
Episode 36:
" Duh ganteng banget sih dia," ucap Alia dalam hati sambil memperhatikan Arkha dengan begitu lekat.
"Perutnya itu loh, sispek banget." Tanpa sadar Alia berekspresi seolah gemas, sambil memandangi bagian perut Arkha.
Arkha pun mengikuti arah pandang Alia, dan saat ia menyadari pandangan Alia tertuju pada area perutnya, Arkha pun merasa risih.
Ingin rasanya ia meninggalkan saja Alia dan bergabung dengan Kanaya dan Ita. Namun ia juga tak enak hati meninggalkan Indra dan Atha di sana bersama wanita genit itu.
Sedangkan di sebelah sana, Kanaya sudah bersiap-siap untuk melabrak Alia. Namun tiba-tiba saja ia berhenti, membuat Ita yang berjalan di belakang Kanaya tertabrak punggung Kanaya sendiri.
" Aduh!" Ucap Ita seraya mengusap keningnya yang terbentur tubuh Kanaya.
Kanaya memicingkan matanya sambil tersenyum jail, seolah mendapat sebuah ide brilian. Ita yang melihat raut wajah Kanaya pun terheran, namun ia tak mau berkomentar dan mengikuti saja drama apa yang akan Kanaya buat nanti.
Kanaya lantas berjalan ke arah Arkha dengan memasang wajah lesunya.
Tepat saat berada di samping Arkha, Kanaya pun sengaja menjatuhkan diri tepat di pangkuan Arkha.
" Aduh!" Ucap Kanaya.
Otomatis Arkha pun refleks menyambut tubuh Kanaya dan merasa panik setelahnya.
" Sayang, kamu kenapa?" Tanyanya.
" Kepala ku pusing Mas, perutku juga mual. Mungkin bawaan BABY kali ya."
Kanaya dengan sengaja memperjelas kata baby agar Alia sadar, bahwa Arkha hanyalah miliknya seorang.
Bukan hanya Arkha, pengunjung dan para karyawan pun ikut heboh saat melihat istri sang pemilik restoran sedang tidak baik-baik saja.
Saat itulah Ita juga ikut memainkan drama dan berpura-pura ikut panik.
" Kamu kenapa Nay?" Tanya Ita berpura-pura panik.
Kayaknya dia lagi kurang sehat deh karena bawaan hamil," ucap Ita menambahkan.
" Di bawa ke rumah sakit aja bos!" Usul salah satu karyawan. Mereka memang sudah biasa berkomunikasi dengan Arkha tanpa jaim lagi.
" Kita ke rumah sakit sekarang ya sayang?" Ucap Arkha. Kanaya lantas menggeleng dan semakin mempererat pelukannya pada Arkha. Dia sama sekali tak perduli banyak orang yang melihatnya. Toh dia dan Arkha juga sudah resmi sebagai suami istri.
" Aku mau pulang aja," rengek Kanaya. Dia juga sengaja melirik ke arah Alia yang nampak sedang kesal.
" Ya sudah, sekarang kita pulang ya!" Ucap Arkha.
Arkha pun membopong tubuh Kanaya menuju mobil mereka dan memasukkannya.
" Terimakasih ya semuanya. Saya permisi pulang dulu," ucapnya pada semua orang.
__ADS_1
" Siap bos," ucap para karyawan hampir bersamaan.
" Hati-hati ya Arkha bawa adik sama ponakan Emba!" Ucap Ita yang memang sengaja memanas-manasi Alia yang juga berada di sana.
" Iya Mbak pasti," jawab Arkha.
Sontak saja membuat Alia sendiri menjadi kesal hingga menghentak-hentakkan kakinya, lantas kembali masuk ke dalam restoran.
" Awas aja ya tuh cewek. Dia boleh menang sekarang, tapi liat aja nanti, dia bakalan nangis-nangis karena di tinggal Arkha," monolog Alia ketika ia kembali duduk dalam restoran.
" Stop stop!" Perintah Kanaya ketika mereka sampai di depan sebuah supermarket dekat hotel mereka.
Refleks Arkha pun mengerem mobilnya karena teriakan Kanaya.
" Loh, kok berhenti di sini? Bukannya kamu tadi bilang mau langsung pulang dan beristirahat? Apa ada yang mau kamu beli?" Tanya Arkha.
" Gak usah banyak nanya, aku lagi bete sama kamu. Aku butuh beberapa cemilan buat menghilangkan suntuk," ucapnya. Kanaya pun lantas keluar dari mobil hendak ke supermarket tersebut.
Namun Arkha lebih dulu memanggilnya.
" Bukannya kamu bilang sedang pusing ya? Biar Mas saja yang belikan, kamu tunggu di dalam mobil saja!" Titah Arkha.
" Gak usah, aku bisa sendiri. Lagi pula siapa yang sakit kepala beneran."
Setelah mengatakan itu, Kanaya pun meninggalkan Arkha yang masih bingung dengan tingkah Kanaya yang tiba-tiba berubah.
Arkha pun hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Arkha juga memilih mengikuti Kanaya saja dari belakang, ia takut terjadi sesuatu jika Kanaya di biarkan sendirian.
Tiba-tiba Kanaya tertabrak seorang pria muda, hingga membuatnya terhuyung dan hampir jatuh. Untung saja pria itu dengan sigap menangkap tubuh Kanaya . Dan kini posisi mereka persis seperti di film-film romantis, saling berhadapan dengan tubuh Kanaya yang menempel pada tubuh pria itu.
Hal itu tentu saja tak luput dari pengawasan Arkha.
" Ehemm."
Arkha pun berdehem, hingga membuat mereka tersadar dan segera melepaskan diri masing-masing.
Arkha langsung menarik tangan Kanaya untuk mendekat padanya.
" Hay bro, di sini Lo," sapa pria tersebut pada Arkha.
Mereka nampak saling mengenal, namun Arkha yang merasa cemburu atas insiden tadi, berusaha memasang wajah datarnya.
" Ehemmm, iya," jawab Arkha.
" Ini?" Ucap pria tersebut memandang ke arah Kanaya. Ia juga memicingkan matanya, seolah bertanya siapa wanita yang bersama Arkha tersebut.
" Istri gua," jawab Arkha spontan.
Pria yang bernama Abram tersebut lantas menganguk.
__ADS_1
Abram dan Arkha berteman sudah sangat lama. Arkha sering membantu Abram di saat Abram kesulitan, baik itu soal ekonomi atau kesusahan lainnya. Hanya saja Arkha tidak pamrih seperti yang dilakukan Dion pada Abram.
Bahkan Arkha sudah menganggap Abram seperti saudara baginya.
Arkha begitu baik terhadap Abram, hingga ia juga memberikan supermarket miliknya kepada Abram secara cuma-cuma.
Kalian saling kenal?" Tanya Kanaya. Ia juga memandangi Arkha dan Abram secara bergantian.
" Iya, kita saudara. Lebih tepatnya udah kaya saudara," jawab Abram.
" Tapi bukanya kamu Abram, asisten pribadinya Dion ya?" Tanya Kanaya lagi.
Kanaya memang sering melihat Abram berlalu lalang di kantor Dion dulu waktu mereka masih pacaran, bahkan mereka sering bertemu ketika di ruangan Dion. Namun yang membuat ia tak menyangka, ternyata Abram adalah sahabat suaminya juga.
Sungguh dunia hanya sebesar daun kelor.
" Oh iya. Itu dulu, sekarang sih udah enggak, udah di pecat," ucapnya.
" Ohhh." Kanaya pun hanya beroh ria.
" Oh iya, aku sampai lupa buat nawarin duduk, duduk dulu yuk!" Ajak Abram.
" Dari tadi kek. Sudah pegel ini kaki," celetuk Arkha.
" Duduk, disini?" Tanya Kanaya heran.
" Ya enggak dong. Maksudnya di ruangan ku di sebelah sana," ucap Abram sambil menunjuk arah sebuah pintu.
" Tapi,,,,," ucap Kanaya masih bingung.
" Udah sayang, kita istirahat dulu yuk di ruangan Abram!" Ajak Arkha.
Kanaya menurut. Dia pun mengikuti langkah Arkha dan Abram yang membawanya masuk ke sebuah ruangan yang cukup luas.
" Duduk!" Ucap Abram.
" Wah, ternyata sebuah supermarket punya ruangan khusus juga ya," ucap Kanaya yang nampak kagum dengan ruangan milik Abram tersebut.
" Iya dong, ide siapa dulu," ucap Arkha berbangga diri.
" Ide Abram lah yang punya, iya kan Abram?" Tanya Kanaya.
" Bu_bukan, itu mah ide nya dia," tunjuk Abram pada Arkha.
" Tapi tetap aja ini punya Abram." Kanaya masih Keukeh untuk menjatuhkan Arkha. Dia masih kesal terhadap Arkha karena beberapa alasan dan kejadian tadi saat mereka di restoran.
" Punya dia juga," jawab Abram.
Abram hanya merasa tak enak hati jika mengakui itu miliknya. Memang Arkha tidak pernah membahas ataupun mengakui bahwa supermarket itu miliknya. Namun tetap saja Abram harus merasa tahu diri.
__ADS_1
Kanaya memandang ke arah Arkha dengan tatapan tajam. Namun Arkha berpura-pura tidak melihatnya dan menyibukkan diri dengan merapikan rambut dan pakaiannya, sambil sesekali bersiul ria.