
Episode 48:
" Apa yang kau lakukan pada Senopati Arkha Puspita?" kata Aleta yang syok melihat pemandangan tersebut.
Puspita pun langsung mati kutu karena di hadapkan dengan dua orang penting tersebut.
Dengan perasaan gugup, Puspita pun melepaskan belati yang ia pegang tadi begitupun dengan Arkha hingga belati tersebut jatuh ke lantai dengan sisa darah milik Arkha.
" T_tuan putri," ucap Puspita dengan perasaan gugup.
Aleta pun menatap Arkha dan Puspita secara bergantian dengan tatapan tajam. Matanya menelisik kecurigaan terhadap dua orang tersebut, terlebih pada Puspita.
" Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Aleta dengan wajah seriusnya.
Puspita hanya bisa tertunduk diam sambil meremas ujung baju yang ia pakai. Sedangkan Arkha menatap ragu pada Aleta dan Puspita secara bergantian. Ia hanya bingung untuk mengatakan yang sebenarnya pada Aleta atau tidak, sebab ia tak mau terjadi keributan dan menimbulkan masalah baru. Baginya melihat Aleta sudah baik-baik saja, sudah membuat ia merasa tenang.
" Emmmm," kata Arkha nampak ragu-ragu.
Tiba-tiba saja Aleta meraih tangan Arkha yang terluka tadi dan tak menghiraukan lagi jawaban yang yang ingin ia dengar dari mereka.
" Tangan mu terluka, apa ini sakit?" tanya Aleta.
Arkha pun menggeleng lalu tersenyum.
" Sedikit," jawab Arkha.
" Kenapa bisa jadi seperti ini? ya sudah lebih baik ini di obati dulu!"
Tanpa memperdulikan keberadaan Puspita, Aleta pun menarik tangan Arkha dan membawanya keruang kesehatan.
Puspita yang melihat itu hanya bisa menatap tajam ke arah mereka tanpa bisa berbuat apa-apa. Baginya yang terpenting dirinya selamat dari pengaduan Arkha terhadap dirinya terlebih dahulu.
" Maaf tuan putri, hamba mau di bawa kemana?" tanya Arkha yang sedari tadi hanya menurut saja saat dirinya digiring oleh Aleta.
" Kan tadi sudah saya bilang kalau kita mau ke ruang kesehatan. Sudah lah menurut saja, mau sembuh kan?"
Dan Arkha pun mengangguk lalu membiarkan saja Aleta membawa dirinya.
" Tuan putri, ada yang perlu hamba bantu tuan putri?" tanya seorang tabib istana yang sedang meracik obat di ruangan kesehatan tersebut.
" Tabib saya perlu obat untuk luka ada?" tanya Aleta.
__ADS_1
" Ada, akan tetapi saya harus meraciknya terlebih dahulu. Tuan putri bisa menunggunya di sini, saya akan buatkan," kata sang tabib.
" Cepatlah!"
Tabib itu pun bergegas ke belakang untuk membuatkan obat yang Aleta pesan. Dan tak lama pun tabib itu pun kembali lagi dengan membawakan mangkuk kecil yang terbuat dari kayu yang isinya adalah racikan obat.
Tabib itu pun memberikan mangkuk itu kepada Aleta dan Aleta langsung menerimanya.
" Maaf paman bisa keluar sebentar, saya mau mengobati Senopati Arkha dulu," ucap Aleta kepada tabib tersebut. Karena ia hanya ingin fokus untuk mengobati Arkha.
" Baiklah tuan putri, kalau begitu hamba permisi dulu," ucap tabib itu.
Setelah tabib itu keluar, Aleta pun mulai melakukan tugasnya untuk mengobati tangan Arkha. Pertama Aleta membasuh luka Arkha dengan air hangat terlebih dahulu, setelah itu Aleta mulai membubuhkan obat pada luka Arkha.
" Argh!!" Rintih Arkha sembari menarik sedikit tangannya karena refleks.
" Eh maaf," Aleta pun menghentikan sejenak aktivitasnya.
" Tidak apa-apa tuan putri, saya hanya refleks saja. Maaf karena telah merepotkan tuan putri," kata Arkha.
" Tak apa, memang saya yang ingin mengobati, jadi kau tak usah merasa tak enak begitu," ucap Aleta sambil mengobati kembali tangan Arkha lalu membalutkannya dengan kain kasa.
Arkha pun melihat sekilas ke arah tangannya yang sudah di balut rapi oleh Aleta.
" Terimakasih tuan putri, seharusnya tadi biar saya saja yang mengobatinya sendirinya," ucap Arkha.
" Sudahlah tidak apa-apa," jawab Aleta.
Sedangkan Arkha hanya bisa tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dihadapan Aleta.
Tanpa mereka tahu di balik pintu ruangan itu seseorang sedang memperhatikan aktivitas mereka dengan perasaan marah dan geram, namun tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Niat hati hanya ingin memastikan bahwa Arkha tidak mengatakan apa-apa tentang yang terjadi tadi, akan tetapi ia malah melihat pemandangan yang tidak ingin ia lihat.
Puspita pun menjauh dari tempat tersebut dengan perasaan kesal, dan pergi dari tempat itu dengan cepat agar tidak terlihat oleh Aleta dan Arkha.
" Kalau begitu hamba permisi dulu tuan putri," ucap Arkha.
Setelah mendapat anggukan dari Aleta, Arkha pun meninggalkan ruangan tersebut dan berniat akan kembali ke kamarnya untuk istirahat.
" Ya Tuhan sampai kapan harus begini terus," ucap Aleta ketika Arkha sudah menjauh, ia juga menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dengan air mata yang sudah mengalir.
Sedangkan Arkha yang tadinya berniat untuk pergi ke kamarnya untuk istirahat, di perjalanan ia bertemu Puspita yang nampaknya sudah menunggunya sejak tadi.
__ADS_1
" Kanda!" seru Puspita pada Arkha.
Arkha memutar bola matanya jengah, dan dengan terpaksa ia pun menghentikan langkahnya namun masih dengan posisi membelakangi Puspita.
" Ada apa lagi Puspita?" ucapnya dengan nada dingin.
" Kanda aku mau membicarakan sesuatu."
" Bicara tentang apa? bicaralah!"
" Tapi bisa tidak, tidak di sini."
Dan sekian lama membelakangi Puspita, akhirnya Arkha pun berbalik arah menghadap Puspita namun dengan tatapan dinginnya.
" Lalu dimana?" kata Arkha menatap jengah pada Puspita.
" Di taman belakang bisa?"
Tanpa pikir panjang Arkha pun langsung mengiyakan permintaan Puspita dan mengikuti Puspita dari belakang untuk menuju tempat yang di maksud Puspita.
Setelah sampai, Puspita pun langsung duduk di kursi taman tersebut, namun tidak dengan Arkha yang hanya berdiri dengan tangan yang dilipat ke dada dan pandangan yang menatap kearah lain seolah sudah muak untuk selalu menuruti permintaan Puspita.
" Sini duduk dulu kanda!" kata Puspita sambil menepuk tempat duduk di sampingnya.
" Tidak usah terimakasih, lebih baik kau cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan!" kata Arkha masih dengan nada dinginnya.
Puspita yang melihat sikap Arkha yang tak seperti biasanya pun merasa kesal, namun ia tak bisa berbuat apa-apa melainkan hanya bisa cemberut dan merutuki nya di dalam hati.
" Baiklah aku akan mengatakan nya sekarang," kata Puspita.
" Aku minta pada kanda untuk tidak mengatakannya tentang kejadian tadi kepada putri Aleta, jika kanda tetap mengatakannya maka aku akan meminta kepada ayah untuk mempercepat pernikahan kita," kata Puspita yang terdengar mengancam.
Namun tak sesuai ekspektasi. Bukannya takut, Arkha malah tertawa sumbang mendengar ancaman Puspita.
" Jangan kau pikir aku hanya menggertak saja, aku serius," ucapnya dengan tegas.
" Kau pikir aku akan takut dengan ancaman murahan seperti itu, bukankah setiap kali kita ada masalah kau selalu mengancam dengan kata-kata yang sama," kata Arkha dengan tersenyum miring.
" Tapi kali ini aku serius, bahkan setelah menikah nanti aku akan meminta pada ayah dan Baginda raja agar kita pindah dari kota ini dan memulai hidup baru di sana."
Kali ini Arkha seolah di buat mati kutu oleh Puspita. Jika harus menikah dengan Puspita saja sudah membuat nya hancur, lalu bagaimana jika ia harus berjauhan dengan Aleta dan memulai hidup baru dengan orang lain di kota yang baru pula. Sungguh ia tak dapat membayangkan betapa tersiksanya dirinya jika itu sampai terjadi.
__ADS_1