
Episode 53:
Aleta sangat gelisah, suara tepukan-tepukan nyamuk seakan menggema di seluruh ruangan bawah tanah tersebut.
Selain nyamuk, hawa dingin juga membuatnya tak bisa memejamkan mata sama sekali barang sebentar pun.
Hawa dingin seakan menusuk di setiap persendiannya, membuat tubuhnya bergetar hebat karena hawa dingin tersebut.
Gigi-gigi putih Aleta seakan bertabrakan, menciptakan sebuah bunyi yang seolah membelah kesunyian malam, membuat Arkha terjaga dari tidurnya karena terusik oleh suara gemrutuk yang dihasilkan dari Alina.
Arkha yang menyadari pun langsung terjingkat kaget dan sontak saja memanggil nama Aleta.
" Tuan putri, tuan putri kenapa? apakah tuan putri baik-baik saja?" tanya Arkha dengan nada panik.
Ingin sekali ia masuk ke dalam sel untuk memeriksa keadaan Aleta, namun tidak mungkin dia lakukan karena besi sel tahanan tersebut sangatlah kuat dan keras.
Arkha pun panik sekaligus bingung karena Aleta sama sekali tak menjawab panggilannya ataupun merespon.
Dalam pikirannya saat ini ialah, pasti tuan putrinya sedang demam karena tidak terbiasa dengan hawa dingin dan suasana tempat yang tidak layak untuknya tersebut.
" Tuan putri, tuan putri bisa dengan suara hamba?." Tak sampai di situ, Arkha masih berusaha agar Aleta bisa merespon panggilannya, namun nampaknya hasilnya masih sama. Aleta sama sekali tidak menjawab ataupun merespon. Sebaliknya, tubuh Aleta semakin menggigil dan nampak semakin pucat.
" Tidak ada pilihan lain, aku harus menemui penjaga di luar untuk mengeluarkan tuan putri Aleta dari tempat ini." Tanpa pikir panjang Arkha langsung berlari keluar untuk menemui penjaga. Dia sudah tak perduli dengan resiko yang ia hadapi nanti karena telah menemui Aleta secara diam-diam. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan Aleta dan bayi yang ia kandung.
" Hey kalian bisakah menolong ku?" kata Arkha yang datang dengan tergopoh-gopoh.
" Senopati Arkha kenapa bisa ada di sini?." Bukannya langsung menolong, salah satu penjaga malah menanyai Arkha.
" Nanti saja saya jelaskan, sekarang lebih baik kalian menolong saya untuk mengeluarkan putri Aleta dari dalam penjara itu," kata Arkha.
" Memangnya ada apa dengan tuan putri?"
" Dia sedang demam tinggi."
" Benarkah? kalau begitu mari beri tahu Yang mulia raja!" ucap salah satu prajurit.
Sontak yang lain menganguk dan ingin memberi tahu sang raja bahwa Aleta sedang demam, namun dengan cepat Arkha mencegahnya.
__ADS_1
" Lebih baik kita keluarkan dulu putri Aleta dan membawa ke kamarnya, baru setelah itu memberi tahu Yang mulia. Saya yakin yang mulia tidak akan keberatan kita mengeluarkan tuan putri dari dalam penjara," ucap Arkha.
Lalu yang lain pun menerima saran dari Arkha dan bergegas menolong putri Aleta.
" Tuan putri, tuan putri bisa dengar saya?" tanya Arkha setelah pintu penjara di buka. Arkha pun segera mendekat pada Aleta dan meletakkan kepala Aleta di pangkuannya serta memeriksa suhu tubuh Aleta.
" Suhu tubuhnya begitu panas. Kita harus segera membawanya!"
Tanpa banyak basa-basi mereka pun membawa Aleta yang begitu lemah itu menuju kamarnya.
Setelah sampai mereka membaringkan tubuh Aleta dengan perlahan.
Kebetulan permaisuri Ayu yang tidak bisa tidur malam itu melihat Aleta yang di gotong oleh beberapa prajurit pun segera menghampiri mereka dan mengikuti mereka hingga ke kamar Aleta.
" Bagaimana bisa putriku sampai seperti ini?" tanya ratu Ayu yang terdengar panik dengan suara yang menahan tangis.
" Tuan putri Aleta terkena demam tinggi Yang mulia ratu," jawab salah satu prajurit.
" Benarkah, lalu bagaimana keadaannya sekarang?." Permaisuri Ayu lantas mendekat pada Aleta dan memeriksanya.
" Ya dewa, tubuhmu panas sekali Nak," kata permaisuri Ayu yang semakin terdengar panik.
" Baik Yang mulia ratu." Akhirnya salah satu prajurit pun segera melaksanakan perintah permaisuri Ayu untuk menjemput tabib, namun karena terlalu panik, permaisuri Ayu sampai lupa untuk memberitahukan kepada raja Bramantyo bahwa Aleta sedang di rawat.
Tak lama prajurit yang di perintahkan permaisuri Ayu pun datang bersama seorang tabib istana.
Tanpa banyak ba bi bu lagi tabib segera memeriksa keadaan Aleta yang terbaring lemah itu, sebab tak perlu di jelaskan pun ia sudah tau bahwa Aleta sedang butuh penanganan cepat.
Dengan khusuk dan serius sang tabib memeriksa Aleta tanpa terlewatkan sedikitpun. Sedangkan Arkha dan permaisuri Ayu serta beberapa dayang yang memang di tugaskan untuk mengurus Aleta pun menunggu dengan harap cemas.
Setelah selesai memeriksa, sang tabib menghela nafas panjang dengan wajah yang menunjukkan keputusasaan.
" Bagaimana keadaan putriku sekarang paman?" tanya permaisuri Ayu.
" Keadaannya tidak terlalu baik Yang mulia. Sepertinya tuan putri kelelahan dan kurang tidur hingga membuatnya demam tinggi seperti ini," jawab tabib.
" Maaf Yang mulia, apakah Yang mulia raja tahu soal ini?" tanya sang tabib lagi.
__ADS_1
Sontak saja permaisuri Ayu langsung syok berat mendengar pertanyaan tabib, sebab ia pun baru ingat bahwa dia belum memberitahukan suaminya tentang keluarnya Alina dari dalam penjara bawah tanah. Ia tahu benar sifat sang suami yang jika tidak di beri tahu, maka dia akan sangat murka dan bisa bertindak lebih jauh lagi.
" Ya dewa, aku lupa memberi tahunya tentang hal ini," ucapnya sambil menepuk jidatnya sendiri.
" Lebih baik hamba sarankan Yang mulia segera memberitahu Yang mulia raja soal ini!" saran sang tabib.
" Maaf jika hamba lancang Yang mulia ratu," lanjutnya lagi.
" Tidak apa-apa, aku berterimakasih padamu paman karena telah mengingatkan ku." balas permaisuri Ayu.
" Senopati Arkha, boleh aku titip putriku padamu?" ucap permaisuri Ayu. Arkha yang sedari tadi hanya diam saja pun mengangguk.
" Dengan senang hati Yang mulia ratu." Setelah mendapatkan jawaban dari Arkha, permaisuri Ayu pun segera kembali ke kamarnya untuk membangunkan sang suami dan memberitahukan tentang keadaan Aleta.
" Aku tau kau kuat. Bertahanlah!" ucap Arkha setelah sepeninggalan permaisuri Ayu dan sang tabib yang kebetulan juga pamit sebentar untuk mengambil obat-obatan.
Ia juga menyempatkan diri untuk mengusap kepala Aleta dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Tak terasa air matanya juga menetes setelah mengatakan itu. Arkha pun mengusap sisa air matanya yang menetes tersebut sebelum ada seseorang yang melihatnya.
Namun tak lama berselang, raja Bramantyo pun datang dengan wajah yang menampakkan kemarahan yang begitu besar.
Ia berjalan dengan langkah panjang dan begitu kasar, menghampiri tempat di mana Aleta yang masih terbaring lemah tanpa daya.
Ia berdiri di sisi Aleta dengan tatapan tajamnya dan nafas yang tidak beraturan.
" TABIB!!" teriaknya. Suaranya menggema di seluruh penjuru istana membuat siapa saja yang mendengarnya merasa ngeri.
Dengan langkah cepat, tabib pun segera menghampiri sang pemimpin, ia tahu saat ini rajanya tersebut sedang dikuasai emosi. Dia hanya tak ingin dirinya menjadi sasaran empuk kemarahan sang raja nantinya.
" Berikan ramuan yang mujarab untuk putriku, pastikan dia pulih dengan cepat!" perintah sang raja dengan suara kasarnya.
" Baiklah Yang mulia." Tabib pun segera melaksanakan apa yang di perintahkan oleh rajanya tersebut.
Di sisi lain permaisuri Ayu sedang tergopoh-gopoh akibat mengejar suaminya karena ingin mencegah suaminya berbuat nekad terhadap putri mereka.
Dan tanpa di ketahui, ternyata di saat permaisuri Ayu Tiba di kamar mereka, raja Bramantyo sudah lebih dulu bangun dan menatap kearah permaisuri Ayu dengan tatapan elangnya.
__ADS_1
Duduk bersandar di ranjangnya sambil melipat kedua tangannya.