
Episode 24:
Setelah pukul sebelas malam, Dion dan Arkha pamit Bersamaan. Namun sebelum memasuki mobilnya, Dion sempat menghadang Arkha yang hendak pulang, padahal saat di rumah Kanaya tadi mereka tidak saling bertegur sapa, bahkan saling senyum saja tidak.
" Heh orang miskin tunggu!" Seru Dion yang berada di belakang Arkha. Arkha yang merasa di sana tidak ada siapa-siapa pun menoleh kiri dan kanan, karena ia bingung Dion menyematkan kata 'miskin' itu untuk siapa. Karena di sana tidak ada siapa-siapa, Arkha pun menoleh.
" Kamu memanggil siapa?" Tanya Arkha.
" Manggil elo lah, memang ada orang lain di sini?"
" Aku pikir kau memanggil siapa, rupanya yang kau panggil miskin itu aku?" Tanya Arkha.
" Iya, emang Lo miskin kan?" Ucap Dion dengan nada mengejek.
" Bukankah yang miskin itu kamu?" Balas Arkha.
"Mata Lo buta apa? Lo gak liat kalau gue ke sini bawa mobil mewah, sedangkan elo cuma jalan kaki." Cibir Dion. Arkha hanya menanggapi nya dengan tersenyum santai.
" Iya kamu memang memakai mobil, tapi kamu tetap saja miskin." Ucap Arkha. Dion di buat kesal oleh Arkha yang mengatakan bahwa dia adalah orang miskin, jelas-jelas dia merasa bahwa dia adalah orang yang sangat kaya, meski dari hasil menipu, hehehe.
Dion lantas menghampiri Arkha dan langsung mencengkeram kerah baju Arkha, namun Arkha masih terlihat santai dan biasa-biasa saja.
Begitulah Dion, dia sangat gampang marah walau hal sekecil apapun bisa membuat dia cepat emosi.
" Apa maksudmu bilang begitu hah? Di lihat dari sudut mana bahwa aku orang miskin?" Tanya Dion dengan penuh emosional.
Arkha lantas menunjuk dada Dion dengan telunjuk nya.
" Di sini yang miskin, kamu miskin hati!" Arkha tersenyum menyeringai. Setelah mengatakan itu, Arkha dengan santai nya melepaskan cengkraman tangan Dion, lalu ia pun segera pergi dari hadapan Dion.
" Sial!!" Umpat Dion saat Arkha tak terlihat lagi karena di telan kegelapan.
__ADS_1
*********
Seminggu berlalu. Setelah acara lamaran yang di lakukan Minggu lalu, kini kedua belah pihak keluarga Dion dan Kanaya sedang sibuk mempersiapkan acara pernikahan yang akan di langsungkan besok.
Semua persiapan hampir seluruh nya selesai, dari fitting baju pengantin, catering, dekorasi pelaminan, undangan juga sudah, hanya saja perasaan Kanaya yang belum siap untuk menikah dengan Dion. Entah mengapa dadanya terasa sesak jika harus mengingat bahwa besok ia akan menikah dengan Dion dan akan menjadi istri sah nya. Padahal mereka berpacaran sudah cukup lama, seharusnya bagi calon mempelai seperti nya akan sangat bahagia di hari pernikahan nya.
Terkadang tanpa sadar ia juga membayangkan jika yang akan bersanding dengan nya besok adalah Arkha. Kanaya juga tidak mengerti dengan perasaannya saat ini. Mungkin jika di tanya ia sudah ingat atau belum tentang masa lalu nya dulu, ia akan mengatakan tidak, hanya saja perasaan nya terhadap Arkha mulai muncul tanpa ia mengingat masa lalu nya. Dan dia belum pernah merasakan itu sebelumnya, bahkan dengan Dion sekalipun.
Ia kepada Dion hanya sebatas suka, namun untuk perasaan yang lain, Kanaya tidak merasakan seperti yang ia rasakan terhadap Arkha.
Sama halnya dengan Arkha. Di tempat lain, tepat nya di rumah Arkha, ia juga sedang duduk melamun di balkon kamar nya.
Entah saat ini Arkha harus pasrah atau lanjut berjuang untuk mendapatkan Kanaya kembali, setelah apa yang ia dengar, bahwa Kanaya akan menikah dengan Dion.
Terkadang ia berpikir, apa mungkin ini karma untuk nya karena memaksakan kehendak untuk bisa bersama kembali dengan Kanaya setelah sekian abad.
Apa dia terlalu mengekang takdir jodoh yang telah Tuhan gariskan untuk nya, bahwa dia dan Kanaya tidak akan berjodoh lagi setelah kejadian itu.
Entah lah, saat ini Arkha sedang di landa kebimbangan. Ia tidak tahu apa yang ia lakukan itu salah atau benar.
Di satu sisi Arkha ingin sekali melihat Kanaya untuk yang terakhir kalinya sebelum ia benar-benar menjauh dari kehidupan Kanaya dan Dion.
Namun di sisi lain Arkha merasa tak sanggup jika harus melihat orang yang ia cintai bersanding dengan orang lain.
Di kediaman Kanaya. Pagi itu Kanaya sedang di rias oleh MUA, Kanaya merasa bukan hanya hati nya yang sedang tidak enak, akan tetapi perut dan kepala nya juga sedang tidak sehat saat ini.
Ia merasa pusing dan mual, dia sudah berusaha untuk menahan nya, tetapi rasa mual nya semakin parah.
" Hueeeeek,,,,,,,,.Hueeeeek!!!" Kanaya sudah tidak tahan, ia pun bergegas berlari ke arah kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
Nita yang baru masuk ke dalam kamar Kanaya pun, melihat sang anak dalam kondisi yang sedang tidak baik-baik saja, ia pun segera menyusul Kanaya ke kamar mandi.
__ADS_1
Nita juga membantu memijat tengkuk Kanaya.
" Kamu kenapa sayang? Kamu sakit?" Tanya Nita setelah Kanaya selesai memuntahkan isi perutnya.
" Gak tau ma, tiba-tiba perut Naya mual banget, kepala Naya juga pusing." Kanaya memegangi kepalanya yang terasa sakit. Pandangan nya jadi berkunang-kunang dan lama-kelamaan menjadi gelap lalu setelah itu ia pingsan tak sadarkan diri di dalam kamar mandi. Nita panik melihat sang anak pingsan, ia lalu memanggil suaminya.
" Pa, papa tolong!" Adi pun mendengar teriakan istrinya dari dalam kamar mandi, ia lantas bergegas menghampiri arah suara.
Tak hanya Adi, MUA yang tadi merias Kanaya pun ikut melihat apa yang terjadi di dalam kamar mandi.
" KANAYA! Ma Kanaya kenapa ma?" Tanya Adi panik.
" Tadi Kanaya ngeluh sakit kepala sama mual, abis itu tiba-tiba dia pingsan." Jawab Nita.
" Ayo sekarang kita pindain Kanaya ke tempat tidur dulu!" Ucap Adi. Nita mengangguk, asi pun langsung mengangkat tubuh putri nya itu untuk di pindahkan ke tempat tidur.
Mereka pun menelpon seorang dokter untuk memeriksa keadaan Kanaya, dan tak lama dokter tersebut pun datang, dia langsung memeriksa keadaan Kanaya dengan serius.
" Pak, bisa bicara sebentar di luar?" Ucap dokter setelah selesai memeriksa keadaan Kanaya. Adi mengangguk, ia lantas mengikuti langkah sang dokter menuju ke luar, dan juga di ikuti Nita.
Kanaya yang baru keluar dari kamar nya merasa heran karena keluarga Dion dan orang tua nya sedang berkumpul di ruang tamu. Pasalnya acara di mulai dua jam lagi, bahkan tamu undangan saja belum ada yang datang.
Tatapan mereka semua mengarah pada Kanaya yang baru keluar dari kamar nya, terutama Adi yang menatapnya dengan tatapan tajam, sedangkan Nita hanya menunduk sedih.
" Duduk!" Perintah Adi dengan nada dingin. Dengan wajah kebingungan Kanaya pun menuruti perintah ayahnya.
" I_ini ada apa ya?" Tanya Kanaya. Ia merasa gugup di pandangi sedemikian rupa oleh semua orang.
" Jelasin sama papa, kenapa kamu melakukan itu sebelum menikah?" Tanya Adi yang membuat Kanaya semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi.
" Ma_maksudnya apa pa? Melakukan apa?"
__ADS_1
" Kamu hamil Kanaya!" Ucap Adi spontan.
Bukan hanya Kanaya yang terkejut dan syok mendengar berita itu, namun keluarga Dion dan Dion sendiri pun merasa tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar, terkecuali Nita yang memang sudah mengetahuinya sejak awal.