
Episode 39:
" Maaf tuan putri," ucap Arkha.
Dia pun segera melepaskan pelukannya dari Kanaya.
Kanaya mengerutkan keningnya heran dengan panggilan yang di gunakan Arkha untuk nya. Sifatnya juga tak seperti biasanya.
" Kok Tuan putri, lagi ngerayu ya?" Tanya Kanaya dengan nada mengejek.
Arkha semakin dalam menundukkan kepalanya. Rasa malu bercampur baper membuat ia tak kuasa menampakkan wajahnya yang sudah merah merona.
Sedangkan para abdi yang lain hanya tercengang melihat dan mendengar apa yang baru saja terjadi.
" Tuan putri Aleta!" Panggil salah satu dayang yang mendekat pada Kanaya.
Kanaya tak menggubris, karena ia tak merasa itu adalah namanya.
" Tuan, tuan putri!" Panggil dayang itu sekali lagi, namun kali ini di iringi dengan colekan.
" Ada apa Mbak?" Tanya Kanaya memanggil dayang tersebut dengan sebutan Mbak.
Sontak saja dayang tersebut terkejut dan merasa heran, sebab ia tak tahu arti dari panggilan mbak tersebut.
Namun mau bagaimana pun ia juga tidak bisa protes.
" Di ruang pertemuan ada pangeran Antaraksa yang sedang menunggu tuan putri," ucap dayang tersebut memberi tahu.
Sontak saja membuat Kanaya bingung. Banyak pertanyaan Kanaya yang belum terjawab di sini.
Hal itu membuatnya semakin pusing saja, namun ia harus mengikuti alur ceritanya agar ia cepat menemukan jawaban atas pertanyaannya.
" Baiklah, sebentar lagi saya akan segera ke sana," ucap Kanaya bergaya bak seorang putri, padahal saat ini ia sedang menahan rasa geli nya karena tingkahnya sendiri.
Seketika wajah Arkha berubah murung. Kanaya yang melihat perubahan pada wajah suaminya pun mengerti bahwa saat ini Arkha sedang cemburu. Tetapi ada yang membuatnya heran, meskipun merasa cemburu dan tak terima, mengapa Arkha tidak protes saja?
" Kami tenang aja, aku cuma sebentar kok," bisik Kanaya pada Arkha.
" Hati ku hanya untuk kamu kok," lanjut Kanaya.
Hal itu berhasil meraih Arkha tersipu karenanya.
Tak lupa sebelum meninggalkan Arkha, Kanaya sempat mengedipkan mata kepada suaminya itu, membuat Arkha semakin salah tingkah di buatnya.
" Selamat datang putri ku, mari duduk sini!" Ucap raja Bramantyo menepuk tempat di sisinya.
__ADS_1
Di sana juga ada permaisuri Ayu, raja Bramantyo sendiri, beberapa dayang yang berdiri di samping masing-masing dari mereka, sepasang raja dan ratu yang tidak Kanaya kenali, dan yang terakhir membuat Kanaya syok dan hampir hilang kesadaran karenanya.
Bagaimana tidak, yang di maksud orang-orang sebagai pangeran Antaraksa itu adalah laki-laki yang ia kenal di dunia nyata, laki-laki yang telah mengkhianatinya, laki-laki yang telah memutarbalikkan fakta dan menjelek-jelekkan dirinya di depan orang tuanya sendiri.
Dia laki-laki yang paling Kanaya benci seumur hidupnya, yaitu Dion.
Sungguh dunianya sangatlah rumit.
Saat dunia nyatanya mendukung mereka untuk berpisah, dunia alam bawah sadarnya malah akan mempersatukan mereka kembali sebagai pasangan.
Dengan keterpaksaan, Kanaya pun menurut. Ia duduk di tengah-tengah yang di apit oleh raja Bramantyo dan permaisuri Ayu.
Kanaya terpaksa menurutnya karena ia tak mau terjadi keributan di sana. Ia juga belum kenal betul dengan keluarga barunya itu. Kanaya takut saja jika ia memberontak, maka akan berakibat fatal baginya.
Setelah beberapa perbincangan hangat antara dua keluarga, akhirnya kedua pasang raja tersebut memberikan waktu untuk Kanaya dan pangeran Antaraksa untuk berduaan.
Awalnya Kanaya menolak, namun lagi-lagi Kanaya tak mampu.
" Bagaimana jika kita jalan-jalan di sekitaran istana?" Ucap pangeran Antaraksa.
" Terserah," Jawab Kanaya acuh.
Pangeran Antaraksa hanya terkekeh. Ia sudah terbiasa mendapat sikap yang kurang mengenakkan dari Kanaya atau Putri Aleta.
Tak lupa pangeran Antaraksa juga mengulurkan tangannya untuk menyambut putri Aleta, namun tentu saja di tolak mentah-mentah oleh Putri Aleta sendiri.
" Aku bisa sendiri," jawabnya ketus.
Mereka pun berjalan-jalan di sekitaran istana. Mulai dari menjelajahi taman istana, perkebunan, kandang kuda, hingga tempat pelatihan.
Tapi tenang, mereka tak hanya berdua saja, ada dua orang dayang yang selalu setia menemani Kanaya kemana pun Kanaya pergi.
Sampai di tempat pelatihan pedang, kembali Kanaya melihat keberadaan Arkha di sana.
Kebetulan saat itu Arkha sudah menyadari kehadiran mereka.
Wajahnya langsung berubah sendu, bukan karena merasa cemburu, namun lebih ke sadar diri.
Ia tahu dirinya siapa, dan putri Aleta siapa.
Tak mungkin menurutnya mereka bisa bersatu. Ibarat kata, bagaikan pungguk merindukan bulan, sangat sangat tidak mungkin.
Padahal di alam nyata, mereka adalah sepasang suami istri. Hanya saja Arkha tak mengingatnya, karena itulah yang tertulis ketika janjinya pada jin Aron.
Itulah sebabnya mengapa Arkha melarang keras Kanaya membuka kitab pemberian jin Aron tersebut, kitab untuk menuju ke pintu dimensi zaman. Ia hanya takut melupakan Kanaya jika mereka kembali ke dimensi zaman tersebut.
__ADS_1
Namun jika ia tak kembali ke dimensi zaman, maka hidup Arkha tak akan lama bersama Kanaya.
Dulu ia pernah berjanji pada jin Aron, jika dia berhasil membuat Kanaya kembali padanya, maka tak lama setelah itu ia juga akan mempersembahkan jiwanya untuk jin Aron.
Sungguh kisah dan pilihan yang sangat rumit untuk di jalani.
Kanaya berniat untuk menghampiri Arkha. Ia sungguh tak tahan dengan semua sandiwara ini, dia sangat merindukan suaminya itu.
Tanpa berpikir panjang, Kanaya berlari ke arah Arkha yang masih setia memandanginya.
Arkha pun terkejut atas tindakan Kanaya yang terbilang nekat itu. Ia bisa saja terinjak gaun yang ia gunakan, lalu jatuh.
Tak hanya Arkha, semua yang berada di tempat itu mendadak panik dengan aksi nekad yang di lakukan Kanaya. Tak sedikit dari mereka yang menyerukan nama Putri Aleta agar berhenti berbuat konyol seperti itu.
" Hentikan putri!!" Teriak mereka.
Pangeran Antaraksa dan Senopati Arkha pun berusaha untuk mengejar Kanaya untuk menghentikannya, namun sayangnya mereka berdua tak kalah cepat dengan nasib naas yang menimpa putri Aleta.
Aleta tersandung sebuah balok kayu yang cukup runcing, hingga bagian running mengenai mata kakinya.
Aleta mengaduh ketika menyadari kakinya berlumuran darah.
Cukup dalam memang luka yang di alami Aleta. Bayangkan saja kayu yang runcing tersebut masuk jauh kedalam mata kakinya hingga menancap sempurna di sana.
Aleta menangis sejadi-jadinya, membuat perhatian semua orang tertuju padanya, termasuk raja Bramantyo dan permaisuri Ayu serta kedua orang tua pangeran Antaraksa.
Mereka berbondong-bondong ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dan mereka pun tak kalah terkejutnya melihat sang putri sudah berlumuran darah.
Namun sebelumnya Arkha sudah sigap memberikan sobekan bajunya untuk di balut kan pada kaki Aleta. Ia juga sudah berusaha mencabut kayu yang menancap tersebut, namun sepertinya kayu itu sangat dalam hingga sulit di keluarkan.
" Minggir, biar aku saja yang menolongnya!" Ucap Antaraksa seraya mendorong tubuh Arkha agar menjauh dari Aleta.
" Gusti, kau kenapa ananda?" Tanya permaisuri Ayu yang juga mendekati Aleta yang masih menangis menahan sakit di kakinya.
" Sakit,,,,,,hiks hiks hiks!" Rintih Aleta.
" Biar ku bawa ke kamar mu ya putri!" Ucap Antaraksa.
Aleta lantas menggeleng cepat, setelah itu ia juga melirik kearah Arkha dengan wajah mengiba.
Arkha yang tak sanggup melihat wajah kesakitan itu pun memilih menundukkan kepalanya.
" Aku mau kamu yang menggendongku ke kamar,,,,,,, hiks hiks!" Tunjuk Aleta pada Arkha.
Sontak saja semua orang saling pandang, termasuk Arkha sendiri yang tak menyangka atas keinginan tuan putri nya itu.
__ADS_1