuat.


" Aku minta maaf," lirih Dila sambil tertunduk dalam.


" Tidak, kau sama sekali tidak salah. Di sini aku lah yang bersalah. Aku terlalu mencintaimu hingga buta akan perselingkuhan ini." Abram tersenyum miris lalu menyandarkan tubuhnya pada badan kursi yang di duduki nya.


" Aku yang salah karena tidak bisa memberikan mu kebahagiaan berbentuk uang, karena diriku ini miskin. Jadi wajar saja jika kau berpaling dan mencari lelaki yang lebih mapan seperti bos Dion." Dengan serius Abram mengatakan itu, ia pun tak lagi sekasar tadi, karena ia benar-benar merasa dirinya lah yang bersalah karena selama mereka berpacaran Abram tak bisa memberikan seperti yang Dion berikan kepada Dila.


" hiks hiks hiks." Dila hanya menangis dan menangis, tak tahu lagi harus membela diri bagaimana lagi, karena semua kesalahan ada padanya.


" Aku ingin berterimakasih pada mu karena selama ini sudah mau menerima lelaki yang tak berpunya ini hadir di hidupmu meski hanya sesaat. Dan aku berharap kau dan bos Dion akan hidup berbahagia, akan tetapi jika suatu saat kau butuh teman curhat, aku akan selalu siap menjadi teman curhat mu," ucap Abram dengan bersungguh-sungguh.


" Aku minta maaf jika selama ini selalu membuat menderita dan merasa tak nyaman berada di dekat mu." Dila menggeleng cepat ketika Abram mengatakan itu.


" Aku pergi dulu, berbahagia lah selalu!"


Setelah mengatakan itu Abram pun berjalan gontai meninggalkan ruangan cafe dan sisa tangis Dila yang tak kunjung berhenti. Meskipun di luar hujan tak kunjung reda, Abram tetap akan menerobosnya, tak perduli jika nanti dirinya flu atau mungkin demam. Toh rasa sakit di hatinya tak kalah sakit di banding jika dirinya demam nanti.


Tiba-tiba Dila berdiri dari tempat duduknya dan berusaha mengejar Abram yang kini mulai menjauh.


" ABRAM!!" Teriak Dila. Namun sayangnya suara deru hujan yang begitu lebat membuat Abram tak bisa mendengar teriakkan Dila.


Kini hanya menangis yang bisa Dila lakukan. Tubuhnya luruh kebawah, diiringi air mata yang tumpah tiada henti. Alam pun seolah sedang menggambarkan betapa hancur dan sedihnya perasaan mereka saat ini.


Flashback off:

__ADS_1


Abram dan Dila kini sedang berada di taman dekat dengan hotel milik Arkha.


Semenjak pertama bertemu tadi hingga saat mereka telah sampai di taman, tak ada percakapan apapun di antara mereka. Rasa canggung dan sisa masa lalu masih menyelimuti hati mereka masing-masing.


__ADS_2