Mengandung Anak Jin Tampan

Mengandung Anak Jin Tampan
Sel Tahanan


__ADS_3

Episode 51:


Raja Andara syok setelah ia tiba, ia malah di suguhkan dengan pemandangan anaknya yang di pukuli oleh besan sekaligus sahabat baginya sendiri. Padahal sebelumnya ia di undang dengan cara hormat, ia pun tak menyangka bahwa harus melihat pemandangan tersebut.


Raja Andara dan sang istri Adela pun segera menghampiri putra mereka dan membantunya berdiri.


Antaraksa mengusap sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah karena pukulan dari raja Bramantyo. Dia juga menatap tajam pada calon mertuanya itu karena tak terima dengan apa yang baru saja terjadi.


" Kebetulan kau datang dengan cepat Andara. Sekarang kau lihat kelakuan putra mu itu yang sudah membuat nama baik kerajaan malu karenanya," ucap raja Bramantyo dengan penuh emosi.


Sedangkan raja Andara dan sang istri saling menatap bingung, setelah itu mereka menatap tajam pada sang putra. Seolah meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi.


Namun nampaknya Antaraksa acuh tak acuh dengan tatapan mereka. Bahkan saat ini hatinya sedang geram karena tuduhan tanpa bukti tersebut, yang bahkan ia sendiri belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.


" Apa yang kau lakukan putraku, hingga membuat paman raja mu murka seperti itu?" tanya raja Andara dengan tatapan interogasinya.


" Memangnya apa yang ku lakukan? aku saja belum tahu apa yang sebenarnya terjadi," jawab Antaraksa dengan entengnya.


" Kanda dengar sendiri kan apa yang putraku katakan, dia sama sekali tidak tahu apa-apa. Jadi tolong kanda, jangan menuduh seseorang tanpa bukti," ratu Adela pun akhirnya ikut angkat bicara.


" Bukti apa lagi yang harus ku tunjukkan? karena sudah jelas ayah dari janin yang dikandung putri ku itu adalah milik Antaraksa putra kalian."


Raja Andara, ratu Adela dan pangeran Antaraksa syok berat mendengar pernyataan raja Bramantyo hingga mereka tak mampu untuk berkata-kata.


" Putriku itu wanita baik Nanda, mana mungkin dia hamil dengan sembarang pria. Dan saya yakin satu-satunya pria yang dekat dengan putri ku adalah pangeran Antaraksa." Raja Bramantyo menghela nafasnya sebelum akhirnya kembali melanjutkan perkataannya.


" Saya tidak bermaksud memukuli Antaraksa tanpa sebab, saya hanya ingin sedikit memberikannya pelajaran," ucap raja Bramantyo lagi.


" Lalu sekarang mau paman raja apa?" tanya pangeran Antaraksa mencoba untuk tegar.


" Apa lagi kalau bukan mempercepat pernikahan. Saya tidak ingin terlalu lama karena semakin lama tentunya perut Aleta akan semakin membesar dan pastinya kau tahu itu."


Pangeran Antaraksa menatap kearah raja Bramantyo lalu ia pun tersenyum sinis.


" Paman raja benar-benar manusia yang angkuh dan tak memikirkan perasaan orang lain selain putrinya sendiri," ucapnya dengan menatap tajam.


Karena geram dengan jawaban pangeran Antaraksa, raja Bramantyo pun terpancing emosi dan langsung menghampiri pangeran Antaraksa lalu mencengkeram pakaiannya.

__ADS_1


" Apa maksudmu mengatakan hal itu pada ku? seharusnya kau sadar atas apa yang kau lakukan pada putriku, bukannya malah menghinaku seperti itu."


" Dasar tidak tahu sopan santun." Raja Bramantyo pun langsung menghempaskan tubuh pangeran Antaraksa ke lantai dengan keras.


Melihat putranya di perlakukan seperti itu, raja Andara dan ratu Adela pun segera menghampiri putra mereka dan membantunya untuk bangkit.


" Kanda saya mohon kanda, bersikaplah sewajarnya seperti seorang raja, jangan main hakim sendiri seperti ini!" kesal raja Andara.


" Nanda raja, kau juga membela putramu ini, kau membenarkan kesalahan yang ia lakukan?"


Dam mereka pun bersitegang, tak ada yang mau mengalah diantara mereka. Dan tak lama kemudian mereka mendengar teriakkan permaisuri Ayu yang memanggil suaminya dan memberitahukan bahwa Aleta sudah bangun.


" Ada apa ini, kenapa ribut-ribut?" tanya Aleta yang nampaknya masih separuh sadar.


" Lihat paman raja, putri paman sudah bangun. Paman bisa tanyakan langsung padanya, tentang siapa yang harus bertanggung jawab disini," ucap pangeran Antaraksa.


" Bertanggung jawab? apa maksudnya, apa yang harus di pertanggung jawabkan?" tanya Aleta.


" Katakan sekarang juga, siapa ayah dari bayi yang kau kandung?"


Aleta bukan syok karena ia sedang mengandung, namun ia terkejut karena ternyata kandungannya juga berlaku di dunianya yang sekarang, padahal kan ia berada di dunia zaman dahulu.


" Mengandung? ayah?" Beo Aleta bingung harus menjawab apa.


" Ya, katakan bahwa ayah dari bayi tersebut adalah pangeran Antaraksa!" ucap raja Bramantyo.


Aleta terdiam, pikirannya sangat kacau sekarang. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, maka mustahil bagi mereka untuk percaya begitu saja. Dan lagi pula Arkha sendiri pasti tak percaya bahwa itu adalah anaknya. Namun jika ia membenarkan bahwa bayi yang ia kandung adalah milik pangeran Antaraksa, maka secara tak langsung dia telah menjerumuskan dirinya sendiri.


" Eeeeeee itu aaaaa anu," jawab Aleta sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Iya katakan sekarang bahwa itu benar!" desak raja Bramantyo.


Namun di luar ekspektasinya. Aleta malah menggeleng dengan wajah takutnya.


" Benar kan apa yang ku katakan Paman, bukan aku yang menghamilinya," sergah pangeran Antaraksa.


Raja Bramantyo mulai emosi namun ia mencoba untuk menahannya.

__ADS_1


" Oh ya Paman, sebelumnya aku pernah melihat putri Aleta dan Senopati Arkha bertemu di belakang istana, entah apa yang mereka lakukan," ucap Pangeran Antaraksa yang sebenarnya juga sudah muak dengan kedekatan Aleta dan Arkha.


Aleta menatap terkejut pada Antaraksa yang mengetahui pertemuannya dan Arkha semalam.


Saat ini Aleta benar-benar di buat tak berkutik karena masalah aneh ini.


Sedangkan raja Bramantyo semakin di buat geram karena putrinya sendiri.


" Benarkah itu putri Aleta?" ucap raja Bramantyo sambil menahan amarahnya.


" Itu,,,,,,,,,emmmm sebenarnya,"


" JANGAN BERBELIT-BELIT ALETA!!"


Aleta terkesiap karena suara raja Bramantyo yang seakan menggelegar di seluruh ruangan kamarnya.


" Kanda sudah! kasihan Aleta. Nanti dia syok dan itu tidak baik untuk kesehatan dia dan janinnya," ucap permaisuri Ayu yang memperingati suaminya.


" AHH perse*an dengan itu semua. Dia sudah melakukan kesalahan, maka dia harus menanggung hukuman nya."


" Pengawal! bawa dia ke ruang bawah tanah. Kurung dia sampai dia mau mengakui siapa ayah dari anak ha*am tersebut!" perintah raja Bramantyo dengan penuh emosi.


" Baiklah Yang mulia." Mereka pun mendekati Aleta dan menariknya dengan paksa, sesuai perintah dari pemimpin mereka.


" Kanda jangan kanda! kasihan Aleta," teriak permaisuri Ayu sambil berusaha mencegah prajurit istana yang akan membawa Aleta.


Dan terjadilah tarik-menarik pada tubuh Aleta antara permaisuri Ayu dan pengawal istana.


Sungguh memilukan jika di pandang mata, namun semua yang ada di kamar Aleta tersebut hanya menyaksikan tanpa ada yang mau membantu. Mereka seolah mengangap itu sebuah tontonan menarik bagi mereka.


Setelah aksi tarik-menarik tersebut, akhirnya permaisuri Ayu pun kalah jumlah.


Dan mau tak mau Aleta pun di bawa ke ruang bawah tanah oleh beberapa prajurit.


Setelah sampai, Aleta di perlakukan begitu kasar. Dia di dorong masuk kedalam sel tanpa adanya lagi kelembutan yang biasanya ia rasakan.


Aleta hanya bisa meringkuk sambil menangis nasibnya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2