Mengandung Anak Jin Tampan

Mengandung Anak Jin Tampan
Sifat Asli Dion


__ADS_3

Episode 33:


" Bicara, bicara soal apa Mas?" Tanya Kanaya.


" Mas mau ngaku sama kamu," ucapnya yang semakin membuat Kanaya penasaran, ia pun mengerutkan keningnya heran.


" Mas mau ngaku apa, apa Mas melakukan kesalahan?" Tanyanya lagi. Arkha lantas menggeleng.


" Terus?"


" Mas mau ngaku, kalau sebenarnya Mas punya beberapa usaha," terangnya


.


" Usaha, usaha apa Mas?"


" Mas punya dua hotel, satu restoran, dan satu wisata ragunan," terangnya. Kanaya terkejut, hingga menutup mulutnya tak percaya.


" Beneran?" Arkha pun mengangguk.


" Kok gak bilang dari awal, dan kenapa baru bilang sekarang?"


" Kan dulu kamu tidak bertanya, kalau seandainya Mas bilang, berarti Mas Riya' dong. Kalau sekarang kan kamu sudah jadi istri Mas, jadi Mas wajib kasih tau semua tentang diri Mas, termasuk harta."


" Ooooo. Apa hotal ini termasuk juga?" Tanya Kanaya lagi. Arkha pun mengangguk.


" Wah, pantesan semua orang kayak hormat banget sama Mas, terus kamar ini juga terlihat yang paling mewah," ucap Kanaya dengan rasa kagum.


" Mau dong di ajak ke restoran sama ke ragunan, aku pengen liat buaya, singa, sama harimau," ucap Kanaya sambil menghitung menggunakan jari tangannya. Sontak saja membuat Arkha melotot sempurna mendengar keinginan aneh Kanaya.


" Permintaannya apa tidak ada yang lebih bahaya dari itu?" Tanya Arkha yang sebenarnya hanya mengejek.


" Ada," jawabnya cepat.


" Aku pengen main sama harimau, langsung di dalam kandangnya," ucap Kanaya dengan santainya. Tentu saja itu membuat Arkha seolah serangan jantung mendengarnya.


" Kanaya, kira-kira dong. Kamu mau main, atau bosan hidup sih. Lagian, mana dibolehin pengunjung masuk kandang."


" Harus boleh dong. Kan kamu pemiliknya, pasti dibolehin lah!" Bujuk Kanaya.

__ADS_1


" Aduh sayang, gak ada yang lebih serem lagi permintaannya?" Arkha benar-benar di buat tak habis pikir dengan tingkah Kanaya yang aneh tersebut. Dia menyisir rambutnya kebelakang dengan kasar.


" Ada," jawabnya.


" Apa lagi?"


" Aku tuh pengen banget bisa pegang pedang dan memainkannya," ucap Kanaya sambil membayangkan. Lagi-lagi Arkha di buat tak habis pikir. Dia pun menepuk jidatnya sendiri.


" Ya sudah deh. Ngomong sama kamu tidak ada habisnya. Lebih baik sekarang kamu, kita mau makan siang di bawah!" Ucap Arkha.


" Oke bos. Tapi untuk makan malam, aku mau ke restoran kamu ya," ucapnya.


" Besok pagi ya sayang!" Tawar Arkha.


Kanaya lantas menggeleng.


" Aku maunya malam ini, dan pokoknya harus malam ini, titik gak pakai koma," ucap Kanaya tanpa bantahan. Kanaya melipat kedua tangannya di depan dada, tanda dia tak mau di bantah.


" Iya deh, iya. Tapi kamu harus pakai baju yang tebal ya, bila perlu kamu harus pakai jaket tebal, biar tidak masuk angin!" Ucap Arkha.


" Terserah deh, yang penting malam ini harus pergi!" Ucap Kanaya dengan semangat. Arkha lantas tersenyum dan mengangguk, lalu mengusap kepala Kanaya dengan gemas.


" Ya sudah sana, kamu mandi dulu. Kita cari makan di luar aja!" Dengan semangat, Kanaya pun beranjak pergi ke kamar mandi.


Pasalnya, Abram telah gagal melaksanakan tugas yang diberikan Dion padanya, hingga membuat Dion murka dan sampai berbuat kasar terhadap Abram.


Namun Abram hanya bisa diam dan pasrah saat dirinya dihakimi. Apa yang bisa di lakukan orang rendahan seperti dirinya itu? Dengan terpaksa dia hanya bisa menerima segala konsekuensinya jika tugas yang ia emban itu gagal.


" DASAR TIDAK BECUS," hardik Dion tepat di depan wajah Abram. Abram hanya bisa menunduk seraya memejamkan matanya, saat air liur Dion membanjiri wajahnya.


Ingin rasanya ia mencakar wajah Dion yang terlalu dekat dengan wajahnya itu.


" Ini orang. Masih mending kalau air liur nya wangi, bau Pete begitu pakai segala teriak-teriak di depan muka orang," Gerutu Abram yang hanya berani mengatakannya di dalam hati.


" Maaf Tuan." Hanya kata itu yang bisa Abram ucapkan.


" Bagaimana bisa Alia dan ayahnya menolak ku secara bersamaan. Bukankah dulu mereka sudah setuju memberikan setengah sahamnya untuk ku, mengapa sekarang mereka berubah pikiran, bahkan Alia saja rela menggugurkan kandungannya daripada menikah dengan ku. Apa yang membuat mereka berubah pikiran?" Gumam Dion seraya mondar-mandir tak karuan.


" ABRAM, KAMU SAYA PECAT," ucap Dion tanpa toleransi lagi. Abram mengangkat wajahnya karena terkejut. Ia tak menyangka, hal sekecil itu saja ia bisa sampai di pecat. Benar-benar bos yang tak memiliki hati. Namun bagaimana pun Abram tetap tak bisa menolak atau sekedar protes. Dia hanya bisa pasrah dengan sifat keegoisan bos sekaligus sahabatnya ini.

__ADS_1


" Tunggu apa lagi, sekarang cepat KELUAR DARI RUANGAN SAYA!" Ucap dan Dion lagi.


" Baik Tuan, saya akan keluar," jawab Abram. Ia lantas berlalu meninggalkan bos-nya itu, dan segera keruangan nya untuk mengemasi barang-barangnya.


" Argh,,,,,,sial. Semuanya tidak ada yang becus." Dion pun mengacak-acak semua barang-barang yang ada di atas mejanya, sekedar untuk melampiaskan kekesalannya. Namun tak lama pintu ruangannya di ketuk dari luar.


" Argh,,,,,, siapa lagi itu?" Gerutunya. Namun ia tetap membukakan pintu, ia pikir mungkin itu suatu hal yang penting.


" Kamu. Ngapain kamu ke sini?" Tanyanya setelah pintu dibuka.


Tampak seorang wanita berperut buncit sedang menenteng sebuah rantang, berdiri tepat di ambang pintu seraya menampilkan senyum manisnya.


Dia Dila, istri dari Dion, yang kini usia kandungan sudah menginjak enam bulan. Penampilannya sungguh lusuh, dengan luka lebam di beberapa bagian tubuh dan wajahnya.


" Ini, aku bawakan makan siang untuk mu," ujarnya dengan lemah lembut.


" Siapa yang menyuruhmu ke sini?" Dion tak menggubris ucapan Dila, ia malah mempertanyakan hal lain.


" Aku sendiri yang mau ke sini," jawabnya. Dila lantas masuk ke dalam ruangan Dion dan meletakkan rantang yang dibawanya tersebut dia atas meja.


Ia pun lantas membuka satu persatu rantang tersebut dan menyiapkannya untuk Dion. Sedangkan Dion yang sedari tadi hanya memperhatikan gerak-gerik Dila pun, kini ia menghampirinya.


" ini makan!" Ucap Dila seraya menyodorkan sebuah rantang yang sudah berisi nasi beserta lauk pauknya ke hadapan Dion.


Pranggg,,,,,,,,,


Semua nasi dan lauk pauknya tersebut, telah habis berserakan di lantai.


Dila hanya bisa memejamkan matanya kuat-kuat karena perlakuan suaminya itu. Memang itu bukan yang pertamakali nya, mungkin sudah yang kesekian kalinya Dion memperlakukan dia seperti itu. Bahkan terkadang dia sering di pukuli tanpa sebab, hanya karena kesal dengan seseorang atau masalah pekerjaan.


Tiba-tiba saja Dion mencengkeram leher Dila hingga membuat sang empu kesakitan, ia pun mencoba untuk melepaskan diri dari cengkeraman tangan Dion, namun tenaganya yang tak seberapa itu, tak mampu mengalahkan tenaga Dion.


" Kamu sengaja datang ke kantor dengan wajah bu*uk mu ini, HAH. Kamu sengaja, biar saya masuk penjara karena muka je*ek kamu ini?" Dengan cepat Dila menggeleng.


" DASAR JA*ANG!!"


Bugh,,,,,,,


Dion menghempaskan tubuh Dila ke lantai dengan begitu keras, hingga membuat Dila memegangi perutnya yang terasa keram karena bo*ong nya yang terbentur lantai.

__ADS_1


" Saya minta sekarang kamu pergi, sebelum ada yang melihat kamu berada di ruangan saya!" Ucap Dion sambil menunjuk ke arah pintu.


Dila pun berdiri dengan perlahan, dan dia pun menuruti perintah Dion dan segera pergi dari kantor dengan tertatih-tatih karena masih menahan rasa sakit pada area perutnya.


__ADS_2