Mengandung Anak Jin Tampan

Mengandung Anak Jin Tampan
Kembalinya Ke Dunia Masa Depan


__ADS_3

Episode 58:


" Adakah jalan lain jin, agar mereka membatalkan peperangan ini?" tanya Aleta dengan sorot mata memohon agar jin Aron memberikan jalan keluarnya.


" Maaf tuan putri. Sudah tertulis di kitab qirah tentang peperangan ini. Dan tidak ada yang selamat dalam peperangan ini termasuk dua raja dan pasukan-pasukannya. Mereka akan gugur dan hanya akan menjadi sejarah," jelas jin Aron.


" A-apa maksudmu, ini adalah akhir dari kerajaan dimensi ini?" tanya Aleta sambil menutup mulutnya.


" Bisa di katakan seperti itu tuan putri," jawab Aron sambil menundukkan kepalanya.


" Lalu bagaimana dengan Arkha, bagaimana dengan ku juga?" tanyanya nampak begitu khawatir.


" Jalan satu-satunya adalah tuan putri harus secepatnya keluar dari dimensi ini," ujarnya.


" Bagaimana caranya?"


" Harus ada seseorang yang membuka fortal agar tuan putri dan Senopati Arkha bisa keluar dari sini."


" Fortal? dimana letak fortal itu?"


" Fortal itu terletak pada kitab qirah, kitab yang digunakan tuan putri dan Senopati Arkha tempo hari."


" Apa maksudmu sebuah buku yang membawaku dan Arkha ke sini?"


" Benar tuan putri."


Aleta nampak lemah. Bersandar pada dinding penjara dengan raut wajah sedih.


" Apakah itu artinya tidak ada harapan lagi? aku dan Arkha akan mati disini. Karena tidak mungkin ada yang menemukan buku itu dan membukanya. Tempat itu pasti di jaga ketat sekarang."


" Apa tidak ada cara lain lagi jin Aron?"


" Hamba rada tidak ada tuan putri."


Beberapa saat tak ada percakapan lagi di antara mereka. Mereka berkecamuk dengan pikirannya masing-masing, terutama Aleta.


Namun tak berapa lama, mereka mendengar ada suara ribut di luar kerajaan, seperti suara peperangan.


" Suara apa itu jin Aron?" tanya Aleta.


" Sepertinya peperangan itu sudah di mulai tuan putri," jawab jin Aron dengan raut wajah panik.


" Benarkah, lalu aku harus bagaimana?." Tentu Aleta juga ikut panik.


" Tolong keluarkan aku dari sini jin!"


" Baiklah tuan putri." Jin Aron pun segera menuruti perintah Aleta dan tak lama pintu penjara pun terbuka berkat kekuatan jin Aron.


Tanpa pikir panjang lagi, Aleta segera keluar dari ruang penjara bawah tanah dan ingin menyaksikan apa yang dikatakan jin Aron tadi.


Dan benar saja dugaan jin Aron. Halaman istana saat ini sudah di penuhi oleh para prajurit dan petinggi-petinggi lainnya yang saling berperang. Sebagian dari mereka sudah ada yang terkapar dengan tubuh penuh darah.


Tatapan Aleta liar mencari sosok suaminya ditengah orang-orang yang saling berjatuhan satu persatu.


Hatinya merasa khawatir ketika dia telah menangkap sosok suaminya tersebut yang saling adu pedang dengan Senopati dari kerajaan sabit.

__ADS_1


" Mas Arkha!" seru Aleta tanpa sadar memanggil Arkha dengan sebutan Mas.


Sontak saja Arkha menoleh ke asal suara dan membuatnya lengah hingga sang lawan mempunyai kesempatan menyerangnya pada bagian lengan Arkha hingga membuatnya mendapatkan luka gores.


Otomatis Arkha memegang lengan yang terkena goresan tersebut dan melanjutkan perkelahiannya.


" Tuan putri, jangan ke sini. Tuan putri masuk saja!" perintah Arkha.


" Bagaimana dengan kamu?" ucap Aleta merasa khawatir karena melihat Arkha terluka, dan secara tak langsung itu karena dirinya.


" Jangan pikirkan hamba tuan putri. Tuan putri pergi dari sini!"


Di tempat lain, Abram sedang duduk santai di ruangan kantornya sambil memperhatikan buku yang sebelumnya pernah membuatnya terheran-heran.


" Apa aku buka saja ya, penasaran soalnya."


Sebelum memutuskan untuk membuka buku tersebut, Abram terlebih dahulu memastikan bahwa tidak ada orang yang mengganggunya.


Setelah dirasa aman, Abram kembali ke tempat duduknya dan mulai membuka buku tersebut.


Aleta tak mengindahkan peringatan Arkha, ia terus saja berjalan di tengah orang-orang yang sedang berperang tanpa rasa takut. Menyusuri sedikit demi sedikit untuk menuju ke tempat Arkha berada.


Setelah sampai, Aleta langsung menarik tangan Arkha dan menjauh dari peperangan tersebut.


" Ada apa ini tuan putri, mengapa tuan putri mengajak saya ke sini?." Nampaknya Arkha terlihat sedikit kesal, namun Aleta mencoba tak memperdulikannya.


" Aku hanya mencoba menyelamatkanmu saja," jawab Aleta sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah karena berlarian.


" Menyelamatkan dari apa tuan putri? hamba memang harus melakukan itu, karena itu adalah tugas hamba. Jika hamba kabur dari peperangan ini, itu sama saja hamba tidak selamat nantinya."


" Lalu tuan putri akan kabur ke mana, dan bagaimana dengan permaisuri dan raja?"


Kali ini Aleta di buat terdiam dengan ucapan Arkha. Ternyata ia melupakan bahwa dia juga mempunyai orang tua di kerajaan ini, yang menyayangi nya dengan sepenuh hati, yaitu permaisuri Ayu.


Hatinya juga di buat bimbang. Di satu sisi, ia sangat merindukan dirinya yang menjadi Kanaya, namun di sisi lain, Aleta tidak tidak mampu begitu saja meninggalkan kerajaan yang pernah mengisi kenangannya yang tak kalah indah itu. Dan lagi pula, apakah ia bisa keluar dari dimensi ini dengan sangat mudah.


Seakan ada keajaiban, tiba-tiba saja pintu fortal terbuka. Dan di saat itulah jin Aron pun datang.


Arkha yang melihat fortal tersebut pun merasa ketakutan sekaligus heran dengan kabut yang menyerupai lubang hitam tersebut.


" Jin Aron," ucap Aleta.


" Iya, ini saya tuan putri. Saya datang untuk membantu kalian berdua untuk keluar dari sini."


" A-apa maksudmu, dan siapa kau wahai manusia aneh?" tanya Arkha.


" Aku jin Aron Senopati. Dan aku yang akan membantu kalian keluar dari sini."


" Maksudnya bagaimana? aku tidak ingin keluar dari sini. Aku akan setia membantu kerajaan ini," jawab Arkha dengan tegas.


" Dengan menyerang kerajaan mu sendiri?" ucap jin Aron.


" M-maksud mu apa? kerajaan mana yang kau maksud? aku tidak memiliki kerajaan."


Sedangkan Aleta yang juga tak tahu menahu pun ikut menyimak perkataan jin Aron dengan raut terkejut.

__ADS_1


" Mungkin perlu ku jelaskan semuanya," ucapnya. Lalu menghempaskan nafasnya dengan kasar.


" Sebenarnya kau adalah pangeran Arkha, anak dari raja Andara dan ratu Adela. Adik dari pangeran Antaraksa yang di buang oleh seseorang yang sengaja ingin memecah belah kerajaan lintang dan kerajaan sabit." Sekali lagi jin Aron menghembuskan nafasnya.


Dan benar saja, Arkha sangat syok mendengar perkataan jin Aron yang memberitahukan semua tentang masa lalunya.


" A-apakah kau tidak berbohong?" ucapnya.


" Tidak ada untungnya untuk ku pangeran."


Arkha melihat tidak ada kebohongan di mata jin Aron, dan dia pun percaya apa yang di katakan jin Aron tersebut.


Hatinya langsung merasa rindu terhadap keluarganya. Tapi apakah keluarganya saat ini masih mengenalinya, atau malah sedikitpun tidak mengetahui bahwa mereka sebenarnya mempunyai satu anak lagi.


" Aku ingin bertemu keluargaku terlebih dahulu," ucapnya dengan raut wajah sedih.


" Tapi waktu terbukanya fortal ini hanya lima menit saja pangeran, pangeran harus cepat sebelum pintu fortal tertutup."


" Tapi,,,," Arkha merasa berat dan ragu untuk meninggalkan keluarganya yang jelas-jelas dalam kesusahan saat ini.


" Aku mohon Arkha, ikut aku ya!" kata Aleta memohon.


Arkha menoleh pada Aleta, sesekali menoleh ke arah kerajaan yang saat ini diambang kehancuran. Dan di sana ada keluarganya yang berjuang melindungi diri.


" Bisakah aku bertemu mereka untuk sebentar saja?" ucap Arkha.


" Maaf Arkha, tapi waktu kita tak banyak lagi," jawab Aleta.


" Benar pangeran. Jika pangeran ke sana akan memakan waktu lama. Bisa-bisa pintu fortal ini akan tertutup," lanjut jin Aron.


Namun tanpa persetujuan dari Arkha, Aleta segera menarik tangan Arkha untuk masuk kedalam fortal tersebut.


Abram terkejut karena buku tersebut mengeluarkan cahaya saat di buka. Ia langsung melemparkan buku tersebut ke lantai sangking terkejutnya.


Tiba-tiba saja sebuah lubang hitam tercipta di udara. Dan anehnya lagi tiba-tiba dua orang berpakaian bak keluarga kerajaan muncul dari lubang tersebut.


" K-kalian," ucapnya dengan raut wajah terkejut setelah mengetahui siapa orang tersebut.


" L-lo Arkha kan?"


Arkha lantas mengangguk sambil tersenyum.


" Da-dan Lo,,,,,,."


" Ka na ya. Masih ingat kan?" ucap Kanaya.


" Kalian kenapa bisa keluar dari situ. Kemana aja kalian akhir-akhir ini?" tanyanya sambil menatap bergantian ke arah sepasang suami istri itu.


" Panjang ceritanya," jawab Arkha singkat. Ia lantas berjalan menuju sofa dan menghempaskan tubuhnya di sana.


" Kamu udah ingat aku sekarang?" tanya Kanaya yang ikut duduk di samping Arkha.


Arkha lantas menganguk dengan Maya yang masih terpejam. Pikirannya masih kacau mengingat kejadian tadi. Bagaimana bisa ia meninggalkan keluarga yang baru saja ia jumpai.


" Kalian habis dari mana sih sebenarnya?"

__ADS_1


Tak ada jawaban dari keduanya. Namun Kanaya yang seolah mengerti keadaan Arkha sekarang ini pun memberikan isyarat kepada Abram untuk tidak menanyakannya untuk saat ini.


__ADS_2