Mengandung Anak Jin Tampan

Mengandung Anak Jin Tampan
Cemburu Berat


__ADS_3

Episode 42:


Sang dayang yang ditanyai pun mengikuti arah tunjuk Aleta yang menunjuk ke arah wanita yang ia maksud.


" Oh wanita itu?" Tanya dayang memastikan.


Aleta pun mengangguk polos.


" Namanya Dewi Puspita, dia anak dari penasehat Martha," jelas dayang tersebut.


' Tapi kenapa wajahnya mirip sekali dengan Alya, hanya saja yang ini pakaian nya lebih sopan dan tidak kekurangan bahan. Kalau masalah genit mah sama aja,' ucap Aleta yang bermonolog di dalam hati.


" Tuan putri!" Panggil sang dayang karena melihat tuan putri nya itu hanya melamun saja.


Sontak saja Aleta terjingkat kaget karena dayang tersebut bukan hanya memanggilnya, melainkan juga menepuk pundaknya.


" Ehhhh iya, kenapa?" Tanya Aleta sedikit tergagap.


" Maaf tuan putri, bukan maksud saya bersikap lancang, namun kaki tuan putri sudah lama diajak menapak, apa tidak sebaiknya tuan putri duduk dulu," saran dayang tersebut.


" Boleh, tapi saya maunya duduk di sana," ucapnya sambil menunjuk ke arah tempat Arkha dan wanita itu.


" Baiklah tuan putri, mari kami antar kan ke sana."


Dua dayang tersebut pun kembali memapah Aleta untuk menuju tempat yang dia mau.


Namun di separuh jalan, Aleta menangkap pemandangan yang tidak mengenakkan baginya.


Bagaimana tidak, setelah selesai latihan, Arkha yang terlihat kelelahan pun menghampiri Puspita dan duduk di sampingnya. Tak hanya itu, Puspita juga memberikan minuman kepada Arkha dan di sambut dengan senyuman pula oleh Arkha.


Hati wanita mana yang tidak sakit ketika melihat pemandangan seperti itu.


Aleta merasakan sesak di dadanya, hingga tak terasa ia pun meremas baju yang ia pakai dengan sangat kuat, di iringi dengan iris yang mulai berembun.


" Kenapa berhenti tuan putri?" Tanya dayang yang memapahnya saat merasakan Aleta tak bergerak dari tempatnya.


" Sebenarnya siapa Puspita sehingga mereka bisa sedekat itu?" Tanya Aleta dengan suara yang agak serak karena menahan sesuatu di tenggorokannya.


" Dewi Puspita itu orang yang di jodohkan dengan Senopati Arkha, bahkan yang menjodohkan mereka Baginda raja sendiri."


" APA?!"


Bukan hanya terkejut, namun juga syok berat hingga Aleta tak sadar tubuhnya sedikit demi sedikit mundur kebelakang dan hampir saja terjatuh jika tidak di tahan oleh dua dayang di sampingnya.


" Tuan putri, tuan putri kenapa, apa kakinya mulai terasa sakit?" Tanya salah satu sayang yang nampak khawatir.


Aleta tak menjawab, dia hanya menggeleng dengan pandangannya lurus ke depan dengan tatapan kosong.

__ADS_1


Namun sesaat ia tersadar, tak sepantasnya dia seperti itu. Bukankah di tempat ini dia sebagai tuan putri, bukan sebagai istri dari Arkha.


Aleta harus bisa mengendalikan diri dan bersiap kembali merebut apa yang dia miliki seharusnya.


" Tidak, aku tidak apa-apa. Bisa kita lanjutkan?" Ucap Aleta yang berusaha bersikap normal di depan para dayang nya tersebut.


" Bisa tuan putri," ucap mereka secara serentak.


" Ayo kita lanjutkan!"


Mereka pun kembali memapah Aleta dan mereka pun telah sampai di tempat latihan pedang, tepatnya di depan Arkha dan Puspita.


Melihat kedatangan Aleta, Arkha dan Puspita yang semula bercanda gurau layaknya sepasang kekasih pun tiba-tiba menghentikan aktivitas mereka.


Mereka berdua langsung berdiri dan segera membungkukkan tubuh mereka dengan hormat.


" Tuan putri, ada apa gerangan yang membawa tuan putri kemari?" Tanya Arkha.


" Aku hanya ingin jalan-jalan, akan tetapi sepertinya kehadiran ku mengganggu momen romantis kalian," ucapnya sambil melirik ke arah Arkha dengan tatapan yang sulit diartikan.


" Oh tidak sama sekali tuan putri. Malah kedatangan tuan putri adalah suatu kehormatan bagi kami."


Dan kali ini Puspita lah yang menjawabnya.


Lihatlah, betapa sopan nya dia. Sangat berbeda ketika dia menjadi Alya di dunia masa depan, yang tentunya kalian tahu sendiri bagaimana sifatnya.


Kini Arkha pun ikut menimpali perkataan Puspita, seolah setuju dan mereka pun nampak begitu sangat dekat, berbeda ketika mereka di dunia satunya.


Tentu Aleta di buat semakin panas dan cemburu melihat pemandangan manis di depan matanya itu.


Nampaknya begitu sulit bersaing dengan Puspita di banding dengan Alya.


" Ya sudah, kalau begitu aku duduk di sini saja."


Dengan tertatih-tatih, Aleta pun berusaha berjalan sendiri dan menunju ke sebuah tempat duduk.


" Tuan putri!" Teriak dua dayang nya ketika melihat tuan putri nya nekat berjalan tanpa mereka.


Aleta tak menghiraukan panggilan mereka. Dengan bersusah payah berjalan, akhirnya Aleta sampai di sebuah tempat duduk, dia pun duduk dengan santai di sana.


" Tuan putri apa perlu saya ambilkan minum?" Tanya Puspita yang tiba-tiba sudah berada di samping Aleta.


Spontan saja Aleta terkejut dan menoleh ke arah Puspita.


" Sejak kapan kau disitu?" Tanyanya.


" Baru saja tuan putri," jawabnya, namun dengan sangat sopan.

__ADS_1


" Owh,,,,," ucapnya.


" Kayak jelangkung aja, kaget gua," gumam Aleta, namun masih dapat di dengar oleh Puspita meski samar-samar.


" Maksud tuan putri?" Tanya Puspita.


" Eeee tidak, maksudnya apa? saya tidak bicara apa-apa," jawab Aleta sedikit gugup.


" Oh, saya kira tuan putri berbicara sesuatu kepada saya," ucapnya dengan tersenyum ramah.


Mau tak mau Aleta pun membalas senyumannya, lantaran tak ingin terlihat jutek di depan Arkha.


" Emmm permisi tuan putri, saya izin latihan lagi," ucap Arkha dengan sopan.


Sebenarnya Aleta tak suka Arkha bersikap formal padanya, namun demi bisa berbicara pada Arkha, tak apalah menurutnya.


" Oh iya silahkan, kamu hati-hati ya, yang semangat!" Ucap Aleta menirukan gaya seperti orang yang sedang menyemangati.


Arkha hanya tersenyum ramah lalu membungkuk kan tubuhnya sedikit demi menghormati Aleta sebagai seorang putri raja.


Tentu hal itu membuatnya kesal, namun lagi-lagi dia tak bisa berbuat apa-apa.


" Puspita, saya latihan lagi ya," ucapnya pada Puspita, terdengar seperti meminta izin.


" Iya kanda, semangat ya, kan sebentar lagi kamu akan memimpin perang," ucap Puspita menyemangati bak seorang kekasih pada kekasihnya.


Jantung Aleta tak bisa terkontrol lagi, mendengar kata 'kanda' yang di ucapkan oleh Puspita, membuat nafasnya memburu seperti orang yang sedang menahan emosi.


Hal itu terlihat oleh dua dayang nya, dan membuat mereka panik dan menghampiri Aleta.


" Tuan putri, tuan putri kenapa?" Tanya mereka panik.


Hal itu pun mengundang perhatian Arkha dan Puspita yang sedari tadi sedang asyik ngobrol berdua saja.


" Tuan putri tidak apa-apa?" Tanya Arkha.


Entah mengapa ketika Arkha yang menanyainya, dadanya semakin sesak dan air matanya serta emosinya tak dapat ia kendalikan lagi.


Aleta pun menangis sejadi-jadinya, hingga membuat semua orang yang ada di sana seketika panik. Hal itu juga mengundang banyak perhatian orang-orang di sekitar istana karena suara Aleta yang melengking sampai kemana-mana.


" Tuan putri kenapa, apa kaki tuan putri ada yang sakit?" Tanya Arkha yang nampak panik.


Aleta tak menjawab, ia terus saja menangis histeris.


Hal itu sungguh tak ia buat-buat semata-mata hanya untuk mendapat perhatian dari Arkha. Namun Aleta benar-benar tak bisa mengendalikan emosinya ketika Arkha yang menanyainya.


Rasa cemburu dan sakit hati membuat emosinya tak terkontrol.

__ADS_1


" Apa perlu saya bopong ke kamar tuan putri jika tuan putri tak keberatan?" Tanya Arkha tanpa sadar apa yang ia katakan.


__ADS_2