Mengandung Anak Jin Tampan

Mengandung Anak Jin Tampan
Rencana Tersembunyi (Martha)


__ADS_3

Episode 45:


Malam itu, Arkha yang baru saja tiba di taman yang Aleta sebutkan. Ia juga melihat keberadaan Aleta yang sudah berada di sebuah kursi taman.


Awalnya Arkha ragu-ragu untuk menemui Aleta, ia hanya takut jika nanti ada yang memergoki mereka berdua di taman itu. Namun mana mungkin ia tega membiarkan Aleta menunggunya sangat lama dan seorang diri di taman itu dalam keadaan cuaca malam yang sangat dingin.


Alhasil Arkha pun memberanikan diri untuk menemui Aleta sebagai seorang Senopati dan tuan putrinya.


" Saya menghadap tuan putri," ujar Arkha yang bersikap formal.


" Duduk!" kata Aleta tanpa menoleh pada lawan bicaranya.


Arkha menurut, ia pun duduk di bawah kursi, tepatnya sejajar dengan kaki Aleta.


" Siapa yang suruh kamu duduk di situ?" kata Aleta dengan nada ketus.


" lalu saya harus duduk di mana tuan putri?" Arkha yang bingung pun bertanya.


" Duduk di samping saya!" ucapnya tanpa menoleh.


" Tapi tuan putri."


" Duduk saya bilang!" ucap Aleta tanpa bantahan.


" Baiklah tuan putri."


Akhirnya Arkha pun menuruti perintah Aleta dan duduk tepat di samping Aleta.


" Kalau boleh saya tahu, ada apa gerangan tuan putri menyuruh saya ke tempat ini malam-malam begini?" tanya Arkha mencoba memberanikan diri untuk bertanya.


" Saya mau ngomong sama kamu," jawabnya. Namun kening Arkha berkerut, bingung dengan kosa kata yang baru saja di ucapkan Aleta.


" Ngomong?" beo nya.


" Bicara maksudnya." Dengan cepat Aleta segera meralatnya.


" Emmmm bicara soal apa tuan putri?"


" Bicara tentang kita," jawab Aleta.


" Kita, memangnya kita kenapa?" tanya Arkha yang tak mengerti maksud Aleta.

__ADS_1


" Ya tentang kita, memangnya kamu benar-benar tidak ingat siapa aku di dunia masa depan?" tanya Aleta, namun dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Arkha hanya mengangguk polos tanpa ada ekspresi yang di buat-buat.


Aleta semakin tertunduk sedih dengan pengakuan Arkha. Sungguh sulit untuk dibayangkan dengan akal sehat kejadian yang menimpa dirinya dan Arkha saat ini, namun inilah yang terjadi.


" Kamu emang gak bisa di percaya, kamu bilang akan selalu ingat sama aku, tapi nyatanya kamu sendiri yang melupakan aku dengan sengaja," kata Aleta yang menumpahkan isi hatinya sambil sesekali mengusap air matanya.


" Maksud tuan putri apa, hamba benar-benar tidak mengerti," ucap Arkha.


Namun Aleta tak menggubris perkataan Arkha, ia malah ingat sesuatu saat ia dan Arkha masih di dunia masa depan. Seketika ia mengingat larangan Arkha untuk tidak menyentuh atau membuka sembarang buku miliknya, namun saat itu Aleta atau Kanaya sama sekali tak mengindahkan peringatan itu, hingga akhirnya mereka pun sampai di tempat aneh ini.


Mengingat kejadian itu Aleta jadi menyesal, namun ia pun tak tahu harus berbuat apa untuk mengembalikan dirinya dan Arkha ke dunia masa depan seperti sedia kala. Dan lagi pun orang tuanya saat ini pasti sedang pusing mencari dirinya.


" Tuan putri, apa tuan putri tidak apa-apa?" tanya Arkha yang melihat Aleta melamun.


" Hah kenapa, maaf," ucap Aleta.


Namun tanpa mereka sadari, dari kejauhan Puspita dan ayahnya sedang menatap mereka dengan tatapan marah, terlebih Puspita yang merasa cemburu melihat Arkha dan Aleta duduk sedekat itu.


" Kalau begini terus saya tidak tahan ayah," rengek Puspita pada ayahnya.


" Iya ayah tahu, tapi jika kamu bisa sabar sedikit, ayah yakin Senopati Arkha pasti akan menjadi milikmu," ucap sang ayah.


" Kamu sabar saja Puspita, setelah ayah berhasil mendapatkan kedua kerajaan itu maka kamu juga akan mudah mendapatkan Arkha," ucap penasehat Martha sambil menyunggingkan senyum liciknya.


" Tapi Puspita mau secepatnya itu terjadi!" rengek Puspita nak anak kecil yang minta mainan.


" Iya ayah janji akan secepatnya," jawab Martha meyakinkan.


Puspita lantas tersenyum girang dan langsung memeluk ayahnya itu dengan perasaan bangga.


" Terimakasih ayah, ayah memang ayah yang terbaik," puji Puspita.


Martha pun membalas mengelus


pucuk kepala Puspita dengan sayang.


Martha memang sangat sayang kepada putri semata wayangnya tersebut. Karena sebenarnya ia hanya memiliki Puspita sebagai penyemangat hidupnya, karena sang istri pun sudah lebih dulu pergi menghadap sang penciptanya. Jadi wajar saja jika Martha selalu menuruti semua keinginan Puspita dan berusaha untuk membuatnya bahagia meskipun itu semua tidak benar.


" Tunggu saja pembalasan ku Bramantyo," ucap Martha dalam hati.

__ADS_1


Entah dendam apa yang di sembunyikan oleh Martha hingga ia sangat membenci Bramantyo.


Kembali pada Arkha dan Aleta tadi. Setelah berbincang-bincang tanpa mendapatkan titik terangnya, Aleta pun meninggalkan Arkha yang masih mencerna semua perkataan yang dikatakan oleh Aleta tadi.


Aleta pergi dengan perasaan kesal, marah dan kecewa. Namun ia pun tak tahu harus meluapkannya pada siapa, karena ia tak tahu siapa yang salah dalam hal ini.


" Arghhhh."


Aleta kesal, ia pun melemparkan semua barang yang ada di kamarnya. Bahkan ia sama sekali tak mengizinkan dayang yang biasa mengurusnya masuk ke dalam kamarnya. Saat ini ia benar-benar butuh waktu untuk sendiri.


" Kenapa aku bernasib seperti ini ya Tuhan, aku harus bagaimana?" ucapnya dengan nada emosi.


" Kamu tega banget biarin aku di tempat ini sendiri, aku gak kenal mereka Mas." Dan kali ini suaranya terdengar melemah.


" Arghhhh."


Pranggg


Terdengar bunyi barang-barang yang Aleta lempar ke sembarang arah. Dan suara tersebut pun terdengar oleh orang-orang yang ada diluar, seperti para dayang dan prajurit.


Alhasil mereka pun panik karena pintu kamar Aleta terkunci. Mereka takut terjadi sesuatu terhadap tuan putri mereka.


Suara ketukan dari luar pun silih berganti terdengar. Aleta semakin menjadi-jadi melemparkan semua barang-barang yang ada di dalam kamarnya itu, sebenarnya ia sengaja melakukannya untuk menarik perhatian Arkha dan berharap Arkha akan menghampirinya dan meminta maaf padanya karena telah mengabaikannya selama ini.


Brakkkk


Akhirnya pintu kamar Aleta pun berhasil di buka dengan paksa.


Namun usaha Aleta untuk mencuri perhatian Arkha pun sia-sia saja. Bukan Arkha yang menghampirinya melainkan pangan Antaraksa yang datang bersama dengan raja Bramantyo dan istrinya serta beberapa dayang.


" Ada apa lagi ini putriku?" tanya raja Bramantyo yang syok melihat kamar putrinya itu berantakan oleh sebagian barang-barang yang pecah.


Aleta hanya memandang wajah ayahnya dengan perasaan takut. Ia hanya menunduk tanpa berani bertatap muka langsung dengan sang ayah yang terkenal akan kekejamannya itu.


" Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Aleta, itupun dengan suara yang hampir tak terdengar.


" Ya sudah. Dayang, tolong bereskan kekacauan ini!" perintah sang raja pada para abdi nya.


" Aleta, lebih baik kau banyak-banyak istirahat saja, jangan pergi keluar istana jika tidak ada yang penting!" ucap raja Bramantyo dengan wajah tegasnya.


Seketika wajah Aleta langsung menciut dan ia pun terpaksa menganguki perintah sang ayah dan segera melaksanakannya.

__ADS_1


Sebelum keluar dari kamar Aleta, raja Bramantyo sempat menggelengkan kepalanya karena heran dengan sikap putrinya beberapa hari ini. Setelah yang lain keluar, Aleta mencoba memejamkan matanya demi menuruti perintah sang ayah. Hanya permaisuri Ayu yang menetap dan menatap Aleta dengan rasa iba. Ia sangat sedih melihat keadaan sang putri akhir-akhir ini.


Permaisuri Ayu pun mendekat dan duduk di samping Aleta, tepatnya di sisi kasur Aleta. Ia lantas mengusap pucuk kepala Aleta dengan sayang hingga tak terasa Aleta pun merasa mengantuk dan tertidur sangat pulas.


__ADS_2