Mengandung Anak Jin Tampan

Mengandung Anak Jin Tampan
Marahnya Arkha


__ADS_3

Episode 32:


" Ya sudah, kalau begitu kami kembali ke hotel lagi ya Dion," ucap Kanaya sekedar berbasa-basi.


Tak ada jawaban dari Dion maupun Alia, namun sepasang pengantin baru itu tetap akan pergi dari tempat itu. Mereka akan kembali ke hotel untuk istirahat.


Namun langkah Arkha terhenti saat Dion menarik kerah baju kemejanya secara tiba-tiba. Dion langsung memberikan pukulan pada Arkha yang tak sempat lagi mengelak nya.


Sontak semua pengunjung maupun pegawai supermarket tersebut berlatih sambil berteriak, namun tak sedikit pula yang masih berada di sana untuk menonton perkelahian mereka.


Dion pun menang satu pukulan, itupun karena Arkha sedang lengah. Namun itu sama sekali tak membuat Arkha tumbang. Ia memegang sudut bibirnya yang terasa agak sakit, namun tak berdarah.


Saat pukulan kedua akan dilayangkan oleh Dion, dengan santai pula Arkha menangkisnya dengan tangan. Dia juga menangkap tangan Dion dan memelintirnya. Tak sampai disitu. Arkha juga memukul wajah serta perut Dion beberapa kali, hingga membuatnya tumbang.


" Maaf Dion, tapi kamu yang mulai duluan," ucap Arkha tersenyum kepada Dion.


" Cuih, awas saja kau!" Balas Dion seraya memegangi perutnya yang terkena tendangan Arkha.


Arkha dan Kanaya pun kembali melanjutkan langkah mereka yang semula tertunda. Namun entah mengapa tiba-tiba kepala Arkha terasa sangat sakit, hingga membuatnya mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya .


" Argh,,,,,,,,!" Rintih Arkha.


Kanaya pun panik. Ia meminta tolong kepada semua orang yang berada di supermarket tersebut.


" Eh, itu kan temennya bos," ucap salah satu pegawai supermarket seraya menunjuk ke arah Arkha.


" Iya ya. Itu bukanya pemilik hotel terbesar itu ya?" Timpal temannya yang lain. Dan hal itu didengar oleh Kanaya. Ia ingin menanyakan nya pada Arkha, namun ia urungkan karena kondisi Arkha yang tidak memungkinkan.


" Mas kamu kenapa? Tolong!" Ucap Kanaya panik. Sontak semua orang mendekati Kanaya, dan beberapa dari mereka segera mengangkat Arkha untuk kembali ke kamar hotelnya.


" Cowok penyakitan begitu aja dibanggakan." Dion lantas tersenyum mengejek. Hal itu juga di dengar oleh Kanaya dan membuatnya marah, lalu ia menatap tajam kearah Dion.


" Kamu pikir kamu sempurna sehingga menghina orang seperti itu?" Dion tiba-tiba terdiam seribu bahasa mendengar omelan Kanaya, entah sadar karena mendapat hidayah, atau hanya takut pada Kanaya, entahlah.


" Kamu dengar! Dia lebih baik dari kamu yang biasanya cuma nyakitin hati setiap wanita." Kanaya pun berbalik hendak menyusul Arkha. Namun baru beberapa langkah, Kanaya menoleh kembali pada Dion yang masih diam mematung.


" Dia tidak sakit, dia hanya kelelahan. Dan dengar baik-baik! Aku beruntung di hamili olehnya. Jika tidak, mungkin aku sudah menjadi istri mu yang kesekian kali." Setelah mengatakannya, Kanaya lantas berlalu tanpa rasa bersalahnya.

__ADS_1


Di kamar hotel, Arkha di baringkan di tempat tidur. Dan setelah selesai, mereka yang mengantarkan Arkha pun berpamitan pada Kanaya dan Arkha.


Arkha masih memegangi kepalanya yang masih terasa sakit, namun tak seperti sebelumnya.


Kanaya lantas mendekatinya dan duduk tepat di samping Arkha.


" Masih sakit ya?" Tanya Kanaya seraya memegang kepala bagian belakang Arkha. Arkha menggeleng, lantas mengeluarkan senyum khasnya yang selalu membuat Kanaya terpesona.


" Sudah mendingan kok sayang." Mendengar kata sayang dari mulut Arkha, entah mengapa ia jadi meleleh karenanya. Memang bukan yang pertama kalinya setelah menikah. Arkha pernah mengatakannya tadi di supermarket, namun tempat dan suasananya yang membuat berbeda.


" Beneran gak ada yang sakit, tapi kok kamu bisa sakit kepala begitu?" Tanya Kanaya.


" Emmmmm eng_gak tahu juga, mu_mungkin kecapean aja," jawab Arkha dengan terbata-bata. Wajahnya juga terlihat panik saat ditanya. Entah apa yang sedang disembunyikan oleh Arkha.


" Ooooo," ucap Kanaya sambil mengangguk-angguk.


" Aku mau mandi dulu deh kayaknya, biar agak Segeran," kata Arkha.


" Iya bener, lebih baik kamu mandi!" Timpal Kanaya. Arkha pun berdiri serta meraih handuknya dan segera ke kamar mandi.


Sembari menunggu Arkha keluar dari kamar mandi, Kanaya pun berniat melihat-lihat koleksi buku milik Arkha yang ada di kamar hotel tersebut, untuk menghilangkan jenuh. Awalnya Kanaya heran, mengapa bisa Arkha memiliki barang-barang pribadi di kamar hotel yang ia tempati saat ini? Bahkan kamar tersebut terlihat lebih besar dan mewah dari kamar lainnya.


Saat ia sedang melihat-lihat, ada sebuah buku yang membuatnya tertarik untuk melihatnya. Disain nya unik, seperti buku-buku atau kitab zaman kerajaan kuno.


Dia pun mendekati buku tersebut dan berniat untuk membukanya.


Kanaya mulai membuka pada halaman pertama. Tak ada tulisan ataupun gambar di sana, yang ada hanya kertas kosong yang sudah mulai usang. Rasa penasarannya masih belum terobati. Dia pun kembali akan membuka halaman berikutnya, namun tak sempat, karena Arkha lebih dulu menutupnya dengan gerakan cepat.


" Ihhh Mas. Kok bukunya di tutup sih?" Ucap Kanaya dengan kesal. Dia pun berbalik ke arah Arkha, dan berniat akan memarahi suaminya tersebut. Namun saat melihat wajah Arkha yang merah padam, seperti orang yang menahan amarah, nyali Kanaya pun menciut. Ia menunduk dalam-dalam, tak berani menatap mata Arkha.


" Siapa yang mengizinkan kamu menyentuh buku ini?" Tanya Arkha dengan nada dingin dan tanpa ekspresi.


Kanaya diam. Dia sangat takut melihat Arkha versi sekarang. Baru pertama kali Kanaya melihat Arkha yang biasanya lemah lembut dan penyayang itu tiba-tiba berubah seperti singa yang kehilangan anaknya, benar-benar mengerikan.


" Mas tanya sama kamu Kanaya. Siapa yang mengizinkan kamu membuka buku ini?" Arkha menaikan sedikit nada suaranya. Namun lagi-lagi Kanaya tak bergeming, apa lagi mengeluarkan suaranya. Yang ada dia malah semakin ketakutan dan gemetaran.


" JAWAB KANAYA!!" Akhirnya amarahnya meledak juga, karena Kanaya tak mau menjawab pertanyaannya yang cukup sederhana itu.

__ADS_1


Kanaya terkesiap. Bahunya terangkat, matanya terpejam karena terkejut dengan suara lantang Arkha yang membentaknya.


" A_aku sendiri yang mau," jawab Kanaya gugup.


Arkha mengusap wajahnya dengan kasar.


" Kanaya Kanaya. Makanya kalau mau minjam buku itu tanya dulu, mana yang boleh, dan mana yang dilarang. Kalau terjadi apa-apa sama kamu bagaimana." Arkha duduk di tepian tempat tidur dengan wajah kesalnya.


" Iya iya, aku minta maaf. Lagian salahnya dimana, kan aku cuma buka doang, gak di rusakin kok," ucap Kanaya dengan bibir manyun. Dia sedikit tak terima karena disalahkan.


Namun yang ada tatapan Arkha malah semakin tajam.


" Bukan masalah rusak atau tidaknya. Hanya saja, jangan terlalu menggampangkan sesuatu yang kamu anggap biasa saja!" Jelas Arkha yang sudah mulai geram.


" Emang kenapa?"


" Karena bisa saja sesuatu hal yang terlihat biasa saja itu bisa membahayakan mu."


" Masa cuma sebuah buku bisa bahaya,"


ucapnya masih tak mau mengalah. Arkha menghembuskan nafasnya dengan kasar, tak habis pikir dengan sifat Kanaya yang keras kepala itu.


" Kamu tahu harimau?" Tanya Arkha. Kanaya lantas mengangguk polos.


" Wajahnya yang imut, belum tentu sifatnya juga imut kan?"


" Iya sih. Tapi kucing, wajah sama sifatnya sama-sama imut." Kanaya masih saja tak mau kalah, padahal dia salah.


" Beda dong sayang." Arkha benar-benar dibuat geram dengan Kanaya yang selalu membangkang ucapannya.


" Iya iya beda, aku ngerti kok. Aku minta maaf ya." Kanaya lantas mendekati Arkha dan duduk di sampingnya. Arkha pun tersenyum, meski dipaksakan.


" Maaf ya Mas," ucap Kanaya dengan nada memelas sambil bergelayut manja pada lengan kekar Arkha. Dan akhirnya kali ini membuat Arkha tersentuh, dan memaafkan Kanaya.


" Iya, Mas maafin. Tapi jangan di ulangi ya!" Ucapnya tersenyum sambil mengacak rambut Kanaya dengan gemas.


" Iya, nanti kalau aku mau minjam apa-apa, aku bilang dulu deh sama kamu."

__ADS_1


" Nah gitu dong." Ucap Arkha bangga.


" Oh ya, ada yang mau Mas bicarakan sama kamu," ucap Arkha dengan wajah serius.


__ADS_2