Mengandung Anak Jin Tampan

Mengandung Anak Jin Tampan
Pesan Singkat Aleta


__ADS_3

Episode 44:


Setelah beberapa menit mereka berada di taman, tak ada yang bersuara ataupun sekedar untuk berbasa-basi. Begitupun Dila yang sedari tadi hanya mengusap perutnya yang mulai membuncit.


Jujur, hati Abram masih terasa sakit melihat kenyataan di depan matanya itu. Mengingat nyawa yang tumbuh di rahim Dila bukan darah dagingnya, membuat hatinya terasa pedih.


" Ehemmm," kata Abram.


" Gimana keadaan kamu dan bayimu?"


Setelah sekian abad, akhirnya Abram mencoba memulai percakapannya.


" Baik, aku dan bayi ku sangat baik," jawab Dila.


" Syukurlah," ucap Abram lagi sambil mengangguk-angguk.


" Kalau rumah tangga mu dengan Dion, baik-baik juga kan?"


Entah mengapa pertanyaan itu tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulutnya. Setelah menyadari kebodohannya, Abram pun langsung merutuki dirinya.


" Emmmm maksud ku, pasti kalian sangat bahagia dan langgeng kan," ralat Abram.


Di tanya seperti itu, tiba-tiba saja Dila menutup wajahnya dan menangis sesenggukan hingga membuat tubuhnya bergetar hebat.


Abram bingung mengapa tiba-tiba saja Dila menangis setelah dia bertanya seperti itu, apa pertanyaannya menyinggung perasaannya atau ada yang salah dengan pertanyaanya.


Dia pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Emmm maaf kalau pertanyaan ku menyinggung perasaan mu," ucap Abram merasa tak enak hati.


Dila menggeleng, lantas perlahan membuka wajahnya. Dan tiba-tiba saja langsung menghambur memeluk Abram.


Tentu Abram di buat tercengang dengan kenekatan Dila tersebut.


Karena rasa iba dan sisa cinta yang masih sangat besar, Abram hampir saja terbawa suasana, namun tak lama ia pun tersadar bahwa itu tidaklah benar.


Abram pun berusaha menjauhkan Dila dan mencoba melepaskan pelukan dila dari dirinya.


" Dil stop, ini tidak benar Dila," ucap Abram dengan sisa kewarasannya.


" Maaf," ucap Dila, dan kini jarak mereka sudah normal kembali.


" Maaf karena telah mengganggu waktu mu dan membuat mu tidak nyaman dengan kehadiran ku," ujar Dila seraya mengusap sisa air matanya.

__ADS_1


Abram pun mengangguk formal.


" Sebenarnya apa yang membuat mu menemui ku?" Tanya Abram to the poin.


" Jika kau tak keberatan, aku ingin curhat dengan mu. Aku bingung mau bercerita dengan siapa lagi, orang tua ku tidak mau menerima ku lagi, karena mereka bilang Dion telah membeli ku dari mereka," kata Dila bercerita sambil sesekali mengusap air matanya yang jatuh karena tak kuasa menahan pilu.


Bohong jika Abram tak terkejut dengan penuturan Dila. Hatinya sangat sakit mendengar orang yang dicintainya bernasib begitu buruk. Namun ia juga tak dapat memungkiri jika hatinya masih terasa sakit semenjak kejadian delapan bulan silam.


Abram berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya dan seolah bersikap biasa saja.


" Lalu mengapa kau bercerita kepada ku, mengapa tak kau ceritakan saja masalah mu pada Dion, dia kan suamimu sekarang," ucapnya dengan nada dingin.


" Tapi masalah yang ku hadapi sekarang adalah tentang dia." Dila tak kuasa lagi menahan Isak tangisnya, dia pun kembali menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menumpahkan segala sesak di dadanya di sana.


Abram menjadi tidak tega melihat Dila yang nampak sangat terpukul. Dia pun tak kuasa lagi menahan diri untuk tidak memeluk Dila yang terlihat sangat rapuh tersebut.


Ia biarkan Dila menumpahkan segala keluh kesahnya di dalam pelukannya, tak ia hiraukan lagi air mata Dila yang membasahi kemeja putih yang ia pakai.


" Hiks hiks hiks." Suara tangis Dila seakan mengiris hatinya, membuat ia semakin mempererat pelukannya pada Dila.


Matanya ia pejamkan seolah ikut merasakan kepedihan yang kini Dila rasakan.


" D_dion main tangan sama aku Abram," ucap Dila yang masih berada di dalam pelukan Abram.


Mendengar pengakuan Dila, tangan Abram terkepal kuat. Ia seakan tak terima jika Dila di sakiti sedemikian rupa oleh Dion yang tak lain adalah mantan bos nya.


" Apa aja yang sudah di bre*gsek itu lakukan sama kamu?" Tanyanya dengan nada geram, bukan pada Dila melainkan pada Dion yang sudah tega menyakiti Dila.


Dila tak menjawab, namun tiba-tiba saja Dila menyingkap baju panjangnya dan menunjukkan pada Abram.


Abram semakin geram ketika mendapati tangan Dila yang terdapat bercak keunguan di bagian lengan nya. Tak hanya itu, Dila juga menyingkap rambut panjangnya yang ternyata untuk menutupi bagian lehernya yang terdapat sebuah cakaran dan leher yang agak membengkak karena luka cakaran itu.


" Kurang a*ar!" Tiba-tiba saja Abram berdiri dengan wajah yang sudah memerah karena menahan amarah.


" Kita ke kantor polisi sekarang!" Kata Abram sambil menggandeng tangan Dila, namun Dila menggeleng kuat dan berusaha menahan dirinya agar tidak terbawa oleh Abram.


" Kenapa?" Tanya Abram heran.


" Jangan!" Mohon Dila dengan wajah memelas.


Karena iba melihat Dila yang nampak sangat ketakutan, Abram pun melemah. Dia akhirnya mengalah dan tidak jadi membawa Dila.


Dan akhirnya mereka Kembali duduk di kursi taman yang mereka tempati tadi.

__ADS_1


Abram pun memegang pundak Dila dengan lembut, lalu menghadapkan tubuh Dila padanya.


" Jika kau tersiksa bersamanya, maka tinggalkanlah dia. Aku hanya tidak mau kau terus-menerus terluka seperti ini, setidaknya pikirkan bayi mu ini," ucap Abram seraya memandang perut Dila yang sudah membesar itu.


Dila tersenyum namun sesaat ia pun menggeleng.


" Aku tidak bisa meninggalkannya sekarang Abram, ada banyak hal yang harus aku pikirkan," kata Dila.


" Mengapa begitu, apa yang kau pikirkan?" Tanya Abram dengan lembut.


Namun Dila hanya menggeleng dan tak mau mengatakannya.


" Aku belum bisa bercerita sekarang, aku butuh waktu. Akan tetapi aku sangat berterima kasih karena kau mau mendengarkan keluh kesah ku. Setidaknya hati ku kini sedikit lega," ujarnya tersenyum tulus pada Abram, dan begitu pun Abram yang membalas senyum Dila tak kalah tulus.


" Jika kau butuh sesuatu atau sudah siap untuk menceritakan masalahmu pada ku aku akan selalu siap untuk mu."


Dila pun terharu dengan ketulusan hati yang dimiliki Abram, padahal dia sudah terang-terangan menyakiti hati Abram dengan berselingkuh dengan bos Abram sendiri, namun nampaknya Abram tak mau membalas perbuatannya tersebut.


Di tempat lain, Aleta yang baru terbangun dari tidurnya sudah nampak membaik dan terlihat biasa saja, tak seperti tadi yang seperti orang kerasukan setan saja.


" Dayang," panggil Aleta pada seorang dayang yang kini sedang menyisir rambutnya.


" Saya tuan putri," jawabnya dengan sopan.


" Bisa kau sampaikan surat ini kepada Senopati Arkha!" Tuturnya sambil memberikan sebuah surat pada dayang tersebut.


Dayang itu pun menerima surat itu dengan ragu-ragu, pasalnya ia bingung mengapa tuan putrinya tersebut memberikan surat itu pada Senopati Arkha.


" I_ini surat apa tuan putri?" Tanya dayang itu memberanikan diri untuk bertanya.


" Pokoknya kau antarkan saja sekarang!" Kata Aleta tanpa bantahan lagi.


" I_iiya tuan putri, saya laksanakan sekarang," jawabnya dengan gugup.


Setelah itu dayang tersebut pun melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Aleta padanya. Dia segera menemui Arkha dan memberikan surat tersebut langsung pada Arkha.


" Ini dari siapa dayang?" Tanyanya.


" Dari tuan putri Aleta, mohon di baca sekarang Senopati!" Ucap dayang tersebut.


Tak berapa lama setelah mengatakan itu, dayang tersebut pun pamit mengundurkan diri dari hadapan Arkha.


Arkha pun membuka surat tersebut dengan perasaan bingung, namun juga senang karena mendapat surat dari sang pujaan hati.

__ADS_1


(Tolong temui aku malam ini di taman!)


Arkha langsung mengerutkan keningnya heran sekaligus bingung setelah membaca isi pesan singkat dari Aleta tersebut. Namun ia juga tak dapat menerka-nerka dalam hal ini.


__ADS_2