
Episode 40:
" Apa yang kau katakan putri ku?" Tanya raja Bramantyo seolah tak terima.
Sebab ia pun tahu bagaimana Arkha yang mengharapkan putrinya itu.
" Iya, saya mau dia yang membawa saya masuk hiks hiks hiks," ucap Aleta sambil menahan rasa sakitnya.
Raja Bramantyo menghela nafasnya dengan kasar. Sebenarnya ia tak mau membiarkan Arkha mendekati putranya, namun ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat dengan sang putri.
" Ya sudah. Senopati Arkha, tolong kau bawa tuan putri ke kamarnya!" Titah sang raja.
Aleta pun tersenyum puas karena telah berhasil membujuk raja Bramantyo tanpa harus bersusah payah terlebih dahulu.
" Baik Baginda raja."
Arkha pun mulai mengangkat tubuh Aleta, namun sebelum itu ia juga membalut kan pakaian yang ia pakai, pada kaki Aleta agar darahnya tak terus mengalir.
Dengan semangat pula Aleta merangkul kan tangannya pada leher Arkha.
Sedangkan pangeran Antaraksa sedang menahan emosi melihat pemandangan didepan matanya itu. Matanya melotot, tangannya terkepal kuat bak orang yang sedang kerasukan.
" Sudah sampai tuan putri," kata Arkha sambil meletakkan tubuh Aleta dengan penuh kehati-hatian di atas tempat tidurnya.
Meskipun begitu, Aleta masih tetap merasakan sakit diarea kakinya. Ia meringis, karena memang lukanya cukup parah, bahkan ranting pohonnya saja belum terlepas dari kakinya.
" Awuuush hiks hiks hiks,,,,,, sakit banget," rintih Aleta sambil memegangi kakinya.
Arkha yang semula berniat akan meninggalkan Aleta pun berbalik melihatnya lagi. Ia merasa iba dengan rintihan Aleta yang terdengar sangat memilukan di telinganya.
Arkha pun berjongkok untuk mensejajarkan posisinya pada Aleta. Kebetulan di sana hanya ada dua orang dayang yang di tugaskan untuk menjaga Aleta, sedangkan raja Bramantyo dan yang lainnya belum sampai ke kamar Aleta, mungkin ada sesuatu yang harus di urus terlebih dahulu.
" Apa sangat sakit tuan putri?" Tanya Arkha seraya mengelus-elus kaki Aleta yang terluka tersebut, sambil sesekali meniup-niup nya.
Aleta menganguk lemah dengan air mata yang bercucuran karena menahan rasa sakit nya.
Karena memang ia tidak pernah merasakan sesakit ini sebelumnya.
Dulu saat masih memakai motor saja, jika terjatuh dan hanya lecet kecil, dia sudah meraung kesakitan.
__ADS_1
Kanaya memang tipe orang yang tak kuat dengan rasa sakit, begitu pun Aleta. Mereka satu jiwa, satu raga, meskipun ingatan masa lalu nya terhapus karena reankarnasi.
" Sebentar lagi tabib akan datang tuan putri, tuan putri tunggu sebentar!"
Lagi-lagi Aleta hanya bisa mengangguk.
Namun jujur, elusan dan tiupan Arkha membuatnya sedikit tenang dan rasa sakitnya pun sedikit berkurang.
Tak lama raja Bramantyo dan yang lainnya pun datang bersama tabib istana, dan seketika itu Arkha menyudahi aktivitasnya pada Aleta dan segera menjauh dari tubuh Aleta.
" Jangan jauh-jauh!" Cegah Aleta ketika Arkha akan menjauh. Aleta juga memegang tangan Arkha agar tak beranjak darinya.
Lagi-lagi semua mata tertuju pada mereka berdua.
Meskipun itu sudah hal biasa ketika Aleta bermanja pada Arkha, bahkan raja Bramantyo sendiri sudah mengetahui bahwa mereka berdua saling mencintai. Namun tetap saja pandangan ketidaksukaan itu selalu mereka tunjukkan.
" Tidak bisa ananda, jika Senopati Arkha berada di dekatmu, maka tabib tidak akan konsen untuk mengobati mu," ucap raja Bramantyo menatap tajam ke arah Arkha.
" Benar yang dikatakan yang mulia raja tuan putri, saya harus menjauh, lagipula masih ada tugas istana yang harus saya kerjakan tuan putri."
Aleta nampak tak perduli dengan apa yang raja Bramantyo dan Arkha katakan, Aleta malah semakin memanyunkan bibirnya dengan para yang mulai berkaca-kaca.
" Ya sudah, tidak apa-apa Senopati Arkha, kau di sini saja temani putri ku!" Ucap raja Bramantyo pasrah.
" Tidak bisa begitu paman raja. Tidak sepantasnya seorang Senopati menemani sang putri, lagipula putri Aleta sudah memiliki calon tunangan, mengapa harus Senopati Arkha yang tidak setara dengan putri yang menemaninya. Ini sangat tidak adil paman raja," protes pangeran Antaraksa.
Ia tak terima, sebagai seorang pangeran Antaraksa merasa tersaingi oleh Arkha yang hanya seorang Senopati.
" Sudahlah pangeran, turuti saja. Ini hanya sementara agar putri Aleta mau diobati," ucap raja Bramantyo terdengar tegas tanpa bantahan.
Jika sudah begitu, pangeran Antaraksa pun hanya bisa diam tanpa berani untuk berbicara lagi. Dia tahu sifat calon mertuanya itu, jika terus-menerus membantah, maka ia tak segan-segan melakukan hal yang ia inginkan. Seperti membunuh, memenjarakan orang tersebut, hingga menyiksa tanpa ampun.
Permaisuri Adela, ibunda dari pangeran Antaraksa sendiri menyadari kegundahan sang putra pun lantas mengusap pelan pundak sang putra, berharap sang putra bisa lebih tenang.
Aleta memegang erat tangan Arkha ketika tabib mulai mencabut ranting pohon yang tertancap pada kakinya.
" Aaaaaaa Mama!!" Teriak Aleta saat ranting itu di cabut paksa dari kakinya. Dia juga mencengkeram kuat tangan Arkha hingga buku-buku tangannya terluka karena terkena goresan dari kuku-kuku Aleta yang runcing dan tajam.
Di tempat dan dunia yang berbeda, Mama Nita yang sedang meratapi nasib anaknya yang belum kunjung ketemu, tiba-tiba ia merasakan Kanaya memanggil namanya. Refleks ia pun terkejut.
__ADS_1
" Kanaya!" Ucapnya tanpa sadar.
Ia langsung terjingkat dari pelukan sang suami, karena sebelumnya ia sedang di peluk oleh Adi, karena sang suami sedang memenangkannya.
" Kenapa Ma?" Tanya Adi.
" Mama denger Kanaya manggil-manggil Mama gitu Pa, dia kaya lagi kesakitan gitu," ucap Nita pilu.
" Gak ada Ma, Papa gak dengar apa-apa kok. Mungkin perasaan Mama aja kali yang terlalu mengkhawatirkan Kanaya," jawab sang suami yang memang tak mendengar suara apapun.
" Beneran Pa, Mama gak bohong. Pasti saat ini Kanaya lagi dalam bahaya," ucapnya keukeh.
" Udah, Mama tenang ya. Papa yakin Kanaya gak kenapa-napa," ucap Adi yang berusaha menenangkan istrinya.
Adi lantas meraih tubuh istrinya dan memeluknya.
" Permisi pak," ucap seseorang dari luar kamar hotel Arkha.
Memang saat ini Nita dan Adi sedang berada di kamar hotel milik Arkha.
Tadi pagi seorang pelayan hotel menghubungi mereka lewat ponsel Arkha, dan mengatakan bahwa Arkha dan Kanaya tidak berada di kamar mereka saat pelayan tersebut membuka pintu kamar untuk mengantarkan makanan kepada mereka.
Saat itu pelayan tersebut langsung terkejut ketika melihat kamar bos nya berserakan seperti kapal pecah. Pelayan tersebut panik dan langsung berasumsi bahwa Kanaya dan Arkha menjadi korban penculikan atau malah korban pembunuhan.
Dia lantas memanggil para staf dan penanggungjawab hotel tersebut dan mengabarkan Kanaya dan Arkha hilang.
Abram selaku penanggung jawab pun langsung turun tangan. Dia lantas mencari ponsel Arkha yang kebetulan tertinggal, lalu ia mencari kontak orang tua Kanaya dan menelponnya.
Betapa syok dan terkejutnya Nita dan Adi ketika mengetahui bahwa putri dan menantu mereka hilang tanpa jejak.
Saat itu juga mereka langsung OTW ketempat kejadian. Mereka juga langsung menelpon polisi untuk menyelidiki atas hilangnya Putri mereka.
Nita juga sempat menyalahkan Arkha atas kejadian ini, dia berpikir bahwa Arkha lah yang telah membawa Kanaya kabur.
" Masuk pak polisi!" Ucap Adi mempersilahkan polisi tersebut masuk.
" Bagaimana pak, apa ada kabar mengenai putri dan menantu kami?" Tanya Adi.
" Maaf pak, sampai saat ini belum ada keterangan mengenai hilangnya Putri dan menantu bapa. Kami masih mengumpulkan bukti-bukti yang kuat tentang hilangnya mereka yang secara tiba-tiba," jelas polisi tersebut.
__ADS_1
" Ini pasti ada hubungannya dengan menantu saya itu pak, dia pasti sengaja membawa kabur putri saya," ucap Nita dengan perasaan yang menggebu-gebu.