
Episode 46:
Entah bagaimana ceritanya tiba-tiba saja Aleta langsung berada di hutan yang nampak menyeramkan.
Ia seperti sedang berada di dalam neraka saja saat ini. Bagaimana tidak, hutan itu nampak seperti bak film-film horor dengan tanah yang gersang dan hutan yang terbakar sebagiannya, dan langit yang ditutupi kabut hitam tebal hingga disekelilingnya nampak gelap.
Jika di katakan takut, pasti Aleta sangat takut. Namun bukan itu yang harus Aleta pikirkan saat ini, melainkan bagaimana caranya untuk mencari jalan keluar dari tempat menyeramkan itu.
" Duh aku dimana ini, kok serem ya," kata Aleta yang berbicara sendiri sebab tak ada siapa-siapa di sana.
" Apa ada orang? siapa pun toloooong!" teriak Aleta. Namun bukan jawaban dari seseorang yang Aleta dapatkan, melainkan pantulan suaranya sendiri yang terdengar.
" Ih kok ngeri sih," ucapnya lagi.
Namun tiba-tiba saja sebuah kabut putih tebal muncul dihadapannya, begitu tebal dan hanya berjarak beberapa meter saja dari tempat Aleta berdiri.
Jangan tanya lagi saat ini pastinya Aleta sangat ketakutan dengan lutut yang gemetaran bak tak bertulang lagi. Namun untuk berlari pun Aleta tak mampu. Kakinya seakan diikat dengan rantai dan tubuhnya seolah di totok bagian syarafnya.
Dan tiba-tiba asap putih tersebut berubah menjadi seorang pria menyeramkan dengan kulit yang berwarna merah semua, rambut panjang yang terbuat dari api serta mata yang menyala.
Penampilannya sukses membuat Aleta syok dan hampir pingsan, namun nampaknya Tuhan tak mengizinkan nya dan membiarkan Aleta melihat pemandangan menakutkan itu.
" Apa kabarmu tuan putri, akhirnya kita bertemu kembali," kata pria itu dengan suara yang menakutkan, suaranya serak dan besar membuat siapa saja yang mendengarnya ketakutan, termasuk Aleta yang menahan diri agar tidak pingsan.
" S_siapa kau?" tanya Aleta dengan suara yang bergetar.
" Perkenalkan namaku jin Aron, penjaga gerbang fortal kegelapan dan kebaikan," tuturnya.
" F_fortal?" beo Aleta.
" Benar tuan putri. Akan tetapi tuan putri jangan takut, hamba bukan orang jahat," ujarnya.
" Tapiiii, sepertinya aku pernah melihatmu sebelumnya," kata Aleta dengan gaya seperti orang yang mengingat sesuatu.
__ADS_1
Jin Aron pun tersenyum dan mengangguk membenarkan perkataan Aleta.
" Benar sekali tuan putri, kita memang pernah bertemu sebelumnya," kata jin Aron.
Tiba-tiba Aleta menutup mulutnya seolah sedang syok akan sesuatu, dan begitu pun jin Aron yang menatap heran pada Aleta.
" Ada apa tuan putri?" tanya jin Aron.
" K_kau bukankah kau orang yang akan mengambil Arkha dariku?" kata Aleta tiba-tiba.
Namun jin Aron malah tersenyum sembari menunduk, hal itu semakin membuat Aleta yakin bahwa yang ia lihat tempo hari bukan sebuah mimpi buruk belaka.
Aleta pun bertambah syok dengan ekspresi yang di tunjukkan jin Aron tersebut. Seolah itu telah menjawab semuanya.
" Maafkan aku tuan putri, tapi semua itu sesuai perjanjian kami berdua dan pangeran Arkha pun sudah menyetujuinya," Tutur jin Aron.
" Tunggu, siapa yang kau sebut pangeran?" tanya Aleta yang menyadari sesuatu.
" Oh tidak, bukan apa-apa. Suatu saat pasti kau akan tahu," jawabnya yang semakin membuat Aleta bingung. Namun Aleta memilih tak membahasnya lagi karena ada yang lebih penting menurutnya.
" Lalu perjanjian apa yang kalian ucapkan?." Aleta pun kembali pada pembahasan awal.
Dan jin Aron pun mulai menceritakan awal bagaimana perjanjian itu dibuat. Dari cerita putri Aleta menikah dengan Senopati Arkha hingga putri Aleta akhirnya terbunuh karena ingin menyelamatkan Senopati Arkha.
Aleta pun merasa syok dengan cerita yang di sampaikan oleh jin Aron. Ia pun ingat akan sesuatu bahwa dulu Arkha pernah menceritakan hal yang sama kepadanya, namun saat itu Aleta alias Kanaya sama sekali tak merasa bahwa yang diceritakan tersebut adalah dirinya sendiri.
Jin Aron juga menceritakan tentang Aleta yang bereankarnasi menjadi Kanaya dan memiliki kekasih yang sangat mirip dengan pangeran Antaraksa.
" Dan setelah kejadian itu, pangeran Arkha pun di usir dari kerajaan lintang secara tidak hormat," lanjut jin Aron.
" Dia pun berputus asa dan sangat terpukul karena telah kehilangan tuan putri waktu itu, lalu dia datang padaku meminta agar aku mau membantu membuat dia hidup lebih lama lagi, semua itu ia lakukan hanya agar dia tidak melupakan tuan putri jika ia bereankarnasi." Jin Aron menunda ceritanya dan tersenyum miris saat mengingat kembali perjuangan Arkha dulu.
Sedangkan Aleta yang mendengarnya pun tak kuasa lagi menahan harunya karena mendengar begitu besar perjuangan Arkha untuk bisa bertemu dengannya kembali.
__ADS_1
" Waktu itu aku menyetujuinya tanpa syarat apapun, namun beberapa tahun kemudian aku di panggil oleh penguasa kegelapan dan dia sangat murka pada ku karena ia tahu aku telah memberikan sesuatu kepada manusia tanpa syarat yang harus manusia itu lakukan. Dan sebenarnya akulah yang salah karena telah melanggar peraturan, dan waktu itu aku berjanji akan memperbaiki kesalahanku dan kembali mengatakan pada pangeran Arkha tentang perjanjian itu," tuturnya menjelaskan.
Tubuh Aleta bergetar karena tak sanggup menahan Isak tangisnya.
" Ada satu hal lagi yang ingin hamba sampaikan kepada tuan putri," ucap jin Aron.
Aleta pun mengangkat wajahnya sekedar memastikan apa yang ingin jin Aron katakan padanya.
" Sebisa mungkin peperangan antara kerajaan lintang dan kerajaan samudera jangan sampai terjadi," Tuturnya.
Hal itu membuat Aleta terkejut dan tak mengerti apa yang dimaksud oleh jin Aron tersebut.
" Maksud mu apa, bukankah kerajaan lintang dan kerajaan samudera bersahabat, bagaimana bisa mereka saling berperang?"
" Hamba tidak bisa menjelaskannya sekarang, yang jelas suatu saat nanti dua kerajaan besar tersebut akan bermusuhan karena hasutan dari orang dalam yaitu dari pihak kerajaan lintang itu sendiri," jawab jin Aron.
" Tapi siapa orang tersebut?"
Belum sempat Aleta mendapatkan jawaban dari pertanyaanya, tiba-tiba kabut tebal menutupi mereka dan menghalangi jarak antara mereka.
Atlet ketakutan dan berteriak memanggil jin Aron agar mau menolongnya. Namun saat itu pula ia terbangun dengan tubuh yang penuh dengan keringat dan nafas yang memburu seperti habis dikejar hantu.
Permaisuri Ayu yang sedari tadi memang masih berada di samping Aleta pun terkejut dan menanyai putrinya mengapa tiba-tiba berteriak.
" Ada apa denganmu putriku?" tanya permaisuri Ayu sambil mengusap-usap punggung Aleta dan menenangkan nya.
" Hu hu huh ta_tadi Aleta sedang bermimpi buruk ibunda," jawabnya.
" Bermimpi, bermimpi tentang apa?"
Namun Aleta hanya menggeleng, ia belum siap untuk mengatakan mimpi tersebut kepada siapapun, karena menurutnya mimpinya itu adalah suatu hal yang penting.
Ketika Aleta masih mengatur nafasnya, tiba-tiba saja ingatan-ingatan aneh seolah memenuhi kepalanya. Bak kaset kusut yang terus berputar-putar di kepalanya. Refleks Aleta pun memegangi kepalanya karena terasa sangat sakit.
__ADS_1
Ingatan-ingatan itu berisi tentang kehidupan masa lalu nya sebagai seorang Aleta hingga tentang kejadian dirinya dibunuh setelah menikah dengan Arkha.
" Ada apa denganmu putriku, apa kepalamu sakit?" tanya permaisuri Ayu yang terlihat sangat panik.