Mengandung Anak Jin Tampan

Mengandung Anak Jin Tampan
Lamaran Abram


__ADS_3

Episode 56;


" Ehemmm." Dila mencoba untuk tenang dan tidak terlihat salah tingkah. Tapi tetap saja perasaannya tidak bisa di pungkiri bahwa saat ini ia sedang baper.


" Anak kita?" ulang Dila. Ia juga menyelipkan anak rambutnya untuk menutupi rasa gugupnya.


" Iya anak,,,,,," Abram seakan sadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Dan kali ini Abram yang dibuat salah tingkah sekaligus malu dengan ucapannya sendiri.


" Ehemmm m-maksudku anak kamu dan Dion sekarang ada di mana?"


" Ohhh. Dia sedang ada di rumah bersama mama, aku tidak membawanya karena takut kerepotan," jawab Dila.


Lantas Abram hanya mengangguk-angguk.


" Lalu bagaimana rencana mu kedepannya? apa ada rencana akan menikah lagi? emmm maksudku apakah anakmu tak butuh seorang ayah?" Abram sempat meralat ucapannya.


Dan tiba-tiba saja Dila menunduk sedih, entah apa penyebabnya. Yang jelas dia sangat sedih karena sang buah hati harus berpisah dari ayah kandungnya, dan bahkan ayahnya sendiri pun tak mau mengakuinya lagi.


" Entahlah Bram, aku takut tak ada yang mau menerima anak ku. Karena saat ini, Felicia adalah segalanya bagiku. Jadi aku tidak mau sembarangan memilih calon suami." Lagi-lagi Abram hanya mengangguk.


" Namanya Felicia?" tanya Abram setelah beberapa saat saling diam.


" Iya, namanya Felicia Putri Bia, Bia yang berarti kuat dan tangguh," ucapnya dengan tatapan menerawang.


" Seperti ibunya," sambung Abram. Sontak saja membuat Dila menoleh sekilas pada Abram, lalu tertunduk malu.


" Eeeee ini kenapa gak di makan?" ucap Dila sambil mulai menjamah makanannya. Sebenarnya itu hanya alasan untuk mengalihkan pembicaraan.


" Oh iya. Yuk makan sekarang!." Mereka pun memakan makanan yang mereka pesan tadi. Tak ada percakapan selama mereka makan, mereka hanya fokus pada makanan mereka hingga makanan tersebut habis.


" Kamu tidak mampir dulu?" tanya Dila ketika sudah sampai di depan rumah orangtuanya.


" Tidak terimakasih. Lain kali aja ya, soalnya ini sudah sore juga, tidak enak bertamu diwaktu begini," jawab Abram.


" Oh begitu ya, padahal Felicia pasti senang sekali bertemu kamu," ujarnya dengan wajah yang ditekuk masam.


" Tapi ya sudahlah, lagipula masih ada hari esok," lanjutnya lagi.


" Iya, aku pasti akan kesini lagi. Aku juga ingin sekali bertemu Felicia, pasti seru bermain dengannya."


" Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu ya," pamit Abram.


" Iya hati-hati di jalan ya!"


" Pasti."

__ADS_1


Namun disaat Abram membuka pintu mobilnya, dia malah menghentikan dan mengurungkannya. Lalu Abram menoleh kembali pada Dila.


" Kenapa, apa ada yang tertinggal?" tanya Dila memastikan.


" Aku ingin bertanya sesuatu, boleh?"


" Boleh, tanya apa?"


" Jika seandainya aku yang menjadi pengganti ayah Felicia, apa kau keberatan?" tanya Abram dengan wajah seriusnya.


Deghhh


Dila terdiam, lalu menelan ludahnya dengan kasar. Ia bingung harus menjawab apa atas pertanyaan Abram itu.


Apa kah dia pantas untuk menerima Abram kembali setelah apa yang dia lakukan dulu terhadap Abram.


" A-apa kau bercanda?" tanya Dila dengan tertawa sumbang.


" Aku serius Dila." Lagi-lagi Abram terdengar serius mengucapkannya. Membuat Dila menghentikan tawanya seketika.


" A-aku akan pikirkan lagi nanti," jawab Dila dengan susah payah menahan grogi nya.


" Baiklah, aku akan menunggu jawaban terbaikmu Dila." Dila menganguk sekilas.


" Kalau begitu aku pulang dulu."


Esok paginya, Abram terbangun dari mimpi indahnya. Seulas senyum terbit di bibirnya dengan mata yang masih tertutup.


Kejadian semalam seolah masih membekas indah di relung hatinya. Ia pun tak menyangka dirinya seberani itu untuk mengutarakan niatnya melamar Dila.


Dia seakan lupa bahwa dulu Dila pernah menyakitinya. Rasa cinta yang tak pernah berkurang sedari dulu itu seolah mengalahkan rasa sakit yang pernah ia alami.


Bahkan ia rela untuk menjadi ayah sambung dari Felicia, mungkin karena Abram juga sangat menyayangi anak itu. Meskipun dirinya sendiri belum pernah bertemu dengan bayi itu, namun sejak mendengar namanya saja membuat ia merasa sangat sayang, dan merasa seperti sudah dekat saja.


Abram menggeliat. Merenggangkan otot-otot tubuhnya, lalu memaksakan diri untuk bangkit dari tempat tidurnya.


Namun sebelum menuju ke kamar mandi, Abram menyempatkan untuk meraih ponselnya, lalu mengirim pesan pada seseorang.


Ada senyum tipis yang terlihat di bibirnya setelah mengirim pesan tersebut.


Abram meletakkan kembali ponsel miliknya lalu bergegas untuk membersihkan diri.


Setelah selesai mandi, Abram mulai memasak sesuatu untuk dirinya sendiri seperti biasa yang ia lakukan.


Abram membuat telur mata sapi, nasi putih, serta segelas susu hangat lalu segera menyantapnya.

__ADS_1


Saat sarapan, tiba-tiba sebuah notifikasi aplikasi hijau tertera di layar ponselnya.


Abram langsung membuka isi pesan tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk.


Namun sepersekiandetik kemudian, ia malah tersenyum senang hingga kegirangan. Entah apa isi pesan tersebut, yang jelas hal itu membuat Abram sangat bahagia.


Abram dengan segera menyelesaikan makannya dan bergegas berangkat ke taman dekat kota seperti yang tertulis di pesan WhatsApp tadi.


Setelah sampai, ternyata seseorang sudah menunggu nya di sana. Ia segera menghampiri orang tersebut dan menyapanya.


" Kamu sudah lama menunggu?" tanyanya sambil ikut duduk di samping Dila.


" Eh Abram. Ah tidak kok, baru saja sampai," jawab Dila dengan tersenyum ramah.


" Syukurlah, berarti aku tidak terlambat kan?" Dila kembali menggeleng dengan senyum manisnya.


" Emmmmm apa kau mau aku belikan minuman dulu?" tanya Abram yang sebenarnya untuk berbasa-basi terlebih dahulu sebelum menanyakan maksudnya. Padahal dia tahu sendiri bahwa saat ini Dila sedang memegang secangkir kopi.


" Sudah, aku sudah beli tadi. Nih," ucapnya sambil menunjukkan kopinya.


Abram menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil nyengir-nyengir tak jelas, karena merasa salah tingkah dengan pertanyaanya sendiri.


" Oh iya, aku mau jawab pertanyaan mu yang semalam." Dila pun memulai percakapan.


" Lalu jawabnya apa?"


" Aku mau kok menikah dengan mu, tapi,,,,,,"


Abram yang semula di buat senang dengan jawaban Dila, kini di buat penasaran dengan kelanjutan jawabannya.


" Tapi kenapa? aku siap menafkahi kalian lahir dan batin."


" B-bukan begitu maksudku." Dila tertunduk, merasa bersalah dengan ucapannya sendiri.


" Lalu?"


" Aku hanya merasa tak pantas untukmu, karena statusku dan kisah kita dimasa lalu," jawab Dila dengan air mata yang sudah menetes.


Hufff


Abram menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia sebenarnya tak ingin mendengar kata-kata itu lagi keluar dari mulut Dila. Itu sama halnya dengan mengorek luka lama yang hampir mengering.


" Cukup Dila! aku benar-benar tak ingin mendengar ini lagi dari mulutmu. Memang benar bahwa aku sangat-sangat terluka dengan penghianatan mu, tapi rasa cinta ku juga tak kalah besar dari luka yang kau goresan dulu. Jadi please, jangan kau ungkit lagi!"


Dila merasakan ada binar ketulusan dari sorot mata Abram yang belum pernah ia lihat dari pria manapun yang pernah mencoba mendekatinya.

__ADS_1


Cinta Abram benar-benar tak bisa diragukan lagi oleh Dila. Meskipun saat ini Dila masih merasa bersalah terhadap Abram, namun dia tak boleh egois.


" Iya, aku tidak akan mengatakan itu lagi, aku janji. Dan terimakasih karena telah menerimaku lagi, Abram."


__ADS_2