
Episode 55:
" Takdir yang selalu membuatku serba salah," ucap Aleta lirih dan hampir tak terdengar.
Namun ucapnya tersebut terdengar jelas oleh sang ayah, membuat sang ayah semakin bertanya-tanya maksud yang diucapkan Aleta.
" Apa yang baru saja kau katakan? apa maksudmu bahwa takdir lah yang membuatmu serba salah? Berbicara yang jelas putri Aleta!"
Aleta memberanikan diri untuk menatap ayahnya dengan tersenyum sayu.
" Aleta tak mengatakan apa-apa ayahanda," jawabnya.
" Dengar putriku! jika kau tetap bersikeras tidak mau mengatakan siapa ayah dari bayi yang kau kandung tersebut, maka jangan salahkan ayah jika ayah akan memperlakukan mu seperti tahanan lainnya."
" Tidak ayahanda, aku tetap pada pendirian ku dan tidak akan pernah mengatakan siapa ayah dari bayi yang aku kandung ini," ucap Aleta dengan tegas dan tanpa ada keraguan sedikitpun.
" KURANG AJAR KAU, BERANI KAU MEMBANTAH KU?"
Brakkkk
Tiba-tiba saja raja Bramantyo menendang tubuh Aleta hingga terpental dan tersungkur ke lantai. Namun untungnya ia sempat melindungi perutnya hingga tak sampai ikut terbentur.
" KANDA! Apa yang kanda lakukan pada putri kita?" Permaisuri Ayu yang merasa panik pun segera menghampiri Aleta yang masih terduduk di lantai dengan menahan sakit di bagian pinggang dan bo*ong nya.
" Kau tidak apa kan putriku?" tanya permaisuri Ayu sambil memeriksa tubuh Aleta.
Aleta hanya menggeleng dengan mata yang sudah berair.
Tanpa sepengetahuan siapa-siapa, Arkha memandang sedih pada Aleta dan ia pun menjatuhkan air mata karena itu.
Arkha sangat ingin membantu Aleta saat ini, namun ia takut jika hukuman Aleta semakin berat jika ia ikut campur. Alhasil Arkha hanya bisa menatap sedih dan menahan diri agar tidak terbawa emosi oleh perlakuan raja Bramantyo terhadap putrinya sendiri.
" Kanda cukup kanda! kasihan putri kita," kata permaisuri Ayu.
" Persetan dengan itu semua. Hukuman mu sudah aku tentukan putri Aleta," ucap raja Bramantyo dengan menatap tajam pada Aleta.
Sontak semua orang menatap kearah raja Bramantyo termasuk Aleta dan Arkha. Mereka sekedar ingin tahu apa hukuman tersebut.
" Aku memutuskan, jika sampai beberapa bulan ini kau tetap tak mau mengatakannya, maka aku akan menghukum pan*ung dirimu, ucap raja Bramantyo dengan tegas dan tanpa rasa sedih sedikitpun.
Itulah betapa kejamnya seorang Bramantyo hingga tega ingin menghukum m*ti putrinya tanpa toleransi lagi.
__ADS_1
Seketika mata semua orang yang ada di sana pun membulat sempurna karena mendengar ucapan dari raja mereka. Namun sesaat kemudian, mereka kembali menundukkan kepala mereka karena mereka takut akan membuat sang raja semakin murka.
" Cepat kembalikan lagi dia ke penjara bawah tanah, dan ingat! kali ini tidak ada yang boleh melepaskannya lagi meskipun dia m*ti sekalipun," ucapnya tanpa bantahan.
Namun siapa sangka bahwa Arkha sedang menahan emosinya. Hatinya terasa sakit ketika melihat tuan putrinya sekaligus wanita yang ia cintai di siksa begitu kejamnya oleh orangtuanya sendiri. Namun yang lebih menyakitkan ialah, saat ini dia hanya bisa diam dan tak bisa berbuat apa-apa saat Aleta disiksa.
Para pengawal istana pun segera melaksanakan perintah sang raja dan menyeret tubuh Aleta untuk mengembalikannya ke dalam penjara bawah tanah.
Tak ada perlawanan yang bisa dilakukan Aleta, ia nampak pasrah dengan semua yang dilakukan oleh pengawal ayahnya itu. Ia juga sudah pasrah dengan konsekuensi yang diberikan ayahnya tersebut. Dia hanya berpikir bahwa percuma mempertahankan diri jika terus dipermainkan oleh takdir seperti ini.
Setelah sampai di tempat, Aleta dimasukkan ke dalam penjara dengan cara kasar. Sungguh miris keadaanya sekarang ini.
" Ma Pa, Naya pengen pulang, Naya kangen," ucapnya sambil membenamkan wajahnya di ceruk lututnya.
Di tempat lain, tepatnya di dunia yang berbeda
Abram yang sedang duduk di kursi kerja nya tengah membolak-balik sebuah buku kuno yang ia pegang. Entah apa sebabnya ia belum mau membuka halaman buku tersebut, yang jelas ia masih berpikir keras tentang buku itu yang nampak unik dari tampilan covernya. Bahkan ia teringat dimana waktu buku itu ditemukan, sangat aneh menurutnya. Bagaimana tidak, buku itu nampak terjatuh sendiri sedangkan barang lainnya tetap pada tempatnya.
Abram kembali ingin membuka buku tersebut, namun lagi-lagi suara ketukan pintu dari luar membuatnya harus mengurungkan niatnya.
" SIAPA?" tanya Abram.
" Saya pak, Devia," jawabnya.
" Saya mengantarkan seseorang yang ingin bertemu bapak."
" Baiklah tunggu sebentar!" Abram pun terpaksa bangkit dari duduknya untuk membukakan pintu.
" D-dila."
" Boleh kita bicara?" Abram tak menjawab, matanya terfokus pada perut Dila yang sudah mengempis. Itu artinya Dila sudah melahirkan.
" Saya permisi pak." Suara staf yang mengantarkan Dila tadi membuyarkan lamunannya. Abram pun kembali fokus dan mengangguk kepada staf tersebut.
" Kau belum menjawab ku," ucap Dila mengingatkan Abram tentang pertanyaanya tadi.
" A- oh iya. Bisa, bisa kok."
" Kalau gitu kita bicara di restoran bawah, bisa?"
" Bisa bisa. Kita berangkat sekarang?." Dila menganguk, dan Abram pun mulai melangkah lebih dulu lalu disusul Dila di belakangnya.
__ADS_1
Setelah sampai di restoran yang mereka tuju, Abram langsung menuju kursi yang nampak kosong, di susul Dila yang mengikutinya dari belakang, lalu mereka duduk di sana.
Selama beberapa menit mereka hanya saling diam. Abram yang sibuk dengan buku menu sambil melihat dan memilih menua apa yang akan dipesan. Sedangkan Dila yang merasa canggung *******-***** tangannya yang mengepal sekedar untuk menghilangkan rasa canggungnya.
" Kamu mau makan apa?." Setelah sekian lama akhirnya Abram memulai percakapan.
" Emmmm aku ikut kamu aja," tuturnya.
Abram menganguk, lalu memanggil pelayan untuk mengatakan menu pesanan mereka.
Abram mengatakan kepada pelayan restoran itu bahwa mereka akan memesan sushi dan stik daging serta dua jus lemon tea. Setelah selesai mencatat pesanan pelanggan, pelayan itu pun segera pergi.
Dan tak lama kemudian seorang pelayan lainnya membawakan pesanan mereka.
" Silahkan dinikmati!" ucap pelayan sembari meletakkan pesanan yang ia bawa dan menaruhnya di atas meja.
" Terimakasih."
" Jadi sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Abram sambil mengaduk-aduk minumannya mengunakan pipet.
" Aku bercerai," jawab Dila singkat sambil mengucau minumannya.
Abram mengangkat kepalanya dan menatap Dila dengan rasa terkejut.
" Apa yang terjadi?" tanya Abram dengan nada datar.
" Dia bilang bosan padaku, dan dia akan segera menikahi wanita lain," ucapnya dengan senyum getirnya.
" Alia?." Lalu Dila pun menggeleng.
" Lalu siapa? wanita mana lagi yang ia korbankan?." Abram sudah mulai geram mendengar cerita Dila.
" Sekertaris barunya." Dengan sisa air matanya ia mengatakan, dan tangannya menggenggam erat garpu dan pisau yang ia pegang, seolah sedang menyalurkan kekesalannya terhadap mantan suaminya itu.
Abram memahami situasi itu, ia pun mengusap genggaman tangan Dila dengan lembut, agar Dila bisa lebih tenang.
" Mungkin itu yang terbaik untukmu. Ikhlaskan saja!." Lagi-lagi Dila menganguk sambil tertunduk sedih.
Untuk beberapa saat tak ada percakapan lagi di antara mereka. Mereka hanya saling diam dengan pikiran masing-masing, sambil menyantap makanan yang tadi mereka pesan.
" Lalu anak kita dimana?" tanya Abram tiba-tiba. Dan dengan santainya ia mengatakan itu tanpa menatap ke arah lawan bicara.
__ADS_1
Sontak saja Dila terkejut dan membuat aktivitas makannya terhenti, lalu menaruh alat makannya tersebut didalam piring.