
Episode 34:
Arkha membolak-balik halaman buku yang ia baca. Sembari menunggu Kanaya selesai berdandan, Arkha membaca beberapa buku, namun dengan tulisan aneh, seperti tulisan zaman kerajaan dulu.
" Yuk berangkat!" Ajak Kanaya yang sudah siap dengan tampilan cantiknya. Arkha menyudahi aktivitasnya dan menaruh bukunya di atas meja, lalu melihat kearah Kanaya.
Arkha di buat tercengang dengan penampilan Kanaya malam ini yang begitu memukau. Kanaya nampak memukau dengan balutan dress duyung berwarna merah cerah, dengan lengan pendek, serta gaya rambut yang di cepol, dan sedikit poni tipis yang menambah kesan manis pada wajahnya.
Bukan hanya itu yang membuat Arkha tercengang, namun pakaian Kanaya yang sedikit terbuka pada bagian pundaknya, membuat Arkha menggeleng.
" Kenapa, aneh ya?" Tanya Kanaya saat menyadari tatapan Arkha. Arkha lantas mendekati Kanaya seraya melepas jaket kulit yang ia pakai.
" Kan tadi Mas udah bilang, kamu tidak boleh pakai baju terbuka seperti ini!" Ucapnya sembari merapikan jaket pada Kanaya.
" Kenapa?"
" Nanti masuk angin. Kan kamu lagi hamil, biasanya kalau wanita hamil, rentan sama angin malam. Jadi tidak boleh pakai bajunya terbuka kayak gini lagi ya!" Sontak saja Kanaya langsung memanyunkan bibirnya karena tak terima dengan larangan Arkha.
" Tapi kan kalau kayak gini jadi lucu," ucapnya.
" Udah capek-capek dandan, pakai baju cantik, eh malah ditutupin. Kesel deh," lanjutnya lagi. Arkha tersenyum serta menggeleng melihat tingkah istrinya itu.
" Mau dandan atau tidak, kamu tetap cantik di mata aku. Malah kalau kamu dandan cantik-cantik, aku takut kamu di goda pria lain. Aku kan gak rela," ucap Arkha. Kanaya tersipu mendengar ucapan Arkha.
" Dasar gombal." Kanaya lantas mencubit pinggang Arkha, membuat sang empu mengaduh kesakitan.
" Aww sakit sayang. Ini namanya KDRT tau." Arkha mengusap pinggangnya yang di cubit oleh Kanaya, padahal sih cuma akal-akalan Arkha saja supaya Kanaya merasa iba. Jika hanya sekedar cubitan kecil dari Kanaya, itu hanya hal kecil baginya. Dulu terkena luka gores saat berkelahi, Arkha biasa saja, apa lagi hanya sekedar cubitan Kanaya yang tak seberapa itu.
" Duh beneran sakit ya. Maaf ya. " Dan benar saja, akhirnya Kanaya merasa bersalah.
" Iya sakit, di sini," tunjuk Arkha pada dadanya, dengan wajah yang dibuat-buat seolah kesakitan.
" Ihhh iseng banget sih." Kanaya yang menyadari dirinya hanya di prank pun merasa kesal dan memukul lengan kekar Arkha. Arkha hanya tertawa karena telah berhasil mengerjai istrinya itu.
" Sudah ah. Jadi gak berangkat sekarang, nanti kemaleman loh," ucap Arkha. Kanaya pun menghentikan aksinya.
" Oh iya, yuk cepetan!" Ajak Kanaya. Mereka sudah bersiap akan pergi, namun Kanaya menghentikan langkah mereka.
" Sebentar deh. Kamu gak pake jaket, entar kamu lagi yang masuk angin gara-gara cuma pakai kemeja itu doang," ucap Kanaya yang nampak sedikit jealous, pasalnya saat ini Arkha hanya memakai kemeja polos warna hitam dan sangat pas-pasan di tubuhnya, hingga tercetak jelas otot-otot tubuhnya yang aduhai itu.
__ADS_1
" Gak bakalan masuk angin kok, kan ini gak terlalu tipis juga," ucap Arkha sembari memeriksa tubuhnya. Sebenarnya Arkha tidak paham, bahwa Kanaya saat ini sedang jealous.
" Ihhhh masuk angin yang lain maksud aku Mas," ucap Kanaya yang sudah mulai kesal karena ketidakpekaan Arkha.
" Yang lain bagaimana maksud kamu. Ya sudah yuk, nanti kemaleman lagi." Tanpa memperdulikan kekesalan Kanaya, Arkha langsung menarik tangan Kanaya untuk segera berangkat.
Di sepanjang perjalanan, Kanaya hanya diam dengan muka yang di tekuk masam. Maklum, bawaan ibu hamil memang begitu, sebelum kehendaknya di turuti, maka ia akan terus cemberut tidak jelas. Begitu pula yang ada dalam pikiran Arkha, mungkin saat ini mood Kanaya sedang berubah-ubah.
Sampai di restoran, tepat pukul sembilan. Dan di sana sedang ramai-ramainya pengunjung.
Arkha segera membukakan pintu untuk Kanaya dan dan mengulurkan tangannya pada Kanaya, dan Kanaya pun menyambutnya, namun masih dengan muka masamnya.
Sungguh Kanaya terpesona melihat restoran yang begitu mewah itu. Ingin rasanya ia mengatakan pada Arkha, betapa kagumnya ia akan restoran itu, namun ia sadar, saat ini ia sedang marah pada Arkha. Kanaya pun mengurungkan niatnya dan terus mengikuti langkah Arkha masuk kedalam restoran tersebut.
Setiap pelayan yang berpapasan dengan Arkha dan Kanaya, selalu menunduk hormat, begitupun Arkha yang membalasnya dengan ramah pula.
Tak hanya pelayan dan para karyawan, namun para pengunjung pun menatap Arkha dengan tatapan memuja, khususnya para wanita. Hal itu membuat Kanaya semakin panas, namun ia tak bisa berbuat apa-apa di sana. Biarlah dia akan memarahi Arkha di rumah saja nanti.
" Silahkan Tuan putri!" Ucap Arkha seraya menirukan gaya pengawal yang sedang mempersilahkan tuan putri nya untuk duduk. Tak lupa Arkha juga sudah memilih tempat duduk yang paling nyaman dan bagus untuk Kanaya.
" Kamu tunggu di sini dulu ya, Mas mau ambil makanan untuk kamu!" Ucap Arkha ketika Kanaya sudah duduk dengan nyaman di tempatnya.
" Mas, kita ikut nimbrung di sana aja yuk!" Ajak wanita itu pada suaminya. Ia juga menunjuk ke arah Kanaya duduk. Karena posisi Kanaya yang membelakangi mereka, mereka pun tidak tahu siapa yang duduk di sana itu.
" Duh, jangan dong sayang, malu. Ganggu kenyamanan orang lain nanti. Cari tempat lain aja deh, di sini udah penuh semua!" Ucap sang suami.
" Ayolah Mas, disini aja. Di sini tuh makanannya enak-enak, harganya juga terjangkau untuk restoran semewah ini. Kapan lagi coba, makan makanan mewah tapi murah," ucap istrinya lagi.
" Pa, Atha udah laper nih," rengek anaknya sambil memegangi perutnya.
" Tuh Mas, anak kamu udah kelaparan itu. Masak tega sama anak sendiri," tambah sang istri. Dengan berat hati, terpaksa suaminya itu mengiyakan dan meminta izin untuk ikut bergabung bersama wanita yang duduk sendirian di sana, yang tak lain adalah Kanaya.
" Permisi Mbak, kita boleh ikut gabung di sini gak?" Tanya sang suami pada Kanaya. Kanaya yang merasa ada yang berbicara padanya pun lantas menoleh ke asal suara.
Baik Kanaya maupun wanita itu, sama-sama terperangah saat pandangan mereka saling bertemu.
" Mbak Ita!"
" Kanaya!" Ucap mereka hampir bersamaan.
__ADS_1
" Ya ampun, kamu di sini juga. Sama siapa, pasti sama Dion ya?" Tebak Ita. Kanaya hanya tersenyum, dia sengaja tak mengatakannya. Biarlah Ita sendiri yang mengetahuinya nanti.
" Oh iya, Mbak boleh gabung sama kalian gak?" Tanya Ita memastikan.
" Boleh dong, apa lagi di sini ada Atha. Yuk duduk sini!" Ucap Kanaya pada anak laki-laki berusia empat tahun itu.
Mereka pun akhirnya bergabung sambil sesekali bersenda gurau. Tau lah, jika Kanaya dan Ita sudah bertemu, maka dunia pergesrekan akan kembali hadir.
" Oh iya, kalian mau pesan apa, nanti biar aku yang pesankan," ucap Kanaya.
" Wihhh, temen kita sekarang udah jadi nyonya Dion ternyata," ledek Ita. Lagi-lagi Kanaya hanya tersenyum. Padahal di dalam hatinya saat ini mengumpat mendengar nama itu di sebut.
" Siapa juga yang mau jadi Nyonya Dion, males banget." Begitulah kira-kira.
" Oh iya, terserah kamu aja deh mau pesan apa, kita mah ngikut aja. Mumpung di traktir sama pengantin baru, hehehe," ucap Ita.
" Ya udah, aku pesenin makanan yang paling enak di sini ya," ucapnya.
" Mbak!" Panggil Kanaya pada seorang pelayan. Pelayan tersebut pun menghampiri Kanaya, dan Kanaya pun memesan beberapa menu makanan.
Setelah selesai, Kanaya pun kembali fokus pada Ita dan keluarganya.
" Oh iya Mbak. Gimana kantor?" Tanya Kanaya.
" Ya gitu deh. Kantor mah sepi semenjak kamu cuti," ucap Ita dengan gaya bicara yang melemah.
" Emang kamu ada rencana mau masuk lagi, atau stay jadi Nyonya rumah aja?" Tanya Ita lagi.
" Gak tau Mbak. Rencananya sih aku mau resign aja."
" Itu lebih bagus kalau menurut Emba sih, kamu jadi bisa lebih fokus sama suami dan keluarga kamu," ucap Ita setuju.
" Dan maaf ya, kemaren Mbak gak dateng di hari bahagia kamu. Soalnya Mbak lagi di Amerika. Maaf ya," ucap Ita merasa tak enak hati.
" Gak papa kok Mbak. Lagian acaranya gak besar-besaran juga, cuma ngundang beberapa teman kerja papa dan keluarga aja kok. Jadi santai aja!" ucap Kanaya. Ita pun merasa lega karena Kanaya tak marah padanya.
" Oh iya. Ngomong-ngomong, di mana suami kamu, kok dari tadi gak keliatan?" Tanya Ita sambil celingukan mencari keberadaan orang yang ia maksud.
" Saya di sini."
__ADS_1